PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR
17.


__ADS_3

Dalam beberapa hari, pekerjaan Gayatri masih belum bisa dilakukan sepenuhnya. Meskipun Dewa bisa memaklumi karena Aya juga harus mempersiapkan resepsi pernikahan mereka, namun Aya sendiri merasa tak enak hati, setiap kali dia datang ke kantor sangat siang.


Seperti hari itu. "Mami, yang seperti ini harusnya tak perlu bawa Aya juga. Mami bis pilih sendiri kan," gerutunya kesal.


"Biar semua sesuai dengan keinginanmu, makanya mami mengajakmu memilih suvenir." Mami masih membela diri.


"Tapi Aya sekarang baru mulai kerja, Mi. Gak enak rasanya keseringan keluar di jam kerja!" Aya memberikan argumennya.


"Baru juga menikah. Kau sudah disuruhnya kerja! Apa dia tak bisa menghidupimu?" kesal mami.


"Kalau dia tak mampu, kenapa mau menikah? Sudah terlanjur begini ya sudah. Kalau kamu kehabisan uang untuk belanja, bilang ke mami saja. Nanti mami transfer!" Mami segera menemukan solusi dari maslah yang ada dalam pikirannya.


"Mami keliru!" bantah Aya.


"Keleru opo?" sungut mami tak terlalu senang.


"Dewa itu sangat mampu membiayai hidup Aya, Mi. Dia bahkan punya perusahaan sendiri!" jelas Gayatri.


"Trus kenapa kamu disuruh bekerja?" tanya mami tak bisa dengan mudah membuatnya percaya.


"Dia menawarkan kesempatan untuk kembali bekerja dan memanfaatkan ilmu yang Aya punya. Biar Aya juga bisa mengaktualisasi diri!" gadis itu menjelaskan panjang lebar, berharap mami mengerti dan berhenti menilai buruk tentang Dewa.


"Kau membelanya. Apa kau sudah mulai jatuh cinta padanya?" Mata mami membelalak lebar.


"Cinta apa? Aya cuma mengatakan sesuatu secara onjektif, Mi. Jangan suka mencampur adukkan segala hal yang tidak saling terkait!" tegur Aya.


"Baiklah. Kau bisa kembali ke kantormu jika memang kau yang ingin bekerja. Tapi, jika dia memaksamu untuk bekerja agar kalian bisa makan, maka beri tahu mami. Apa Aya bisa janji?" tanya maminya lembut.


Aya memeluk wanita paruh baya yang jejak ayunya masih sangat jelas terlihat.


"Mari kita pilih mana yang cocok. Mumpung sudah terlanjur ijin dari kantor tadi. Tapi setelah ini, Aya ndak bisa lagi mengikuti mami memilih-milih segala pernak-pernik pernikahan seperti ini!" jata Aya tegas.

__ADS_1


"Baiklah. Sekarang ayo manfaatkan waktu yang ada." ujar mami penuh semangat.


Keduanya kembali asik memilih beberapa jenih suvenir yang akan digunakan di acara resepsi.


Hingga siang hari, barulah semua pesanan suvenir beserta disain cetakannya selesai dipesan. Aya bahkan memilih menikmati makan siangnya di dalam mobil, agar tidak menghabiskan banyak waktu lagi di kantor.


"Makan pelan-pelan," tegur mami yang takut Aya tersedak nasi. Gadis itu mengangguk sambil terus menyuapkan nasi ke mulut.


Hingga mereka akhirnya mereka sampai di depan gedung kantor Dewa.


"Kau yakin kantornya di sini?" tanya mami saat melihat gedung itu. Aya mengangguk. "Mami mau ikut ke atas?" ajaknya.


"Kalau boleh lihat, tentu saja mami mau," jawab mami ragu.


"Ayo turun," ajak Gayatri.


"Apakah ndak apa-apa?" tanya wanita paruh baya itu lagi.


Luna memperhatikan kedatangan Gayatri dengan seorang wanita paruh baya yang masih sangat cantik. Meskipun hatinya bertanya-tanya, tapi dia tak berkata sepatah kata pun.


"Meja Aya di sini." Gayatri menunjuk meja kerjanya dengan komputer yang mati. Diletakkannya tasnya di sana. Ditariknya kursi lain mendekat ke tempat duduknya.


"Mami bisa duduk di sini," ujarnya menawarkan.


Maminya duduk dan melihat sekeliling. Dia tak menemukan menantunya.


"Di mana ruang kerja Dewa?" tanyanya penasaran.


"Di balik ruangan kaca itu!" tunjuk Gayatri.


"Oh. Mami sudah sampai sini. Tidak sopan jika tak datang menyapa pemilik kantor." Mami berdiri dan berjalan menuju ruang kerja Dewa.

__ADS_1


"Mami, jangan masuk tanpa ijin!" cegah Aya. Dia mengejar mami yang sudah memegang handel pintu. Luna juga berdiri dengan cepat dan mencoba menghalangi maminya GAyatri dari menerobos masuk ke ruangan Dewa.


Tapi tangan mami lebih cepat dari yang mereka kira. Pintu sudah terbuka lebar dan pemandangan di dalamnya membuat ketiga orang itu terpana.


"Bos!"


"Dewa!"


"Menantu kurang ajar!" teriak mami murka. Tas tangannya melayang ke arah pria yang sedang memeluk seorang wanita dan membelakangi pintu.


Tiga wanita yang terkejut itu bisa melihat jelas bahwa kedua orang berlainan jenis itu sedang berciuman di ruangan jantor yang tertutup!


Punggung Dewa yang terkena lemparan tas dan suara teriakan tiga orang, mengagetkan pria dan wanita itu. Dewa membalikkan tubuhnya dan ekspresinya berubah suram saat melihat Gayatri dan maminya berdiri di sana.


"Tak bisakah kalian mengetuk pintu lebih dulu?" tanyanya kasar.


"Agar perselingkuhanmu tak ketahuan?" tuduh mami pedas.


"Belum satu minggu kau menikahi putriku. Dan sekarang kau sudah tak sabar untuk berselingkuh?" Sungguh buah jatuh tak jauh dari pohonnya!" ejek mami.


Wajah Dewa merah mendengar kata-kata itu. Itu jelas merujuk ayahnya yang mata keranjang.


"Luna, tamu harus lapor dulu, sebelum masuk ke ruangan!" katanya kasar.


Sekretarisnya terkejut mendengar kata-kata itu. Dia belum pernah melihat sifat Dewa yang seperti ini. Biasanya bos selalu ramah dan sangat sopan.


"Apa kau mendengarku? Tak ada yang kedua kalinya. Ini peringatan terakhir! Jika kejadian lagi seperti ini, kau kupecat!" teriak Dewa kasar. Wanita di sampingnya tersenyum sinis melihat sekretaris itu kebingungan.


"Aku berhenti kerja! Dan akan menilai ulang pernikahan kita! Beraninya kau berselingkuh di depanku dan tidak merasa bersalah sama sekali. Dan lebih buruk dari itu, kau tidak menghormati mami!" Gayatri berteriak histeris.


Dia merasa sangat sakit hati. Baru saja dia memuji pria itu di depan mami sebagai pria yang baik. Tak disangka ternyata buaya juga. Dia merasa sangat menyesal terlanjur menikah dengannya.

__ADS_1


__ADS_2