PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR
50. Penyesalan Arjuna


__ADS_3

Di kantornya, Arjuna memukul meja dengan kesal. Dia menyesali sudah melakukan hal buruk pada Aya semalam. Sekarang, istrinya itu justru makin ketus dan mejengkelkan.


"Luna, kemari!" panggil Arjuna lewat interkom.


"Baik, Bos," sahut Luna. Gadis itu dengan cepat menyambar tablet untuk mencatat perintah Arjuna.


"Duduk!" printah Arjuna setelah melihat sekretarisnya masuk.


"Baik, Bos." Sekretaris itu segera duduk dan mempersiapkan diri. Tampaknya akan ada perintah atau pekerjaan lain yang harus dikerjakannya.


"Ada tugas apa, Bos?" tanya Luna ingin tahu.


Ajuna menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. "Coba kau beri tahu aku, bagaimana caranya meminta maaf pada seorang wanita? Yang bisa kau garansi bahwa dia akan langsung memaafkanku!"


Luna terkejut mendengar ucapan Arjuna. "Apa, Bos?" tanyanya kebingungan.


"Apa kau tidak mendengarkan aku bicara?" kesal Arjuna dengan mata melotot.


"Ah ... Bukan begitu, Bos. Tapi yang tadi itu bukan urusan kantor, bukan?" ulang Luna.


"Kalau kau tak punya jawabannya, keluar sana!" ketus Arjuna.


"Aku memanggilmu, karena kau juga wanita. Mungkin saja kau tahu. Tapi yah ... Percuma saja!" Arjuna menggerakkan jarinya, menyuruh Luna keluar.


Luna berdiri dan berjalan sambil berpikir. Kemudian dia berhenti di ambang pintu dan berbalik menghadap Arjuna.


"Wanita hanya butuh ketulusan, Bos. Termasuk dalam permintaan maaf. Ketulusan itu tak bisa diucapkan atau diwakilkan pada satu benda. Hanya bisa dibuktikan dengan sikap dan harus dapat diuji oleh waktu."


Arjuna menatapnya dengan tampang bingung.


"Itulah quote yang saya baca di internet. Bukan ucapan saya, mungkin kesimpulan dari para pakar cinta. Semoga bisa membantu, Bos!" Luna keluar dan menutup pintu ruangan Arjuna sambil tersenyum kecil.


Arjuna menggertakkan gigi dengan jengkel melihat sikap Luna. Bukannya membantu, malah meledeknya.


"Wanita di mana-mana sama saja! Mana ada wata yang tidak suka perhiasan atau uang, bahkan mobil mewah!" ujarnya tak percaya.


Hingga beberapa saat kemudian, Arjuna masih terpaku di mejanya. "Ketulusan yang dibuktikan dengan sikap dan teruji oleh waktu," ujarnya berulang kali, mencoba memaknai kata-kata itu.


Ponselnya berbunyi. Arjuna melihat dan mengangkatnya dengan cepat. "Apa sudah selesai?" tanyanya.


"Sudah, Bos. Akan segera saya antar ke kantor," sahut suara dari seberang.


"Oke!"

__ADS_1


Wajah Arjuna kembudian kembali berseri-seri. "Akhirnya ...."


Dia yakin telah menemukan cara untuk menaklukkan dan membuktikan ketulusannya pada Gayatri. Serta optimis cara ini akan berhasil meyakinkan istrinya tentang kesungguhannya menikahi gadis itu.


Ponselnya kembali berdering. Dilihatnya nama pemanggil. Lalu mengangkat telepon dengan wajah tak senang yang tak ditutupi.


"Bukankah sudah kukatakan aku tak menginginkanmu! Jangan menggangguku lagi!" Nada suara Arjuna meninggi. Panggilan telepon itu membuat moodnya kembali buruk.


"Menjengkelkan!" geramnya. Dia berdiri dan menyambar jas di sandaran kursi, lalu keluar sembari membanting pintu ruangan.


Luna terkejut mndengar lagi bantingan pintu yang sudah lama tak didengarnya sejak Gayatri berhenti kerja.


"Bos, ada seseorang yang harus Anda temui dua jam lagi!" Luna mengejar Arjuna yang berjalan dengan langkah panjang-panjang.


"Reschedule saja!" jawab Arjuna tak peduli.


"Tidak bisa, Bos! Ini investor!" Luna mengingatkan, dengan mimik wajah serius.


Langkah Arjuna terhenti. ditatapnya Luna dengan mata tajam menusuk. "Berapa dia berinvestasi di sini?" tanyanya.


"Baru akan berinvestasi, Bos. Renca---"


"Berarti dia belum memilikiku! Aku tak berhutang apapun padanya!" potong Arjuna.


"Investor ini yang diupayakan Pak Dewa hingga terakhir kali!" Suara Luna lirih saat mengatakan itu. Kepalanya menunduk sedih.


Gadis itu memang sedih, jika ingat bagaimana kerasnya Dewa berusaha untuk menggaet investor potensial ini. Dan percaya bahwa perusahaan mereka akan makin besar setelah bidang bisnis baru itu diseriusi. Namun pria baik dan yley itu terlalu cepat pergi, membuat semuanya berantakan.


Melihat itu, Arjuna berhenti berdebat. Ponselnya menyala. "Ya," sahutnya cepat. Wajahnya yang masam masih tidak enak dilihat.


"Iya, aku di atas. Naik saja!" katanya lagi. Tanpa berkata apa-apa lagi, pria itu kembali ke ruangannya lagi. Luna merasa lega melihat Arjuna membatalkan rencananya ke luar kantor siang itu.


"Semangat, Luna. Kau harus memiliki banyak trik baru untuk menaklukkan sikap kaku Bos," gumamnya sambil tersenyum dan kembali ke mejanya.


Dua pria berjas hitam datang dengan membawa tas. Segera diantar Luna ke ruangan Arjuna dan meninggalkan mereka di sana untuk membicarakan urusan yang tak diketahuinya.


"Bagus!" Arjuna memegang buku nikahnya dan Gayatri yang sudah diurus oleh pengacara.


"Kuharap ini bisa jadi kejutan yang menyenangkan untuknya. Semoga dia percaya bahwa aku serius," gumamnya optimis.


Siang hari Itu dilalui Arjuna dengan kepercayaan diri. Dia optimis Gayatri bisa ditalukkannya, seperti dulu Dewa menaklukkan gadis itu.


"Akhir pekan kita ke luar kota, ya."

__ADS_1


Pesan ajakan itu dikirimnya pada Gayatri. Dia sudah berulang kali mengotak atik urutan kata agar tidak lagi terkesan arogan.


"Aku mau ke rumah mami!" pesan penolakan Aya segera masuk.


"Baik, aku akan mengantarmu," balas Arjuna.


Wajahnya langsung cemberut melihat pesan dari Aya yang telah memupus harapannya begitu cepat.


"Mustahil dia tak diajarkan tata krama." Kekesalan Arjuna kembali. Moodnya hilang lagi.


"Bos, investornya sudah datang," Luna memberi tahu lewat interkom.


"Baik. Aku akan keluar dan menyambutnya."


"Ini hanya demi menghormati usahamu, Dewa. Tetapi aku akan tetap mengevaluasi kembali rencana bisnis yang kalian bicarakan!" gumam Arjuna.


*


*****


Di rumah, Aya makan malam sendirian. Arjuna masih belum pulang ke rumah. Tapi dia memang tak peduli sama sekali. Dilihatnya kamar sudah rapi dan bersih. Hatinya lega.


Arjuna pulang dan melihat istrinya sudah tertidur di kamar dengan sebuah buku novel jatuh di sebelahnya. Dengan hati-hati dimatikannya lampu baca di atas tempat tidur. Diletakkannya sebuah buku nikah milik Aya di meja nakas sambil tersenyum.


"Selamat tidur, istriku, Mimpilah yang indah," lirihnya sebelum menutup pintu kamar perlahan-lahan.


Setelah beberapa waktu, mata Gayatri membuka di dalam kegelapan. Dilihatnya buku novel yang tadi dia baca sudah diletakkan di meja. Lalu perhatiannya tertuju pada buku kecil tipis di sampingnya.


"Dia benar-benar mengurus buku nikah ini secepatnya," batin Aya.


"Demi menjeratku, atau ...."


Aya tak melanjutkan pemikirannya. Langkah kaki Arjuna yang berjalan mendekati pintu penghubung terdengar samar-samar. Segesit kijang, Aya kembali pura-pura tidur.


Tak diduga, Arjuna justru datang membawa bantal, kemudian tidur di sofa panjang kamar Aya.


"Apa dia akan kembali mencari kesempatan malam ini?" pikir Aya cemas. Pengalaman semalam saja masih terasa menyakitkan baginya.


Bayangan mengerikan, membuat tidurnya tak tenang dan gelisah.


"Aaaahhhh ...!" Tengah malam, teriakan nyaring Aya kembali terdengar di rumah besar itu.


********

__ADS_1


__ADS_2