Pembantu Pribadi Tuan Muda

Pembantu Pribadi Tuan Muda
Bab 43 : Libur lebih awal


__ADS_3

Lembaran foto yang ada di tangan membuat Nyonya Besar, Mayra Margatha menunjukkan reaksi tidak suka. Hatinya menahan amarah dengan apa yang dilihatnya.


Suara ketukkan pintu membuyarkan lamunan. Mayra segera membukakan pintu dan melihat, siapa yang mengetuk.


"Hai Tante May!" sapa Olati Yunrajt. Wanita berparas cantik yang membuat wajah murung Mayra berubah.


"Astaga, Olati! Apa kabar sayang," ucap Mayra dengan begitu senang. Wanita inilah yang dia sukai, memiliki pendidikkan tinggi dengan derajat yang sama.


"Olati, baik tante. Jangan khawatir," Olati memeluk Mayra dengan erat. Mereka tampak seperti seseorang yang sudah saling merindukan.


Mayra melepaskan pelukkannya, "Ayo kita ke ruang tamu. Kamar tante sedikit berantakkan."


Olati mengangguk. Keduanya melangkah menuju ruang tamu. Meninggalkan beberapa foto yang ada di atas meja.


Setiba di ruang tamu, hidangan seperti minuman dingin tersaji dengan manisannya. Olati sesekali memakan manisan itu dan menyeduh minuman yang telah dihidangkan.


"Sudah lama ya tante, aku tidak berkunjung ke sini." ujar Olati dengan melirik Mayra.


Mayra mengangguk, benar adanya kalau mereka berdua tidak bertemu semenjak Olati melanjutkan pendidikan diluar negeri.


"Kamu sudah menemui Vinlo, Olati?" tanya Mayra.


Mendengar pertanyaan itu, Olati seketika murung. "Aku sempat menemuinya tante. tapi, dia begitu cuek kepadaku. Bahkan hanya menganggapku sebagai rekan rapatnya."


"Hah, aku sudah sering bilang kepadanya untuk bersikap ramah kepada wanita. Tapi, ucapanku tidak berpengaruh sama sekali. Yeah, aku bukan ibu kandungnya." lirih Mayra dengan pandangan sedu.


Olati mendekati Tante Mayra, dia segera memeluk tante muda itu dan menenangkannya. "Tante, mungkin saja, secuek-cueknya Vinlo, terdapat rasa sayang kepadamu. Jangan khawatir, dia mencintai perempuan kan?"


Mendengar perkataan Olati, Mayra seketika mendapatkan sebuah Ide yang membuatnya senang. Dia akhirnya bisa menyinggirkan orang itu dari putra angkatnya.


"Olati,"


"Iya tante?" Olati menatap bingung dengan wajah bahagia Tante Mayra.


"Bertunanganlah dengan Vinlo!" ucap Mayra. Olati bungkam dengan pandangan tidak percaya. "Tante, apa yang tante katakan?"


Mayra tersenyum, dia akhirnya bisa menjauhkan Nayla dari Vinlo. Benar, foto yang dilihat olehnya hasil tangkapan dari orang suruhan Mayra. Dia tidak menduga, kepercayaannya dihancurkan oleh gadis dari desa.


"Nayla, maafkan aku." benak Mayra.


...-*-...

__ADS_1


Vinlo berbaring nyaman dipangkuan Nayla. Sambil memeriksa berkas di layar tablet. Dia dengan santai menikmati kedekatan ini. Apa lagi, makan siang di kantor bersama sang kekasih, merupakan momen baru untuknya.


"Vin, ayolah ... aku harus kembali ke apartment dan melanjutkan pekerjaanku. Kak Kia pasti menungguku," ucap Nayla.


Rasa tidak tenang dihati karena kedekatan seperti ini. Ditambah, keduanya sedang ada di kantor.


"Malu," gumam Nayla.


Vinlo tersenyum, dia mengubah posisi berbaring terlentang itu menjadi ke samping. Dengan menatap ke arah perut Nayla. "Apa yang kamu malukan? Kamu calon istriku, suatu saat nanti, suasana seperti ini akan terus terjadi. Terbiasalah, Nay."


Mendengar hal itu, Nayla memerah seketika. Dia menutup wajahnya yang tampak seperti tomat. "Jangan katakan hal seperti itu. Kamu memberiku harapan."


"Itu bukan harapan Nay, tapi kenyataan. Suatu saat nanti, aku akan menikahimu." imbuh Vinlo.


Nayla merasa orang yang berbaring dipangkuannya menghilang. Dia membuka penutup wajahnya dan mendapati benda kenyal menyentuh pipi kanan.


Ciuman di pipi membuat Nayla menoleh cepat hingga melihat Vinlo tersenyum padanya. "Aku mencintaimu,"


Nayla tersenyum dan mengangguk, dia menunduk kepala dengan mengepal tangan. "Hm, aku juga mencintaimu."


Sore hari tiba, setelah mengerjakan seluruh pekerjaannya. Vinlo dan Nayla bersiap untuk pulang.


Mendengar perkataan Nayla. Vinlo segera menaruh dagu dibahu kekasihnya itu. "Biarlah, aku juga capek mengerjakan semua itu."


Nayla hanya bisa menggeleng kepala. Mereka segera keluar dari lift dengan Vinlo melangkah terlebih dahulu.


Beberapa karyawan saling melirik, mereka begitu iri dengan Nayla yang sebatas pembantu bisa dekat dengan Tuan mereka. Sedangkan Mereka, hanya bisa melihat dari kejauhan.


Setiba di apartment, Vinlo maupun Nayla bergegas ke pekerjaan masing-masing. Untungnya Kia tidak marah kepada mereka. Dia malah menyelesaikan tugas Nayla dengan santai.


"Maafkan Nayla, Kak Kia." ucap Nayla saat mereka berada di dapur.


Kia tersenyum, dia tengah membersihkan bekal yang dibawa Nayla. "Untuk apa meminta maaf. Aku yakin, Tuan Muda Vinlo tidak mengijinkanmu pergi kan?"


Anggukkan kepala Nayla berikan. Tidak ada yang salah dengan ucapan Kia. Dia memang tidak diizinkan pergi oleh Kekasihnya itu.


"Sudah, mandi sana. Setelah ini, aku akan kembali ke kediaman utama. Jaga dirimu ya Nay," Kia memeluk Nayla dengan erat. Entah kenapa, dia merasa akan berpisah dari gadis ini.


Nayla membalas pelukkan itu. Dia tersenyum dan menganggukkan kepala.


Setelah kepergian Kia, seperti apa yang diucapkan oleh kepala pelayan itu. Nayla beristirahat di dalam kamarnya.

__ADS_1


Ponsel pintar yang berada di atas meja berdering. Dia melihat layar ponsel itu menampilkan siapa yang menelponnya.


"Laisa? Oh ya, aku tidak memberinya kabar beberapa hari ini." gumamnya.


Nayla mengangkat ponsel itu dan segera memyambut panggilannya.


"Hallo Nay,"


Kerutan muncul di alis, Nayla merasa tidak tenang mendengar ucapan Laisa.


"Ada apa Laisa? Kamu tampak terhenga-henga. Apa terjadi sesuatu?"


"Kamu, bisakah mengambil liburmu lebih awal. Tante, ibumu pingsan sore tadi. Kepala desa baru mengkabariku!"


Detakkan jantung Nayla mengetarkan seluruh tubuhnya. Dia diam di tempat setelah mendengar hal itu.


"Hei, Nay! Jangan bengong dulu. Aku sudah menghubungi Kekasihmu itu. Tapi, tampaknya dia tengah sibuk. Cobalah untuk meminta izin, aku akan menjemputmu."


Nayla segera mengambil ranselnya. Dimasukkan sejumlah uang dari pemberian Vinlo. Dia memegang ponsel pintarnya dan bergegas keluar kamar.


Melihat ruang tengah tampak sepi, Nayla melangkah menuju pintu dan berniat mencari Tuannya. Tetapi, yang ada di depan pintu keluar bukan Vinlo. Melainkan, Mayra Margatha, Ibu tiri kekasihnya.


"Nayla? Kenapa kamu terburu-buru, aku baru saja tiba." ucap Nyonya Marya yang melangkah masuk ke dalam apartment.


Melihat kedatangan orang yang lebih bertanggung jawab. Nayla memberanikan diri mengenggam tangan Nyonya besar.


"Nyonya, bisakah aku mengambil libur diawal. Ibuku sedang sakit sekarang. Dia seorang diri di desa, aku harus menjenguknya." ucap Nayla dengan begitu cepat.


Nyonya Mayra terteguh mendengar hal itu. "Apa? Ibumu sakit. Nay, kamu harus ke desa sekarang. Apa kamu pergi seorang diri?"


Nayla menggeleng, "Tidak Nyonya, ada Laisa yang akan menemaniku."


"Baguslah, setidaknya kamu tidak seorang diri. Ini, bawalah ... di dalamnya berisi gajimu, Nayla." Nyonya Mayra memberikan amplop coklat yang ketebalannya lebih dari pemberian Vinlo.


"Ini?" Nayla ragu sesaat. Dia ingin mengembalikan uang itu karena belum bisa menerimanya.


"Bawalah, siapa tahu bisa membantu perawatan ibumu. Nay, jangan menundanya. Tidak apa, liburlah lebih awal. Kembalilah, saat ibumu sudah membaik ya." ucap Nyonya Mayra.


Nayla mengangguk, dia sangat berterima kasih dengan hal ini. Nayla pun melangkah pergi setelah berpamitan. Meninggalkan wanita yang tersenyum setelah kepergiannya.


"Takdir memihak kepadaku." gumam Mayra.

__ADS_1


__ADS_2