
Malam berlalu dengan tenang. Pagi menjelang, membangunkan dua orang yang tidur di ruangan terpisah.
Gayatri menyiapkan sarapan praktis untuk mereka berdua. Nasi sisa semalam, Omelet telur, irisan ketimun, dan sambal. Dewa makan dengan lahap apa yang disajikan istrinya di piring.
Dengan cepat acara sarapan itu selesai. Keduanya bersiap untuk berangkat kerja. Dan Aya ikut bersama Dewa ke kantor.
Sampai di kantor baru Dewa yang belum terisi semua. Hanya beberapa orang yang ada di sana. Dewa terus berjalan menuju ke ruangannya. Sementara Gayatri membuntuti dari belakang.
"Pagi, Bos!" sapa seorang wanita ramah. Namun matanya menelisik sosok Gayatri yang terus membuntuti Dewa.
"Luna, kenalkan, ini istriku, Gayatri!" Dewa memperkenalkan mereka berdua.
Gadis cantik tinggi semampai itu sangat terkejut. Ekspresinya langsung berubah ramah. "Selamat datang Nyonya," sapanya pada Aya.
Dewa membiarkannya dan memilih masuk ruangan lebih dulu. Aya mendadak kikuk ditinggal mendadak oleh Dewa. Dia mengangguk pada Luna dan berkata, "Terima Kasih." Kemudian kakinya buru-buru menyusul Dewa.
"Luna!" panggil Dewa saat pintu ruangannya terbuka.
"Ya, Bos!" Gadis itu setengah berlari mendapati pria itu. Dia belum menyerahkan tugas dan laporan harian karena perkenalan dengan Nyonya Bos barusan.
"Ini laporan dan rencana kerja hari ini, Bos!" Luna meletakkan tablet yang dipegangnya di hadapan Dewa.
Pria itu segera memeriksa laporan sekretarisnya. Mencoretkan beberapa hal di alat itu. Kemudian menyerahkan lagi benda itu pada Luna.
"Satu tugas lagi. Tempatkan istriku di bagian keuangan!" perintah Dewa.
"Oh?" Luna kembali menyadari kehadiran orang lain di ruangan itu. "Baik. Akan saya siapkan segera!" jawabnya cepat.
"Bagus! Aku mengandalkanmu!" Dewa memuji sekaligus memberinya semangat untuk bekerja lebih keras lagi.
"Terima kasih, Bos," angguk Luna senang.
"Kau ikutlah dengannya. Nanti jam makan siang, kita makan bersama," ujar Dewa pada Gayatri.
"Oke!" sahut Aya.
Dia menegakkan tubuh dan bersiap untuk menunjukkan kerja terbaiknya pada Dewa. Dia ingin membuktikan bahwa dirinya layak untuk diberi kepercayaan.
Gayatri mengikuti Luna yang mejanya berada tak jauh dari pintu masuk ke ruangan Dewa.
"Beberapa meja sudah disiapkan. Tapi memang beberapa tugas belum ada penanggung jawab resminya. Jadi kami bekerja sama berdua untuk mengatur beberapa hal secara bergantian. Sekarang Anda masuk dan menjadi penanggung jawab keuangan, seperti yang disebutkan oleh Bos!"
Luna menunjukkan beberapa meja kerja yang hanya dibatasi dengan sekat pendek antar meja, untuk memberi sedikit privasi.
__ADS_1
Aya meletakkan tasnya di meja yang telah dipilihnya. "Lumayan," pikirnya. Dilihatnya Luna menghilang. Aya belum memiliki tugas apapun. Jadi dia menunggu gadis itu kembali untuk memberikan tugas yang mesti dikerjakannya.
Sepuluh menit kemudian, seorang pria berpakaian teknisi, masuk ruangan dan mencari Luna. Gadis itu bicara sebentar, lalu menunjuk ke arah Aya.
Setelah mengangguk, pria itu menghampiri Aya. "Pagi, Nyonya," sapa pria itu sopan.
"Pagi juga. Apa yang ingin anda lakukan?" tanya Aya.
"Saya harus memasang instalasi untuk perangkat kerja anda, Nyonya," jawab pria itu ramah.
"Baiklah. Silakan saja," Aya mempersilakan orang itu untuk mulai bekerja. Sementara dirinya mengambil duduk di depan meja seberangnya.
Satu jam setelah berlalu, barulah pekerjaan itu selesai. Aya kagum dengan cepat dan gesitnya orang itu melakukan tugasnya.
"Bagaimana. Apakah ada kendala?" tanya Dewa pada pekerja itu.
"Tidak berat. Tak ada gangguan berarti," jawab Pria itu. Kemudian menujukkan hasil pekerjaannya.
"Baik. Kau bisa lanjutkan. Kami akan makan siang dulu. Jika perlu sesuatu, tanya pada gadis di sana itu!" Dewa menunjuk Luna yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Baik!" sahut pekerja tersebut.
"Mau makan di mana kita?" tanya Aya.
"Kau lihat saja" Dewa mempercepat langkahnya menuju lift. Ana mengikuti pria itu dari belakang.
"Sementara waktu, pekerjaanmu tanyakan pada sekretarisku. Nanti akan kubuat tugas khusus untukmu. Bagaimana menurutmu?" tanya Dewa.
"Tak masalah." Gayatri mengangguk.
Dia akan mengerjakan dengan baik tugas apapun yang diberikan Dewa padanya. Ini kesempatannya untuk membuktikan diri bahwa dia mampu dan layak untuk diberi kepercayaan.
Satu hari penuh, Gayatri mengerjakan tugas yang diberikan oleh Luna. Sementara ini dia membantu tugas gadis itu agar semuanya berjalan lancar.
"Nyonya, pukul lima, jam kerja kita usai. Jadi, jika masih ada tugas yang belum selesai, selesaikan sekarang. Tapi jika tidak terlalu urgent, bisa dikerjakan besok!" kata gadis cantik itu.
Aya melihat jam tangannya. Masih kurang setengah jam sebelum jam lima sore. Dia masih punya cukup waktu untuk menyelesaikan semua berkas yang ada di mejanya.
"Apa kau tak ingin pulang?" Gayatri seperti mendengar suara Dewa. Ditengadahnya kepala untuk melihat ke arah pria yang berdiri tinggi menjulang.
"Belum selesai," sahutnya.
"Tinggalkan saja untuk besok!" saran Dewa.
__ADS_1
"Aku ingin menyelesaikannya dulu sebelum pulang," tolak Gayatri.
"Jangan lupa bahwa kau juga perlu menyiapkan makan malam kita," kata Dewa.
"Ah ... baiklah .... Mari kita pulang!" Gayatri membereskan meja kerjanya. Dalam lima menit dia sudah selesai merapikan meja.
"Ayo!" ajaknya pada Dewa yang menunggu dengan tak sabar.
Di mobil.
"Apa kau masih ingin belanja bahan makanan atau yang lainnya?" tawar Dewa.
"Masih cukup!" tolak Aya.
"Oke. Kita langsung pulang ke apartemen." Dewa melajukan mobilnya menuju tempat tinggal mereka.
Ponsel Aya berdering. Itu panggilan dari mami. Aya mengangkatnya. "Iya, Mi," sapanya.
"Besok kita akan mencari gaun resepsimu! Mami jemput kamu jam sepuluh ya!" kata mami tanpa bertanya kesediaan Aya.
"Mami mengajakku pergi melihat gaun resepsi besok!" Aya menanyakan pendapat Dewa.
"Pergilah!" angguk Dewa.
"Bukankah ada pekerjaanku yang belum selesai?" bantah Aya.
"Kerjakan saat kau luang!" saran Dewa lagi.
"Bagaimana orang kerja bisa seperti itu?" tanyanya keheranan.
"Kau harus pintar membagi waktu!" kata Dewa enteng.
Gayatri melihat ke arahnya dengan sebal. "Gampang sekali dia bicara. Pintar membagi waktu. Mudah diucapkan tapi tak mudah dilakukan!"
Terutama jika itu menyangkut pemilihan pakaian untuk kesempatan istimewa. Contoh terbaru adalah saat memilih kebaya pernikahan. Mereka sekeluarga menghabiskan waktu satu hari penuh, baru selesai.
"Sesampainya di rumah, rutinitas keduanya sama seperti hari sebelumnya. Aya menyiapkan makan malam, sementara Dewa sibuk dengan laptopp di meja kerjanya.
"Makan malam sudah selesai. Sebaiknya kita makan dulu. Dengan begitu, kau bisa bekerja tanpa gangguan lapar lagi," jelas Aya.
"Bisakah kau membawakannya ke sini? Aku sedang mengerjakan hal lain," pinta Dewa.
"Tunggu sebentar!" kata Aya. Diambilnya piring saji, kemudian diisinya dengan nasi dan aneka lauk untuk dibawa ke tempat Dewa.
__ADS_1
"Lebih baik kau makan dulu, baru boleh menghadapi pihak musuh!" ujarnya.
********