PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR
64. Mencari Bayi Aya


__ADS_3

Dicky dan dokter wanita itu sama-sama terkejut saat bertemu.


"Reina, kau kerja di sini?" Suara Dicky memecah kecanggungan di antara keduanya.


"Ya. Apakah kau sekarang bekerja sama dengan penjulik?" tanya dokter wanita itu sinis.


"Hei ... jaga bicara Anda. Bukankah sudah kukatakan kalau dia istriku yang hilang diculik orang!" Arjuna sewot, karena dokter wanita itu kembali pada kesimpulan awalnya. Percuma saja dia menjelaskan dari tadi.


"Kebiasaanmu menuduh tanpa bukti ternyata tidak juga hilang." Dicky membalas kata-kata dokter itu dengan sama sinisnya.


"Kau sama sekali tak berubah! Terus saja melakukan hal-hal yang tak berguna!" ejek dokter itu emosi.


"Jadi menurutmu membantu mencari keluarga orang yang hilang itu tidak berguna? Dan bekerja sama dengan penculik, jauh lebih berguna?" Dicky memandang dokter itu dengan mata berkilat tajam.


Arjuna yag awalnya bingung dengan apa yang terjadi, mulai sedikit paham. Dua orang di dekatnya itu saling bermusuhan. Jika tak seera diatasi, justru bisa membuat keributan dan memancing penculik di luar masuk dan merebut Aya.


"Stop!" Arjuna berdiri tepat diantara kedua orang yang sudah siap untuk saling menerkam.


"Yang punya masalah di sini, aku. Kenapa kalian yang bertengkar?" ujar Arjuna. Tangannya menarik Dicky menjauh.


"Coba kau lihat seorang dokter yang tadi keluar. Aku melihatnya masuk ke toilet, Jaga agar dia tidak mengatakan bahwa operasi Aya sudah selesai!" perintah Arjuna.


"Baik!" Dicky keluar ruangan dengan cepat untuk melakukan perintah Arjuna.


"Sekarang Anda, Dok. Kenapa masih menuduh saya penculik? Bukankah sudah saya katakan bahwa dia istri saya? Sekali lagi Anda menuduh saya seperti itu, saya akan melaporkan Anda pada polisi sebagai kaki tangan para penculik!" tegas Arjuna.


Dokter wanita yang bernama Reina itu melihat keseriusan dari kata-kata pria di depannya. Membuat dia akhirnya diam dan memilih berdiri dekat dengan tempat tidur Aya.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Arjuna. Dilihatnya pergelangan tangan Aya yang dibalut dengan kain kasa tebal. Wajahnya tampak sedih.


"Maafkan aku, terlambat menemukanmu, hingga kau melakukan hal seperti ini." Arjuna berjongkok dan mencium punggung tangan Aya dengan hati-hati.


"Apa yang kau alami hingga jadi seputus asa ini? Apa kau tak percaya bahwa aku akan terus mencarimu?"


Meskipun kata-kata yang diucapkan Arjuna tidak terlalu keras, tapi Dokter Reina bisa mendengar dan merasakan kesedihan dari suara Arjuna.


"Bos!" panggil Dicky.


Arjuna menoleh lalu berdiri dari jongkoknya. "Bagaimana?" tanyanya.

__ADS_1


"Saya hanya bisa mengunci pintu toilet. Tapi itu tak akan lama. Bagaimana selanjutnya?" tanya pria itu ingin tahu rencana Arjuna.


Arjuna melihat jam tangannya. "Kenapa para polisi itu lambat sekali!" geramnya tak sabaran.


Diambilnya ponsel dan kembali menelepon polisi. "Anda sudah di mana? Saya tak bisa menahan dokter lebih lama, tanpa menimbulkan keributan!" sergah Arjuna, begitu teleponnya diangkat.


"Kami sedang dalam perjanan! Begini saja. Jika ada dokter di sana, biar saya bicara," kata polisi di seberang telepon.


"Polisi mau bicara sama dokter." Arjuna menyerahkan ponselnya pada Dokter Reina.


"Hallo," sapa dokter itu.


"Coba buka video call, agar Anda dapat melihat saya," perintah polisi itu.


Reina melakukan perintah itu. Sekarang dia dapat melihat bahwa di sana, ada seorang polisi dan tiga lainnya di dalam satu mobil.


"Kami mendapat laporan dari Pak Arjuna bahwa dia menemukan istrinya di rumah sakit. Bisakah kita bekerja sama untuk menjaga agar para penculik di luar tidak mengambil pasien Anda?" tanya polisi itu.


"Baik. Apa perlu saya hubungi security untuk menahan mereka di luar?" tanya dokter wanita itu.


"Itu bagus. Akan tetapi, tidak saya sarankan untuk mengejutkan mereka. Karena mereka pasti penculik profesional, makanya bisa menyembunyikan Nyonya Gayatri begitu lama dari mata polisi!"


"Minta security untuk mengamati dari kejauhan saja. Jaga jangan sampai mereka kabur. Dan kalau bisa, panggil satu petugas itu masuk, untuk menjaga dan mengunci ruangan itu."


"Saya bisa mengunci ruangan ini dari dalam." tegas Dokter Reina. Dia sudah bersedia bekerja sama sekarang.


"Bagus! Lakukan seperti itu. Kami ... Masih dua blok lagi dari rumah sakit!" Panggilan telepon itu terputus. Dokter wanita itu mengembalikan ponsel Arjuna.


"Sudah percaya sekarang?" tanya Arjuna. Dokter itu mengangguk. Bantu saya untuk mengunci ruangan persalinan ini!" Dokter wanita itu berjalan cepat ke luar ruangan dan menuju pintu masuk ruang persalinan. Dicky mengikuti dari belakang.


"Tolong pasangkan kunci ruangan ini, agar tak ada seorangpun yang bisa masuk ataupun keluar!" perintahnya.


Dicky melakukan tanpa banyak bicara. Dipasangnya kunci pintu atas dan bawah, lalu memutas tuas pengunci di tengah pintu, sesuai arahan Reina.


Saat mereka berbalik, terdengar keributan dari dalam kamar mandi. Reina memandang Dicky dan menggelengkan kepalanya, tapi dia tak mengatakan apapun, selain berlalu.


"Ada apa, Dok?" tanya seorang perawat di meja jaga, yang melihat keganjilan suasana ruang persalinan itu.


"Ada sedikit urusan polisi di luar. Jadi, jangan pernah buka pintu itu, jika bukan polisi yang menyuruh buka!" Dokter Reina memberi perintah tegas.

__ADS_1


"Polisi?" Para perawat itu terlihat panik. Mereka tidak mengerti apa yang terjadi.


"Jangan sampai pasien ikutan panik, melihat kalian panik begitu," tegur dokter.


"Lalu, bagaimana dengan toilet itu?" salah seorang dari mereka menunjuk ke arah toilet yang terdengar digedor-gedor dari dalam.


"Itu Dokter Satrio. Apa menurut kalian, dia akan mudah bekerja sama?" tanya Dokter Reina.


Para perawat itu menggeleng. "Tetapi, jika terus ribut seperti itu, lama -kelamaan juga akan terdengar oleh pasien," ujar salah seorang.


"Biarkan dulu. Coba bujuk saja, katakan sesuatu, agar dia mau berhenti ribut dan menunggu. Polisi sudah hampir sampai!" Dokter wanita itu meninggalkan meja jaga dan masuk ke ruangan operasi.


Arjuna yang sedang menelepon, sedikit terkejut melihat Dicky dan Reina masuk. "Sudah dulu Pak. Yang paling penting sekarang, Aya sudah saya temukan. Nanti bapak dan ibu bisa bertemu lagi." Arjuna memutuskan panggilan teleponnya.


"Anda menghubungi siapa lagi?" Kesinisan sepertinya sudah menjadi bagian dari diri dokter wanita itu.


"Tak bisakah nada suaramu biasa saja?" tegur Arjuna tak senang. Dia merasa seperti penjahat di depan dokter itu.


"Aku menelepon mertuaku. Mereka sudah sangat khawatir. Jadi tadi sedikit video call, kuharap bisa menenangkan kegelisahan kedua orang tua itu."


Arjuna dapat melihat dokter wanita itu menjadi sedikit kikuk setelah mendengar penjelasannya. Dia menggeleng heran. Dilihatnya wajah Dicky yang mencibir sinis pada Dokter Reina.


"Ada apa dengan mereka berdua?" pikirnya.


Ponselnya kembali berbunyi. Arjuna membuka sambungan telepon. "Kami sudah di lantai dasar dan bekerja sama dengan security. Tunggu sebentar di sana," kata polisi di seberang. Kemudian sambungan telepon itu terputus.


"Polisi sudah di lantai bawah," kata Arjuna.


Dicky mengangguk. Kemudian menoleh pada Reina. "Bukankah Nyonya Gayatri melahirkan. Di mana bayinya?" tanya Dicky.


"Astaga, aku melupakan hal penting itu." Arjuna menatap Dokter Reina yang juga terkejut dan baru ingat hal itu.


"Bayi anda berada dalam kondisi buruk. Jadi kami mengirimnya ke ruang perawatan khusus bayi. Ada di lantai ini juga, tetapi untuk mencapainya, harus lewat pintu itu." Dokter Reina menunjuk pintu masuk ruang persalinan yang tadi dikunci Dicky.


"Biar aku yang ke sana. Tapi aku butuh perawat untuk bekerja sama dan mengantarku ke sana, serta mengamankan bayi itu!" kata Dicky cepat.


Arjuna mengangguk. Dia juga khawatir, jika keluar, ternyata dikenali oleh penculik. Dokter Reina keluar dan memanggil salah seorang perawat untuk mengantar Dicky ke ruang perawatan bayi.


******

__ADS_1


__ADS_2