
Vinlo menunjukkan reaksi amarah yang memuncak. Dia berjalan menuju ruang tengah dengan perasaan campur aduknya.
"Apa yang kamu lakukan, Vinlo!" tegur sang Ayah yang melihat putranya kembali dalam keadaan lusuh.
Seluruh tamu undangan menjadi bingung dengan hal ini. Mereka saling melirik mata untuk menangkap apa saja yang terjadi dikeluarga Margatha.
"VINLO!" teriak Ayah Vin ketika perkataannya tidak di hiraukan oleh Vinlo sendiri.
Seluruh ruangan mengemakan namanya. Vinlo tidak memperdulikan seruan Ayahnya. Dia melangkahkan kaki dengan mantap menuju ke arah Wanita yang berdiri tidak jauh dari altar pertunangan.
"Vi-vinlo?" suara lirih Nyonya Mayra yang mendapati Vinlo mendekat ke arahnya. Dia berusaha untuk tidak kabur ketika melihat wajah Vinlo yang penuh akan amarah.
"KAU!" teriak Vinlo dengan menunjuk wanita yang kini ada di depannya. Dia berdiri dengan mantap sembari menunjukkan wajah membenci.
Ayah Vin datang menengahi. Dia menatap tajam kepada Putranya. " Vin, sopan santunmu! Dia orang tuamu, ingat itu." tegur Ayah Vin.
Namun, Vinlo tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ayahnya. Tangannya masih menunjuk dengan amarah yang sama.
"Ayah membela wanita yang ayah cintai. Maka, aku membela diriku dengan orang yang ku cintai." Vinlo menurunkan tangannya.
Ayah Vin menatap bingung mendengar tutur kata yang Vinlo ucapkan. "Membela, apa maksudmu?" tanyanya.
"Ayah, jika bukan karena DIA! Aku tidak akan berada di pertunangan ini. Ayah tahu, dia mengancamku jika tidak bertunangan dengan Olati." ucap Vinlo.
Ayah Vin menatap wajah Mayra yang tampak tidak tahu apa pun. Dia kembali menatap putranya, "Jangan asal menuduh Vinlo."
"Aku asal menuduh? Jika ayah tahu niat busuk Istri ayah, apa ayah akan membelaku? Tidak bukan? ... aku perjelas, pertunangan ini tidak akan terjadi. Aku tidak mau bertunangan dengan Olati karena aku telah mencintai Nayla." jelas Vinlo.
Ayah Vin menghela napas mendengar penuturan kata putranya. "Kamu mencintai pembantu pribadimu itu? Lalu, kenapa kamu menyetujui pertunangan ini? Kamu ingin mempermalukan ayahmu!"
Vinlo terkekeh, dia segera menatap ke arah wanita yang bersembunyi di belakang Ayahnya. "Aku tidak mempermalukan siapapun. Tapi, aku telah berhasil membuat wanita yang ku cintai menangis. Ayah, akan ku berikan bukti tentang ancaman yang dia lakukan kepadaku."
"Setelahnya, biar ayah yang memutuskan sendiri. Yang terpenting, aku sudah membenci dirinya. Lanjutkan saja pertunangan ini, entah dengan siapa. Aku, tidak perduli!" ucap Vinlo.
Langkah kaki yang begitu lebar membawa Vinlo menuju keluar rumah bersama Raga. Dia mengingat plat mobil milik Zivarka yang membawa Nayla.
__ADS_1
"Raga, di mana tabletmu?" tanya Vinlo sembari melepaskan dasi yang melilit di lehernya.
Raga segera menjawab. "Tablet ada di dalam mobil tuan."
Vinlo mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil. Tidak tinggal diam, Raga ikut masuk dan mengemudikan mobil keluar dari kediaman Margatha.
Siapa yang menduga, kalau Tuannya akan bertindak seperti ini. Raga berpikir, Tuannya akan menjadi lemah dan pasrah dengan segala yang terjadi. Namun, semua itu tidak sesuai dengan pikirannya.
"Cinta tuan begitu tulus. Jika benar itu Nayla, ku harap dia tidak salahpaham." benak Raga.
Selama perjalanan, Vinlo membuka situs webnya dan melacak lokasi di mana Zivarka membawa Nayla. Sebenarnya ada rasa lega ketika dia melihat Zivarka yang mengantar Nayla.
Namun, rasa cemburu tiba-tiba membakar hatinya. Pikiran negatif juga memenuhi di dalam pikiran yang berjalan saat ini. Bagaimana jika Nayla malah dilecehkan oleh Zivarka, mengingat bagaimana tingkah Zivarka yang tidak tahu malu.
Semua pikiran itu tidak bisa ditenangkan. Vinlo harus menemukan Nayla dan melihatnya sendiri. Jika Nayla terluka atau apa pun itu, Vinlo yang akan menghajar Zivarka.
"Raga, berhenti!" perintah Vinlo.
Raga seketika itu juga menghentikan mobil dengan menepi di pinggir jalan. "Ada apa tuan?"
"Lokasi yang bisa ku lihat, Zivarka tengah mengila di kota ini. Dia membawa mobil dengan kecepatan tinggi hingga tidak menentu arah. Pria ini, apa dia membawa Nayla?" Vinlo memperhatikan jejak-jejak yang Zivarka tinggalkan.
Raga segera menancapkan kecepatannya. Dia menduga kalau apa yang Tuannya berikan pasti di sana Zivarka sedang berkendara.
Perjalanan yang panjang itu terasa singkat bagi Vinlo. Tidak lama, Raga menghentikan mobil di depan seorang pria.
"Tunggu di sini, Raga." ucap Vinlo membuka pintu mobil.
Vinlo berhenti melangkah ketika tiba di depan seorang pria yang sedang bersedekap di dada.
"Oh, pria selingkuh telah datang." ucap Zivarka dengan melempar minuman kaleng ke arah Vinlo.
Vinlo dengan cekatan menangkapnya. Tidak ada niat untuk meminum apa yang diberikan. Saat ini, Dia perlu menjelaskan kepada Nayla agar hubungan mereka tidak berakhir.
"Minumlah, setelah itu kamu akan lebih lelah mencari dirinya. Aku akan memberitahumu, kalau dia tidak bersamaku. Kamu bisa mengirimkan orang-orangmu untuk membuntutiku." ucap Zivarka yang kemudian melangkah mendekati pintu kemudi.
__ADS_1
"Oh ya, Aku melihat wajahnya yang berlinang air mata. Tampaknya, dia sangat sakit hati melihatmu bertunangan dengan orang lain. Berjuanglah dan semoga berhasil." lanjut Zivarka sebelum masuk ke dalam mobil.
Vinlo segera menahan pintu yang hampir tertutup itu. Dia menatap tajam ke arah Zivarka. "Apa dia menangis?" tanyanya.
Zivarka mengangguk, "Dia menangis sebelum bertemu denganku. Aku pikir, pertunanganmu itu hanya kebohongan. Ternyata, kamu benar-benar mengecewakan hatinya."
Vinlo terdiam mendengar perkataan Zivarka. Dia berdiri dengan kepala menunduk. Membiarkan Zivarka pergi menjauh darinya, Vinlo tertawa kecil setelah Zivarka menjauh.
"Nayla pasti membenciku, dia pasti membenciku!" pekik Vinlo.
Raga yang melihat Tuannya menggila segera menghampirinya dan menuntun untuk beristirahat di dalam mobil.
"Aku harus bagaimana Raga, Nayla akan pergi meninggalkanku. Tidak, aku belum siap. Sudah cukup kehilangan Ibuku, jangan lagi aku merasakan rasa kehilangan ini." Vinlo menutup wajahnya dengan perasaan frustasi. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
Melihat keadaan Vinlo seperti itu, Raga memutuskan kembali membawa Tuannya ke apartment. Dia juga tidak tahu harus bagaimana, tetapi sebuah ide tiba-tiba muncul seketika.
"Tuan, bagaimana kalau kita melacak ponsel Nayla?" usul Raga.
Vinlo segera mengangkat kepalanya dan menatap Raga. Ide yang tidak dia dapatkan, kini muncul sebagai usulan terbaik di saat dia terpuruk. Vinlo mengambil tablet yang ada di sampingnya dan segera melacak nomor Nayla.
...-*-...
"Laisa, apa yang kamu lakukan dengan kartu teleponku?" Nayla terkejut melihat Laisa melepaskan kartu dari ponselnya.
Kartu yang ada di tangan Laisa, tersimpan di dalam kertas yang telah tersedia. "Zivarka bilang, keluarga Margatha bisa melacak siapapun yang mereka mau. Maka, jika kamu ingin menjauh darinya, kamu harus menghilangkan jejakmu." jelas Laisa.
Nayla diam seketika, dia memikirkan bagaimana Vinlo bertindak saat dia berlari waktu itu. Sejujurnya, Nayla melihat dengan jelas kalau Vinlo menyusulnya keluar dari kediaman utama.
Saat itu, rasa sakit lebih kuat dari pikiran. Nayla tidak bisa menghentikan langkahnya dan memilih untuk menjauh.
"Sudah, Istirahatlah ... besok pagi, Kamu harus menyajikan sarapan untukku, hehe." Laisa tercengir menatap Nayla.
Nayla tersenyum, dia mengangguk kepala. "Tenang saja, Nasi gorengmu akan datang pagi hari nanti."
Laisa memberikan dua jempolnya sebagai tanda kalau dia puas. Setelah itu, dia pergi meninggalkan Nayla di dalam kamar.
__ADS_1
Nayla menatap kamar kedua yang ada di rumah sewa. Laisa benar-benar menolongnya, baik susah maupun senang. Nayla benar-benar beruntung mendapatkan sahabat seperti Laisa.
"Benar, aku harus menenangkan diri. Vinlo, maafkan aku yang lari darimu." gumam Nayla.