PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR
32. Arjuna 2


__ADS_3

Tiga bulan berlalu. Selama itu, Aya diminta tetap bekerja di perusahaan yang didirikan oleh Dewa dan Arjuna. Dia bahkan harus menggantikan posisi Dewa, karena Arjuna bukan orang senang untuk berada di kantor dan kerja full time. Dia tak menyukai aturan waktu ketat dan teratur seperti itu.


Aya menolak halus, dengan alasan bahwa dia tak punya pengalaman sebagai seorang direktur perusahaan.


Tapi Arjuna tak kehilanagn akal. Dia mengatakan bahwa dia akan menuntut Dewa sebagai founder, karena telah menelantarkan perusahaan dan membuatnya sebagai pemilik modal merugi. Dan Aya sebagai jandanya diharuskan membayar semua ganti rugi yang disebabkan ketidak hadiran Dewa.


Meskipun sangat jengkel dengan kelakuan Arjuna, tapi akhirnya Gayatri bersedia menggantikan posisi Dewa, dengan satu syarat. Pria itu tidak lagi membawa para wanitanya dan berbuat mesum di kantor!


Karena Arjuna menyetujui persyaratannya, maka akhirnya Aya kembali bekerja. Dia bersyukur dapat menghabiskan waktu dengan bekerja. Orang-orang di rumah tidak lagi melihatnya dengan tatapan sedih yang membuatnya sebal.


"Besok hari Minggu. Kau tidak boleh membuat acara!" pesan Eyang di telepon.


"Memangnya ada apa Eyang?" tanya Aya. Dia masih belum pulang dari kantor.


"Keluarga Arjuna akan datang untuk membicarakan pertunangan kalian!"


"Tapi, Eyang---"


Kata-kata Aya belum lagi selesai. Tapi sambungan telepon sudah diputuskan Eyang. Dia hanya bisa menggertakkan geraham dengan jengkel.


"Dewaaaaa!" teriaknya dalam hati.


"Dulu keluargaku yang mengatur hidupku. Sekarang kau yang mengatur hidupku. Bahkan setelah kau mati pun, kau masih tidak rela melepaskan aku bebas!" rutuknya marah.


Aya termangu beberapa saat. Dia memikirkan beberapa trik agar lepas dari kewajiban memenuhi permintaan Dewa. Dilihatnya foto Dewa di atas meja kerja. Pikirannya kembali melayang pada Arjuna. Seketika darahnya mendidih.


"Orang seperti itu yang kau pilihkan untuk menggantikanmu menjagaku?" Aya bicara pada foto Dewa.


"Apa kau begitu membenciku karena tidak memenuhi kewajibanku sebagai istri?"


"Apa ini hukuman darimu yang harus kutanggung seumur hidup?"


"Aku baru tahu bahwa kau sekejam itu!"


Aya terus saja berbicara sendiri pada foto Dewa di meja. Dia tak menyadari bahwa sepasang mata telah mengamatinya cukup lama dari balik pintu terbuka. Arjuna mendengarkan semua amarah yang disemburkan Gayatri pada Dewa. Pria itu terlihat memikirkan sesuatu. Dahinya sedikit mengerut. Tapi kemudian kembali memasang tampang yang sangat dibenci Aya.

__ADS_1


"Hei, Kau!" Arjuna membuka pintu dengar kasar, dan mengejutkan Aya. Gadis itu melihat ke arah pintu. Mulutnya sudah siap untuk menyemburkan sumpah serapah setelah melihat siapa yang mengejutkannya.


Namun Arjuna telah mendahuluinya bicara. "Besok kau jangan ke mana-mana. Keluarga mantan suamimu akan datang ke rumahmu!"


Secepat dia bicara, secepat itu juga Arjuna membanting pintu dan pergi menjauh, agar tak perlu mendengar omelan Gayatri.


"Apa kau tak punya sopan santun?" teriak Aya dengan nada tinggi.


Luna terlonjak kaget mendengar teriakan bos barunya. Rasanya Gayatri jauh lebih galak dari pada Dewa.


"Semoga tak ada perang hari ini," harapnya dalam hati. Dia menoleh ke ruangan di seberang, di mana Arjuna bekerja. Pintu ruangan pria itu tertutup rapat namun suara musik terdengar lamat-lamat dari sana.


Luna menoleh ke ruangan Aya. Dia menunggu. Biasanya Aya akan keluar dan mengejar Arjuna ke ruangannya dan melontarkan semua kejengkelannya sebelum gantian membanting pintu ruangan pria itu dan pergi dengan wajah merah padam.


Lima menit berlalu. Suasana tetap hening. Tampaknya Aya tak akan melabrak Arjuna hari ini. "Aman ... Perang dunia tak akan terjadi hari ini," desis Luna sambil mengurut dada.


Sejak Aya bekerja menggantikan Dewa satu bulan ini, suasana kantor terasa sangat panas. Dua atasan Luna itu tak menutupi kalau mereka saling benci dan bermusuhan.


"Kau lihat kelakuan kembaranmu itu? Yang seperti itu kau jodohkan denganku? Kau benar-benar orang yang kejam, Dewa. Aku membencimu!" desis Aya di ruang kerjanya. Matanya tak lepas dari foto Dewa di meja. Dengan gemas, dibalikkannya bingkai foto itu telungkup di meja.


Meski menyandang posisi direktur, tapi setiap Sabtu, Aya tetap harus membuat laporan yang akan dinilai Arjuna.


Pria itu sudah datang, artinya dia sedang menunggu laporan yang dibuat Aya. Setelah semua berkas itu dianggap beres, baru dia bisa pulang dan berakhir pekan dengan damai.


Gayatri kembali fokus pada komputernya dan menyelesaikan laporan kerja mingguannya. Luna sudah menyiapkan sebagian besar laporan. Aya tinggal menambahkan beberapa bagian kesimpulan.


Tepat pukul tiga siang, Aya sudah selesai dan mengirimkan laporan itu pada komputer Arjuna. Dia menunggu pria itu membaca dan menganalisanya.


"Luna, belikan aku sesuatu. Perutku lapar," perintah Aya pada sekretarisnya.


"Ibu ingin makan apa?" tanya gadis itu balik.


"Siomay saja. Jangan lupa saos pedasnya!"


"Baik, Bu." Luna dengan cepat melaksanakan perintah agar Aya bisa segera mengisi perut sebelum dipanggil oleh Arjuna untuk berdebat tentang laporannya yang akan menyita waktu hingga petang nanti.

__ADS_1


Namun, entah ada angin apa yang berhembus di ruangan Arjuna, hingga pukul lima sore tak ada panggilan untuk Aya. Luna dan Aya merasa lega. Artinya laporan mereka benar dan sesuai dengan keinginan Arjuna.


Aya bersiap-siap untuk pulang. Sementara Luna masih gelisah, menunggu dua bosnya memberi sinyal bahwa sudah waktunya untuk pulang.


"Aku pulang dulu. Kau tidak pulang?" tanya Aya yang melihat gadis itu masih duduk di balik meja kerjanya.


Luna tak menjawab. Dia hanya melayangkan pandang ke arah ruang kerja Arjuna. Aya mengerti arti pandangan itu.


"Dia belum juga pulang? Sebentar lagi sudah jam enam!"


"Kau tanya saja, apakah dia masih butuh sesuatu atau tidak. Jika tidak, maka kau mungkin tak perlu menunggunya," saran Aya.


Namun Luna menunjukkan wajah takut. Dia selalu merasa takut saat berhadapan dengan Arjuna. Pria yang selalu bicara dengan nada meledak-ledak. Hatinya telah ciut lebih dulu membayangkan harus menanyakan kapan pulang pulang. Itu sama saja dengan memancing hukuman mati!


Aya mengedikkan bahunya. Bukan dia tak ingin membantu Luna, tapi da sendiri sedang tidak mood untuk bertengkar dengan pria itu.


"Selamat menunggu!" Aya berlalu dari sana tanpa menoleh lagi. Luna memandang punggung Aya dengan sedih. Dia juga ingin lekas pulang dan menghabiskan malam minggu dengan pacarnya yang sudah menunggu di lobby gedung.


"Apa kau digaji untuk melamun!" suara bentakan mengagetkan Luna. Dia langsung mendongak dengan wajah bingung. Pria menakutkan itu berdiri di depan mejanya.


"Bos ...." lirihnya.


"Apa kau bosan kerja?" Panggilkan Aya ke ruanganku!" perintahnya.


"Bu Aya sudah pulang setengah jam yang lalu. Bolehkan saya juga pulang sekarang? Ini sudah pukul enam lewat seperempat," kata gadis itu.


Arjuna melirik jam di pergelangan tangannya. "Sial! Gara-gara ketiduran, aku tak membaca laporannya. Sekarang dia sudah pulang." Arjuna membatin dalam hati.


"Ya sudah ... Kau pulang saja. Tapi kabarkan padanya agar menghadap ke ruanganku hari Senin pagi untuk membahas laporan minggu ini!" Arjuna membalikkan tubuh dan berlalu dari hadapan sekretarisnya.


"Baik, Bos." Luna mengangguk cepat. Disambarnya ponsel di meja dan langsung mengetik pesan untuk Aya. Setelah itu diraihnya tas dan segera pergi dari sana.


"Hari yang damai. Kedamaian sebelum badai Senin depan," bisik hati Luna ketika berada di lift.


*****

__ADS_1


__ADS_2