
Tiba dipemberhentian. Nayla bergegas turun dan menghampiri Bi Sih yang sudah sedari tadi menunggu.
"Nayla!" seru Bi Sih dengan penuh kesenangan. Dia memeluk Nayla dan memberikan kehangatan yang ada.
Disaat seperti ini, Nayla bukannya bahagia menerimanya. Dia malah terdiam hingga melamun.
"Bibi langsung kesini setelah mendengar dari Lasia. Katanya, Kamu naik bus lebih dahulu dari dia. Anak itu benar-benar...," keluh Bi Sih. Dia baru saja meninggalkan Nayla dengan kepercayaan penuh pada Laisa. Namun, kepercayaannya seketika menghilang saat Laisa mengirim pesan bahwa Nayla berpisah darinya.
"Tidak Bi, Laisa tidak bersalah. Dia berbohong kepada Bibi, kalau kami berpisah!" kilah Nayla. Dia menatap Bi Sih dengan pandangan khawatir. "Bi, Laisa dalam bahaya. Kita harus meminta seseorang untuk menolongnya."
Bi Sih bingung dengan tingkah Nayla. Dia menuntun Nayla menuju kesalah satu rumah warga.
"Nayla, tenangkan dirimu." Bi Sih memberikan sebotol air mineral untuk Nayla.
Dengan cepat Nayla meneguk air mineral itu. Setelah menyegarkan tenggorokkannya, Nayla kembali panik. "Bibi!"
"Tenanglah! Nayla, ayo kerumah ibumu dulu. Kita akan bercerita disana." ajak Bi Sih.
Paham bahwa saat ini mereka dikerumuni orang. Nayla mengangguk setuju dan mengikuti Bi Sih menuju kerumahnya.
Selamat perjalanan, Nayla merasa khawatir kepada sahabatnya itu. Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja? Ketua Gang itu tidak akan menyakitinya?
Pikiran Nayla begitu penuh pertanyaan. Hingga mereka tiba dirumah Nayla.
Bi Sih mendudukkan Nayla di kursi rotan. Dia melangkah mendekati pintu dan mengetuknya. "Durvin!" seru Bi Sih.
Suara balasan terdengar begitu kecil. Langkah kaki seseorang mendekati pintu membuat Bi Sih dan Nayla menanti kedatangannya.
Pintu terbuka dengan perlahan. Tampak seorang wanita yang mengenakan penutup kepala. Tubuh pendeknya begitu rapuh dimata Nayla.
Melihat sang Ibu keluar, Nayla segera mendekat dan menuntun orang tuanya untuk duduk. Dia seketika lupa apa yang membuatnya khawatir.
"Nayla! Kamu, ini kamu nak?" tanya Durvin dengan tidak percaya. Dia mengusap wajah Nayla berkali-kali dan memeluknya dengan erat.
"Nayla, putriku! Apa kabar sayang, akhirnya Ibu bisa melihatmu. Uh, Putriku pulang." Durvin begitu senang sekaligus sedih. Melihat anak semata wayang pulang setelah berpisah darinya.
__ADS_1
Tanpa menghiraukan Bi Sih, Durvin membawa Nayla masuk kedalam rumah.
"Eh Ibu, Bi Sih masih ada diluar. Tidak baik seperti ini." tegur Nayla. Sang Ibu segera sadar dan berbalik badan.
Bi Sih tersenyum ketika Durvin menatap dirinya. "Tidak apa, aku tahu kamu sangat merindukan Nayla. Berbincanglah dengannya, aku akan kembali kerumahku."
"Eh!" Durvin menahan Kepergian Bi Sih. "Jangan begitu. Ayo masuk, kita beristirahat didalam." ajaknya. Bi Sih tersenyum dan ikutmasuk kedalam rumah.
Di ruang tengah, dengan kursi rotan. Bi Sih duduk bersama Durvin. Sedangkan Nayla tengah menyiapkan teh hangat dan makanan ringan.
"Dia baru kembali, kenapa dia harus bekerja. Aku yang seharus-,"
Bi Sih menghentikan Durvin yang ingin bangun. Dengan suara lembut dia berucap. "Durvin, Nayla sangat menyayangimu. Tidak mungkin dia membiarkanmu bekerja. Biarkan dia melayanimu, kamu ibunya. Membalas kasih sayangmu dengan menyiapkan makanan serta menghidangkan teh. Itu semua belum seberapa."
Durvin, Ibu Nayla seketika diam. Dia merasa bangga dengan putrinya. Anak yang dia rawat semenjak sang suami meninggal dunia. Nayla adalah anak yang penuh semangat hingga sulit menemukan kesedihannya.
"Bagaimana keadaannya disana? Apa dia baik-baik saja?" tanya Durvin.
Bi Sih mengangguk seketika. "Tentu saja, kamu tidak melihat dirinya yang semakin gemuk. Tuan muda merawatnya dengan baik. Haha, terbalik. Seharusnya, Nayla yang menjaga Vinlo. Malah Vinlo yang menjaga gadis itu."
Tanpa rasa cemas, Bi Sih mengangguk. "Hm, Mereka tinggal bersama. Meski begitu, tetap terkendali oleh Nyonya besar."
Durvin diam seketika, dia menatap kearah Nayla yang membawa nampan.
"Waah, uap tehnya begitu mengoda." Bi Sih segera menyeduh teh yang Nayla siapkan.
"Bibi bisa aja." Dengan rasa malu Nayla menundukkan kepala. Dia mengusap tangannya dengan perasaan yang sama.
"Sudah, Bibi harus kembali kerumah. Kasihan anak-anak Bibi yang menunggu. Durvin, Besok sore Nayla harus kembali. Gunakan waktu bersama putrimu hm. Dia begitu merindukanmu. Nayla juga ya, ingat sayang!" kata Bi Sih dengan lembut. Nayla mengangguk seketika.
Setelah kepergian Bi Sih, Durvin tidak berbicara apa pun. Apa lagi saat Nayla telah menyelesaikan kegiatannya.
Nayla duduk disamping sang ibu. Tangannya tidak tinggal diam, dia memijit lengan bagian kanan ibunya. "Ada apa Bu? Ibu dari tadi diam mulu. Apa terjadi sesuatu?" tanya Nayla.
Durvin pelahan mengangkat pandangannya, dia melihat sang putri yang tersenyum. "Nayla, jujurlah kepada ibumu ini. Apa kamu menyukai Tuan yang menjadikanmu sebagai pembantunya?"
__ADS_1
Pertanyaan sang Ibu membuat Nayla terkejut. Tangannya berhenti memijit, dengan kikuk Nayla berucap. "A-pa yang ibu katakan, Nayla tidak mungkin menyukai tuan muda. Nayla ingat apa yang Ibu katakan."
Durvin mengubah posisi untuk berhadapan dengan putrinya. "Dengar sayang, apa pun perasaanmu. Buanglah sekarang, ibu tidak ingin kamu merasakan sakit hingga menghilangkan kebahagiaanmu,"
"Ibu menyayangimu. Bukan maksud untuk menyakiti hati anak ibu. Tapi, ibu belajar dari diri ibu sendiri. Kamu akan merasakan rasa sakit saat semua keinginanmu musnah seketika. Apa lagi, janji manis yang kita genggam menghilang dalam kedipan mata." lanjut Durvin. Dengan perlahan, dia mengusap kepala Nayla.
"Nayla, ingat kembali pesan ibu. Jangan jatuh cinta kepada tuanmu sendiri. jika hatimu sudah menyimpan namanya, maka buanglah dan tinggalkanlah." tegur sang Ibu.
Mendengar hal itu, Nayla bungkam seketika. Dia tidak menduga, Ibunya akan memberikan teguran seperti ini.
"Kamu mendengarkan ibu, sayang?"
Nayla mengangguk pelan. Dia merasa sesak didada hingga napasnya pun sulit terhembus.
Suasana yang sudah berubah tegang seketika hilang karena suara ketukkan pintu. Nayla bergegas bangun dan membukanya.
"Iya?" tanya Nayla. Pandangannya seketika terpaku, melihat Laisa tersenyum kepadanya.
"La-laisa?!" pekik Nayla. Laisa mengangguk dan bergegas memeluknya.
"Siapa, Nayla?" tanya Durvin. Dia melangkah mendekati Nayla dan Laisa.
Laisa melepaskan pelukkannya. Dia tersenyum dan memeluk Ibu Nayla. "Tante, bagaimana kabar tante?" tanya Laisa.
Durvin dengan lembut membalas pelukkan Laisa. "Tante sehat, kamu kan sudah mengetahui keadaan tante." jawabnya.
Laisa tersenyum, dia menatap kearah Nayla yang berkaca-kaca. "Ada apa denganmu? Kamu ingin menangis?"
Nayla dengan napas yang tersengkat berucap. "La-laisa! Huaaa kamu baik-baik saja...," Nayla memeluk Laisa kembali. Dia begitu terisak hingga Durvin ikut panik.
"Apa terjadi sesuatu Nak Laisa? Nayla begitu sedih melihat dirimu. Oh ya, Sih bilang, kamu terpisah bus dari Nayla. Apa ada sesuatu yang-,"
Laisa segera menggeleng kepala. Dia menjauhkan Nayla dari dekatnya. Dengan lembut, Laisa mengenggam bahu Tante Durvin.
"Tidak Tante. Tidak ada yang terjadi. Nayla seperti ini, karena dia berpikir aku tersesat. Huh, dia kira aku anak kecil apa?!"
__ADS_1
Ibu Nayla masih engan untuk mempercayainya. Namun, Laisa dengan cepat membawa Ibu dan anak itu untuk duduk diruang tengah. "Hehe, aku lelah. Mending kita duduk dan bercerita di dalam." ucapnya.