Pembantu Pribadi Tuan Muda

Pembantu Pribadi Tuan Muda
Bab 17 : Mengobati Luka


__ADS_3

Setelah makan siang yang penuh kebahagiaan itu, Nayla menatap kearah lututnya. Terlihat lecet yang darahnya sudah mengering.


“Kapan aku terluka? Perasaan tadi tidak ada yang sakit deh.” Nayla bergegas keluar dapur untuk mencari kotak p3k. Dia harus segera mengobati luka itu agar tidak menganggu semua urusannya.


Saat tiba di ruang tengah, Nayla melihat Vinlo keluar dari kamar. “Tuan Muda akan berangkat kerja, lebih baik aku mengantarnya hingga kedepan pintu.” Benak Nayla.


Langkah kakinya berubah tujuan. Nayla segera berhenti saat tiba di tangga.


Vinlo melihat dengan pandangan yang sangat bahagia. benar apa yang di katakan Raga, hubungan yang sedikit rusak akan membaik jika dia dengan cepat menyadarinya.


“Nayla...,” Benak Vinlo.


Nayla menatap Vinlo yang berdiri didepannya. Untuk sesaat waktu terhenti disekeliling mereka.


“A-aku akan berangkat Nayla, apa ada perlu sesuatu?” tanya Vinlo dengan menatap gadis pendek didepannya.


Nayla mendongak untuk melihat wajah Vinlo. Tubuhnya yang pendek tampak begitu kecil didepan Tuan Muda. “Ti-tidak ada,” ucap Nayla dengan sedikit keraguan.


Vinlo menganggukkan kepala, dia melanjutkan langkah kaki menuju ke pintu apartment.


Melihat Tuan Mudanya sudah melangkah pergi, Nayla bergegas menyusul dengan kaki kanan melangkah lebih dahulu.


Lekukkan yang dia lakukan membuat luka di lutut seketika perih. Terasa sakit hingga Nayla mengaduh dibelakang Vinlo.


“Aww!”


Vinlo yang mendengar seketika membalik badan dan melihat Nayla yang keseimbangannya goyah. Dengan cepat kedua tangan Vinlo menangkap Nayla.


“Nayla, apa yang terjadi?” tanya Vinlo dengan wajah kaget.


Nayla seketika mengeleng dan membangunkan tubuhnya karena merasa tidak enak. Di tolong seperti ini membuatnya tidak nyaman. “Nayla tidak apa-apa Tuan.” Ucap Nayla setelah dia berdiri dengan benar.


Tangan Vinlo masih engan melepaskan Nayla. Dia menatap khawatir dengan wajah meringis yang Nayla tampakkan.


“Kamu yakin?” tanya Vinlo lagi.


Nayla mengangguk dan tersenyum untuk menyakinkan Tuan Mudanya. Vinlo melihat hal itu dengan pelan melepaskan tangan dari bahu dan pingang ramping Nayla.


“Kalau ada apa-apa, hubungi aku. Kamu tahu kan, ada telpon rumah dan di dalam laci terdapat nomor telponku.” Vinlo melirik kearah telpon rumah yang tersedia.

__ADS_1


Nayla mengangguk lagi. “Baik Tuan, Nayla akan menghubungi Anda.”


Vinlo menghela nafas dengan pelan, dia membalikkan tubuh dengan mata yang melirik di kaki Nayla. Terlihat di rok panjang berwarna biru gelap itu, ada noda merah yang sudah mengering.


“Apa ini?!” Vinlo berjongkok seketika, dia menarik rok panjang Nayla. Diperlihatkan lutut cantik yang tergores dengan darah kering.


“Tu-Tuan Muda?” Nayla mengarahkan tangannya untuk menutupi bagian paha kanan. Dia merasa begitu malu, pakaian Maid ini turun-temurun. Keluarga Margatha masih sedikit mengikuti jaman kerajaan. Apa lagi, Margatha masih keturunan dari para kerajaan yang dulu.


Mengetahui hal itu, Nayla tentu menerima pakaian seperti ini dengan apa adanya. Yang dia perlukan uang, bukan status lain. terpenting, dia bisa membantu Ibunya dikampung.


“Duduk disana, Nay! Aku akan mengambil kotak P3Knya.” Ucap Vinlo.


Nayla ingin menolak tapi Vinlo sudah pergi dengan langkah kaki lebarnya. “Aku bisa mengobatinya sendiri.” guman Nayla.


Tidak lama menunggu, Vinlo kembali dengan kotak P3K di tangan. “Apa yang kamu lakukan disana, Nay? Duduklah di sofa.” Perintah Vinlo.


Nayla tidak berniat untuk pergi dari tempat dia berdiri. Tetapi, Vinlo kembali menyuruhnya.


“Duduklah disini, Nay.”


Tidak ingin Vinlo memanggilnya lagi, Nayla melangkah mendekati sofa. Dia duduk seperti apa yang di katakan oleh Tuan Mudanya.


“Maaf ya.” Ucap Vinlo dengan berjongkok didepan Nayla.


“Aww!”


Mata Nayla terkejut seketika, dia bergegas menangkup wajah Vinlo dan memperhatikan wajah yang begitu tampan.


“Dimana yang sakit?” tanya Nayla dengan wajah panik.


Vinlo terdiam melihat wajah Nayla. Bibir merah yang begitu alami, mata yang melirik mencari tempat dimana rasa sakit yang ada diwajahnya. Degupan di jantungnya begitu kuat hingga tanpa sadar tangan Vinlo menyentuh pingang Nayla.


Baju Maid yang dipakai dengan rok panjang berwarna biru, Nayla tampak sangat cantik dimata Vinlo. Tangannya tidak berpindah tempat, dibiarkan Nayla mencari rasa sakit dipipinya.


“Tuan Muda katakan, dimana yang sakit?” tanya Nayla semakin mendekatkan wajahnya.


“Hm.” Deheman Vinlo membuat Nayla berhenti mencari. Dia melihat mata Vinlo menatap dirinya. Wajah mereka begitu dekat hingga Nayla bisa merasakan hembusan nafas Tuan Mudanya.


Melihat hal itu, Nayla bergegas menjauhkan diri hingga berdiri dengan tegak.

__ADS_1


Vinlo merasa sedih melihat reaksi Nayla yang menjauh padanya. “Aku ingin melihat wajahnya lebih lama.” Benak Vinlo.


Nayla bergegas mengambil kotak P3K di meja, dia tidak ingin Tuan Muda mengobatinya. “Nayla bisa mengobati luka ini, Tuan Muda.” ucap Nayla.


Vinlo mengeleng, dia bangun dan mendekat kearah Nayla. “Tidak, Aku yang akan mengobatimu. Aku yakin, kamu terluka karena kesalahanku.” Ucap Vinlo.


Melihat Tuan Muda yang mendekat dengan perlahan, Nayla melangkah mundur hingga terhalang salah satu sofa. “Eeh.”


“Duduk dan diamlah!” ucap Vinlo dengan memegang dua bahu Nayla.


Nayla dengan cepat duduk karena Tuan Mudanya sudah menuntun dirinya. Nayla terdiam melihat Vinlo mengobati luka dengan cepat.


Suara deringan ponsel membuat Nayla melihat kearah saku Vinlo. “Tuan, ponsel anda berdering.” Ucapnya.


Vinlo tidak menghiraukan panggilan yang dia dapat. Dia kembali mengoleskan obat luka hingga membalutnya.


“Oke sudah selesai, lebih baik kamu beristirahat dulu. Ini baru jam 3 sore, istirahatlah dan kerjakan esok hari saja.” Ucap Vinlo dengan menyimpan peralatan medis. Nayla menatap balutan di lututnya, luka itu tidak terasa perih dan yang di rasakan oleh Nayla, hanya perasaan bahagia.


“Aku akan kembali kekantor, untuk makan malam, kamu tidak perlu menyiapkannya. Aku akan membeli makanan diluar.” Ucap Vinlo merapikan jasnya.


Nayla melihat dasi Tuan Mudanya tampak buruk, dia bergegas mengulurkan tangan untuk memperbaiki dasi itu.


Tangan Nayla dengan begitu telaten menata dasi milik Vinlo. Vinlo yang melihat Nayla sedikit kesusahan memperbaiki dasinya, bergegas mendekatikan diri untuk membantu Nayla.


Selama memperbaiki dasi, Vinlo merasa senang melihat Nayla begitu serius, dia tanpa sadar mengusap kepala wanita didepannya.


Nayla seketika mengangkat kepala dan melihat Tuan Muda yang mengusap kepala. “Eh?” dengan cepat Nayla menjauhkan diri.


“Terima kasih.” Ucap Vinlo dengan bahagia. wajah berseri tampak hingga dia meninggalkan apartment.


“Tuan Muda, apa yang membuatnya bahagia?” benak Nayla. Karena mendengar apa yang dikatakan oleh Vinlo, Nayla memutuskan beristirahat sebentar.


...-*-...


Setiba di kantor, Vinlo menaiki lift dengan nada hati yang bernyanyi senang, bahagia. hingga lift dibuka dan terlihat Raga yang menunggu kedatangannya.


“Dari mana Tuan Muda? telponku saja tidak anda angkat Tuan. Apakah terjadi sesuatu hingga panggilanku tidak penting untukmu?” tanya Raga dengan nada bicara yang mengejek.


Vinlo yang mendengarnya hanya menatap sekilas, dia melangkah menuju kantor dengan senyum bahagia.

__ADS_1


Melihat kebahagiaan dari raut wajah Vinlo, Raga mengerutkan alisnya. “Oh, apa telah terjadi sesuatu antara dirimu dengan Pembantu itu?”


“Tebaklah.” Ucap Vinlo dengan duduk di kursi nyamannya.


__ADS_2