
Gayatri diam cukup lama, untuk berpikir. "Aku belum bisa menjawabnya sekarang. Aku mau lihat hasil kerjamu dulu!"
Aya berhasil menemukan celah untuk membalikkan keadaan antara dirinya dan Dewa. Posisi sebagai orang yang memiliki daya tawar tinggi, jauh lebih menyenangkan ketimbang disudutkan Dewa untuk menerima atau menolak, seperti tadi.
Dewa melebarkan matanya tak percaya. "Gadis ini sangat cerdas. Sayang sekali jika hanya berdiam di rumah," pikirnya.
Setelah menghembuskan napas berat, Dewa akhirnya mengangguk. "Baiklah. Aku hanya akan melakukan rencana awal dulu. kalau kau masih menolak menikah denganku, maka pembalasan dendammu tidak akan kesampaian!" tegas Dewa.
Gayatri mengangguk. "Deal!"
Diulurkannya tangan sebagai tanda tercapainya kata sepakat di antara mereka berdua.
Dewa menyambut jabat tangan Aya dan mengguncangnya sekali. "Deal!"
Dua orang itu tersenyum misterius. Masing-masing mereka saling menilai orang di depannya.
"Akankah dia menepati janji?" pikir Dewa.
"BIsakah dia menyelesaikan syarat awal?" batin Gayatri.
"Waktumu sampai malam sebelum pernikahan. Jika kau tak mampu melakukannya, maka ajukan pembatalan pernikahan pada papi. Aku tak mau disalahkan. Karena kau sendiri yang tak bisa menepati persyaratan yang kuajukan." Gayatri merasa kali ini posisinya berada di atas angin.
"Kau benar-benar---" Dewa tak dapat berkata-kata lagi.
"Apakah dia akan terus bersikap tak masuk akal seperti ini setelah menikah? Kenapa aku jadi merasa ragu untuk memperistri gadis ini?" batin Dewa.
"Jika ini tabiat aslinya, maka akan sangat merepotkan nantinya. Entah apakah gadis seperti ini bisa cocok dengan ibu," pikirnya dalam hati.
"Sudah malam. Aku mau kembali ke sana dan pamit pulang," ujar Dewa akhirnya.
Gayatri hanya mengangguk. Dia berdiri dari kursi dan mengantar Dewa ke ruang pertemuan keluarga.
Mereka mendengar suara gelak tawa dari ruangan. Adik Dewa berhasil mencairkan suasana yang kikuk, karena ibunya yang jarang bicara.
"Pembicaraan kalian sudah selesai?" tanya eyang ramah.Dia sangat berharap Dewa menjadi cucu menantunya. Mata tuanya bisa menilai karakter baik dan buruk. Dan Dewa adalah pria baik yang diharapnya bisa membimbing Gayatri.
"Ya, Eyang," jawab Dewa. Gayatri hanya mengangguk saja.
"Apakah pembicaraan di sini sudah selesai?" tanya Dewa pada ibunya. wanita paruh baya itu mengangguk.
"Kami mohon diri dulu kalau begitu," pamit Dewa.
__ADS_1
"Buru-buru sekali?" tanya eyang.
"Ibu sudah lelah. Tante pasti juga sudah lelah dengan semua persiapan ini." Dewa memberikan alasannya.
Akhirnya berakhirlah acara lamaran dan penyerahan seserahan di rumah keluarga Sangaji.
Setelah kepulangan Dewa, Aya kembali diantar ke kamarnya yang kemudian dikunci kembali.
Gadis itu segera mengganti pakaiannya dengan baju tidur yang nyaman. Pikirannya teringat pada cerita Dewa tentang Reynald. Amarahnya makin memuncak. Begitu bejatnya pria itu. Dan Gayatri bersyukur dirinya bisa terlepas dari pria seperti itu. Tak bisa dibayangkannya jika saat itu memaksa meneruskan pernikahan dengan pria itu dan masuk dalam lingkaran keluarga toxic mereka. Dia mungkin akan makan hati.
*
*
Hari berikutnya.
Warung sayur Pak De Yatno kembali ramai dengan ibu-ibu yang belanja di pagi hari.
"Jeng, tahu ndak?" tanya seorang bu membuka percakapan.
"Ndak tahu!" jawab yang lain serentak.
Ibu itu kebiasaan memulai kalimat dengan sok misterius seperti itu. Mereka sudah hafal luar kepala kebiasaannya.
"Mau cerita apa, mbok ya langsung cerita saja. Ndak usah sok misterius begitu!" tegur yang lain sebel.
"Hehehe ... iya. Ini bukan berita misterius kok. Cuma sedikit info aja. Tadi malam jam sembilan, mbak art di tempat Pak Sangaji datang nganterin kue dan makanan hlo," ujarnya dengan wajah berseri.
"Trus kenapa? Aku juga dianterin kok tadi malam," sahut tetangga sebelah rumah Pak Sangaji.
"Aku juga dianterin kue dan makanan," jawab yang lainnya.
Ibu pertama tidak lagi tersenyum sumringah. Karena ternyata tetangga lain juga dapat pembagian yang sama.
"Ndak apa-apa. Cuma, kuenya enak-enak banget. Anak-anakku suka sekali." jawab ibu itu mengelak. Kebanggaannya tadi sungguh tak beralasan. Dia ternyata tidaklah spesial bagi keluarga Sangaji.
"Iya, enak-enak kuenya. Pasti pesan di toko kue yang mahal," timpal yang lain setuju.
"Kalau banyak yang kebagian, artinya memang ada acara tadi malam di rumah Mbak Aya. Apa mungkin kesibukan berapa hari ini adalah untuk acara tadi malam?" lontar ibu yang lain.
"Apa sudah ada yang tahu acara apa?" tanya yang lain. Beberapa orang menggeleng sebagai jawaban.
__ADS_1
"Ihh kepo!" ledek yang lain. Suara tawa pecah dan meramaikan pagi di sebuah jalan di gang perumahan.
"Ada ayam, Pak De?" tanya seorang ibu yang baru datang.
"Habis, Bu. Kalau ikan masih banyak," tawar Pak De Yatno.
"Ogah ahh ... ikannya Pak De cuma bisa berenang. Aku yari yang bisa terbang!" canda si ibu.
"Kebanyakan nonton sinetron nih!" ledek yang lain.
"Ikan terbang itu yang seperti apa sih?" tanya Pak De Yatno.
"Yang kaya di tivi itu hloo," jelas yang lain.
"Eh, siapa yang dapat kue dari Bu Ajeng?" tanya ibu yang baru datang.
Semua ibu di situ mengangkat tangan. "Kita semua dapat. Terus Mpok mau kasih kita hadiah apa nih?" goda ibu yang lain.
"Nanti, kukasih parfum nomor satu!" Ibu itu mengangkat satu tas plastik jengkol, jualan Pak De Yatno.
"Aku mau matengnya aja," gelak yang lain.
"Hari-hari jengkol. Apa enggak mabok tuh?" sindir yang lain.
"Bukan untuk hari ini. Ini untuk lusa, ada keluarga yang datang dari Depok," jawabnya.
"Jadi giman? Sudah ada yang tahu ada acara apa di rumah Pak Sangaji tadi malam apa belum?" tanya ibu-ibu lagi.
"Avara pertunangan mbak Aya," jawab ibu yang beli jengkol.
Semua mata melotot ke arahnya. Si pembawa berita pertama. "Kok tahu?" cecar yang lain tak sabar,
"Kan, aku ikut bantuin di sana selama dua hari ini. Tadi malam acaranya. Sekarang sudah selesai," jawabnya bangga, sebagai orang pertama yang tahu rahasia yang ditutup rapat oleh keluarga Pak Sangaji.
"Oh, ada ya cowok yang mau sama Mbak Aya." ujar yang lain.
"Lah, dia kan emang cantik. Ayu, seperti Bu Ajeng. Pastilah ada yang mau kalau sudah lihat fotonya." Jelas yang lainnya.
"Tapi kan dia---" Kata-kata itu tidak diteruskan. Ada perasaan tak enak hati jika mengungkapkan langsung. Tapi semua yang mendengar mengerti apa maksud dari perkataan itu.
"Kalau jodoh, ya enggak akan ke mana. Mungkin batalnya rencana pernikahan yang dulu itu. untuk menunggu pria yang sekarang ini muncul!" jawab si paling cerdas dan bijaksana.
__ADS_1
Semua mengangguk. Entah mengerti, entah tidak.
********