
Nayla terdiam melihat Sahabatnya tengah memaki seorang pria. Dia mengedipkan mata berkali-kali karena tidak menduga kalau sahabatnya akan berada di sini.
"Laisa, siapa dia?" gumam Vinlo.
Kesadaran Nayla kembali ketika Vinlo berdiri di sampingnya. Suara Tuan Muda terdengar di telinga.
"Hm, dia sahabatku. Namanya, Laisa." jawab Nayla. Dia melangkah mendekati sahabatnya yang masih memaki-maki pria asing.
"Hei, lo engak budek kan? Kalau orang lagi ngomong, lo harus mendengarkannya! Sekarang, ganti rugi!" Pekik Laisa. Wajahnya semakin memerah karena amarah yang memuncak.
Jari telunjuk Laisa terarah pada makanan yang terjatuh di lantai. "Pokoknya, Gua engak perduli lagi, Lo harus tanggung jawab dengan apa yang terjadi. Ganti kebab, es cream, mochi, pisang goreng, pisang coklat kulit lumpia, krepes, terakhir! Soda favorite gua, lo harus mengantinya!"
Laisa menatap kesal kearah pria yang ada di depannya. Makanan yang dia beli harus berakhir seperti ini.
"Ba-bagaimana bisa! Lo yang salah, kemana mata lo terarah hah? Gua korban di sini, lo yang tabrak gua duluan!" tampik Pria asing di depan Laisa.
Mendengar hal itu, Laisa semakin mengerutkan alisnya. "HEI! PRIA BODOH! Asal Lo tahu ya, gua susah payah mendapatkan gaji pertama ini. Lo engak tahu rasanya menjaga kamar mayat hanya untuk bisa membeli semua makanan yang terjatuh di lantai. Lo!" Laisa ingin melanjutkan ucapannya. Namun, seseorang tiba-tiba menyentuh bahunha.
"Siapa?!" Laisa menatap kearah samping. Dia melihat seorang wanita bersama Pria bermasker.
"Na-nayla?" Kebingungan tampak di wajah Laisa. Saat perhatiannya teralihkan, Laisa menyadari bahwa Pria yang menabraknya telah pergi.
"Hah? Sial! Pria itu pergi tanpa tanggung jawab! Agh! Makananku, bagaimana ini." Laisa menunduk sedih dengan makanan yang ada. Beberapa pekerja di pusat perbelanjaan mulai membersihkan lantai.
Melihat hal itu, Laisa semakin cemberut hingga memeluk Nayla dengan tiba-tiba. "HUAAA! Nayla, lihatlah ... aku berjuang untuk mengumpulkan semua hasil gajiku. Sekarang, semua itu berakhir di lantai dan terbuang sia-sia ...."
Vinlo menatap dua gadis yang ada di depannya, dia mengerutkan alis sambil berpikir. 'Gadis asing ini, dia adalah sahabat Nayla. Hm, melihat tingkahnya yang buruk. Berapa lama mereka berteman?'
"Pria b*ji*g*n itu, aku tebak hari ini dia akan-,"
__ADS_1
Nayla membungkam mulut Laisa dengan cepat. Dia segera mengeleng kepala dengan tatapan memohon. "Hentikan Laisa, mengerutu seseorang dengan mulut mu ini. Mereka akan mendapatkan bahayanya setelah kamu berucap." ujar Nayla.
Laisa diam seketika, dia menjauhkan tangan Nayla dari mulutnya. "Kamu benar, setiap aku mengerutu, seseorang akan mengalaminya dalam beberapa menit. Baiklah, aku akan berhenti mengerutu."
Nayla mengangguk dengan pelan sambil tersenyum. "Syukurlah, kalau begitu ...."
"Hm," Laisa mendekat sambil berpikir. Dia melihat kearah sahabatnya yang kini mematung di tempat. "Apa yang membuatmu datang kesini, Nayla? Apa kamu berbelanja bulanan? Hm, lalu siapa yang ada di sampingmu itu? Pria bermasker dengan rambut ala anak berbakti?"
Nayla melihat ke arah Tuan Muda yang ada di sampingnya. Perkataan Laisa memang benar, Tuan Muda Vinlo tampak seperti anak yang begitu patuh aturan. Rambut di tata rapi dengan masker yang menutupi sebagian wajahnya.
"Hm, aku memang sedang berbelanja. Hanya-,"
"Kalau begitu, kamu menganti makanan yang ku beli. Tenang saja, aku akan mengantinya 2 kali lipat. bagaimana?" Laisa memotong perkataan Nayla. Dia menampakkan dua jari kedepan sahabatnya untuk membuktikan ucapannya serius.
Vinlo yang berdiri di belakang Nayla, seketika mengerutkan alis. "Gadis ini, dia mengunakan nama sahabat hanya untuk memeras Nayla. Dasar, gadis tidak tahu diri." benak Vinlo.
Nayla segera mengeleng kepala, "Aku tidak bisa." jawabnya.
Mata Laisa semakin menatap tidak percaya, dia memasang wajah masam dengan melirik kekanan dan kekiri. "Nayla, lebih baik kamu berhenti bekerja di keluarga itu. Mereka tidak mengajimu, mereka hanya memperalat dirimu. Kamu akan kelela-"
"Apa maksudmu, Nona?" Vinlo tidak tahan mendengar perkataan Laisa. Dia berdiri di depan Nayla dengan tatapan mata yang tajam.
Melihat hal itu, Laisa bukannya merasa takut, dia malah mendekatkan diri. Tinggi badan Laisa melebihi Nayla, tetapi dia harus mendongak karena tinggi badan Vinlo lebih darinya.
"Dengar Pria asing! Kamu tidak tahu apa pun kan? Oh, atau kamu seorang pengemar keluarga margatha. Aku pernah mendengar, jika ada yang menjelek-jelekkan keluarga itu, dia akan di hukum oleh mereka. haha ... luar biasa, menarik,"
Laisa melirik kekanan dan kekiri, dia di perhatikan oleh beberapa orang yang tengah berbelanja di sana. "Jangan menonton jika kalian tidak bisa membayarnya. Pergi sana!" teriak Laisa.
Semua orang bergegas pergi meninggalkan, Laisa, Nayla dan Vinlo.
__ADS_1
"Dengar Tuan ... aku tidak tahu siapa dirimu, dan lagi apa yang telah kamu lakukan bersama sahabatku. Intinya, kamu harus tahu. Bekerja bukanlah hal mudah, kamu akan bekerja dengan susah payah hingga jerih payahmu terlihat dengan hasil di depan mata."
"Namun, bagaimana jika hasilnya tidak terlihat. Apa kamu akan bahagia? Sama halnya dengan Nayla, dia bekerja untuk mencari uang, dan perlu hasil untuk semua itu. Katakan kepada Tuan Muda Margatha, jangan jadi pria cuek, sok berkuasa hingga lupa dengan pekerjanya sendiri,"
"Pria tidak berguna." lanjut Laisa setelah berucap panjang lebar.
Vinlo yang mendengar hal itu bungkam seketika. Dia sadar, bahwa Nayla belum mendapatkan gaji pertamanya. "Dia benar juga, kenapa aku tidak mengingatnya." benak Vinlo.
Semakin memikirkan semua itu, dia teringat dengan perjalanan bisnis yang diam-diam ditunda. Alasannya karena Vinlo tidak ingin menjauh dari Nayla.
"Sekarang, Raga akan memintaku menghadiri acara penting itu lagi." benak Vinlo.
Nayla yang diam di belakang Vinlo, bergegas menjadi penengah. "Hm, Laisa, bagaimana kalau kita duduk dulu. Tidak enak di perhatikan banyak orang." ucapnya.
Laisa menyetujui apa yang sahabatnya katakan. Mereka bertiga akhirnya menepi di sudut ruangan.
"Jadi, siapa dia?" tanya Laisa kembali.
Nayla melirik kearah Tuan Muda yang ada di sampingnya. Dia melihat anggukkan kecil yang di lakukan oleh Vinlo.
"Dia ... dialah Tuan Muda Margatha, Vinlo Margatha." ucap Nayla.
Laisa yang tampak serius seketika terdiam. Dia mengangkat tangannya dengan raut wajah yang penuh keterkejutan. "Di-dia? Tuan Muda Margatha, Vinlo Margatha. Serius?" tanyanya.
Nayla mengangguk pelan mendengar perkataan sahabatnya.
"Ja-ja-ja, jadi ... haha, aku telah mencaci tuan muda yang luar biasa. Oh, Maaf, Aku mencaci dirimu." ucap Laisa.
Vinlo yang mendengar ucapan itu segera mendekat. Dia merasa kesal dengan Laisa yang tidak memiliki kesopanan.
__ADS_1
Melihat Vinlo mendekat, Laisa segera memundurkan tubuhnya hingga tidak sengaja menabrak seseorang.
"HMPH!"