PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR
83. Terima Kasih Dewa


__ADS_3

"Dia lahir kurang bulan," sahut mami sedih. "Keadaanmu buruk saat itu. Dokter mengoperasimu agar kalian berdua bisa selamat."


Aya memperhatikan bayinya yang kecil mungil. Sebuah selang infus di tangan dan selang susu dilekatkan di sudut bibirnya, membuat hatinya menangis. Tetapi, kepalanya terlalu sakit untuk terus mendekat. Kedua tangannya memegang kepala dan merintih. "Sakit ...."


"Ada apa? Sakitnya di mana?" Arjuna meraih tubuh istrinya yang hampir tumbang, dengan cepat. Kemudian dibopong dan dibaringkan di tempat tidur.


"Ap yang terjadi?" mami sangat khawatir.


Perawat yang menjaga bayi segera mendekat dan memeriksanya. "Lebih baik segera panggil dokter saja," sarannya. Aya memegang kepalanya makin kuat dan mulai merintih kesakitan.


Arjuna segera menelepon dokter yang terakhir merawatnya.


"Setelah evaluasi, sepertinya Bu Aya mulai mengingat beberapa hal. Hanya saja, ingatan itu datang secara bersamaan. Hal itu membuat kepalanya sakit. Saya sudah memberi pereda nyeri dan tiddak perlu terlalu memaksanya mengingat semua hal dalam satu waktu. Biarkan dia mengingat segala sesuatu secara alami, ya." Dokter memberi nasihat panjang lebar pada Arjuna dan juga Mami.


"Oh, syukurlah jika dia mulai mengingat kita. Kami tidak akan memaksanya," janji mami bahagia.


"Baiklah. Biarkan Bu Aya istirahat sebentar dan lihat lagi perkembangannya setelah bangun nanti. Jika terjadi hal yang sangat mengkhawatirkan, panggil saya lagi." Dokter itu mengundurkan diri.


"Baik, terima kasih, Dok." Papi mengantar dokter ke luar rumah.


Arjuna langsung masuk ke kamar Aya. Istrinya tidur dengan gelisah di sana. Bayinya juga ikut gelisah dengan rengekan-rengekan kecil.


"Ikatan batin kalian sangat kuat, ya?" celotehnya sambil tersenyum dan mengusap jari-jari mungil putranya.


Sore hari mami masuk ke kamar Aya, melihat Arjuna tidur sambil memeluk Aya. Dia tersenyum dan menutup pintu perlahan.


"Kenapa keluar lagi?" tanya papi.


"Ssstt! Mereka sedang tidur. Jangan ganggu!" Mami menarik tangan papi agar tidak mengganggu tidur anak dan menantunya.


Petang itu, mami sudah selesai dengan rujak buah kesukaan Aya. Dibawanya piring buah itu ke atas, berharap kedua suami istri itu sudah bangun.


Setelah mengetuk pintu perlahan dan mendengar sahutan Arjuna, mami masuk dengan wajah cerah. Dilihatnya Aya dan Arjuna masih mengerjap-ngerjapkan mata dengan bingung.


"Apa mami membangunkan tidur kalian?" tanya wanita paroh baya itu dengan mimik menyesal.


"Enggak kok." Arjuna langsung bangkit dan duduk. Aya mengikuti, kemudian duduk menjauh sedikit dari Arjuna. Wajahnya memerah dan bersikap canggung.


"Baiklah kalau begitu." Mami masuk dan meletakkan piring buah di meja.


"Nduk, mami buatkan makanan kesukaanmu!" katanya.


Aya mengangguk tersenyum. "Terima kasih, Mi."

__ADS_1


Dia melangkah ke arah box bayi, saat Papi dan adik serta iparnya ikut masuk. Mereka senang Aya tidak merasa sakit lagi.


"Apakah dia seorang gadis kecil atau jagoan kecil?" tanyanya ingin tahu.


"Dia seorang jagoan kecil. Dia tak mau menyerah dan menunggumu menyapa," suara Arjuna di belakang mengejutkan Aya. Dia berbalik dan melihat pria itu tersenyum lembut.


"Apa aku mengejutkanmu?" masih dengan suara lembut yang sama. Arjuna sangat berhati-gati agar Aya tidak terkejut yang mungkin akan memicu sakit di kepalanya lagi.


Aya terpana dengan tak percaya. "Sejak kapan pria ketus dan cuek ini bersikap lembut?" pikirnya.


"Ada apa, Mbak?" suara adik iparnya, mengalihkan perhatian Aya lagi.


Dilihatnya seluruh keluarga mengawasi dengan khawatir padanya. "Apakah aku sudah membuat kalian semua khawatir?" tanya Aya sembari menunduk.


"Tidak. Kau bisa kembali di tengah-tengah kami saja, sudah sangat kusyukuri. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi." Arjuna memeluk punggung istrinya, mencoba menenteramkan.


Mami menyusut air yang jatuh di sudut matanya. Papi memeluknya dengan kasih sayang. "Sepertinya putri kita sudah kembali," ujarnya lirih. Anggukan kepala mami di dada, membuat papi tersenyum.


"Bu De, Bude tidak akan pergi jauh lagi, kan?" sapa keponakannya sembari ikut memeluk Aya.


Arjuna melepas pelukannya dan membiarkan Aya berjongkok untuk memeluk gadis kecil itu.


"Bu De enggak akan pergi lagi," angguk Aya tersenyum. Mami menghambur memeluk Aya dan cucunya.


Papi duduk di tempat tidur. "Suamimu telah melakukan banyak hal, mengorbankan banyak waktu, tenaga, serta biaya agar bisa menemukanmu. Itulah bukti cinta dan perlindungannya. Kau harus hargai itu," pesan papi.


Aya diam saja. Dilihatnya lagi bayi di box. "Apakah dia sudah diberi nama?" tanyanya amengalihkan perhatian. Aya risih jika harus membahas Arjuna. Meskipun pria itu terlihat berubah, akan tetapi Aya masih belum terbiasa dengannya.


"Belum. Kau bisa memberinya nama yang kau mau." Arjuna menjawab cepat. Dia baru sadar kalau bayinya memang belum diberi nama.


"Pria itu membiarkannya hidup, karena mengira dia putra Dewa. Apa boleh kalau dia kuberi nama Dewa?" tanya Aya.


Arjuna terdiam. Dia tak menyangka Aya akan menggunakan nama itu. Tapi dengan cepat dia mengangguk. "Aku setuju."


"Benarkah?" kali ini Radit yang tak percaya Arjuna akan membiarkan putranya diberi nama Dewa. Nama yang akan terus mengingatkan keduanya pada suami pertama Gayatri.


"Memangnya kenapa? Bukankah nama itu bagus?" Arjuna mengangkat bahunya seolah tak tahu apa maksud pertanyaan adik iparnya.


"Terima kasih. Aku senang sekali." Aya mengecup pipi Arjuna dan segera melihat kapada bayinya.


Kecumapan kilat itu membuat Arjuna terbengong sesaat. Diusapnya pipi yang tadi dikecup Aya. Lalu senyuman merekah di wajahnya. Pria muda itu bahagia sekali.


"Namamu sekarang adalah Dewa," ujar Aya dengan ekspresi bahagia. Dia tak menyadari bagaimana Radit menahan tawa melihat Arjuna yang seperti baru pertama kali dicium wanita.

__ADS_1


Di meja makan, satu keluarga itu duduk menyantap hidangan dengan bahagia. Para pelayan juga ikut bahagia, karena nyonya mereka sudah bisa turun dan makan bersama.


"Nduk, besok kan hari Senin. Jadi kami akan pulang. Apa itu tidak masalah?" tanya papi.


"Mami tinggal di sini saja," cegah Aya.


"Mami udah berhari-hari menjaga Mbak di sini. Rumah tanpa Mami itu sepi. Rasanya aneh." Radit keberatan.


"Radit benar. Biarkan ibu istirahat sebentar di rumah," kata Arjuna.


"Mami enggak capek, kok." sanggah mami cepat.


"Ciahh ... mami enggak ngerti juga ih," Radit menggeleng-geleng kecil.


"Eyang Uti harus pulang!" Putri Radit cemberut.


"Katanya dia kangen tidur bareng Mami," Istri Radit menimpali.


"Oh, manisnya. Baiklah ... Eyang Uti pulang. Beneran mau tidur sama Eyang?" tanyanya gembira.


"Sekarang keluargaku sudah pulang. Perawat juga tidak ada di kamar. Kau boleh tanggalkan kepura-puraan itu.


"Pura-pura apanya?" tanya Arjuna bingung. Dia sedang bersiap untuk naik ke tempat tidur untuk istirahat.


"Kebaikanmu palsu!" ketus Aya. Kemudian alisnya mengerut. Melihat Arjuna menarik selimut.


"Siapa yang mengijinkanmu tidur di situ?" katanya galak.


"Lalu aku tidur di mana?" Arjuna benar-benar dibuat bingung. Ingatan Aya kembali bersama dengan semua sikapnya yang ketus itu juga.


"Kau bisa tidur di kamarmu, atau di sofa panjang itu!" Aya masih bersikap ketus.


"Baiklah, Nyonya." Arjuna pindah ke sofa dan menepuk-nepuk bantal. Tak lama dia tidur dengan pulas.


Di tempat tidur, Aya terdiam memperhatikan pria yang sama sekali tidak lagi membalas kata-kata ketusnya seperti dulu.


"Dia sudah berubah. Apakah aku juga harus berubah jadi lebih baik?" gumam Aya. Diliriknya box bayi. Ada Dewa kecil yang mempersatukan perbedaan mereka berdua. Bibirnya mengulas senyum bahagia, sebelum menarik selimut dan berangkat tidur.


"Terima kasih, Dewa," lirihnya sambil memejamkan mata.


**********


END

__ADS_1


__ADS_2