
Raga melihat kedatangan Bos Vinlo yang tampak buruk. “Apa moodnya sedang kacau?” benak Raga. Bergegas dia membuka lift dan ikut masuk menuju keruangan mereka.
Setiba di sana, Raga ingin menanyakan mood yang hancur itu kepada Tuan Mudanya. Namun, sang Tuan Muda sudah masuk ke ruang kerja dengan cepat.
“Aku yakin, sesuatu telah terjadi.” Guman Raga.
Tidak ada rapat pagi, karena semua rapat dikerjakan kemarin oleh Vinlo. Rasa lapar dengan suara perut yang berbunyi membuat dirinya menghela nafas.
“Sekarang, terima apa yang terjadi kepada mu hari ini.” benaknya. Dia menahan lapar karena perbuatannya sendiri.
Setelah waktu berjalan hingga makan siang tiba, Vinlo menatap Raga yang tengah makan siang di ruangannya. Vinlo sudah menganggap Raga seperti saudaranya, jadi tidak heran, jika Raga bebas berada didalam ruang kantornya.
“Ada apa memandangku? Apa Tuan Muda tidak ingin makan siang?” tanya Raga dengan wajah penasaran.
Vinlo tidak ingin Raga mengejeknya, dia menatap kearah lain dengan wajah tenang. “Heh, aku sudah makan.” Ucap Vinlo.
Mendengar perkataan sang Bos, Raga kembali melanjutkan makan siangnya. “Hari ini, apa mood Anda sedang buruk Tuan Muda? Anda tampak gelisah dan kesal bahkan ketidaksukaan terlihat diwajahmu.”
Vinlo melihat kearah Raga yang sibuk memakan bekalnya. “Apa yang kau katakan? Tidak ada yang buruk hari ini.”
Raga mengeleng kepala dengan sendok yang bergoyang kekanan kiri. Tampak dia menolak apa yang dikatakan oleh Bosnya. “Tidak, Tuan Muda Vinlo, kita sudah saling mengenal, tentu saja aku tahu apa yang terjadi kepadamu. Katakan saja, apa yang membuat moodmu berubah?”
Vinlo menatap kearah lain. “Aku tidak sarapan hari ini ...,”
“Apa! Apa pembantumu tidak membuatnya?” pekik Raga dengan memotong ucapan Vinlo. Dia bergegas bangun dan mendekati Tuan Mudanya.
“Jangan dipotong dulu, aku belum selesai ngomong.” Ucap Vinlo dengan mengerutkan wajahnya. Raga seketika diam dan berdiri didepan Vinlo.
“Ah, baik, lanjutkan.” Raga kembali ke sofa dengan menyantap makannya. Dia sedikit malu dengan tindakkannya sendiri.
“Hari ini, aku tidak senang melihat seseorang membuat jarak dariku. Lalu, aku menolak sarapan yang dia buat dan memilih untuk berkerja dengan bilang ada rapat dipagi ini.” lanjut Vinlo, wajahnya menjadi sedih karena perbuatan yang telah dilakukannya.
Raga yang mendengar hal itu seketika tercenga, nasi yang terkunyah tampak jelas dimata Vinlo.
“Habiskan makananmu!” Vinlo menatap kearah lain, perasaannya semakin tidak membaik.
__ADS_1
Raga segera menyelesaikan makan siang yang dia beli, nasi campur sangat pas untuk makan siang. Setelah semua habis dilahab, dia bergegas mendekat kearah Tuan Mudanya.
“Jadi, Anda memang jatuh cinta kepada pembantu Pribadi itu?.” ucap Raga memulai pembicaraan.
Vinlo yang mendengarnya segera mengelak. “Apa yang kamu katakan, bodoh! Apa yang jatuh cinta, tidak ada hubungannya dengan semua itu.”
Raga mengerakan jari telunjuk kekanan dan kekiri. “Salah, ada hubungannya. Jika menjaga jarak merupakan kewajiban para pembantu, agar tidak ada kontak langsung kepada atasan mereka. tetapi, Anda malah ingin dia mendekat tanpa jarak? Itu pasti, karena Anda telah mencintainya.”
Vinlo segera mengusap kepalanya, dia menyibakkan rambut yang dia tata dengan rapi. “Berbicara denganmu, tidak akan pernah menemukan jalan keluar.”
Raga memandang datar kearah Vinlo, dia segera berbalik untuk duduk disofa. “Sudahlah, akan ku jelaskan saja. Jika sikap Anda pergi seperti itu. satu hal yang akan terjadi, pekerjaan Pembantu itu tidak akan berjalan baik. Dia akan kepikiran dengan tingkah Anda,”
“Pergi tanpa menjelaskan apa yang salah. Hanya karena jarak, apakah perlu bersikap seperti itu? jika Tuan Muda tidak suka, katakan saja. Dari pada, berakhir dengan canggung dan membuat perasaan semakin tidak tenang. Jika dalam hubungan, baik yang melakukan atau tidak, mereka akan meminta maaf agar hubungan itu berjalan baik.” Jelas Raga dengan panjang lebar.
Vinlo yang mendengarnya terdiam, dia memikirkan perasaannya sendiri. ini memang salahnya, Nayla menjaga jarak pasti karena tidak ingin membuatnya jatuh cinta.
“Apa Nayla tidak ingin aku mencintainya?” benak Vinlo seketika.
“Aku sarankan, Tuan Vinlo pulang dan meminta maaf kepadanya. Lalu, makanlah sarapan yang dia buat, dengan begitu perasaan wanita akan membaik. kadang, tanpa sadar kita bisa menyakiti perasaan mereka, bahkan hal kecil sekalipun akan diingat hingga mereka menghindarinya.” Ucap Raga dengan tenang.
“Terima Kasih sarannya, aku akan pulang. Jika ada hal penting, hubungi aku!” Vinlo bergegas pergi meninggalkan ruang kantor dengan Raga yang tersenyum kearahnya.
“Apa aku harus mengatakan perubahan Tuan Muda kepada Tuan Besar?” benak Raga.
...-*-...
Vinlo membuka pintu Apartement dan melihat kondisi ruangan yang sepi. Dia bergegas kekamar Nayla untuk meminta maaf dengan kejadian tadi pagi.
Semua salahnya, dia tidak ingin Nayla terluka karena ucapannya. Vinlo ingin mengetuk pintu kamar yang kini terbuka dengan tiba-tiba.
“Tu-tuan Muda.” ucap Nayla dengan wajah terkejut.
Nayla segera mematikan panggilan yang sedang terhubung itu. dia segera melangkah keluar kamar dan melihat kearah Vinlo yang diam menatapnya.
“A, Em, ingin makan siang?” tanya Nayla dengan wajah bingungnya.
__ADS_1
Vinlo yang termenung seketika sadar kembali, dia mengangguk dengan senyum yang sering di tampakkannya.
“Mari, kita ke meja makan.” Ajak Nayla. Degupan jantungnya menjadi ketika tahu bahwa Tuan Muda pulang, apa lagi melihat senyum yang Vinlo perlihatkan. “Jantung, mari berdamai untuk saat ini.” benak Nayla.
Di meja makan, Vinlo duduk dengan menatap hidangan didepannya. Ada tumisan nanas dan ayam goreng yang tampak sederhana. Dia tersenyum mengingat menu pertama kali yang dihidangkan oleh Nayla.
“Aku menyukai semua masakannya.” Benak Vinlo.
Nayla menjauhkan dirinya setelah menghidangkan makan siang untuk Tuan Muda.
“Tunggu, Nayla!” Vinlo menghentikan Nayla yang ingin melangkah pergi.
Nayla segera membalikkan tubuh dan melihat Tuan Muda yang menatap kepadanya. “Hari ini, ah maksudku ... tadi pagi, Maaf dengan perbuatanku yang tiba-tiba berubah. Aku hanya merasa tidak enak badan.” Ucap Vinlo, dia tidak bisa mengatakan alasan yang sebenarnya. Dia takut, Nayla semakin menjauh dan membuat jarak diantara mereka.
Nayla mengangguk. “Nayla juga minta maaf Tuan Muda, seharusnya Nayla tidak bertindak seperti itu.”
Vinlo tersenyum mendengar perkataan dari Nayla, dia bergegas makan siang dengan perasaan bahagia. setelah hidangan itu bersih dimakan olehnya, Vinlo mengingat sesuatu hingga menatap kearah Nayla yang berdiri tidak jauh darinya.
“Nayla, sarapan yang kau buat, apa masih ada?” tanya Vinlo.
Nayla terteguh mendengar apa yang dikatakan oleh Tuan Muda. dia hampir saja membuang nasi goreng yang telah dibuat. “Ma-masih ada Tuan, untuk apa ya?” tanya Nayla dengan wajah bingung.
Vinlo menyinggirkan piring yang sudah kosong. “Aku ingn memakannya, masih lapar.” Ucapnya dengan sedikit tercengir.
Nayla yang baru pertama kali melihat Tuan Mudanya seperti ini, seketika salah tingkah. Dia ingin mengambil sarapan pagi itu. namun, langkahnya malah menuju ke ruang pencucian.
Dengan kepala mengeleng, Nayla memutar arah menuju ke dapur. Vinlo yang melihat tingkah Nayla seketika terkekeh,dia menyembunyikan wajahnya agar suara kekehan itu tidak terdengar oleh Nayla.
Meski begitu, Nayla yang ada didapur seketika bersandar di pintu kulkas. Wajahnya memerah karena malu dengan tingkahnya sendiri. “Nayla,” benaknya.
Nasi goreng tersaji didepan mata Vinlo, dilihat olehnya hidangan itu masih tampak seperti tadi pagi. Hanya saja, kehangatannya menghilang karena Nayla tidak memanaskannya.
“Maaf, Tuan Muda.” ucap Nayla dengan meratapi kesalahannya. Vinlo menggeleng kepala, “Tidak apa.”
Suasana seketika berubah, entah bagaimana Nayla tidak menjaga jaraknya. Dia berdiri disamping Vinlo dengan menatap lelaki itu makan.
__ADS_1
Sedangkan, lelaki yang dipandang tidak menghiraukan yang terjadi. Dia menikmati makan siang yang berhasil menambahkan perasaan baru dihatinya.