Pembantu Pribadi Tuan Muda

Pembantu Pribadi Tuan Muda
Bab 37: Bertukar kontak


__ADS_3

“Apa! Kamu benar-benar jadian dengan Tuanmu itu? si-si, siapa tuh, oh ya Vinlo!”


Nayla mengangguk kepala dengan ponsel yang ditempelkan pada telinganya. “Hm, jadi apa menurutmu semua akan baik-baik saja?” tanya Nayla.


“Apa yang ada di dalam pikiranmu, Nay? Semua pasti baik-baik saja. Aku tahu kamu pasti memikirkan nasihat dari Ibumu. Menurutku, semua yang ada itu dari dirimu sendiri. Yakinlah takdir pasti akan memberimu kebahagiaan. Oh ya, selamat untukmu.”


Nayla tersenyum mendengar perkataan Laisa. Dia merasa hanya Laisa yang mengerti dirinya. Dukungan sahabatnya membuat Nayla semakin tidak ragu menjadi kekasih Tuan Vinlo.


“Oh ya, kapan-kapan kita double date yuk! Aku sama Zivarka dan kamu bersama Vinlo.”


“Date? Aku rasa itu tidak mungkin Laisa, aku sedang bekerja.” Nayla memikirkan situasinya saat ini. Dia tetaplah pembantu yang memiliki banyak pekerjaan. Tidak ada waktu untuk melakukan kencan seperti ucapan Laisa.


“Huh, aku yakin sih ... pekerjaanmu itu akan selalu tertunda. Entah kapan itu terjadi, yang pasti kamu akan mengalaminya.”


Nayla mengerutkan alisnya mendengar perkataan Laisa. Dia dengan suara tenang berkata. “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Namun, Laisa bisakah kamu selalu menjadi sahabatku?”


“Apa yang ada di dalam pikiranmu, Nayla? Tentu saja aku akan selalu menjadi sahabatmu. Hubungi saja aku, jika tidak ada kesibukan, aku akan mengangkat panggilanmu.”


Panggilan itu berakhir dengan Nayla yang tersenyum. Dia bahagia mendapatkan sahabat seperti Laisa. Setelah menghubungi Sahabatnya, Nayla mulai kembali mengerjakan tugas yang tertunda.


Siang hari pun tiba, dering telepon rumah terdengar ditelinga Nayla. Dia segera melangkah menuju ruang tengah dan mengangkat telepon tersebut.


“Hallo?”


“Nayla.”


Degupan dihati begitu kuat bergema. Nayla terdiam mendengar suara Vinlo.


“Nay, apa kamu mendengarku?”


Kesadaran Nayla kembali dengan cepat, “I-iya Tuan.” Sahutnya dengan nada terbata-bata.


“Nay, panggil aku Vin.”


Nayla semakin kelagapan mendengar ucapan Vinlo. Dia pun membenarkan panggilannya. “Vin ... maafkan aku, aku terlalu kaget saat tahu kalau kamu yang menelpon.”


“Hm, begitu ya ... maafkan aku ya, aku ingin menghubungi ponselmu, tapi aku tidak memilikinya.”

__ADS_1


Sudah lama tinggal bersama, tetapi keduanya tidak saling tahu nomor telepon masing-masing. Nayla tersenyum kecil dengan mengusap-usap meja kecil di depannya.


“Apa Vin ingin bertukar kontak?” tanya Nayla dengan suara pelan.


Diseberang sana menjawab dengan antusias. “Tentu saja, berapa nomormu, Nayla?”


Rona wajah Nayla berubah sedikit kemerahan. Dia begitu malu mendengar jawaban Vinlo. Seakan mereka baru saja bertemu dan memulai hubungan dengan hal-hal kecil seperti ini.


Nayla menyebutkan nomornya satu-persatu. Hingga dia mendengar suara puas milik Vinlo.


“Jika sudah seperti ini, aku tidak lagi khawatir tentangmu. Tahukah kamu, aku begitu sulit mencari cara agar bisa menghubungimu, Nayla.”


“Menghubungiku?” Nayla penasaran dengan ucapan Tuannya.


“Iya, saat aku di luar kota, aku begitu kesepian dan ingin menghubungimu. Namun, memiliki nomormu saja tidak punya, bagaimana ingin menghubungimu. Jadi, aku hanya bisa memendam rindu, eh!”


“Lupakan ucapan terakhirku.”


Nayla memantung seketika, di dalam otaknya mengulang ucapan Vinlo. ‘Jadi, aku hanya bisa memendam rindu.’


Tidak hanya dirinya yang merindukan Vinlo. Tuan Mudanya itu juga merindukannya. “Apakah takdir menyetujui hubungan kami?” benak Nayla.


“Eh! Tidak Vin ... jadi, apa ada yang ingin Anda sampaikan?” tanya Nayla. Dia menepis pikiran yang hampir membuat dia melupakan perannya sebagai pembantu.


“Oh, ini soal makan siang. Hari ini jangan masak ya ... aku akan menjemputmu, kita makan siang di suatu tempat.”


“Suatu tempat? Vin apa-,” Nayla menatap telepon yang terputus. Dia kaget ketika Vinlo memutuskan panggilan darinya.


“Apa maksudnya itu? kenapa dia memutuskan panggilannya?” Tidak ingin berpikir yang aneh-aneh. Nayla memutuskan untuk mengerjakan tugas yang tersisa. Untuk makan siang, dia tidak menyiapkannya karena pesan Vinlo sendiri.


Bel rumah berbunyi, Nayla segera mendekati pintu dengan perasaan bingung. “Aneh, apa ada yang memesan sesuatu?” gumamnya.


Di buka pintu dengan perlahan, terlihat Vinlo yang tersenyum menyapanya. “Siang Nay,” ucapnya.


Nayla merasa terkejut melihat Vinlo. Dia mengedipkan mata berulang kali untuk memastikan penglihatannya.


“Apa yang kamu lihat? Ayo masuk dan bersiaplah.” ucap Vinlo. Di dorong Nayla masuk ke dalam rumah dengan pelan.

__ADS_1


“Bersiap?” Nayla bertanya sambil melangkah menuju ke arah yang Vinlo tuju. Dia berdiri tepat di ruang tengah dengan menatap sang kekasih.


“Mari makan siang di luar, sekalian ...,” Vinlo mendekatkan wajahnya dengan perlahan. Nayla yang melihat hal itu segera menjauhkan diri. Namun, tangan Vinlo menahan pergelangan tangannya yang membuat Nayla diam di tempat.


“... kencan pertama kita,” bisik Vinlo.


Nayla mengamati mata Tuannya yang menatap begitu lekat. Tidak ada kebohongan atau tatapan bercanda yang Nayla lihat. Degupan dihatinya semakin menjadi, dia menjadi kaku dan bingung mengambil tindakkan.


Melihat Nayla yang diam di tempat, Vinlo memberikan cubitan kecil di pipi Nayla. “Sadarlah, bukan saatnya bengong. Bersiaplah dan kita makan siang di luar.” ucapnya.


Nayla sadar dan segera mengangguk kepala. Pikirannya begitu kosong hingga dia hanya melangkah ke kamar tanpa tahu apa yang harus dia lakukan.


Vinlo tersenyum memandang kepergian sang kekasih. Dia melakukan makan siang ini karena saran dari Raga.


“Jika kalian sudah menjalin kasih. Kenapa tidak makan siang di luar saja. Kalau di dalam rumah, bukankah sudah biasa? Cobalah makan siang di luar dan jadikan itu sebagai kencan pertama kalian.” Katanya.


Vinlo tentu saja setuju dengan perkataan itu, dia pun segera menuju keluar kantor dan menjemput Nayla untuk membawanya makan siang bersama.


Di dalam kamar, Nayla termenung menatap lemari pakaiannya. Dia masih tidak bisa mengerti apa yang di katakan oleh Vinlo. Namun, mata itu tidak sengaja melirik amplop yang dia dapat. “Astaga, aku melupakan ini.”


Bergegaslah Nayla menuju ke ruang tengah dengan membawakan amplop coklat. Dia berdiri tepat di depan Vinlo.


Kerutan alis tampak di wajah Vinlo, dia melihat Nayla yang masih mengenakan pakaian maid khusus keluarga Margatha. “Ada apa Nay?” tanyanya.


Nayla segera menyerahkan amplop coklat yang dia bawa. “Vin, aku rasa tidak mungkin bisa mendapatkan gaji sebesar ini. tolong, perhatikan dan cek terlebih dahulu.” ucap Nayla.


Vinlo mengambil amplop coklat yang Nayla berikan. Dibuka Amplop itu dan terlihat uang ratusan yang tersusun rapi. Ada sekitar sepuluh juta di dalamnya. “Ini, bukankah ini gaji pertamamu, Nayla?” tanya Vinlo.


Anggukkan kecil Nayla berikan, dia segera menatap Vinlo dengan tatapan yang lembut. “Vin, aku berkerja sebagai pembantu. Tidak seharusnya mendapatkan uang sebanyak itu. tolong, jangan lakukan sesuatu seperti ini.”


Uang yang di genggam Vinlo terkepal sedikit erat. Setelah beberapa saat, kepalan itu menghilang dengan Vinlo tersenyum. Dia menarik lima juta dan menyerahkannya kepada Nayla.


“Maaf ini salahku, seharusnya aku tidak bertindak terlalu jauh. Nayla, apa kamu akan mempercayai perkataanku, kalau aku jatuh cinta padamu saat kita pertama kali bertemu.”


Nayla menatap Vinlo yang mendekat padanya. Pria tinggi itu begitu lembut mengenggam tangan Nayla. “Nay, aku memang tidak bisa mengatakannya saat itu. karena aku tahu,Kamu tidak akan menerimaku.” Lanjut Vinlo dengan lemah.


Hatinya tidak tega mendengar perkataan itu. Nayla memberanikan diri mengusap kepala Vinlo. Mata keduanya saling bertemu dengan suasana yang begitu tenang.

__ADS_1


Vinlo mendekatkan wajahnya perlahan, dia memperhatikan mata hingga bibir Nayla. Wajahnya semakin mendekat dan terus mendekat. Hingga...


__ADS_2