
1 minggu telah berlalu. Selama tinggal di kediaman utama. Nayla hanya bisa memendamkan rasa di hati. Dia bertekad untuk berhenti mencintai Tuan Mudanya.
Teguran yang dia dapat, merupakan peringatan lembut untuknya. Jadi, sebisa mungkin Nayla menutup rapat perasaannya sendiri.
"Nak, kamu ada di dalam?" Tanya Bi Sih. Dia berada di luar kamar yang saat ini menjadi tempat untuk keduanya.
Nayla bergegas membuka pintu dan melihat Bi Sih yang membawakan makan siang. "Ayo makan, sudah siang loh ini." ujarnya. Nayla tersenyum dan mengangguk.
Keduanya duduk berlesehan. mereka menikmati makan siang yang dibuat oleh Bi Sih sendiri. "Bibi dengar, tuan muda akan pulang dari perjalanan bisnisnya. Kamu akan segera kembali ke apartment tuan muda." Kata Bi Sih disela-sela makan.
Nayla hendak menyuap makanan yang ada ditangan. namun, setelah mendengar perkataan Bi Sih, dia menghentikan keinginannya. "Tuan kembali?" benak Nayla.
Bi Sih tidak tahu perubahan Nayla. Dia kembali makan dan menyantap makan siang mereka.
Keseharian Nayla menjadi terhalang setelah perkataan Bi Sih. Dia yang bertugas merawat tanaman menjadi sedikit kacau karena kelakuannya. Nayla duduk di kursi kayu, menatap bunga-bunga yang ingin dia pindahkan.
"Ada apa denganku? Hanya karena kepulangannya, aku menjadi seperti ini. Huh, aku harus fokus." gumam Nayla.
Dia kembali mengambil sekop kecil dan memasukkan tanah ke dalam pot. Pekerjaannya berjalan lancar setelah menenangkan diri.
Di ruang tamu, Nayla mengelap meja tamu dan menata vas yang begitu cantik. Saat asik merapikan meja, beberapa orang tengah berjalan dengan langkah cepat. mereka tampak sibuk dengan segala yang ada.
Melihat hal itu, Nayla bangun dan menahan salah seorang pelayan yang lewat. "Apa terjadi sesuatu?" tanyanya.
Pelayan yang ditahan Nayla segera menjawab. "Hari ini kepulangan tuan muda, jadi semua bergegas untuk menyiapkan makanan kesukaannya. Lalu, kami harus membersihkan rumah lebih awal. Nanti malam, kita akan beristirahat cepat."
Jawaban Pelayan membuat Nayla terdiam. Siapa yang menduga kalau perkataan Bi Sih tidak salah. "Jadi, aku akan kembali ke apartment?" gumamnya.
"Nayla!" seru seseorang. Nayla segera berbalik badan untuk melihat siapa yang menyerunya. Senyum dan rasa bahagia memancar di wajah Nayla, dia bergegas mendekat dan memeluk orang yang memanggilnya. "Kak Kia!" pekik Nayla.
Kia membalas pelukkan Nayla, ada usapan lembut yang diberikan olehnya. "Bagaimana kabarmu. Aku tidak bisa menemuimu, selama kamu berada di sini. Akhirnya, setelah pekerjaan yang banyak, aku bisa menemuimu." ucap Kia.
__ADS_1
Nayla mengangguk dan melepaskan pelukkan mereka. "Kak Kia pasti sangat sibuk. Kita bisa bertemu dilain hari kok. Oh ya, terima kasih Kak Kia, sudah mengajarkan Nayla banyak hal untuk menjadi pembantu pribadi Tuan Muda Vinlo."
Kia tersenyum, digenggam tangan Nayla dengan lembut dan berkata. "Itu semua berkat dirimu sendiri Nayla. Aku hanya memberikan saran, kamu yang melakukannya. Ayolah, aku senang melihat dirimu di sini."
Kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Seorang pelayan lain datang mendekat ke arah mereka. "Maaf kepala pelayan, ada beberapa hal yang ingin ku tanyakan. Lihat ini, piringnya sedikit...,"
Kia menarik napas begitu panjang, dengan perlahan napasnya berhembus. "Nayla, aku tidak bisa berbincang banyak denganmu. Jadi, aku berharap kamu bisa bekerja dengan baik. Semangat untukmu."
Nayla mengangguk, "Kak Kia juga."
Melihat kepergian Kia, Nayla memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Setelah tahu kepulangan Vinlo, Nayla pun berusaha untuk membantu.
Waktu kepulangan Vinlo pun tiba, Semua pelayan di istirahatkan lebih awal. Kecuali Kepala Pelayan, Bi Sih dan Nayla. Ketiganya di perlukan untuk saat ini.
Langkah kaki seseorang membuat Nyonya besar bernama Mayra dan Tuan Besar, Vin menjadi tidak sabar. Mereka berdiri di dekat sofa ruang tengah, dengan menghadap kearah pintu.
Ketukkan hadir yang membuat pelayan bergegas membuka benda yang akses masuk. Terlihat dua pria yang tengah lelah dengan perjalanan mereka.
Hati yang ditutup itu, terbuka dengan sendirinya. Seakan tahu, siapa yang menjadi pemilik hat tersebut.
"Selamat datang putraku." ucap Tuan Vin Margatha, kepala keluarga sekaligus Ayah Kandung Vinlo. "Selamat malam ayah." sapa Vinlo.
Vin memeluk Vinlo dengan erat, lalu menatap putranya. "Kamu tampak lelah nak."
Vinlo tersenyum, ditepuk punggung tangan sang ayah lalu berkata. "Semua sebadan dengan pekerjaan yang ku dapatkan. Ayah, keluarga Rajt menyetujui kerja sama ini."
"Bwahahaha...," Vin tertawa puas mendengar perkataan Vinlo. Dia menuntun Putranya untuk duduk disofa. "Kamu memang hebat Nak. Ayah sudah mengusulkan untuk berkerjasama dengan mereka. Namun, keluarga Rajt begitu jual mahal. Tapi, kamu telah berhasil membuat mereka berkerja sama dengan kita. Itu adalah usaha yang luar biasa."
Mayra, Ibu angkat Vinlo bergegas mendekat. Disajikan teh yang telah siap. "Duduklah Raga. kamu juga lelah mengatur semua jadwal yang ada. Beristirahatlah dulu." ucapnya.
Raga menggeleng kepala, dia tetap berdiri di tempat yang seharusnya.
__ADS_1
"Hei Nak Raga, duduklah bersama kami. Kita berbincang sedikit, sebelum kalian kembali ke apartment." ujar Vin.
Raga bingung menjawab perkataan itu. Dia benar-benar tidak siap untuk duduk di dekat keluarga ini.
"Tidak perlu ayah. Aku hanya sebentar di sini. kami harus segera kembali ke apartment." tolak Vinlo. Dia bangun dari tempat duduk dan melangkah mendekati Raga.
Tuan Besar Vin terkejut melihat Vinlo yang akan pergi. "Nak, kalian baru saja tiba. Kenapa tidak beristirahat di sini. Rumah ini juga rumahmu." bujuknya.
Vinlo yang sudah menetapkan tujuannya, tetap teguh. Dia memandang kedua orang tua yang ada di depannya. "Ayah, aku juga akan membawa pembantuku ke apartment. Aku ingin makan omlet buatannya." ucap Vinlo. Dia menatap Nayla yang sedang berdiri bersama Bi Sih dan Kia.
Sang Ayah semakin terkejut dan melihat pandangan Vinlo menuju ke arah seseorang.
"Pembantu? Nayla?" tanyanya memastikan.
Vinlo mengangguk dan menaikkan suaranya, memanggil Nayla. "Kemarilah, Nayla!"
Nayla begitu bingung. Dia ke sana seorang diri? Tentu saja dia tidak berani. Lebih baik, dia berdiri dari kejauhan dari pada mendekat ke arah mereka. Nayla masih mengingat posisinya.
Melihat Nayla tetap diam, Vinlo kembali memanggilnya. "Nayla, kemarilah!" tangan Vinlo terulur untuk menyambut Nayla.
Dorongan dan bisikkan dari dua orang tua di sampingnya, membuat Nayla melangkah menuju ke arah mereka. "Jangan takut!" itulah yang mereka bisikkan.
Setiba di sana, Nayla masih menjaga jarak dari sofa dan orang-orang yang merupakan pemilik rumah. Lebih tepatnya, orang yang menjadi Tuan dan Nyonya-nya.
Vinlo menggeleng melihat tingkah orang yang dia cintai. Dia kembali menatap ke arah Ayah dan ibu tirinya. "Aku akan kembali besok, dan membahas semuanya. Jadi, Vinlo izin pamit."
Tuan Vin tidak bisa menghentikan sang putra. Bagaimanapun sikap Vinlo sama dengannya. Tidak akan merubah keputusan apa pun. Apa lagi, jika dia sudah menetapkan keputusan itu.
Vinlo melirik ke arah Raga yang ada di sampingnya. Mengerti apa yang di maksud, Raga mendekati Nayla.
"Nay, siapkan pakaianmu. Kita akan segera pulang." ucapnya. Nayla masih bingung dengan semua ini. Namun, dia tetap menuruti apa yang di perintahkan karena Tuannya adalah Vinlo.
__ADS_1