PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR
79. Dicky Ditangkap


__ADS_3

Wajah Arjuna menggelap. "Katakan dengan jujur padaku jika kalian keberatan aku kembali, seperti yang dikatakan Nora!" tantang Arjuna.


"Tidak, Bos. Biasanya dia tak seperti itu. Nora malah selalu mengatakan pada anak-anak, bagaimana hebatnya Anda memimpin kelompok kita selama ini. Hal itu juga yang membuat kelompok kita tetap solid!" seseorang menjelaskan.


"Jangan coba menyanjungku. Kalian boleh tidak ikut serta jika memang tidak bersedia membantu. Bagaimana pun juga, urusan ini punya resiko besar," tegas Arjuna.


"Aku ikut!" seseorang menetapkan posisinya. Meskipun Arjuna sudah lama meninggalkan kelompok itu, dia tetaplah pemimpin yang sebenarnya. Sebelumnya, tak ada yang berani menantang pria itu.


"Aku juga ikut!"


Akhirnya semua yang ada di situ menunjukkan kesediaan mereka membantu Arjuna.


"Baik, sekarang mari kita bahas cara menghadapinya," ujar Arjuna.


*


*


Ponsel Arjuna berdering. Dia segera mengangkatnya setelah melihat nama pemanggil. "Ya, ada apa?"


"Sepertinya aku punya informasi yang kau butuhkan," kata suara di seberang.


"Jangan berteka-teki denganku. Jika kau butuh uang, katakan saja!" ketus Arjuna.


Suara tawa dari ujung telepon terdengar oleh orang-orang di sekitar Arjuna. Mereka mengalihkan perhatian pada yang lain agar tak perlu menguping.


"Katakan!" desak Arjuna. "Jika kau memang menyimpan informasi tentang orang itu, hati-hatilah. Dia mungkin akan mengirim orang untuk menghabisimu!" ujarnya memperingatkan.


"Aku tahu. Itu sebabnya kau mau kau transfer aku uang untuk tiket pergi!" katanya serius.


"Maka, katakan informasimu. Maka aku akan langsung mengirimkanmu uang tiket!" sambung Arjuna.

__ADS_1


"Baiklah. Akan kukirimkan lokasinya sekarang ini!"


Arjuna memeriksa share lokasi yang dikirimkan Dicky padanya.


"Kau sedang ada disitu?" tanya Arjuna.


"Ya, aku sedang meliihatnya berenang," jawab Dicky.


"Baik. Periksa rekeningmu lima lagi dan menyingkirlah dari sana!" ujarnya.


"Sip!" panggilan telepon itu terputus. Arjuna memeriksa lokasi yang dikirimkan oleh Dicky. Pria itu, Robert Giles, sedang ada di Bandung, di satu tempat tersembunyi.


Arjuna mengirimkan lokasi itu pada yang lainnya. "Itu lokasinya. Kita harus segera membereskannya!" perintah Arjuna cepat.


"Aku sudah mengisi rekeningmu!" sebuah pesan dikirim Arjuna pada Dicky.


"Kami jalan, Bos. Anggota di sana akan mengamankan sekitar sambil menunggu kita datang!" kata salah seorang yang tadi ikut rapat.


Sebagian besar orang pergi malam itu. Kecuali Nora dan beberapa bawahannya. Dia masih memandang Arjuna dengan pandangan bermusuhan. Arjuna tak peduli. Dia terus saja melangkah keluar bangunan yang letaknya jauh dari mana-mana.


"Kau hanya memperalat mereka yang mempercayaimu!" tuding Nora saat Arjuna hampir melewati pintu keluar.


"Sikapmu memperjelas bahwa kau tidak menyukaiku secara pribadi. Aku tak melarangmu untuk keluar!" Arjuna menghentikan langkahnya untuk mengatakan hal itu. Kemudian dia melanjutkan jalan dan masuk mobil yang segera meluncur pergi.


"Tempat yang disebutkan itu ada, Bos!" lapor salah seorang anak buahnya. Arjuna menangguk senang.


"Tunggu aku tiba!" ujarnya.


*


*****

__ADS_1


"Berhenti!" seru seseorang dalam kegelapan pada seorang pria yang tengah berjalan turun dari sebuah bukit kecil.


Orang itu berhenti dan melihat ke sekitar. Dia tak melihat siapapun. Tempat itu memang gelap gulita.


Karena tidak ada yang menegurnya lagi, maka orang yang tadi berhenti jalan, melanjutkan lagi langkahnya.


"Berhenti! Apa kau tidak punya telinga!" hardik seseorang. Kali ini Dicky bisa merasakan kesiuran angin, tanda ada orang yang sekarang berdiri dekat di sisinya. Punggungnya dipukul hingga dia terjatuh.


"Ada apa, mang. Apa saya melakukan kesalahan?" tanyanya heran.


"Kau berada dalam area pribadi. Jadi, kau ditahan sementara, hingga Tuan bersedia membebaskanmu!" ujar orang itu tegas.


"Sial!" gumam Dicky.


"Bawa dia!" perintah salah seorang yang mungkin adalah pemimpin kelompok itu.


Dicky digiring ke satu pondok bambu di tengah sawah. Mereka menyorot wajah dan membuat fotonya. "Sialan!" gumam Dicky dalam hati.


"Untuk apa bikin foto? Aku bukan artis, tolak Dicky. Dia mengelak, agar wajahnya tidak dapat terlihat dalam foto di tengah malam gelap itu.


"Diam!" seseorang memukul kepalanya dengan sesuatu yang membuatnya sedikit pusing. Lalu wajahnya dipegang dengan kuat, agar bisa difoto dengan jelas.


"Ini untuk dikirim pada Bos. Dia yang akan memutuskan kau akan berakhir seperti apa. Berdoalah!" kata salah seorang.


"Bodohnya aku mengira tempat ini benar-benar aman! Habislah. Sia-sia saja uang yang dikirm Arjuna tadi," sesalnya dalam hati.


"Sudah kukirim!" lapor salah seorang diantara mereka.


"Bagus! Biar Bos lihat dan memutuskan nasibnya!" sahut yang lain. Mereka mengikat tangan dan kaki Dicky agar tidak dapat melarikan diri.


Pria itu menggeram marah. "Aku harus lari sebelum dibawa ketempat Robert Giles!" batinnya.

__ADS_1


******


__ADS_2