
Di ruang tamu, semua duduk dengan Nayla yang kini menyajikan teh hangat di meja.
Ibu Durvin menenangkan perasaannya karena dia terkejut mendengar apa yang Tuan Muda katakan.
"Ehem, hm ... Tuan Muda, Vinlo ya?" tanya Ibu Durvin.
Vinlo mengangguk mendengar namanya di seru. "Benar Ibu."
Ibu Durvin terteguh mendengar panggilan untuknya. Orang lain biasanya akan memanggil Tante atau Bibi. Namun, Pria muda di depannya ini memanggil dia, Ibu.
"Ehem, Tuan Muda datang ke sini pasti memiliki sesuatu. Katakan saja, siapa tahu Ibu bisa bantu." ucap Ibu Durvin.
Vinlo tersenyum mendengar ucapan Ibu Nayla. "Panggil Vin saja Bu, kedatangan Vin ke sini untuk meminta izin kepada Ibu. Vin ingin menikahi Nayla." jelas Vinlo.
Ibu Durvin terteguh mendengar apa yang Vinlo katakan. Dia menatap Nayla Putrinya yang tampak malu-malu.
"Tuan Muda bercanda? Bagaimana bisa Anda malah ingin menikahi Putri, Ibu." ucap Ibu Durvin dengan wajah terkejut.
"Tidak ada yang bercanda di sini, Ibu. Kedatangan Vin memang ingin meminta izin agar Ibu merestui pernikahan kami." jelas Vinlo.
Ibu Durvin semakin tidak bisa mempercayai apa yang di katakan oleh Penerus Margatha ini.
"Maaf sebelumnya, Ini tidak bermain-main kan? Aku tahu cinta memang tidak bisa di hindari. Namun, aku memiliki pengalaman yang buruk dengan mencintai Tuan ku sendiri. Aku takut, putriku hanya di jadikan mainan saja."
"Bukan menjelekkan tuan atau tidak mempercayai tuan. Tapi, ini memang berdasarkan pengamatan ibu. Nayla masih muda dan baru mengalami yang namanya jatuh cinta. Ibu takut dia akan menderita karena ditinggalkan oleh cintanya." jelas Ibu Durvin.
Nayla yang mendengar itu segera melirik Vinlo. Seminggu yang lalu, dia mengalami apa yang di katakan ibunya. Rasa sakit yang luar biasa hingga dia tidak ada niat untuk menemui lelaki ini.
Jika Laisa tidak membuka pikiran dan hatinya, mungkin Nayla benar-benar meninggalkan Vinlo.
"Aku tahu apa yang ibu katakan. Sejujurnya, aku juga membuat hati Nayla sakit karena tidak mengatakan semua kepadanya. Saat dia kembali untuk libur lebih awal, ibuku melakukan rencana untuk menjauhkan kami."
"Aku saat itu benar-benar lemah hingga kehilangan Nayla. Sekarang, aku tidak ingin itu terjadi ibu. Aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi lagi."
Vinlo memilih untuk berjongkok di depan Ibu Durvin dengan mengenggam tangannya.
__ADS_1
Melihat hal itu, semua terteguh seketika. Ibu Durvin segera menenangkan Vinlo. "Nak bangunlah!" ucap Ibu Durvin.
"Ibu, izinkanlah aku untuk menikahi putrimu. Aku memang bukan lelaki yang baik untuknya. Bahkan sudah membuatnya merasakan rasa sakit yang mendalam. Namun, aku berjanji kepadamu, tidak akan ada lagi air mata kesedihan untuk Nayla."
"Aku akan mencintainya, menyayanginya, melindunginya, menjaganya dan akan selalu ada untuknya sampai akhir kehidupanku. Jika bisa, takdir pun harus menyatukan kami bersama selamanya." ucap Vinlo dengan menundukkan kepala.
Ibu Durvin tersenyum melihat seorang pria yang benar-benar tulus mencintai putrinya. Tangan Vinlo di tuntun untuk mengenggam tangan Nayla.
Nayla yang menyaksikan semua itu ikut terharu, dia bahkam berjongkok di samping Vinlo dan menatap ibunya.
"Aku percaya dengan cinta yang Anda berikan kepada putriku, Vin. Tolong, peganglah janji Anda dan bahagiakan putriku. Aku dengan ketulusan hati ini mengijinkan kalian menikah. Ku restui hubungan kalian, jadilah keluarga bahagia." ucap Ibu Durvin.
Vinlo dan Nayla saling bertatap mendengar hal itu. Tidak lama senyum memuncul di antara mereka. Nayla segera meneluk ibunya.
"Terima kasih ibu, terima kasih banyak." gumam Nayla.
Ibu Durvin menepuk-nepuk pundak putrinya. "Hm, bahagialah sayang," ucapnya.
Tidak sia-sia mereka datang dan membawa kabar seperti ini. Setelah mendapat izin, Vinlo segera memberitahu keluarganya untuk menyiapkan pernikahan yang akan membuat dia selalu bersama Nayla.
"Apa kamu sudah selesai menelpon?" tanya Nayla. Dia membawa makan malam untuk Tuannya ini. Lebih tepat, calon suaminya.
Nayla terteguh mendengar hal itu. "Tiga hari?"
"Kenapa? Apa kamu ingin kita menikah besok harinya? Boleh, aku akan meminta Ayah menyiapkan semuanya." ucap Vinlo yang ingin menghubungi Ayahnya.
Nayla segera menahan tangan Vinlo. "Tidak, kamu kira urusan pernikahan itu bisa di selesaikan dalam satu hari? Tuan Besar pasti kesulitan menyelesaikan semuanya."
Vinlo melingkarkan tangannya di pinggang Nayla. Dia duduk dengan memeluk kekasihnya itu. "Ayah ku bilang, lebih baik cepat menikah dan kita hadirkan Vinlo kecil untuk meramaikan kediaman utama."
Mata Nayla membelak seketika. Dia bukan anak kecil yang tidak mengerti maksud dari ucapan itu. "Ehem, jangan mengatakan yang aneh-aneh. Oh ya, Raga di mana?" tanya Nayla.
Vinlo mengencangkan dekapannya agar Nayla tidak lepas dari pelukkan. "Ibu pasti berbicara dengannya. Biarkan saja mereka." sahut Vinlo.
Saat ini keduanya berada di dapur. Suasana di dapur ini benar-benar sunyi. Hingga Nayla bisa mendengar detak jantungnya yang berdegup kencang.
__ADS_1
"Oh ya, jangang panggil Ayahku dengan sebutan Tuan. Panggil dia Ayah, karena Dia akan menjadi Ayah Mertuamu, Nayla." imbuh Vinlo.
Nayla terdiam mendengar hal itu. Panggilan Ayah sudah menghilang dalam dirinya. Dia seakan lupa bagaimana menyebutkan panggilan itu.
Namun, dia akan memiliki Ayah Mertua, yang merupakan Ayah Suaminya. Tidak, mereka belum menikah.
"Hm, aku akan mencobanya." sahut Nayla.
Vinlo menatap wajah Nayla yang tampak tidak tenang. "Aku tahu kamu tidak pernah lagi menyebutkan panggilan Ayah. Jika sulit, tidak masalah untukmu, Nayla."
Nayla menggeleng mendengar hal itu. "Aku akan belajar, Vin. Aku tidak ingin di manja olehmu. Karena aku belajar dari semua kejadian yang ku alami."
"Aku akan menguatkan hatiku, dan akan terus seperti itu. Jika suatu saat nanti kamu meninggalkanku, aku tidak akan merasa sakit hati lagi." ucap Nayla.
Vinlo menggeleng mendengar hal itu, di usap pipi kekasihnya sembari menatap lembut. "Aku sudah berjanji kepada Ibumu, kalau aku tidak akan membuatmu sakit hati lagi. Dengar Nayla, apa yang ku katakan di rumah sakit itu benar. Aku, tidak ingin kehilanganmu. Jadi, tetaplah bersamaku."
Nayla mengangguk, dia memeluk Vinlo dan menyandarkan kepalanya di dada bidang sang kekasih.
"Nay, ada yang ingin ku tanyakan kepadamu." ucap Vinlo.
Nayla mengangguk mendengar hal itu. "Katakan saja."
"Apa aku akan tidur sekamar denganmu, malam ini?"
Nayla mendorong Vinlo menjauh darinya. Wajahnya memerah mendengar apa yang kekasihnya itu ucapkan. Ayolah, dia belum menyiapkan diri tentang hal itu.
"Tidak, aku malam ini akan tidur dengan ibuku!" sahut Nayla yang memilih untuk pergi, meninggalkan Vinlo.
Melihat kekasihnya pergi terburu-buru, wajah Vinlo seketika tersenyum puas. Ada semburan merah yang membuat hatinya berdegup kencang.
"Tuan sadarlah, Anda belum menikah dengannya. Jangan sampai ada berita, keturunan Margatha menikahi wanita hamil. Itu tidak lucu," tegur Raga.
Wajah Vinlo kembali tenang mendengar teguran itu. "Kamu benar. Aku tidak ingin Nayla memakai baju pengantin dengan perut buncitnya. Eh, tapi unik juga jika perutnya buncit."
Raga menepuk keningnya. "Tuan, lebih baik Anda beristirahat dan bersiap untuk pernikahan Anda yang akan terjadi tiga hari lagi."
__ADS_1
Vinlo mengangguk-angguk kepala dan meninggalkan Raga di dapur. Di dalam pikirannya saat ini, membayangkan bagaimana tampilan Nayla mengenakan gaun pengantin.
"Pasti cantik, dia kan istriku!" gumam Vinlo dengan senyum tipisnya.