
Beberapa saat kemudian, seorang dokter dan perawat datang untuk memeriksa Arjuna. Kemudian mendorong brankar ke arah ruang perawatan dalam. Luna mengikuti dan menjawab pertanyaan dokter yang memeriksa.
"Oh, kami akan memeriksa darahnya dulu. Setelah pemeriksaan lab keluar, baru bisa diputuskan apakah perlu rawat inap atau tidak," jelas dokter.
Luna mengangguk. Terima kasih, Dok."
Dibiarkannya perawat mengambil sampel darah lalu pergi. Tak lama, perawat lain datang dan memasangkan tabung infus pada Arjuna yang masih tergolek lemah.
"Bos, segera lah sadar. Anda harus kuat, Bos!" gumam Luna. Gadis itu mengambil duduk di samping tempat tidur Arjuna.
Dimainkannya ponsel dan menelepon seseorang. Tapi kemudian terjadi sedikit keributan di sebelah tempat tidur Arjuna yang dibatasi tirai.
"Saya tidak mau tahu. Kalian harus menyelamatkan nyawanya! Jika bayinya tak bisa selamat, lupakan. Asal ibunya bisa kalian selamatkan!" Bentakan keras mengisi kesunyian ruang ugd yang luas dan diisi oleh belasan tempat tidur.
Luna tak bisa mendengar jawaban dokter. Atau mereka terlalu sibuk menyelamatkan pasien, hingga tak merasa perlu menjawab keluhan keluarganya.
Seorang perawat menghampiri bed arjuna dan memasang alat dengan layar di belakangnya. Luna tak mengerti. Jadi dibiarkannya saja para petugas medis melakukan tugasnya.
"Suster, apakah kondisi pasien di sebelah, parah?" tanya Luna hati-hati, khawatir didengar oleh orang di sebelah.
Suster itu mengangguk. "Percobaan bunuh diri, kata keluarganya."
"Astaga!" Luna dengan cepat menutup mulutnya agar teriakannya tak terdengar orang lain.
"Banyak orang yang ingin hidup, kenapa dia ingin bunuh diri?" lirihnya sambil menggelengkan kepala menyesali.
Beberapa saat kemudian.
"Hei, ternyata di sini!" Seseorang menyapa Luna yang tertidur di kursi samping Arjuna. Gadis itu membuka mata dan melihat orang yang dikenalnya.
"Iya, rencana shoppingnya diganti hari lain aja ya. Aku mesti nungguin bos yang pingsan," jelas Luna.
Pria yang datang itu mengangguk dan mendekat, mengecup dahi Luna. "Aku bawakan mie nih. Kamu pasti lapar," disodorkannya bungkusan yang dibawa pada Luna.
"Wah ... terima kasih, sayang." Wajah Luna berseri.
"Aku mau ke toilet dulu. Tolong jagain bos dulu, ya." Gadis itu berdiri dan pergi.
Pria yang datang itu mengangguk dan tersenyum. Dia adalah kekasih Luna yang dikabari untuk tidak menjemput ke kantor, tapi ke rumah sakit. Pria itu berjalan keluar dari baik tirai yang menutupi tempat tidur Arjuna.
__ADS_1
Dia dapat melihat perawat dan dokter hilir mudik di ruang ugd yang selalu sibuk itu. Hampir semua bed terisi. Hal itu bisa dilihat dari tirainya yang tertutup.
Tak lama, seorang dokter dan beberapa perawat berlarian panik ke arah dia berdiri. Dengan heran, dilihatnya Arjuna. Tapi pria itu tak mengalami hal yang mengkhawatirkan. Hanya sedikit gelisah sambil menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan.
Kebingungannya terjawab, saat tirai di sebelah dibuka lebar. Dan brankar didorong, dengan alat pernafasan dipegangi oleh perawat dan seorang dokter wanita yang berjongkok di atas tempat tidur, mencoba memompa jantung pasien.
"Kenapa?"
Luna yang sudah kembali, melihat kepanikan di depannya. Ada begitu banyak orang yang menutupi pasiennya, sampai Luna dan kekasihnya tak bisa melihat seperti apa pasien yang didorong.
Luna hanya ingat, bahwa pria tinggi tegap yang menyela antrian tadi, ikut bersama rombongan pasien itu pergi.
Kepalanya sedikit miring dengan mata terpejam.
"Apa kau melupakan sesuatu?" tanya pacarnya. Dia sudah hafal mimik dan gaya Luna jika sedang berusaha mengingat sesuatu.
Luna mengambil duduk dan memegang kotak makanannya. "Tadi saat baru turun ambulan, aku baru mau mendaftar ugd, disalip sama rombongan itu. Aku enggak tahu pasiennya, karena ditutup kain seluruh tubuhnya."
"Emangnya kamu harus tahu? Kepo amat sih!" tegur kekasihnya.
"Bukan kepo. Tadi juga kubiarkan aja kok memotong antrian. Tapi, tadi kata suster, pasien di sebelah itu mencoba bunuh diri!" bisik Luna perlahan.
Namun, Luna sudah tak tahan menyimpan keheranannya lebih lama. "Bukan gitu. Aku cuma heran. Tadi, saat dibawa daftar ugd, aku bisa pastikan bahwa itu paien wanita yang sedang hamil besar!" Mata Luna ikut membesar saat mengatakannya.
"Lalu apa hubungannya dengan kita?" pria itu kembali mencoba menghentikan topik yang sedang dibahas kekasihnya.
"Ya emang enggak ada. Cuma heran aja, Orang sedang hamil kok ingin bunuh diri?" celetuk Luna kesal, karena ceritanya tak mampu membangkitkan rasa penasaran pria itu. Akhirnya dia menyuapkan makanan dengan dongkol.
"Aya!"
"Uhuk ... Uhuk ...." Luna terbatuk-batuk sebab terkejut mendengar teriakan Arjuna. Makanannya tersembur ke lantai sedikit. Kekasihnya dengan cepat menyodorkan minuman.
"Bos, Anda sudah sadar?" tanya Luna dengan wajah cerah.
Arjuna sedikit bingung melihat dua wajah yang tepat berada di depan wajahnya. Satu adalah Luna, sekrearis yang sangat menjengkelkan itu, dan satu lagi, pria yang tak dikenalnya.
"Apakah kau menculikku, Luna?" tanya Arjuna dengan mata berkedip-kedip bingung.
"Yah .... Bos sudah sadar!" Luna mengangguk yakin.
__ADS_1
"Pergi, lapor dokter jaga!" Luna menyuruh kekasihnya memanggil dokter.
"Dokter?" kening Arjuna mengerut. Kepalanya melihat kanan dan kiri. Sekarang dia tahu bahwa itu memang ruang periksa rumah sakit.
"Kenapa aku dibawa ke sini?" tanya Arjuna dengan suara tajam.
"Karena orang pingsan tidak akan disarankan dibawa ke taman bermain, Bos!" sahut Luna sekenanya. Dia kesal melihat reaksi Arjuna yang bukannya berterima kasih.
"Aku mau pulang. Enggak perlu begini, lain kali!" katanya memperingatkan Luna. Arjuna duduk di tepi tempat tidur dengan keras kepala.
"Tunggu!"
Dokter datang tepat pada waktunya dan mencegah langkah Arjuna selanjutnya.
"Saya tidak sakit apa-apa!" kata Arjuna tak mau kalah.
Dokter mengangguk. "Karena sudah terlanjur masuk ke sini, sebaiknya Anda tunggu hingga cairan infus habis dan isi perut dulu. Kata nona ini, Anda belum makan sejak siang." Dokter menunjuk Luna
Dokter membalas tatapan Arjuna dengan tajam. Akhirnya pria itu mengalah dan kembali berbaring. Dokter memeriksa beberapa hal sebelum berkata. "Tunggu hasil lab keluar baru anda bisa dapat surat keluar." Dokter memberi saran.
"Aku bukan karyawan yang harus punya surat sakit ataupun surat sehat!" Kesal Arjuna setelah dokter itu pergi.
"Kau membuat kehebohan dan kerepotan saja!" Arjuna menimpakan kekesalannya pada Luna.
"Baiklah .... Lain kali Anda pingsan, akan saya biarkan saja di ruangan!" jawab Luna ketus.
"Ayo kita pulang! Percuma juga bersikap baik pada orang yang tak mengerti kebaikan!" sindirnya pedas.
Tangan Luna membuka tas dan mengeluarkan beberapa kertas putih bukti pembayaran biaya rumah sakit.
"Ini semua yang saya bayarkan. Besok akan saya reimburs di kantor!" Jika ada yang lainnya lagi setelah ini, Anda bisa urus sendiri, Bos."
Luna menunjukkan ponselnya bahwa da sudah membuat foto bukti semua berkas pengeluaran itu.
"Selamat beristirahat, Bos! Jangan bunuh diri seperti gadis di sebelah!" Luna terkikik geli saat meninggalkan Arjuna.
"Bunuh diri apa sih? Dasar gadis konyol!" Namun, tak ayal Arjuna menoleh ke ruangan sebelah yang tadi ditunjuk Luna.
"Hiiiiyyyy ...." Tiba-tiba bulu kuduknya meremang ngeri.
__ADS_1
*******