Pembantu Pribadi Tuan Muda

Pembantu Pribadi Tuan Muda
Bab 12 : Pulang untuk makan siang


__ADS_3

Nayla sudah menyajikan makan siang untuk Tuannya sendiri. dia menatap hidangan sederhana khas desa. Tumis jagung dengan ayam goreng, lalu ada hidangan manis untuk menjadi penutup makan siang ini.


“Sebaiknya, aku mempelajari banyak hal tentang makanan lain. aku tidak ingin membuat Tuan Muda bosan dengan makanan desa.” Guman Nayla.


Memikirkan Tuan Mudanya, degupan dijantung hadir seketika. Nayla memerah ketika ingatannya mengulang kejadian kemarin, dimana dia begitu dekat dengan Tuan Muda Vinlo.


“Astaga, Nayla!” dengan tangan berayun diatas kepalanya,Nayla menenangkan pikiran yang kacau.


“Hah, sebaiknya aku menghubungi dia.” Guman Nayla.


Matanya melihat kearah jam yang menunjukkan pukul 1 lewat 30 menit. “Sepertinya, Tuan Muda tidak akan makan siang?”


Dia melangkahkan kaki menuju keruang tengah dan memperhatikan sekelilingnya. Semua tampak bersih, hanya ada yang jarang Nayla lakukan. Sekarang, dia berpikir untuk menambah waktu kerja, dia bergegas mengambil kain lap yang sudah diberi pewangi.


“Karena Tuan Muda tidak datang, lebih baik aku membersihkan tangga ini. aku sudah beberapa hari disini dan belum membersihkan bagian pagar tangga, siapa tahu disana berdebu.” Guman Nayla.


Melupakan segalanya dan fokus dengan pekerjaan. Hati yang berdegup-degup menghilang seketika. Nayla mengelap seluruh pagar yang ada ditangga.


“huh~” matanya menatap puas setelah satu jam lebih membersihkan tangga. Siapa yang menduga, tangga dengan 35 anak tangga bisa memakan waktu sebanyak itu. jika, Nayla tidak terlatih, mungkin perlu 2 hingga 3 jam menyelesaikannya.


“Sekarang sudah jam 2 lewat, yeah... Tuan Muda pasti sibuk.” Benak Nayla, dia melupakan apa yang terjadi.


Dibawa bak berisi pewangi, Nayla melangkah ke kamar mandi. Melihat semua pekerjaan hampir selesai, Nayla memutuskan untuk kembali kekamarnya.


Dia tidak ingin beristirahat di ruang tengah, sungguh tidak sopan jika melakukan hal seperti itu. Nayla sadar diri jika dia hanya seorang pembantu. Jadi, Nayla akan bebas jika didalam kamarnya.


“Akhirnya bisa beristirahat....” Nayla mengambil ponsel yang didapat hasil tabungan sendiri.


Ponsel itu bisa menghubungi siapa saja jika dia mengisi pulsa. Sayangnya, Nayla begitu lupa dengan hal penting seperti itu. data bisa didapat olehnya, tetapi Pulsa. Sangat sulit untuk terisi diponsel.


Dihidupkan ponsel itu, dia melihat wallpapernya berisi foto sang Ibu. “Ibu, apa kabar? Nanti Nayla akan meminta izin kepada Tuan Muda untuk keluar dan mengisi pulsa.” Gumannya.


Nayla mengeser layar dan membuka whatsapp diponselnya. Data sudah diaktifkan, seketika ponselnya berdering karena chat yang masuk.


Pesan: Hei bestiee... apa kabar nih?


Nayla tertawa melihat pesan sahabatnya. Dia memiliki seorang Sahabat bernama Laisa Mahya, gadis desa merantau dikota. Persahabatan mereka terjalin saat Laisa pulang kampung ditempat tinggalnya.


“Anak ini.” guman Nayla membelas pesan chat dari sahabatnya.


Nayla: Kabarku Baik, bagaimana denganmu?


Laisa: Oh, akhirnya setelah setengah abad Nayla aktif di Wa. Kabarku baik.

__ADS_1


Nayla: Wkwk, aku sedang sibuk sekarang. jadi, untuk bermain ponsel akan sulit.


Laisa:Aku dengar dari Bibi, Kamu berkerja di keluarga Margatha ya?


“Aku tidak yakin ibuku memberitahunya. Kecuali, dia berkunjung kerumah Ibu,” Benak Nayla.


Nayla: Iya, aku bekerja disana. kamu mengunjungi Ibuku, kan?


Laisa: Hm, beberapa hari yang lalu sih.


Nayla: Berarti kamu sudah kembali kekota?


Laisa: Iya, sekarang aku sedang menikmati waktu sengang.


Nayla: bagaimana kabar Ibuku?


Laisa: Beliau sehat, aku juga memintanya untuk menghubungiku jika terjadi sesuatu. Tenang saja.


“Syukurlah,” Nayla puas mendengar kabar Ibunya.


Laisa: oh ya, bagaimana kalau kamu sendiri yang menghubungi beliau? Bibi sangat merindukanmu.


Nayla tidak melanjutkan ketikkannya, dia merasa salah setelah membaca pesan Laisa. Sebagai seorang Anak, seharusnya dia memperhatikan hal penting seperti ini.


Melihat pesan Laisa lagi, Nayla dengan cepat mengetik ponselnya, dia tidak ingin merepotkan orang lain.


Nayla: tidak perlu, merepotkanmu saja.


Pesan Nayla terkirim begitu juga dengan pesan asing masuk kedalam ponselnya. Laisa tidak pernah menarik perkataannya, jika ingin menolong, dia akan melakukan sebisanya.


Mendapatkan sahabat seperti ini, Nayla merasa bersyukur. Dia tersenyum dengan perasaan bahagia. sahabat yang berjarak ini memberikan kebaikkannya tanpa bisa diukur.


Nayla: Terima Kasih, Laisa.


Laisa: Hm, sama-sama.


Laisa: Maaf ya, aku off dulu, tidak bisa berbincang banyak denganmu. Waktu sengangku telah usai. Oh ya, titip salam kepada Bibi.


Nayla membalas emot okey kepada sahabatnya, dia bergegas mengeser layar dan menekan nomor telpon sang Ibu. Ponsel itu berbunyi untuk mengkabarkan kalau panggilannya terhubung.


“Ibu!” sapa Nayla ketika dia melihat panggilannya diangkat oleh sang penerima.


“Na-nayla!... Bagaimana kabarmu sayang? Ibu sangat merindukanmu.”

__ADS_1


Mendengar suara sang Ibu, Nayla menjauhkan ponselnya. Dia meneteskan air mata dengan perasaan rindu yang begitu dalam. setelah membaik, baru ponsel itu didekatkan padanya.


“Nayla sehat Ibu, Ibu sendiri bagaimana? Nayla berharap Ibu menjaga kesehatan disana.” ucap Nayla dengan suara yang sedikit berbeda. Dia tidak ingin Ibunya mendengar suara tangis yang tertahan.


“Ibu sehat sayang, saat ini Ibu sedang memakan sup ayam dan tumis kacang panjang. beberapa hari yang lalu, Laisa memberikan sayuran kepada Ibu. Ibu juga di suruh untuk memakan obat dan selalu mengingatnya. Jadi, jangan khawatirkan Ibu.”


Nayla menghela nafas dengan wajah sedih, dia sudah menduga kalau sahabatnya akan melakukan sesuatu yang tidak bisa dibalas.


“Syukurlah, Ibu. apa yang dikatakan kepada Laisa di ingat ya.”


“Tenang saja anakku. Oh ya, bagaimana pekerjaanmu?”


Nayla melirik kearah layar ponselnya, sudah hampir pukul 3. “Sepertinya, Tuan muda tidak makan siang.” Benak Nayla.


“Pekerjaan Nayla berjalan lancar. Tuan Mudanya juga baik dan menghargai Nayla. Jadi, Ibu tidak perlu kahwatir.”


“Nak, Ibu berharap kamu tidak melakukan kesalahan yang akan menyulitkanmu. Berkerjalah dengan baik dan jujur.”


Nayla mengangguk meski tahu tidak ada Ibu didepannya. Dia sudah biasa mengekspesikan diri seperti ini. “Baik Bu.”


“Yasudah, kamu lanjut pekerjaanmu. Tidak baik menunda-nunda waktu. Pekerjaan adalah tugas, kerjakan tugasmu hingga selesai. mengerti!”


“Mengerti Bu. Oh ya, Laisa memberi salam kepada Ibu.”


“Katakan kepada Laisa, Ibu menerima salamnya.”


Panggilan berakhir. Nayla merasa kelegaan setelah berbincang dengan Ibunya. Kini, dia tidak perlu khawatir, karena sahabatnya tidak tanggung-tanggung mengisikan pulsa. “Aku bisa menelpon Ibu hingga setengah bulan.” Guman Nayla.


Diletakkan ponselnya pada kasur, lalu langkah kaki Nayla membawanya menuju kearah pintu. Dia membuka perlahan pintu kamar dan matanya tidak sengaja melihat seseorang.


“Eh?” Nayla bergegas menuju kearah pintu Apartment. Dia melihat dengan jelas, seseorang keluar dari pintu itu.


Langkah Nayla terhenti, saat pintu apartment tertutup rapat, bahkan terkunci secara otomatis. Dia tidak menduga kalau Tuan Muda Vinlo kembali pulang.


“Nayla, apa yang kamu lakukan!” guman Nayla dengan perasaan khawatir. Dia mengingat jelas, jas yang dipakai Tuan Muda berwarna hitam.


Nayla memundurkan tubuhnya, meski hidangan sudah tersaji, dia harus menyambut kedatangan Tuannya. Dimana kesopanan Nayla, dia malah bersantai disaat Tuan Mudanya tiba.


“Dia, makan siang?” benak Nayla.


Di meja makan, Nayla melihat hidangannya dihabiskan oleh Tuan Muda. hatinya berdegup kencang dengan perasaan asing, Dia merasa diperhatikan dan dihargai.


“Tuan Muda, dia pulang untuk makan siang.” Guman Nayla.

__ADS_1


__ADS_2