PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR
52. Penculikan Gayatri


__ADS_3

Aya bergerak dan menendang orang yang mencoba meringkusnya.


"Plakkk!"


Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya setelah itu. Membuatnya terhuyung ke belakang dan jatuh terlentang.


Ikat tangan dan kakinya!" perintah salah satu diantara dua orang yang ada di situ. Dia adalah pria yang barusan menampar Aya setelah mendapatkan tendangan di perut.


"Jangan kira aku tak berani membunuhmu, kalau kau bertingkah macam-macam!" ancamnya sambil mengacungkan sebilah belati ke depan wajah Gayatri.


Aya tak bisa berkata apa-apa, sebab mulutnya sudah lebih dulu disumpal kain. Dia merasa tidak mengenal suara kedua orang itu. "Apa mau mereka? Menculikku untuk tebusan?"


Tubuhnya terguncang ke sana kemari di lantai mobil, selama lebih dari satu jam. Aya menduga, dirinya dibawa ke luar kota.


*


*****


"Bos, Nyonya sudah setengah jam tidak keluar juga dari Supermarket," lapor sopir pada Arjuna.


"Biarkan dia belanja sampai puas. Apa kau kira aku tak mampu membayari apa-apa yang ingin dibelinya?" Jawaban ketus Arjuna, membuat sopirnya geleng kepala.


"Bukan itu, Bos. Tadi nyonya bilang hanya mau membeli buah-buahan untuk dibawa ke tempat orang tuanya. Rasanya tak mungkin membeli buah akan selama ini!" tambah sopirnya lagi.


"Kau lihat saja ke supermarketnya. Cari dia dulu. Setelah itu laporkan padaku!" kata Arjuna.


"Baik, Bos!"


Setelah telepon itu terputus, Arjuna masih memikirkan laporan sopirnya. Kekhawatirannya mulai timbul. Memang tak mungkin membeli buah saja hingga setelah jam belum kembali.


"Atau, dia lupa kalau pergi tadi diantar sopir, lalu pulang sendiri naik taksi?" duganya.


Dengan dugaan itu, jarinya segera menekan nomor telepon Pak Sangaji, bapak mertuanya.


"Ya hallo, ada kabar apa menantuku menelepon di masa bulan madunya?" suara tawa renyah Pak Sangaji terdengar dari seberang sana.


"Apa Bapak sudah di rumah?" tanya Arjuna dengan nada datar. Sama sekali tidak menanggapi candaan pria paroh baya itu


"Ya. Apa kau ingin bicara dengan mama mertuamu?" tebak Pak Sangaji, masih dengan tawa kecil.

__ADS_1


"Apakah Aya sudah sampai di sana?" tanya Arjuna terus terang.


Terdengar sedikit kasak-kusuk dari seberang telepon. Tampaknya Pak Sangaji sedang bertanya tentang Gayatri.


"Istrimu tidak ada di sini. Apa dia bilang mau ke sini?" Pak Sangaji balik bertanya.


"Tadi sopir mau mengantarkan ke sana. Tapi Aya mampir dulu membeli buah di supermarket dekat rumah sana. Lebih setengah jam, belum kembali. Sopir melapor pada saya.


"Sudah setengah jam yang lalu? Apa mungkin dia pergi ke apartemen Dewa? Dia kadang pergi ke sana kalau sedang banyak pikiran." Mami ikut bicara.


"Baik, akan saya susul ke sana," putus Arjuna. Panggilan telepon itu pun segera dimatikan.


"Mau apa lagi dia ke sana? Segitu cintanya dia pada adikku? Atau rasa penyesalan karena belum memberikan apa yang menjadi hak Dewa?"


Pikirannya jadi menduga-duga. Tapi dia segera mengeluarkan mobil dan meluncur ke apartemen Dewa.


Di tengah perjalanan, sopir kembali mengabarkan bahwa Aya tidak ditemukan. Namun dia ada melihat tas dengan isi apel dan jeruk jatuh di lantai parkir dekat pintu masuk Supermarket.


Mendengar hal itu, pikiran Arjuna tidak lagi setenang sebelumnya. "Coba kau tanya security supermarket dan minta lihat rekaman cctv yang mereka punya!" perintahnya.


Dengan tak sabar, Arjuna menambah kecepatan mobil agar segera sampai di apartemen Dewa. "Kuharap kau benar ada di sana!" gumam pria itu cemas.


"Aya! Apa kau ada di sini?" panggilnya begitu masuk. Namun hanya keheningan yang menyambutnya.


Dengan tak sabar diperiksanya apartemen kecil yang hanya punya satu kamar tidur itu. Aya tak juga ditemukan. Hatinya mulai cemas sekarang.


"Apa kau sudah menemukan sesuatu?" Tanyanya tak sabar saat panggilan dari sopir muncul di layar ponselnya.


"Saya sudah melihat video di area parkir dimana ada tas belanja jatuh." Sopir menjelaskan dengan detail apa yang dilihatnya pada Arjuna.


"Jadi, dia terlihat keluar dengan menenteng tas belanja. Tetapi, saat sedang menuju tempat parkir mobilmu, sebuah van berhenti di depannya. Kemudian dia menghilang?" Arjuna mengulangi penjelasan si sopir.


"Benar. Itulah yang terlihat di cctv." sahut sopir membenarkan.


"Apa cctv bisa merekam plat nomor mobil itu?" desak Arjuna.


"Ini yang sedang kami cari. Mencari cctv saat mobil itu masuk ataupun keluar!" jawab sopir.


"Baik, lanjutkan. Aku akan menyusul ke sana!" tegas Arjuna.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Siapa yang menculik Aya?" pikirnya keheranan.


Malam itu juga, Arjuna melaporkan kehilangan Gayatri pada polisi. Disertai dengan bukti rekaman cctv di parkiran supermarket, Arjuna berharap Aya bisa segera diketemukan.


Kabar itu akhirnya sampai juga ke telinga keluarga besar Aya. Mami bahkan pingsan mendengar Aya hilang saat belanja buah di supermarket langganan mereka.


"Cobaanmu bertubi-tubi, Nduk." Papi menyusut air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


"Baru saja akan bahagia, Sudah ada lagi musibah yang menyapa. Ya Tuhan, apakah kesalahanku, hingga putriku bernasib seperti ini?" batinnya dengan perasaan cemas tak terkatakan.


Arjuna dan Papi membicarakan kemungkinan musuh bisnis mereka yang melakukan penculikan pada Aya, untuk menekan agar proyek yang mereka ajukan bisa lolos dengan mudah.


Arjuna tak yakin ada investor yang bekerja sama dengannya akan kalap mata menculik Aya demi sebuah kesepakatan bisnis!


"Apakah Aya punya musuh besar?" tanya Arjuna hati-hati.


Setelah berkasak-kusuk dengan istrinya, Pak Sangaji mengatakan bahwa Aya orang yang sangat baik, hingga mustahil akan dibenci seseorang hingga nekad menculiknya.


"Atau mungkin musuh di tempat kerja?" tebak pak Sangaji.


Arjuna tercenung sejenak. Peristiwa hotel yang dilakukan teman-teman kerjanya masih segar dalam ingatan pria itu.


"Apa mereka sudah separah itu, hingga nekad menculik Gayatri?" batin Arjuna.


Waktu berlalu. Hingga lewat tengah malam, belum ada satupun titik terang dari keberadaan Gayatri.


Dalam perjalanan pulang, Arjuna melihat kemeriahan malam minggu di kota itu dengan perasaan sedih yang tak dimengertinya.


"Kenapa aku jadi terus memikirkan dirinya?" batin Arjuna keheranan. Tak biasanya dia memikirkan wanita sampai begitu terbawa perasaan.


Di rumah, seorang pengacara sudah menunggunya tiba. Dia memang sudah membuat janji siang tadi.


"Ada terlihat sangat lesu. Berbeda dengan kemarin saat buku nikah itu saya serahkan. Apakah ada masalah berat?" tanya pengacara itu, begitu melihat Arjuna menuju ke arahnya.


"Urusan pembagian harta itu bisa kita lanjutkan nanti saja. Istriku hilang!" ujar pria itu sambil menghempaskan diri di sofa empuk ruang tamu.


"Hilang bagaimana maksudnya?" Pengacara itu terheran-heran.


Ya, hilang! Diculik orang saat pulang dari belanja di supermarket!" tandas Arjuna.

__ADS_1


********


__ADS_2