PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR
56. Bulan ke Lima


__ADS_3

"Bagaimana dengan pencarianmu? Ini sudah empat bulan! Temukan istriku segera! Aku yakin, dia masih hidup. Aku menahan Sandra, yang kuyakin punya hubungan dengan penculik itu!"


Suara Arjuna terdengar tak sabaran dalam pembicaraan teleponnya. Setelah mematikan telepon, wajahnya makin mendung. Dia sangat kerepotan sekarang. Mencari Gayatri di setiap waktu luang yang mungkin dimilikinya, disamping mengurus perusahaan yang ditinggalkan Dewa.


"Bos, Tadi ada telepon dari pengelola apartemen. Mengingatkan bahwa batas sewa apartemen Pak Dewa tinggal sebulan lagi. Apabila ingin diperpanjang, maka harus membayar uang sewa. Bila tidak, maka barang-barang di sana harus diangkati."


Telepon Luna menambah beban pikirannya. Bukan dia tak bisa membayar sewa apartemen itu. Namun, untuk apa dia membuang uang percuma? Dewa toh sudah tiada.


"Katakan aku akan membereskan barang-barang di sana sebelum batas waktunya tiba," kata Arjuna.


"Baik, Bos." Luna masih memberikan laporan pekerjaan sebelum percakapan mereka terhenti.


Arjuna mengarahkan mobilnya ke apartemen Dewa. Dia ingin memeriksa beberapa hal pribadi Dewa, sebelum menyerahkan proses packing dan pengiriman pada kurir.


Dengan teliti diperiksanya meja dan rak yang ada di ruang tamu dan kamar. Memasukkan semua berkas dan kertas-kertas yang disimpan Dewa, ke dalam kotak.


"Periksa nanti-nanti saja," batinnya sambil terus membuka semua laci di lemari dan mengeluarkan isinya.


Hasil bersih-bersih sore itu menghasilkan dua kotak mie instan yang berisi barang-barang pribadi Dewa. Benda yang menurutnya harus dibawanya sendiri. Termasuk di dalamnya beberapa koleksi jam tangan dan penjepit dasi milik Dewa.


Setelah memeriksa hingga dua kali, Arjuna yakin, sudah tak ada beda penting lagi yang tertinggal. Dia megunci pintu apartemen dan keluar sambil membawa dua kotak ditangan.


Keesokan hari di kantor.


"Luna, coba cari perusahaan pengiriman yang bisa sekaligus mengemas barang-barang," perintah Arjuna.


"Baik, Bos. Mau mengemas barang yang mana?" tanya Luna.


"Yang di apartemen Dewa. Suruh kirim ke rumahku."


"Baik, Bos." Luna segera mencari perusahaan pengiriman yang bersedia sekalian mengepak barang-barang pindahan rumah.


Pencarian Gayatri tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Mereka seperti sedang diarahkan untuk berputar-putar saja.


"Menurutku, apa yang kita lakukan sekarang sedang dipantau dan ditertawakan oleh penculik itu!" geram Arjuna ketika menerima lapora dari orang yang dibayarnya mencari Aya.


Pria berambut cokelat itu berpikir dan menganggukkan kepala. "Maafkan ketidak mampuan saya," sesalnya.


"Orang itu sangat cerdas!" Arjuna sedang fokus dengan pemikirannya.


Pria berambut cokelat itu mendengarkan dengan seksama.


"Maka dia akan melakukan kebalikan dari kebiasaan!" kata Arjuna lagi.


"Maksud anda, penculik itu mungkin tidak menyembunyikan istri anda jauh-jauh?" tanya detektif swasta itu.


"Bagaimana menurutmu? Apa itu mungkin?" Arjuna kembali mengarahkan pandangan pada tamunya.

__ADS_1


"Itu mungkin saja, meskipun terasa mustahil. Bukankah Anda sudah membuat siaran berita kehilangan di media. Sangat riskan baginya menyembunyikan korban penculikan dekat dengan area kediaman korbannya."


Arjuna menggeleng ingin mendebat asumsi itu. Akan tetapi, tamunya segera menyambung kalimat.


"Lagi pula, polisi dan saya sudah memeriksa kota ini. Saya tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan sama sekali."


"Apa mereka sudah membunuhnya?" desis Arjuna sambil menekan kepala dengan kedua tangan.


"Ada yang kita belum periksa," cetus detektif pencari itu.


"Apa itu?" Arjuna seakan mendapat secercah harapan baru.


"Biayanya akan sangat mahal, Bos." Pria itu mengingatkan.


"Katakan saja!" ketus Arjuna tak sabar.


"Mencari ke pulau lain, atau mungkin luar negeri. Kita belum meneriksa kemungkinan itu.


"Luar negri? Kira-kira ke mana penculik membawanya?"


Arjuna makin lesu karena lokasi pencarian jadi makin luas. Itu akan makin menyulitkan.


"Saya belum tahu ke mana. Harus memeriksa pintu keluar dari kota ini, baik laut maupun udara," ujarnya.


"Baik. Kau carilah. Biayanya tak usah kau pikirkan!" ujar Arjuna penuh harapan.


Satu minggu terlewatkan lagi. Arjuna sudah berada di titik putus harapan. Ibu mertuanya masuk rumah sakit akibat penurunan kondisi karena terlalu bersedih.


"Ini tanda terima pelayan rumah Anda, kan?" kertas itu ditunjukkan Luna ke depan Arjuna.


Pria itu membaca nama penerima dan mengangguk. "Apa sudah kau selesaikan pembayarannya?"


"Sudah, Bos." Luna mengangguk.


"Baik, kau selesaikan pekerjaanmu, lalu bisa pulang." Arjuna berdiri dari duduknya.


"Mau ke mana, Bos?"


Mau jenguk ibunya Aya di rumah sakit," sahut pria itu sambil melangkah pergi.


*


*


"Apa kau sudah menemukannya?" lirih Bu Ajeng pada menantunya.


Arjuna menggeleng. "Ini sudah bulan ke lima, Bu. Bagaimana kalau Aya ternyata sudah tewas?" tanya Arjuna.

__ADS_1


"Jangan putus asa. Mami yakin dia masih hidup," gumam wanita itu.


"Lau, kenapa mami sakit kalau memang yakin Mbak Aya masih hidup?" Radit keheranan.


"Tidak tahu. Mami justru khawatir kalau Aya sekarang juga sedang sakit. Siapa yang akan merawatnya?" ujar mami getir.


"Ibu yakin Aya masih hidup?" Arjuna kembali bertanya. Dia ingin menguatkan hatinya.


"Ya! Mami enggak tahu kenapa. Tapi kali ini perasaan mami sangat kuat. Kemungkinan Aya sering mengingat mami juga," Bu Ajeng meyakinkan Arjuna. Dia ingin pria itu tetap kuat, agar bisa terus mencari Arjuna.


*


*****


"Dia harus dibawa ke rumah sakit, Tuan!" pria berpakaian pelayan, berbicara di telepon.


"Aku akan ke sana dan membawa dokter kandungannya. Tetap di sana!" Suara bentakan mengakhiri pembicaraan mereka. Pelayan itu menatap ponselnya dengan beragam perasaan campur aduk.


"Bagaimana?" Seorang pelayan lain bertanya dengan mimik khawatir.


"Kita hanya bisa menunggu dokter yang dibawakan Tuan, datang dan memeriksa. Sekarang, kembalilah ke posmu dan upayakan menjaganya tetap hidup!" perintahnya tegas. Kemudian berlalu dari sana.


Pelayan yang seorang lagi, menatap punggung temannya tak percaya. Bagaimana caranya mempertahankan nyawa orang? Dia bukan dokter. Dia hanya pelayan bersih-bersih di villa itu.


"Bos sungguh tak masuk akal. Membuat wanita hamil sampai depresi seperti itu!" jelas dia tak terlalu senang dengan tindakan Bosnya mengurung Gayatri.


"Hei, kau! Cepat ke sini!" penjaga bertubuh gelap membuyarkan lamunannya.


"Ya!" peayan pria itu menemui penjaga. "Ada apa?" tanyanya kemudian.


"Kau bersihkanlah di dalam. Aku mendengar ia terus saja muntah di dalam kamar!" ujarnya.


"Oh, ya ampun ...." Pelayan itu segera lari ke dapur dan kembali lagi dengan sebuah ember beserta lap pel di tangan.


"Bagaimana perasaan Anda saat ini, Nyonya," tanyanya dengan ramah.


Rasanya seperti mau mati!" jawab Gayatri asal-asalan.


"Jangan seperti itu, Nyonya. Harusnya Anda jadi lebih semangat, agar bisa bertemu lagi dengan keluarga," ujar pelayan itu.


"Kau yakin aku akan pulang dengan selamat? Aku merasa tuanmu itu akan membunuhku kalau segala sesuatu tak berkenan di matanya." ujar Aya sinis,


"Tuan tidak seperti itu, Nonya." Pelayan masih membela tuannya.


"Kamar Anda sudah bersih kembali. Saya akan ke luar. Apa anda menginginkan sesuatu? Akan saya bawakan di jam makan malam, apapun yang anda inginkan," janjinya.


"Aku tak ingin apapun!" ketus Gayatri kesal.

__ADS_1


"Lihat saja. Aku akan menuntut tuanmu ganti rugi yang sangat besar, setelah bebas!" teriakan Gayatri menggema di koridor villa itu.


*******


__ADS_2