Pembantu Pribadi Tuan Muda

Pembantu Pribadi Tuan Muda
Bab 49 : Kacau


__ADS_3

Matahari baru saja terbit, ayam juga baru saja berkokok untuk membangunkan semua orang yang masih tertidur.


Namun, tidak dengan Vinlo yang dari semalam mengotak-atik komputernya. "Cih, Kenapa bisa Nayla berpikir untuk melakukan itu?" gumamnya.


Semalam, setelah saran dari Raga. Vinlo melacak nomor Nayla dengan cepat. Namun, hasilnya benar-benar menghilang.


Tidak putus asa, Vinlo mencari lagi dan lagi hingga sampai pagi ini. Matanya yang sudah seperti panda dengan bibir pucat karena terlalu berlebihan dalam mencari. Vinlo, terlihat begitu kacau.


Raga yang baru bangun dari tidurnya, memutuskan untuk membuat sarapan. Dia melakukan itu untuk menjaga agar Tuannya tetap sehat.


Raga sendiri tahu, Vinlo akan mengerikan jika sakit. Sakit sedikit saja, maka rumah sakit yang akan menyambutnya. Semua itu terjadi karena saat kecil, Tuan Vinlo rentan sakit. Semua kesehaatannya harus terjaga termasuk kebersihan.


Tidak heran, dia selalu mendapatkan pembantu pribadi hanya untuk merawatnya. Lalu, Tidak semua pembantu tahan dengan Vinlo, dia selalu dingin dan acuh terhadap orang lain. Namun, berbeda dengan Nayla. Sikap Vinlo berubah 180 derajat dari sikap biasanya.


Raga tidak merasa aneh melihat bagaimana keadaan Tuannya sekarang. Cinta yang baru di mulai, apa lagi semua itu adalah cinta pertama Tuannya. Pasti, akan di jaga bahkan rela melawan kematian.


Inilah yang terjadi, Raga membawa sarapan untuk Tuannya. Dia tidak tega melihat seseorang yang mengejar cinta pertamanya dalam keadaan mengenaskan.


"Tuan, makanlah dulu." Raga menaruh sepiring roti panggang yang telah diberi selai bersama secangkir teh hangat.


Vinlo hanya melirik mata lalu kembali fokus pada komputernya. "Hm, nanti aku sarapan."


Raga kembali duduk di sofa dan menyantap sarapan yang sama. Dia melirik Tuannya yang begitu kelelahan.


"Nayla, jangan membuat tuan sakit. Aku tidak menginginkannya masuk ke dalam rumah sakit." benak Raga dengan harapan besar.


Siang hari berlalu,


Vinlo masih tenang duduk di depan komputer tanpa menyentuh sarapannya. Dia akan bangun jika ingin buang air kecil atau mencari data lain tentang nomor Nayla.


Semua hasil yang dia dapat, tidaklah memuaskan. Nayla benar-benar menghilang dari jangkauannya.


"Sial, aku harus mencarinya di seluruh kota?" gumam Vinlo. Dia melirik ponsel yang terletak di sampingnya.


Segera ponsel itu di raih dan layarnya menyala setelah disentuh. Mengeser dan mengklik yang ada di sana, Vinlo mengarahkan ponselnya ketelinga.


"Hallo!"


"Kalian cari wanita yang memiliki tinggi 150 cm ke atas. Dia memiliki wajah bulat dengan senyum yang manis. Namanya, Nayla!" perintah Vinlo.


Diseberang sana menjawab dengan cepat. Vinlo segera mematikan panggilan tersebut dengan napas berhembut panjang.


"Nay, ku mohon ... jangan menghilang seperti ini." gumamnya.


...-*-...

__ADS_1


Nayla akhirnya bisa berbaring santai di kamar. dia membereskan rumah Laisa, meski kamar itu sebenarnya sudah dibersihkan sang pemilik.


Namun tetap saja, Nayla akan membersihkannya karena sudah menjadi kebiasaannya sehari-hari.


"Sejujurnya, mengerjakan tugas rumah ada lelahnya juga." gumam Nayla.


Sembari menatap langit-langit kamar. Nayla tiba-tiba memikirkan Tuannya. "Tidak, aku tidak seharusnya memikirkan dia." gelengan kepala segera Nayla lakukan.


Dia bangun dari tempat tidur, lalu melangkah menuju jendela kayu yang menunjukkan keindahannya perumahan.


"Seharusnya aku melupakan Vinlo. Tidak boleh mengingatnya karena tujuanku ke sini untuk menenangkan diri. Lagi pula, Tuan tidak akan sakit hanya karena kepergianku."


Suasana siang ini begitu cerah, Nayla tersenyum melihat keindahan langit yang terdapat beberapa awan. Panasnya matahari ini tidak membuat Nayla berkeringat. Mungkin, jika pekerjaannya banyak, Nayla akan mengeluh karena kepanasan.


"Oke, karena sudah membersihkan semuanya. Lebih baik membuat makan siang untukku." Nayla melangkah keluar kamar dengan perasaan senangnya.


Sore harinya, Nayla mengibas-ngibas tangan setelah mengerjakan segala tugas. Siapa yang menduga kalau membersihkan rumah Laisa lebih nyaman.


"Mungkin karena rumahnya kecil?" gumam Nayla. Dia menutup mulutnya setelah berucap.


"Jika Laisa mendengarnya, dia akan memarahiku." ucap Nayla dengan tersenyum.


Suara ketukkan pintu terdengar di telinga. Nayla segera menuju ke arah tersebut untuk membukanya.


Pintu terbuka dengan cepat, Seorang wanita dengan wajah lesunya masuk ke dalam. "Sore Nayla," sapa Laisa.


Laisa mengangguk-angguk kepala dan segera menunu kamarnya.


Nayla menggeleng melihat tingkah sahabatnya itu. Tidaklah mudah menjadi perawat. Namun, Laisa memiliki cita-cita yang tinggi. Yang tidak mudah akan menjadi mudah suatu saat nanti, jika dipenuhi dengan usaha yang besar.


Duduk di ruang tamu, Nayla menonton televisi sembari memakan cemilan buatannya. Tidak lama, Dia mendengar langkah kaki Laisa mendekat.


"Kamu membersihkan semua di rumahku? Aku tidak bisa membayarmu, kamu tahu sendiri kalau aku hanya seorang penumpang." ucap Laisa.


Nayla menatap Laisa yang duduk di seberangnya. "Kamu bilang menumpang?"


"Hm, rumah sewa ini bukan milikku tapi milik Zivarka. Dia yang menyewakannya dengan alasan agar aku tidak jauh darinya. Yeah, dia sedikit aneh dan terlalu banyak permintaan." jawab Laisa.


Nayla tidak menduga rumah sewa ini milik kekasihnya Laisa. Dia pikir, Laisalah yang ingin menyewa di rumah yang lumayan ini.


"Aku pikir, kamu sendiri yang menyewanya. Siapa yang menduga, orang yang kamu temui tidak sengaja, malah menjadi kekasihmu." ucap Nayla.


Laisa hanya tersenyum, dia mengambil cemilan Nayla dan menyantapnya. "Aku pun tidak tahu kalau seperti itu kejadiannya. Sudahlah, jangan di bahas orang yang tidak ada di sini. Bagaimana kalau kita menceritakan hal lain."


"Hm, oh ya ... bagaimana kabarnya, Maia ya? Dia bukannya dulu berpisah dari kita." Nayla mengingat saat masa sekolah menengah. Ada wanita bernama Maia yang memiliki paras cuek hingga tidak ada orang yang mau dengannya.

__ADS_1


Laisa yang mendengar itu mengangguk-angguk kepala. "Kalau dia, hm ... aku dengar kabar, dia sudah menikah dengan orang yang kaya."


"Eh, benar kah?"


"Iya, pernikahannya tidak salah sudah menjalani satu tahun. Tapi," Laisa menunduk dengan wajah sendu.


Melihat hal itu, Nayla mulak merasa tidak enak. "Ada apa?"


"Maia meninggal setelah melahirkan anak pertamanya. Dia seperti itu karena depresi yang luar biasa, membuatnya merenggang nyawa." jelas Laisa.


Nayla menutup mulutnya dengan perasaan sedih yang memenuhi isi hatinya. "Kenapa bisa seperti itu?"


"Suaminya diam-diam menikahi wanita lain hingga dia stress yang berakhirkan depresi. Nayla, cinta itu gila ya ... Maia bahkan rela menunggu kembalinya sang suami, meski tahu kalau suaminya itu tidak akan pernah kembali."


"Jadi sekarang, Maia telah meninggal?" tanya Nayla.


Anggukkan kepala Laisa berikan. "Hm, dia sakit sebelum kematiannya. Sempat dilarikan ke rumah sakit karena mimisannya yang hebat. Tapi tetap saja, dia harus pergi meninggalkan dunia."


Nayla menjadi diam mendengarkan penjelasan itu. Bagaimana pun, seseorang bisa seperti itu karena cinta. Lupa menjaga kesehatannya hanya untuk menahan kehidupan rumah tangga.


"Aku tidak tahu kalau orang bisa seperti itu." gumam Nayla.


Laisa yang duduk di sebelahnya tentu mendengar gumaman itu. "Orang yang serius mencintai kekasihnya. Dia akan rela melakukan apa pun agar kekasihnya kembali. Meski harus menjadi pelakor sekalipun."


Mendengar hal itu, Nayla seketika mengingat Vinlo. Entah kenapa, perasaan khawatir menghantui dirinya.


...-*-...


Di rumah sakit, seseorang segera memasuki ruangan dengan wajah penuh kekhawatiran. Langkah demi langkah hingga tiba di tempat yang membuatnya terdiam.


"Tuan!" seru Raga datang membawa air mineral untuk menjadi penemangnya. Namun, cengkraman erat membuatnya menjatuhkan semua minuman itu.


"Kenapa ini bisa terjadi, kenapa Vinlo masuk ke ruangan darurat? Raga, apa yang terjadi kepadanya?" tanya Tuan Vin.


Raga menenangkan pria yang sangat mencintai anaknya. "Tuan tenanglah, Tuan Muda begitu kelelahan. Dia tidak ada di ruangan darurat, hanya berada di ruang rawat." sahut Raga.


Kelegaan terlihat jelas diwajah Tuan Vin. Dia segera masuk ke dalam ruangan yang memang menjadi milik keluarga Margatha.


"Apa yang terjadi kepadanya?" tanya Tuan Vin.


Raga segera menjawab, "Tuan Muda kelelahan karena kurang beristirahat. Dia tidak mau makan bahkan sarapan."


"Apa semua ini karena wanita yang dicintainya pergi. Raga, katakan kepadaku, seberapa cintanya putraku kepada pembantu pribadinya?"


Raga menundukkan pandanganya. "Tuan, gelang peninggalan Nyonya, Ibu Tuan Vinlo. Gelang itu diberikan kepada Nayla. Tuan Vinlo, tampak bahagia ketika Nayla ada di dekatnya. Kebutuhan Tuan Muda pun begitu terjaga, hingga seperti ini jadinya ketika Tuan Muda kehilangan Dia."

__ADS_1


"Baiklah, Cari Nayla. Kerahkan bawahanku untuk mencarinya. Katakan kepadanya, Putraku tulus mencintainya tidak ada niat tersembunyi. Semua ini, karena kesalahanku yang tidak memperhatikan Mayra." ucap Tuan Vin. Raga segera mengangguk setelah mendengar semua itu.


__ADS_2