Pembantu Pribadi Tuan Muda

Pembantu Pribadi Tuan Muda
Bab 54 : Berkunjung Di Desa


__ADS_3

Perasaan bahagia bercampur dengan haru membuat air mata Nayla tidak berhenti ketika tahu kalau hubungannya mendapatkan akhir bahagia.


Semenjak kejadian itu, Dia berusaha untuk merawat Vinlo, hingga kekasihnya itu kembali sehat dan pulih dengan cepat


.


Lalu, Nyonya Besar berubah saat Vinlo memanggilnya Ibu. Semua ini benar-benar di luar dugaannya.


"Hiks!" Nayla mengusap pipi yang terdapat air mata. Dia tidak bisa melupakan semua itu.


"Hei Nay, jangan menangis. Kamu ini!" Vinlo datang dengan sapu tangan yang dia genggam. Di usap pipi Nayla yang tampak memerah karena menangis.


"Apa sebahagia itu hingga kamu menangis hingga seharian penuh ini?" tanya Vinlo.


Nayla mengangguk dengan cepat. "Tentu saja, sudah satu minggu berlalu semenjak kejadian itu. Kamu kembali sehat Vin, lalu Ibukmu menyetujui hubungan kita. Aku pasti bahagia hingga air mataku ikut terjatuh karena kebahagiaan ini."


Mendengar jawaban Nayla membuat Vinlo tersenyum. Dia menuntun kekasihnya untuk berada di dalam pelukannya. "Dengar Nay, percayalah kepadaku, aku berjanji tidak akan membuatmu bersedih lagi."


"Apa yang kamu lakukan? Tentu saja kamu harus menjagaku agar tidak menangis, karena kamu sendiri yang mengatakan kalau, kalau," Nayla menundukkan kepalanya karena rasa malu yang memuncak.


Kedekatan ini masih memberikan rasa canggung dan malu yang mendalam. Nayla menatap wajah kekasihnya yang tersenyum seolah menanti ucapannya.


"Ehem, sudah bersiaplah!" ucap Nayla yang memilih untuk bangun.


Vinlo tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu. "Baiklah, aku harus bersiap untuk menemui ibu mertuaku. Setelah mendapatkan izin darinya, Kamu akan menjadi milikku seutuhnya Nayla."


Nayla segera melangkah pergi meninggalkan kamar Vinlo. Dia akan menjadi kepiting rebus jika berada di sini.


Seminggu berlalu semenjak kejadian di rumah sakit itu. Nayla pun kembali ke apartment Vinlo dan memulai aktifitasnya sebagai pembantu. Namun, ada perubahan yang terjadi.


Nayla bukan hanya pembantu, melainkan seorang kekasih sekaligus calon istri yang akan dinikahi Vinlo. Sebenarnya, gelar pembantu ini telah lepas dari dirinya, tapi Nayla tetap mengunakan statusnya agar bisa berada di apartment Vinlo.


Jika tidak, Nayla akan memutuskan untuk tinggal bersama Laisa dan tinggal bersama Vinlo saat sudah menikah nanti.


Memikirkan pernikahan, wajah Nayla lagi-lagi memerah. "Tidak, aku malah berpikir yang belum terjadi."


Nayla menatap ke arah pintu apartment. Seperti apa yang diucapkan Vinlo. Mereka akan mengunjungi Ibunya untuk meminta restu dalam pernikahan mereka.


"Apa ibu, akan menolaknya?" benak Nayla.


Saat asik berpikir, terasa di pinggangnya sepasang tangan melingkar dengan nyaman. "Nay, kenapa melamun?" tanya Vinlo dengan meletakan dagu di bahu Nayla.

__ADS_1


Rasa terkejut membuat Nayla kehilangan keseimbangannya. Hingga Vinlo menuntun kekasihnya untuk berdiri tegap. "Apa sebegitu kaget dengan diriku?"


"Tentu saja kaget Vin. Kamu memelukku seperti ular." ucap Nayla.


Vinlo tersenyum dan kembali memeluk kekasihnya dari belakang. "Nay, terima kasih telah merawatku. Aku benar-benar sembuh total karena dukungan darimu."


Nayla menggeleng mendengar perkataan Vinlo. "Bukan aku, kamu harus berterima kasih kepada Tuan dan Nyonya yang bertindak cepat untuk menolongmu."


"Seharusnya aku yang mendapatkan ucapan terima kasih itu!" imbuh Raga yang sedari tadi menonton keromantisan mereka.


Nayla yang menyadari hal itu seketika memerah hingga Vinlo menyembunyikan wajah kekasihnya. "Raga, kamu lupakan apa yang kamu lihat. Jangan mengingat wajah Naylaku!" pekik Vinlo.


Raga memutar bola matanya dengan jengah. "Iya,iya tuan. Reset otak akan di mulai sekarang!" ucap Raga.


Vinlo menatap tajam kepada seketarisnya itu. Dia tidak ingin berbagi apa yang Nayla tampakkan. Nayla hanya akan menjadi miliknya.


"Vin!"


Sebuah pukulan terasa di dada, Vinlo segera menatap Nayla yang kini kehabisan napas. "Kamu mendekapku terlalu kuat!" ucap Nayla dengan napas terhenga-henga.


"Astaga, maaf Nay." Vinlo mengusap wajah Nayla dan memberikan hembusan angin dengan tangannya yang dikibas-kibas.


Nayla mengangguk dan mengambil tas ransel berisi pakaian. Mereka berangkat di siang hari, tiba di sana malam harilah yang menanti.


Di dalam mobil, Vinlo mengenggam tangan Nayla dengan tenang sembari menatap layar tabletnya.


"Vin lepaskan," ucap Nayla. Dia terbiasa memegang ponsel pintar di tangan kanannya. Sedangkan tangan itu tengah di genggam oleh Vinlo.


"Kemarilah!" seru Vinlo.


Nayla segera mendekatkan posisi duduknya hingga Vinlo dengan santai merangkul Nayla. "Begini lebih baik," ujarnya.


Nayla menutup wajahnya karena saat ini, dia benar-benar tidak bisa menerima serangan cinta dari Vinlo. Tidak, maksudnya serangan perhatian dari kekasihnya itu.


"Hm, apa yang akan kita beli untuk Ibu Mertua ya. Dia suka sate? Soto? Atau ayam bakar?" tanya Vinlo menatap Nayla.


"Bawakan Dia yang spesial darimu, Vin. Apa pun yang kamu berikan, Dia akan menghargainya." ucap Nayla dengan tersenyum.


Wajah sedu sembari tersenyum tampak jelas di mata Vinlo. Dengan lembut Vinlo mengusap pipi kekasihnya. "Baiklah, akan ku beli semua. Raga, menepilah jika menemukan warung makan."


Nayla terteguh mendengar apa yang Vinlo katakan. "Aku tidak menyuruhmu untuk membeli semuanya," ucap Nayla.

__ADS_1


"Aku juga tidak bertanya, apakah harus beli semua atau tidak." imbuh Vinlo.


Bungkam dan tidak lagi bisa berucap, itu lah yang Nayla rasakan. Namun, rasa bahagia benar-benar memenuhi isi hatinya.


...-*-...


Setibanya di kampung, Nayla menuntun kekasihnya untuk menuju ke rumah yang telah dia tinggali.


"Ibu?" seru Nayla dengan mengetuk-ngetukkan pintu. Tidak ada jawaban dari sana, dia mengerutkan alis setelah tahu kalau di rumah tidak ada siapa pun.


"Apa Ibu Mertua ada?" tanya Vinlo.


"Nayla?"


Nayla dan Vinlo segera menoleh melihat wanita yang terkejut dengan kedatangan mereka.


"Ini kamu nak?" tanya Durvin dengan mendekat.


Nayla segera memeluk ibunya yang tidak di beri kabar saat dia pergi waktu itu. Untung Laisa selalu mengirim kabar kepada Ibunya.


"Anak ini, kenapa saat tiba di kota kamu tidak menelpon ibu?" tanya Durvin sembari mencium kening putrinya.


Vinlo tersenyum melihat hal itu. Dia diam menyaksikan interaksi Ibu dan Anak.


"Ehm, dia siapa Nayla?" tanya Ibu Durvin setelah menyadari keberadaan Vinlo.


Nayla ingin berucap untuk menjelaskan segalanya tapi Vinlo segera berucap mendahului Nayla.


"Hallo Ibu, namaku Vinlo Margatha. Aku adalah kekasih Nayla." ucapnya dengan bangga.


Nayla terteguh mendengar hal itu. Vinlo benar-benar serius padanya.


"Margatha? Nak, kamu tidak bermain-main kan? Tidak mungkin Tuan Muda mau menjadi kekasih anak saya." ucap Ibu Durvin dengan perasaan tidak percaya.


Vinlo tersenyum, dia menarik tangan Nayla untuk mendekat di sampingnya. Setelah itu, Vinlo menunjukkan gelang berpermata unggu. "Ibu, Aku sudah melamar putrimu. Ini bukti lamaranku saat itu."


Ibu Durvin terteguh mendengar apa yang Vinlo katakan hingga membuatnya menangis secara tiba-tiba.


Nayla panik melihat Ibunya seperti ini. "Ibu, ayo masuk dulu." ucap Nayla.


Vinlo pun ikut membantu Ibu Durvin masuk ke dalam rumah. Keduanya meninggalkan Raga di dalam mobil yang hanya menyaksikan dari kejauhan.

__ADS_1


__ADS_2