
Nayla tidak bisa tidur semalam karena memikirkan apa yang telah terjadi. Dia bahkan melupakan tugasnya karena semua ini.
Menebus kesalahannya, Nayla menyiapkan omlet untuk sarapan pagi. "Semua sudah siap, tinggal membangunkan Tuan Muda." gumam Nayla.
Di kamar Vinlo Margatha. Nayla terdiam di depan pintu dengan perasaan gugup di hati. Pikirannya mengingat kejadian kemarin malam. Pelukkan yang dilakukan Vinlo membekas dalam ingatannya. "Ehem, kok aku malah ragu gini." gumam Nayla.
Melupakan rasa ragu yang ada, Nayla mengulurkan tangan untuk mengetuk pintu kamar Vinlo. Saat akan melakukannya, pintu itu terbuka tiba-tiba.
Seorang pria dengan setelan rapi, siap untuk memulai hari. Namun, matanya berbinar ketika melihat Nayla yang tengah terkejut karena dirinya.
"Nay!" seru Vinlo.
Nayla segera menegapkan diri dan memundukkan pandangannya. Dia mengatur napas untuk berbicara dengan pria yang kini berdiri begitu dekat. "Tu-tuan, Sa-sa,"
Vinlo tersenyum melihat tingkah Nayla yang masih gugup. Dia juga merasakan kecanggungan yang terjadi di antara mereka.
"Nay!" seru Vinlo dengan suara lembut. Nayla mengangkat pandangannya dengan perlahan.
Keduanya saling menatap. Bahkan tanpa diduga, Vinlo menyentuh wajah Nayla dan mengusapnya.
"Tu-tuan," Nayla merasa tidak enak dengan apa yang terjadi. Hatinya begitu berdesir dengan perasaan yang tidak diketahui.
"Panggil Aku Vin, Nayla. Apa kamu akan terus memanggiku tuan? Kita kan sudah menjadi sepasang kekasih." ucap Vinlo dengan mengusap kepala Nayla.
Nayla menundukkan kepala. Dia begitu berat mengangguk dan berucap. Meski begitu, hatinya bahagia mendengar perkataan tuannya. "Ibu, maafkan aku. Sepertinya perasaan ini tidak bisa dibuang." benak Nayla.
Vinlo mendekap tangannya di dada. Dengan senyum cerah, secerah sinar matahari. "Kamu bengong? Apa kamu sulit memanggilku, Nayy-laaa?" ucap Vinlo dengan suara yang dibuat-buat.
Wajah Nayla berubah memerah ketika Vinlo menyebut namanya. Dia segera menatap ke arah lain dengan menghindari tatapan Vinlo.
"Nay!" Dengan lembut Vinlo nenuntun Nayla untuk menatap dirinya. "Panggil aku Vin, boleh?" pinta Vinlo.
Nayla tidak sanggup lagi berdiam diri. Dia merasa sedang berada di tempat yang membuatnya tidak bisa menolak. Perlahan Nayla mengangguk tanpa menatap Tuan Muda.
"Vi-Vin," ucap Nayla.
__ADS_1
Senyum hadir kembali dibibir Vinlo. Dia memeluk Nayla dengan lembut dan meletakkan dagunya dikepala sang kekasih. "Selamat pagi, Nayla." ucap Vinlo.
Nayla menarik garis dibibir yang membuat senyum manis miliknya. Dia merasakan degupan jantung Vinlo yang berdetak lebih cepat darinya. "Jantungnya begitu cepat berdetak, dia lebih gugup dariku." benak Nayla.
Pelukan itu tidak lama berlangsung. Vinlo segera melepaskan pelukannya karena jam yang menganggu. Hari ini, jadwal Vinlo sedikit padat.
"Ayo kita sarapan!" ajak Vinlo.
Mereka berdua melangkah menuju dapur dengan tangan saling bergenggam. Seakan sudah dekat dari dulu, tidak ada jarak yang menghalangi mereka. Nayla pun tidak menolak karena hatinya ikut menerima semua perlakukan Vinlo.
Setiba di dapur, Vinlo melihat omlet yang sudah menjadi kesukaannya. Tidak hanga Omlet, masakan yang Nayla buat akan menjadi makanan terfavorite dalam hidup Vinlo.
Duduk di kursinya, Vinlo mengambil sendok dan garpu. Omlet yang cantik itu harus dia makan untuk mengenyangkan perutnya. Jika bisa, Vinlo ingin menyimpan dan memajangnya di ruang tengah. Namun, itu tidak akan mungkin terjadi.
"Nay, kemarilah." seru Vinlo.
Sudah biasa karena semua itu pekerjaannya. Nayla yang berdiri dari kejauhan seketika mendekat. Meski tidak ada jarak, tetap ada hak yang harus Nayla perhatikan.
Namun, lagi-lagi Vinlo membuat Nayla melanggar semua itu. Ditarik dirinya hingga duduk di samping Vinlo. "Vin?" Nayla bingung dengan keadaannya. bagaimana bisa, Dia duduk di samping Tuannya seperti ini.
Nayla hanya diam membisu, dia tidak pernah sedekat ini dengan pria. Apa lagi, memiliki seorang kekasih. Lebih parahnya lagi, sang kekasih adalah tuannya sendiri.
Melihat Nayla yang termenung, Vinlo tiba-tiba mendapatkan ide yang membuatnya tersenyum kecil. Tidak ada pengalaman untuk berpacaran. Vinlo baru pertama kali merasakan semua ini. Akan tetapi, dia mudah belajar dengan lingkungan yang ada. Tidak heran, yang dia lakukan hasil dari meniru orang lain.
Sendok yang Vinlo kenakan, diletakkan pada telapak tangan Nayla. hal itu membuat sang pemilik tangan kaget.
"Tu-, ah maksudnya Vin. Apa ini?" tanya Nayla. Vinlo melemaskan jari-jari tangan di depannya, lalu berkata. "Aku capek, tanganku juga terasa kebas. Nay, bisa kamu menyuapiku?"
Nayla terdiam, dia melirik dengan mata berkedip lebih cepat dari biasanya. Baru pertama kali dia melihat tingkah Vinlo seperti ini. Terasa tidak cocok untuk Tuannya.
Tanpa sadar, Nayla tertawa kecil hingga menutup mulutnya. Vinlo sudah menahan malu dan menebalkan wajahnya agar tetap percaya diri. Namun, mendengar tawa kecil itu, Vinlo seketika memerah.
"Ehem!" Vinlo berdehem sambil melirik ke arah Nayla. Dia tetap harus menjaga image terbaiknya.
Bukannya mengerti, Nayla semakin menjadi. Dia bahkan menunduk dengan menahan perutnya. "Ha, hahaha!"
__ADS_1
Melihat Nayla semakin tertawa. Vinlo pun merasa malu sendiri. Dia memanyunkan bibirnya di depan Nayla yang akhirnya menenangkan diri.
"Maafkan aku Vin. Tidak biasanya, aku melihat tingkahmu. Maksudku, caramu berbicara itu. hahah, ehem!" Nayla tersenyum dan segera mengisi sendok itu dengan omlet. Di arahkan apa yang ada pada sendok di tangannya.
Mulut Vinlo terbuka menyambut sarapan yang diberikan oleh Nayla. Dia menatap fokus pada Nayla yang menyuapinya.
Sarapan pagi ini berbeda, sangat berbeda. Vinlo yang tiba-tiba bertingkah manja, lalu Nayla yang mau menyuapi Vinlo.
Di depan pintu, Nayla menyerahkan tas yang selalu di bawa oleh Vinlo. Dia menatap tuan yang kini merupakan kekasihnya.
"Terima kasih, Nayla." ucap Vinlo.
Nayla mengangguk dan menatap Vinlo yang ingin membuka pintu. Dia memperhatikan tangan Tuannya yang berhenti, seperti tidak ada niat untuk membukanya.
Vinlo berbalik badan, dia menatap Nayla yang juga menatapnya. "Ada apa tuan?" tanya Nayla.
Vinlo melangkahkan kaki ke depan, lalu memeluk Nayla yang terkejut.
"Kamu, memanggikku tuan lagi, Nayla." tegur Vinlo.
Nayla menunduk kepala, "Tuan, Nayla belum bisa mengubah panggilan untuk Anda. Tapi, Nayla akan berusaha untuk mengubahnya."
"Baguslah, aku akan menanti panggilanmu untukku." Vinlo mengacak-acak rambut Nayla yang dikepang seperti biasanya. Dia kemudian pergi dengan memberikan senyum yang selalu hadir untuk Nayla.
Melihat kepergian Vinlo, Nayla segera terduduk dengan menyentuh dadanya. Tidak ada rasa sakit, malah rasa bahagia yang hampir meledakkan hatinya.
Nayla merasakan perasaan bahagia yang sulit dimengerti. Dia bangun dengan cepat dan bergegas ke kamar untuk menghubungi Laisa sahabatnya.
Berbeda dengan Nayla. Vinlo melangkah menuju parkiran dengan wajah bahagia. Saking bahagianya, Raga yang menjemput tercenga. Mulut seketarisnya itu ditutup dengan pelan oleh Vinlo sendiri.
"Tutup mulutmu, akan banjir nanti." katanya.
Raga segera tersadar dan menatap Tuannya. "Tuan, apa terjadi sesuatu?"
Vinlo masuk ke dalam mobil di susul oleh Raga. Dia menatap tas yang ada ada di samping lalu melirik telapak tangannya. "Iya, aku sudah membuat Nayla menjadi milikku." jawab Vinlo. Raga semakin melongo mendengarnya. 'Jadi, mereka pacaran?' Pikir Raga.
__ADS_1