
Vinlo menatap masam ke arah wanita yang duduk di depannya. "Mari selesaikan ini. Olati, katakan kepada orang tuamu, kalau kamu tidak setuju dengan perjodohan ini!"
Wanita yang duduk di depan Vinlo tersenyum, dia adalah Olati Yunjrat. "Untuk apa aku menolak perjodohan ini. Kak Vin, aku mencintaimu."
"Cinta? Apa kamu buta Olati? Kapan aku mencintaimu, aku tidak pernah memiliki rasa kepadamu, sama sekali tidak pernah!" tegas Vinlo.
Olati menghela napas mendengar ucapan Pria berjas di depannya. Dia menompang dagu dan memainkan sendok kecil di dekat cake pesanannya.
"Aku tidak bisa berbuat apa pun. Ayahku sudah menetapkan perjodohan ini. Kalau aku menolaknya, sama saja menghancurkan kerja sama kita. Kak Vin, kita hanya bertunangan saja. Jangan khawatir, tidak akan ada pernikahan." bujuk Olati.
Vinlo segera bangun dari tempat duduk, dia menatap Olati dengan tatapan tajamnya. "Akan ku usahakan untuk menolak perjodohan ini. Aku tidak akan bertunangan denganmu, ingat itu!"
Langkah kaki Vinlo begitu cepat berlalu, dia tidak tenang berada di sini. Kenapa hidupnya harus di atur oleh orang lain, tidak bisakah dia mengatur hidupnya sendiri?
Olati hanya tersenyum, dia menyeduh teh hangat yang dipesan. "Lihatlah nanti Kak Vin, bagaimana kamu akan mengambil keputusanmu." ujarnya.
Vinlo segera masuk ke dalam mobil, Dia menarik dasinya untuk memberi ruang udara masuk.
"Tuan, Kita akan ke mana?" tanya Raga.
"Ke kediaman utama, aku akan berbicara dengan Ayah." jawab Vinlo.
Mobil itu segera melaju di jalan raya. Selama perjalanan mereka, tidak ada pembicaraan sama sekali.
"Bagaimana bisa, Nyonya besar tahu hubungan tuan?" benak Raga. Dia merasa tidak percaya dengan semua ini. Bagaimana bisa Nayla libur lebih awal, lalu perjodohan itu muncul di saat kepergian wanita itu. Seperti rencana yang sudah diatur dengan baik.
Tidak menunggu lama, Mobil segera berhenti. Raga keluar dari pintu dan mengikuti langkah Vinlo. Mereka masuk ke kediaman utama.
"Selamat datang," sapa para pelayan yang mereka lewati.
Vinlo menatap lurus ke depan. Di depan matanya, terlihat ruangan seseorang yang akan selalu di sana saat pekerjaannya menumpuk.
Raga berhenti Saat Vinlo masuk ke dalam ruangan. Dia memilih untuk berjaga di luar.
"Oh, Raga?" kaget Nyonya Mayra.
__ADS_1
Raga tersenyum dan memberikan anggukkan kecilnya. "Selamat pagi, nyonya." sapa Raga.
"Pagi juga. Karena kamu ada di sini, boleh aku meminta bantuanmu?"
Alis Raga berkedut mendengar pertanyaan Nyonya Mayra. "Tentu, apa itu nyonya?"
"Hm, jadi di halaman belakang. Tanamanku sudah banyak jadi bingung untuk membangun ruangan khusus tanamanku itu. Bisa, kamu mengaturnya?"
Raga tidak bisa menolak mendengar hal ini. Dia segera mengangguk, "baik, Raga akan mengaturnya."
Keputusan Raga untuk pergi menghadirkan pandangan datar Nyonya Mayra yamg menatap ruang kerja Tuan Vin.
Di dalam ruang kerja itu, Vinlo tengah menghadapi Ayahnya.
"Jadi, kamu sudah mengambil keputusan? Sudah dipikirkan dengan baik?" tanya Ayah Vin yang tengah memeriksa dokumennya. Setelah semua selesai, dia merapikan meja kantor yang sedikit berantakkan.
"Ku harap, keputusanmu tidak membuatku salahpaham. Intinya, jangan memberi jawaban yang tidak bermakna." sambung Ayah Vin.
Vinlo menatap Ayah Vin yang kini menatapnya. "Keputusanku tetap sama. aku akan...,"
"Oh Mayra, ada apa sayang?" tanya Ayah Vin dengan mempersilahkan Istrinya masuk.
"Hm, Maaf mengangguk pembicaraan kalian. Ini, ada panggilan dari salah satu pemimpin perusahaan." Nyonya Mayra memberikan ponsel genggam ke tangan Tuan Vin.
Anggukan kepala diberikan, Tuan Vin bangun dari tempat duduk dan melangkah ke luar. "Hm, Vinlo ... pikirkan lagi keputusanmu itu." ucapnya sebelum keluar dari ruangan.
Vinlo menatap wanita yang selalu menganggunya. "Apa ini rencana Anda?" tanya Vinlo.
Nyonya Mayra tersenyum dan berusaha untuk mengusap kepala Vinlo. Namun, Vinlo dengan cepat menepis tangannya.
"Vinlo, aku sangat menyayangimu dan sudah menganggapmu sebagia anakku sendiri. Jadi, kenapa kamu malah membenciku?" tanya Mayra.
Vinlo tersenyum sinis, dia menatap wanita di depannya dengan pandangan tidak suka. "Aku hanya menggangap kamu orang asing. Bukan Ibuku, maafkan aku." ucapnya.
Mayra menghela napas, dia hanya bisa mengeluarkan beberapa lembar foto dan menunjukkannya di depan Vinlo.
__ADS_1
"Aku menunggumu, dalam tiga hari. Jika, Nayla tidak kembali untuk bersamamu, maka Kamu harus bertunangan dengan Olati. Dan jika, kamu menolaknya, aku akan membereskan salah satu dari mereka." ucap Nyonya Mayra.
Dia menepuk pundak Vinlo yang termenung menatap foto di tangannya. "Tiga hari untuk keputusanmu," ucap Mayra yang kemudian melangkah pergi.
Vinlo mengepal tangannya. Dia dilanda kebingungan. "Nay, apa kamu baik-baik saja di sana?" benak Vinlo. Foto yang ada di tangannya, memperlihatkan Nayla dan sang ibu.
...-*-...
Nayla menemani Ibunya yang kondisinya mulai membaik. Namun, sang ibu belum bisa bangun dari berbaringnya.
"Nay, aku membawa bubur ini." ucap Laisa.
"Terima kasih Laisa, kamu telah menunda pekerjaanmu karena menemaniku. Maaf ya," Nayla menunduk kepala dengan rasa bersalah.
Laisa segera menaruh bubur itu di meja nakas. Dia mengusap kepala sahabatnya. "Maaf dan terima kasihmu ku terima. Sudah, rawatlah tante." kata Laisa.
Nayla mengangguk, dia berniat untuk membangunkan sang ibu. Namun, suara ketukkan pintu membuat Nayla dan Laisa saling memandang.
"Pagi ini, siapa yang datang?" tanya Laisa. Nayla mengangkat bahunya tanda tidak tahu.
Karena penasaran, keduanya memutuskan untuk menemui siapa yang datang di pagi ini.
Pintu terbuka dengan Laisa yang melakukannya. Terlihat pria kekar dan tinggi. Dia tersenyum dengan wajah yang mengerikan.
"Selamat pagi, apakah benar ini rumah Nayla?" tanya Pria tersebut.
Laisa dan Nayla saling memandang. Mereka bingung dengan kedatangan pria asing ini.
"Benar, ini rumah saya pak. Ada apa ya?" Nayla menjawab pertanyaan dari pria itu. Dia mengenggam tangan Laisa untuk menguatkannya.
"Oh, kalau begitu permisi, maaf menganggu." Pria tersebut pergi meninggalkan rumah Nayla.
Melihat kepergiannya, Nayla dan Laisa kembali saling menatap.
"Apa yang pria menakutkan itu lakukan?" tanya Nayla.
__ADS_1
Laisa menggeleng, "aku juga tidak tahu. Mungkin tetangga baru." sahutnya.