Pembantu Pribadi Tuan Muda

Pembantu Pribadi Tuan Muda
Bab 46 : Aku terima!


__ADS_3

Vinlo menderita selama tiga hari ini. Benar, tiga hari telah berlalu dan Nayla tidak kunjung kembali. Mengirim pesan pun tidak pernah selama tiga hari ini.


Penderitaannya menjadi jawaban bagi Nyonya Mayra. Pertunangan Vinlo dan Olati akan terjadi pada malam hari ini.


"Sesuai kesepakatan, malam ini bertunanganlah dengan Olati. Tidak ada penolakkan karena semua sudah sesuai kesepakatan kita." ucap Nyonya Mayra.


Vinlo yang duduk di sofa miliknya hanya bisa terdiam. Dia merasa begitu terpukul dengan pilihan berat ini. Menolak sama saja mengakhiri hubungannya dengan Nayla.


"Baiklah, Aku terima!" Keputusan Vinlo. Dia tidak akan menikah, hanya sebuah pertunangan yang bisa dia akhiri.


Nyonya Mayra mengangguk puas. Dia segera pergi meninggalkan Apartment dengan kebahagiaan di wajahnya.


Berbeda dengan Vinlo yang benar-benar terpuruk. Tiga hari dia menunggu dan yang di tunggu tidak menunjukkan tanda-tanda dia akan kembali.


"Nay, akan ku jelaskan semuanya kepadamu." ucap Vinlo.


...-*-...


Di desa, Nayla membantu sang ibu berkerja di perkebunan. Dia harus mencari uang tambahan dan membiarkan Ibunya beristirahat.


Meski mendapatkan banyak gaji dari Vinlo dan Nyonya Besar. Nayla belum benar-benar bisa mengunakannya. Kecuali, dia terdesak.


Laisa, sahabatnya Nayla sudah kembali ke kota untuk bekerja. Menjadi perawat di sana tampaknya sulit. Di tambah, Laisa masih banyak belajar untuk bisa menjadi perawat sesungguhnya.


"Neng Nayla, Istirahatlah ... udah sore nih!" ucap pemilik kebun yang berteriak tidak jauh dari tempat Nayla.


"Iya Mbok, ini Nayla juga mau istirahat." sahutnya.


Segera dikemas buah-buah yang sudah dipetik. Dia membawa dua keranjang, yang satu di punggung sedangkan satunya di gendong.


Nayla melangkahkan kaki menuju ke penimbangam buah, di sana ada anak muda yang usianya berbeda dua tahun dari Nayla.


"Sini Nay, turunkan dulu keranjangnya." ucap Rafta dengan suara yang begitu ramah.


Nayla tersenyum, dia membiarkan Rafta mengambil keranjang yang ada di punggungnya.


"Cantik-cantik malah kerja. Engak jadi istriku aja Nay," celetuk Rafta.


Nayla tertawa mendengar ucapan itu. "Ada-ada aja Mas."

__ADS_1


"Kok ada-ada aja sih? Aku kan serius." ucap Rafta memandang Nayla.


Melihat pandangannya, Nayla seketika sadar kalau pria di depannya benar-benar menyukai dia.


"Maaf Mas, Nayla sudah punya kekasih. Dia ada di kota, malam ini Nayla akan ke sana untuk menemuinya." tolak Nayla secara halus.


Pria yang ada di depannya seketika terdiam. Dia menimbang keranjang Nayla dan menghitung berapa upah yang akan diterima wanita itu.


"Gitu ya, udah ada kekasih. Kalau dia tidak menikahimu. Aku yang akan mendapatkanmu Nayla." ucap Rafta.


Nayla tidak bisa berkata apa-apa. Dia segera mengambil upahnya dan memilih untuk pergi. "Tidak bisa, aku sudah mendapatkan janji dari seseorang. Ku harap, dia tidak melanggarnya." benak Nayla.


Selama perjalanan pulang, Nayla memainkan ponsel pintarnya. Tiga hari tidak memegang benda pipih itu, dia begitu penuh dengan rasa rindu kepada kekasihnya, Tuan Muda Vinlo.


Bagaimana kabarnya? Apa makannya teratur? Tidurnya juga dan apakah istirahat dengan cukup? Semua itu berada di dalam pikiran Nayla. Dia membuka pesan yang terakhir dikirimkan. Hanya ada kata rindu yang dia sampaikan saat pergi dadakkan itu.


"Eh? Apa tuan muda sibuk hingga tidak mengirimku pesan?" gumam Nayla.


"Tidak! Tuan muda tidak sibuk kalau aku mengirim pesan padanya. Seharusnya aku mengirim kabar kepada tuan." Nayla segera mengetik pesan kecil untuk memberi kabar kepada kekasihnya.


Pesan itu telah terkirim dengan tulisan. 'Tuan, Nayla baik-baik saja, bagaimana kabar tuan?' Namun dipengirimannya, pesan itu tidak tersampaikan sama sekali.


Seperti apa yang dia putuskan, Nayla memberi salam kepada Ibunya yang kini telah sehat kembali. Dia juga memesan taksi dengan dibantu Laisa dari kota.


"Ibu, Nayla tidak ingin ibu sakit lagi. Jadi, berhentilah bekerja." ucap Nayla dengan memberikan amplop pemberian Vinlo padanya.


Ibu Durvin mengangguk dan segera mengambil amplop pemberian dari Putrinya. "Nak, Ibu tidak bisa berjanji kepadamu. Tapi, ibu akan selalu sehat supaya kamu tidak khawatir kepada ibu."


Nayla mengangguk. Dia segera menaiki taksi dan menyiapkan diri untuk bertemu dengan kekasihnya. "Sampai jumpa ibu!" lambaian tangan Nayla dibalas dengan hal yang sama oleh sang Ibu.


Setelah mobil keluar desa, Nayla menyentuh gelang berpermata ungu pemberian Vinlo. "Tuan, Aku kembali." benak Nayla.


...-*-...


Di kediamana utama keluarga Margatha. Vinlo mengenakan jas putih dengan tampilan yang memukau.


Malam ini, dia akan segera bertunangan dengan Olati.


"Tuan, tidak masalah jika Anda bertunangan dengan Nona Olati?" tanya Raga.

__ADS_1


Seketaris pribadi ini tidak tenang mendengar kabar kalau Tuannya bertunangan dengan wanita lain. Bagaimana jika Nayla tidak memahami apa yang terjadi, pasti akan berakhir dengan hancurnya sebuah hubungan.


"Nayla akan paham jika aku menjelaskannya. Jadi, aku akan bertunangan dulu sebelum memutuskan hubungan ini." sahut Vinlo merapikan dasinya.


Saat asik merapikan dasi berwarna hitam itu. Vinlo teringat dengan Nayla yang selalu mengikatkan dasi di kerah bajunya. "Sial, aku tidak bisa menahan rindu dari Nayla. Kapan dia kembali," gumam Vinlo.


"Putraku, acara sudah dimulai. Ayo keluar," ucap Tuan Vin yang datang menjemput.


Vinlo mengangguk kepala. Dia melangkah keluar ruangan meninggalkan Raga yang tercenga.


"Tuan, bagaimana jika Nayla datang malam ini, tepat saat pertunanganmu dimulai." gumam Raga.


Di ruang tengah, begitu banyak pembisnis datang untuk melihat Vinlo bertunangan. Mereka merasa kalau kedua pasangan dalam pertunangan ini begitu serasi.


Pendapat mereka tidaklah salah. Di tengah-tengah mereka, sudah ada Vinlo dan Olati. Keduanya mengenakan baju putih dengan hiasan yang menarik.


Olati tampak cantik dan Vinlo terlihat tampan dengan jas yang dia kenakan. Semua mata terpesona melihatnya.


Namun, tidak dengan seseorang yang melihat ditengah-tengah kerumunan orang.


"Tuan Vinlo, silahkan sempatkan cincin ini di jari manis Nona Olati." ucap orang yang memimpin acara.


Vinlo siap menyematkan cincin itu kepada Olati. Tetapi, matanya malah melihat seseorang berlari dari kerumunan menuju pintu keluar.


Kerutan muncul di dahi Vinlo. Dia memperhatikan dengan begitu teliti, siapa orang yang berlari itu.


"Tuan muda, silahkan." ucap Orang itu lagi.


Vinlo tidak menghiraukannya karena saat ini matanya membelak seketika. Dia melihat siapa yang berlari pergi meninggalkan ruangan ini.


"Nayla!" gumam Vinlo.


Olati yang mendengar gumaman itu segera menatap ke arah Vinlo melihat.


"Tidak, Dia salahpaham!" Vinlo berlari keluar dari acara pertunangan ini. Dia harus mengejar Nayla dan menjelaskan segalanya.


"NAY!" teriak Vinlo.


Semakin dia melangkah keluar kediamannya, semakin jauh pula dia merasa Nayla berlari pergi darinya. "Tidak, tidak! Bukan seperti ini!" ucap Vinlo.

__ADS_1


Dia melihat sebuah mobil pergi begitu saja meninggalkan kawasan mereka. Kerutan alisnya muncul seketika. "Zivarka, aku akan menemuimu." gerutuk Vinlo dengan mengepal tangannya.


__ADS_2