
Gayatri melihat apartemen yang ditinggali Dewa. Lumayan luas dan berada di tengah kota. Berbeda dengan rumah papi yang letaknya agak di pinggir kota.
"Ini apartemenmu?" tanya Aya.
"Aku menyewanya dua hari yang lalu. Agar kau tak perlu merasa risih jika harus tinggal bersama dengan keluarga besarku," jawab pria itu.
"Pasti sangat mahal." Gayatri mencoba menilai harga sewa apartemen itu.
"Kalau kau mau ikut membayar beberapa tagihan bulanan, akan lebih baik!" jawab Dewa tanpa basa-basi. Dibawakannya barang-barang Aya masuk kamar.
Gayatri tak menyangka akan langsung ditodong untuk membantu membayar tagihan bulanan mereka.
"Aku tak bekerja," jawabnya lirih.
"Kau bisa mulai kerja besok bersamaku. Kau akan mendapatkan gaji bulanan seperti selayaknya, sesuai dengan kemampuanmu!" kata Dewa dengan lancarnya. Sepertinya dia sudah merencanakan hal itu sedari awal.
"Benarkah? Kau mempercayaiku?" tanya Aya tak percaya.
"Kau istriku. Siapa lagi yang akan percaya padamu kalau bukan aku!" ujar Dewa.
Hati Gayatri terasa seperti diguyur air sejuk pegunungan. Matanya berkaca-kaca. "Dia orang yang baru kukenal beberapa hari yang lalu. Tapi dia mempercayaiku begitu saja atas nama suami dan istri. Sekuat itukah ikatan pernikahan dalam pandangannya?" batin Gayatri.
"Kau bisa mengganti pakaian dan beristirahat. Nanti malam kita akan belanja kebutuhan rumah. Dan aku ingin mencicipi masakan istriku malam ini. Bagaimana?"
Kata-kata Dewa seperti sebuah pertanyaan . Namun dia tak butuh jawaban. Dia hanya ingin Gayatri setuju. Dan gadis itu mengangguk.
Dewa tersenyum di balik pintu kamar yang tertutup. "Aku akan merubahmu. Tak ada lagi sikap keras kepala dan manja setelah jadi istriku. Tak ada lagi hanya menghabiskan waktu percuma di rumah. Aku akan mendorongmu untuk mengejar mimpi yang kau sembunyikan bertahun-tahun ini," tekadnya.
Lepas magrib, kedua pengantin baru itu keluar ke mall yang ada di bawah tower apartemen. Mereka membeli beberapa kebutuhan dapur dan keperluan lain yang dipilih Aya.
__ADS_1
Kemudian mereka kembali ke apartemen dan Aya mulai memasak makanan yang sederhana untuk makan malam. DIa membuat sayur bening bayam dengan baby corn, menggoreng ayam dan tempe, lalu menyajikan sambal botol ke dalam mangkuk. Semua itu di sajikannya di meja makan mungil.
"Makanan sudah siap," panggilnya. Dewa sedang asik bekerja di meja kerjanya dekat jendela balkon.
"Oke!" sahut Dewa. Pria itu langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Aya.
"Aku mencium bau harum yang enak tadi. Apa yang kau masak?" tanyanya.
Tapi Aya tak perlu juga menjawab pertanyaan itu. Karena Dewa bahkan sudah mencomot sepotong ayam goreng dari piring saji.
"Lezat sekali! Ayo cepat. Aku sudah kelaparan!" serunya ke arah Aya yang sedang menyendok nasi dari rice cooker.
"Sabar. Nasinya masih di sini," gerutu Aya.
Keduanya makan dengan nikmat. Dewa bahkan sampai menambah nasi di piringnya.
Setelah semua rapi, ditariknya tangan Gayatri untuk mengikutinya duduk di sofa. "Kita harus bicara," katanya serius,
"Soal apa?" tanya Gayatri. "Apa kau mau bilang bahwa kau sebenarnya punya istri yang lain?" tuduh Aya.
"Hah? Apa?" Dewa terkejut mendengar tuduhan istrinya. Apa lagi saat dilihatnya mata Aya menyorot tajam.
"Aku tidak begitu, sumpah! Siapa yang mencecoki kepalamu dengan informasi palsu seperti itu?" tanyanya marah.
"Tak ada!" Gayatri menggeleng.
"Lalu, kenapa kau punya pikiran sampai sejauh itu?" tanya Dewa keheranan.
"Kau mengajakku bicara dengan wajah serius. Jadi, hal paling serius dari dua orang yang baru menikah, hanyalah tentang perselingkuhan atau keluarga lain yang disembunyikan!" jawab Gayatri enteng.
__ADS_1
"Kau kebanyakan berkhayal!" ketus Dewa. "Duduk di sini. Biar kukatakan apa yang ingin kita bahas!"
Dewa menarik tangan Aya untuk ikut duduk bersamanya. Gadis itu menurut dan duduk di kursi lain. Dewa menggeleng, tapi membiarkannya.
"Seperti yang kukatakan padamu tadi. Kau bisa ikut kerja bersamaku mulai besok. Aku baru mulai membuka usaha di Indonesia. Jadi ini memang masih usaha kecil. Kita masih harus merintisnya dari NOL!" jelasnya. Gayatri mengangguk mengerti.
"Kau ingin aku membantu di bagian apa?" tanya Aya antusias. Dia senang dirinya dilibatkan oleh Dewa.
"Aku tidak tahu basic pendidikanmu. Jadi, kira-kita kau mampu di bagian apa?" Dewa malah balik bertanya.
"Aku lulusan Menejemen dan keuangan," jawab Aya.
"Apa kau pernah bekerja sebelumnya?" tanya Dewa setelah mendengar jawaban Aya.
"Ya. Sebelum rencana pernikahan kedua itu, aku bekerja di perusahaan keuangan. Tapi setelah peristiwa itu dan aku kabur ke luar negri, juga karena tuduhan bahwa aku melarikan uang seserahan, maka aku diberhentikan. Sejak itu aku jadi pengangguran. Tak ada lagi perusahaan yang mau mempekerjakanku!" jawabnya jujur.
"Baik. Karena aku tahu masalahnya, maka kau bisa ikut kerja di perusahaanku. Besok kita lihat pekerjaan apa yang paling kau kuasai!" putusnya.
"Terima kasih. Kepercayaanmu sangat kuhargai," ujar Gayatri dengan mata berbinar senang.
"Cukup dengan melihatmu senang saja, sudah membuatku bahagia," balas Dewa.
"Kau bisa istirahat lebih dulu jika merasa lelah. Aku masih harus menyelesaikan beberapa hal untuk besok!" Dewa bangkit dan kembali ke meja kerjanya.
Aya berdiri dan berjalan ke kamar. Dia memang lelah dan sudah mengantuk. Jadi sebaiknya segera tidur agar hari pertama kerja besok, tubuhnya sudah kembali fit.
"Terima kasih sudah mengirimkan seorang pria baik untuk jadi suamiku, Tuhan," gumamnya.
*****
__ADS_1