PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR
35. Perang Yang Tertunda


__ADS_3

Luna bisa mendengar perdebatan panas dari dalam ruangan Arjuna. Perang yang tertunda Sabtu lalu, pecah hari ini. "Tak bisakah mereka bicara tanpa saling menarik urat leher?" herannya dalam hati.


Tiga jam yang penuh keributan berlalu. Aya keluar dengan wajah geram dan membanting pintu ruangan Arjuna. Dia melangkah tergesa menuju ruangannya yang berada di seberang ruangan Arjuna.


"Laporan kita harus direvisi!" ujar Aya ketika lewat di depan meja Luna.


"Apa?" Ekspresinya ikut kusut sekarang. Tak heran Aya ribut di dalam sana. Laporan yang dikerjakan sudah payah, ternyata masih tidak sesuai dengan harapan Bos barunya. Arjuna memang seperti bumi dan langit dengan Dewa, saudara kembarnya.


Luna membawa tablet dan mengikuti Aya ke ruangan. Sekarang, mereka harus kembali berkutat untuk memperbaiki laporan yang dikritisi Arjuna. Artinya, jam makan siang akan molor hingga sore!


Satu jam lewat dengan tenang di kantor itu. Luna sedang mengerjakan ulang laporan untuk Arjuna. Sebuah panggilan telepon dari Bos, mengganggu konsentrasinya.


"Ya, Bos," sahutnya cepat.


"Ke sini!" panggil Arjuna.


Luna pergi ke ruangan Arjuna dan membawa tabletnya untuk mencatat perintah yang mungkin diberikan.


Gadis itu masuk setelah mengetuk pintu ruangan dan mendapat jawaban dari dalam.


"Bos---"


"Kau sedang apa?" Arjuna memotong ucapan Luna.


"Membuat laporan baru, Bos!" sahut sekretaris itu cepat.


"Laporan Gayatri?" tegas Arjuna. Luna mengangguk mengiyakan.


"Kembalikan padanya. Biarkan dia mengerjakannya sendiri!" perintah Arjuna.


"Tapi, Bos ...." Luna ragu dengan argumentasinya sendiri.


"Itu tugasnya. Aku punya tugas lain untukmu. Katakan seperti itu padanya!" perintah Arjuna.


"Data pendukungnya ada pada saya, itu sebabnya saya membuat sebagian laporannya," jelas Luna.

__ADS_1


Dia tak ingin Bos salah memahami kenapa dirinya ikut serta membuat laporan. Jangan sampai dikira Aya tak ikut serta bekerja. Mereka bisa kembali ribut dan saling membenci nanti.


"Berikan saja data pendukungnya. Biarkan dia yang membuat laporan!" tegas Arjuna lagi.


"Baik, Bos." Dengan lesu, Luna keluar ruangan dan menuju ke tempat Gayatri.


Luna mengetuk pintu ruangan Aya sambil memanggil, "Bu ...."


"Ya, masuk!" Terdengar sahutan dari dalam. Sekretaris itu kemudian masuk dan menutup pintu. Dia berdiri di depan Aya dan menyampaikan pesan Arjuna.


"Saya tidak bisa membantu banyak dalam pembuatan laporan ini. Bos memberi tugas lain yang harus saya kerjakan!" lapor Luna.


"Apa!" Mata Aya membulat. Dia sedang sangat sibuk. Sekarang bahkan sekretaris itu dilarang membantunya.


"Monster itu sengaja!" geramnya.


"Ya sudah. Serahkan yang sudah kau selesaikan saja dan data pendukungnya," ujarnya akhirnya.


Luna segera mentransfer semua berkas yang sudah dikerjakannya sejak tadi serta data pendukung yang diminta Aya. Kemudian dia keluar dari ruangan. Dia langsung menuju ruangan Arjuna untuk mencatat perintah.


Matanya menatap Arjuna, menunggu pria itu melontarkan perintah-perintah. Tapi yang dilihatnya, adalah segaris senyum licik pada wajah tampan itu.


Pria di depannya duduk dengan tegak di kursinya dan menatap Luna dengan serius. "Belikan aku makanan. Aku belum sarapan dan sekarang sudah hampir makan siang!"


Perintah tak terduga itu, keluar begitu saja dari bibir pria di depannya.


"Tugas penting macam apa ini?" batin Luna. Diamatinya wajah Arjuna yang tetap terlihat serius. Tak ada sama sekali kesan bahwa pria itu sengaja melakukan hal ini untuk membuat jengkel Aya.


Setelah menghela napas, Luna bertanya dengan ekspresi serius juga. "Apa anda inginkan?"


"Belikan aku soto daging. Menurutmu, soto apa yang enak dan segar, agar dapat menggugah selera makanku?" tanya Arjuna.


Mata Luna membeliak keheranan. "Bos, anda sedang kelaparan sekarang. Tak butuh pemancing selera makan lagi. Orang yang sudah sangat lapar, tak butuh macam-macam makanan. Mie instan pun bisa diserbu dan segera ludes!"


Arjuna menggeleng sambil menggoyangkan jarinya. "No! Aku tidak seperti itu. Jika aku sudah terlambat makan, maka justru jadi tidak selera jika makan sembarangan. Harus yang berkuah hangat dan segar, agar perut tidak sakit!" Arjuna membela diri. Sedikit senyum culas tampak samar di sudut bibirnya.

__ADS_1


"Oh, begitu." Luna menanggapi dengan serius argumen tadi. Sekarang dia ikut memikirkan, makanan apa yang mungkin disukai Bos.


"Soto enak. Ditambah perasan jeruk limo, jadi makin segar dan menggugah selera," tawar Luna.


"Tidak. Kemarin saya juga sudah makan soto. Coba yang lain.


"Bagaimana kalau sop tengkleng?" Luna mengajukan menu lain. Arjuna kembali menggeleng dengan cemberut, tanda dia tak suka.


Luna kembali memikirkan menu lain. Dan Arjuna terus saja menggeleng, terkadang dengan argumen yang sama sekali sepele.


Setelah satu jam berlalu, akhirnya menu yang terpilih dari puluhan menu yang diajukan Luna adalah sop tom yam. Tapi dengan banyak persyaratan. Jangan pakai santan, karena perutnya tidak bisa bertoleransi dengan santan. Tidak pakai daun seledri, karena dia tak menyukai baunya dan sederet rincian lain yang dicatat Luna dengan hati dongkol.


Gadis itu keluar dari ruangan Arjuna setelah lewat satu jam lebih seperempat. Sekarang dia bersiap pergi, karena Arjuna membuat pesan khusus, bahwa Luna yang pergi sendiri ke restoran yang diajukannya tadi. Arjuna tak mau jika makanan itu dibelikan oleh OB.


Sebelum pergi, Luna ingat bahwa Aya juga pasti sudah lapar sekarang. Jadi dia berinisiatif menawarkan untuk membelikan makan siang wanita itu. Diketuknya lagi pintu ruangan Aya.


"Ya," sahut Aya. Kepalanya terus memperhatikan keboard di depannya.


"Bu, saya mau memesan makan siang. Ibu mau dibelikan apa?" tanya Luna.


"Terserah! Apapun boleh. Asalkan berkuah hangat!" jawab Aya tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


"Aku rasa, aku akan mulai masuk angin," tambahnya tanpa menoleh.


"Baik, Bu." Luna kembali menutup pintu. Disambarnya tas dan pergi dari sana sambil bersiul. Alangkah kebetulan. Kedua bosnya sedang menginginkan makanan yang serupa. Jadi dia bisa memesan dua makanan di restoran yang sama. Dan dia bisa makan siang sambil menunggu pesanan selesai.


"Alangkah beruntungnya aku hari ini!" senyum manis terpampang di wajahnya yg bulat telur.


Luna menunggu lift yang sedang naik ke lantai tersebut. Saat pintu terbuka, seorang wanita yang sangat cantik dan full make up, keluar dari sana. Wanita itu berjalan berlenggak lenggok menunjukkan lekuk pinggulnya, seperti peragawati sedang fashion show di cat walk.


Luna masuk ke lift dengan cepat dan menekan tombol ke lantai dasar. Dilihatnya wanita tadi bertanya dengan suara mendesah manja pada reseptionis. "Ruangan Arjuna di mana?"


Seketika mata Luna melotot dan bibirnya terbuka. Sekarang gadis itu ingat. Dia adalah wanita yang waktu itu mereka lihat berciuman di dalam ruang kantor Dewa. Pintu lift tertutup dan membawanya turun dengan seribu pikiran memenuhi kepala.


*******

__ADS_1


__ADS_2