PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR
39. Keputusan Papi


__ADS_3

"Kau merindukan Dewa?" tanya papi penuh pengertian.


"Kau akan segera menikah dengan Arjuna. Jadi lebih baik hapus pelan-pelan kenangan Dewa di dalam hatimu," bujuk papi.


Gayatri mengambil ponsel dari tas. Mencari-cari sesuatu di layar ponsel. Kemudian menunjukkan sesuatu pada papi. Pria paruh baya itu hampir tersedak buburnya. "Dasar bu*aya!" umpat papi emosi.


"Apa sih?" Mami dan Radit ingin tahu, tapi papi segera mematikan video yang ditunjukkan Aya tadi.


"Tak perlu dilihat! Manusia tak tahu malu itu. Jika bukan karena wasiat Dewa, Aku juga tak sudi punya menantu tak punya sopan santun seperti dia." Papi jadi semakin emosi.


"Tenang ... tenang. Pikirkan dengan kepala dingin saja. Kita pikirkan jalan keluarnya," ujar mami menenangkan pria yang dicintainya itu.


Radit tampak prihatin dengan nasib kakak perempuannya itu. "Mi, jika Arjuna memang seburuk itu, maka lebih baik pertunangan dan rencana menikahkan mereka dibatalkan saja. Radit enggak mau Mbak Aya dipaksa menikah dengan pria mata keranjang. Itu hanya akan menjerumuskannya dalam penderitaan yang tak berkesudahan."


"Apa kita tega melihatnya seumur hidup makan hati karena perangai suami yang tidak menghargai wanita? Kita tidak diajarkan seperti itu. Kita juga tidak punya hutang budi pada Dewa, hingga harus memenuhi wasiat yang tidak masuk akal!" Radit merasa gemas.


"Benar, Pi. Jangan korbankan putri kita hanya demi kata harga diri. Putri kita juga punya harga diri. Dia tak pantas mendapatkan perlakuan tak hormat seperti itu!" Mami mendukung pendapat putranya.


"Putri kita hanya Aya saja. Masa kita mau korbankan dia pada serigala lapar? Itu tak adil untuknya!" Mami menangis memeluk Aya yang terdiam membisu. Air mata gadis itu ikut mengalir.


"Dewa pasti punya pertimbangan sendiri tentang Arjuna!" Eyang menyela pembicaraan keluarga itu. Dia sudah mendengarkan semua pembicaraan keluarga kecil itu.


"Tapi Pak, Dewa mungkin juga salah menilai. Bahkan meskipun karena kedekatannya membuat dia bisa mentoleransi keburukan Arjuna, bukan berarti Arjuna bisa dikendalikannya dan berubah menjadi sebaik yang disangkanya!" bantah mami.


"Perjanjian sudah dibuat dengan keluarga itu. Tak mungkin---"


"Itu bisa dibatalkan kalau calon pengantinnya tidak menghormati putri kami!" Kali ini papi yang biasanya patuh pada Eyang, ikut membantah dan mendukung istrinya.


"Tidak ada alasan untuk pembatalan!" sanggah eyang ngotot. "Harga diri kita mau ditaruh di mana?" tambahnya lagi.


"Kita punya alasan kuat perselingkuhannya yang bahkan dilihat Aya degan mata kepalanya sendiri!" Papi menjadi sengit untuk membela Aya.

__ADS_1


"Apa demi harga diri, Bapak tega menyengsarakan cucu sendiri? Biarkan saja harga diri itu di tempat sampah kalau begitu!" Mami akhirnya marah. Dia memberontak atas sikap Eyang yang kaku dan lebih memikirkan pendapat orang lain ketimbang nasib cucunya sendiri.


"Mbak Aya punya hak untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri. Dia bukan lagi gadis pingitan keluarga ini. Dia seorang janda yang harusnya diberi sedikit kelonggaran dan hak untuk menentukan pasangan hidup sendiri!" Radit menimpali.


"Hah! Kalian sudah berani membantahku demi seorang gadis pembawa si*l!" geram Eyang murka.


"Gadis yang Bapak tunjuk ini putriku, Pak! Putri kandungku! Cucu Bapak sendiri. Bagaimana bisa Seorang Eyang menghina cucunya demi mempertahankan pria yang bahkan tidak Bapak kenal sama sekali!"


Kali ini mami menjerit dengan emosi. Air matanya tumpah tak tertahankan lagi.


"Karena kalian tak lagi menghormatiku, aku akan pulang ke rumahku saja. Terserah kalian mau memutuskan apa. Aku tak ikut campur lagi!" Eyang membalikkan badan dan bertahan dengan sikap keras kepalanya.


Tapi tak seorangpun yang mencegahnya pergi. Papi sibuk menenangkan mami yang jatuh terkulai karena emosi mendengar perkataan Eyang.


Sementara Radit memeluk punggung Aya yang menangis menelungkup di meja makan.


Istri Radit juga kerepotan membujuk putrinya yang menangis karena terkejut mendengar semua orang berteriak di dekatnya pagi itu.


Papi mengangguk. "Hati-hati bawa mobilnya."


"Baik!" Sopir segera keluar dan tak bertanya lagi.


"Maafin Aya, Mi. Karena Aya, Mami jadi bertengkar dengan Eyang," ujar Aya dengan mata basah.


"Ndak apa-apa. Eyang hanya belum melihat yang kita lihat. Kalau emosinya reda, juga akan mengerti." Papi membujuk Aya.


"Kita harus berikan video ini pada pihak keluarga Arjuna. Dengan itu kita batalkan pertunanganmu. Ini bukan salahmu. Dewa juga tak akan menuntutmu, jika ternyata saudara kembarnya sendiri yang berkhianat."


"Papi benar," timpal Radit.


"Kemarin Aya sudah langsung kirim video itu pada ibunya Dewa," ujar Aya memberi tahu.

__ADS_1


"Lalu apa reaksinya?" tanya papi ingin tahu.


Aya mengedikkan bahu. "Tidak tahu. Ibu enggak membalas pesan Aya."


"Kirim video itu ke ponsel papi. Biar papi kirim ke ayah mereka, sekalian memutuskan pertunangan kalian!" putus papi cepat.


"Apa Mbak Aya akan tetap bertahan di kantor itu?" tanya Radit.


Aya diam. Itu memang belum dipikirkannya. Jabatan itu terlihat hanya sebagai ajang Arjuna untuk mengerjainya. Tak ada warisaan berupa pekerjaan seperti yang disebutkan Arjuna. Perusahaan itu juga baru dirintis.


Mungkin benar bahwa Dewa dan Arjuna mendirikan perusahaan degan modal bersama, dan Aya mendapatkan bagian Dewa dengan menggantikan posisinya. Tapi sikap yang ditunjukkan pria itu semenjak dia ikut bekerja, tidak seperti pemimpin prosesional. Terkesan mengada-ada, atau hanya sekedar ingin menunjukkan bahwa dia lebih berkuasa dari Dewa atau Aya.


"Aku akan berhenti dari sana. Jika memang dalam anggapan Arjuna ada bagian Dewa di perusahaan, maka dia harusnya akan membagikan hasilnya setiap bulan atau setahun sekali padaku. Jika pun tidak dibagikannya, Aya juga tak peduli!" ujar Aya bertekad.


"Jadi, hari ini kau pergi ke kantor atau tidak?" tanya papi menegaskan.


"Tidak!" putus Aya. "Nanti surat pengunduran diri akan Aya kirim pada Luna."


"Bagus! Satu persatu persoalan selesai. Sekarang kita tunggu jawaban dari bapak mertuamu itu."


Papi memandangi ponselnya. Dia telah mengirimkan video yang direkam Aya pada besannya. Juga keputusan pembatalan pertunangan dan rencana menikahkan lagi kedua anak mereka.


"Mami akan bereskan tanda pertunangan yang mereka kirimkan kemarin itu. Biar Radit antarkan lagi sebelum berangkat ke kantor, ya." Mami meminta Radit dengan sangat.


"Oke!" Radit mengangguk dengan semangat.


Mami memeluk Aya. "Kau lihat, Nduk. Semua keluarga mendukungmu. Kau hanya perlu mengatakan semua masalahmu. Jangan pernah menyimpannya sendiri. Itu akan membebanimu. Jangan pernah mengira kami tidak menyayangimu," bisik mami lirih.


Aya menangis dengan haru. Dia kembali dapat merasakan hangatnya pelukan papi dan mami. Dia seperti menemukan lagi rumah yang membuatnya nyaman untuk pulang. Dia tidak lagi merasa sendirian menanggung beban hidupnya.


Radit memeluk istrinya yang menangis terharu.

__ADS_1


**********


__ADS_2