
Insiden dengan Desta tak membuat semangat Aya luntur. Dia justru menganggap hal itu sebagai ujian. Jadi merasa tertantang untuk mampu menyelesaikan semua tugas secepat mungkin.
Aya bekerja keras. Oleh sebab itu dia tak terlalu memperhatikan rekan-rekan satu timnya. Sebagian besar waktunya di kantor digunakan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan Desta. Waktu lainnya dipakai untuk menyelesaikan tugas tantangan dari menejer.
Memasuki minggu kedua, Aya jadi pulang lebih lambat. Dia masih berkutat dengan tugas di mejanya, ketika teman-temannya sudah pulang.
Suatu hari.
"Aya, kami mau ke kafe nanti malam. Apa kau mau ikut?" tanya salah satu rekannya.
"Tugas Pak Desta masih setumpuk." Aya menunjuk tumpukan map di meja. Dengan itu, dia berharap mereka mengerti bahwa dia menolak untuk ikut.
"Ah, lanjutkan besok saja. Kita bersenang-senang sebentar. Jayadi ulang tahun hari ini," ujar Linda lagi.
Mendengar itu, Aya kembali berpikir. Momen ulang tahun rekan sekantor yang dirayakan bersama-sama, jika dia tidak ikut hadir, pasti akan semakin dikucilkan.
"Oke deh," angguk Aya akhirnya.
"Gitu dong." Linda tersenyum dan meninggalkan Aya. Kemudian menghampiri rekan lain dan mengatakan sesuatu yang membuat orang itu menoleh juga pada Aya, kemudian mengangguk dan tersenyum.
"Apakah sekarang aku sudah bisa masuk dalam lingkaran pertemanan mereka?" pikir Gayatri.
Aya kembali menekuni pekerjaannya. Karena harus pergi malam ini, maka tugas itu harus selesai sebelum sore.
*
*
"Sudah siap? Ayo kita turun!" Linda menghampiri mejanya sore itu.
"Yang lain?" tanya Aya celingukan karena ruangan kerja sudah kosong.
"Mereka tadi menunggu di lift. Kau terlalu lama." Gadis itu menyalahkan Aya.
"Sebentar." Aya tak mempedulikan keberatannya. Dia tetap merapikan mejanya dengan tenang. "Ayo," ujarnya setelah semua siap.
Keduanya menuju lift untuk menyusul yang lain. Namun di depan lift sudah kosong dan lift sedang menuju ke bawah. Mereka menunggu sebentar sebelum menyusul turun.
__ADS_1
"Kalian di mana?" Linda menelepon yang lain. Kemudian dia menutup telepon setelah mendapat jawaban dan menoleh pada Aya. "Mereka sudah menuju pintu keluar. Ayo!" ajaknya sambil menggamit lengan Aya.
Keduanya menyusul dan berkumpul di luar. Menunggu mobil rekan lainnya untuk membawa pergi. Suasana riuh di dalam mobil terasa menghangatkan hati Aya yang selama sebulan merasa tak diterima.
"Hati-hati dengan Pak Desta. Dia sedikit licik. Jangan mengira dia baik jika memberimu senyuman," ujar yang lain mengingatkan.
"Iya, dia tak segan untuk memperalat anak baru yang masih lugu!" timpal yang lain lagi.
"Benarkah?" tanya Aya terkejut.
Yang lain mengangguk serempak. "Contohnya kamu. Sering diberi tugas tambahan yang harusnya menjadi tanggung jawabnya. Sementara dia bersantai karena punya asisten baru!" jelas Robby yang sedang menyetir.
Aya terdiam. Dia pernah berpikir seperti itu juga. Namun kembali Aya berpikiran positif dan menganggap itu sebagai ujian. Aya mengira, Pak Desta sedang mengujinya, apakah sanggup melalui beban kerja yang berat dalam waktu yang mepet.
"Biarlah. Jika dia berbuat culas, maka akan mendapatkan balasannya nanti," timpal Aya akhirnya. Yang lain hanya berpandangan, kemudian mengedikkan bahu tanda tak terlalu peduli.
"Kami hanya memperingatkanmu. Jangan merasa kita berusaha mempengaruhi, ya." tegas Sondra yang duduk di belakang bersama Inneke.
Jayadi yang berulang tahun, kemudian menimpali. "Aku yang paling lama diantara yang lainnya. Sudah berada di Divisi Perencanaan saat Desta pertama masuk. Hati-hatilah dengannya. Dia bisa tega mencuri ide rekan lainnya agar bisa menjadi Kepala Divisi!"
Gayatri jelas sangat terkejut mendengar hal itu. Desta juga mengatakan bahwa pernah terjadi pencurian ide di divisi itu dulu. Tapi Aya ta mengira jika tuduhan itu dialamatkan pada. Desta.
Semua mata mengara pada Jayadi, meminta dia menceritakan hal yang terjadi saat yang lain belum menjadi bagian dari tim Perencanaan.
"Bu Marni keluar setelah komplainnya pada atasan dibantah Desta. Saat itu mereka berdua adalah dua bintang yang bersinar di divisi ini. Sayangnya, Desta memeang sedikit lebih unggul, karena di waktu-waktu terakhir itu, Bu Marni sedang mempersiapkan persalinan, jadi dia sedikit tidak fokus. Dan dia juga terlalu percaya bawa Desta jujur."
"Tidak ada penyelidikan yang terang untuk kasus itu?" tanya Aya tak puas.
Jayadi menggeleng. "Hanya dibahas oleh menejer. Dan perusahaan tentu saja hanya mementingkan ide baru. Tak penting nama siapa yang tertera di berkas itu. Dan kebetulan sekali ide itu berhasil mendongkrak naik saham perusahaan di pasar, saat direalisasikan. Imbalannya, Desta menjadi Kepala Divisi."
"Pada hal, Bu Marni bekerja sangat keras untuk perencanaan itu, hingga dia mengalami pendarahan dan bayinya lahir prematur!" Jyadi menuntaskan ceritanya.
Gayatri bergidik ngeri. Dia sekarang meragukan kebaikan Desta. Pria itu tak lagi tampak sebagai malaikat tanpa cela di matanya. Jika hal itu benar, alangkah sadisnya. Jika pun tidak terlalu benar, karena cerita yang sudah dibumbui, maka Aya akan makin waspada pada pria itu.
"Apa dia sengaja memberiku tambahan tugas yang sangat banyak, untuk menjegalku naik dan menyaingi posisinya?" batin Gayatri.
Mobil mereka sudah sampai di pelataran sebuah hotel. Dengan heran dia bertanya. "Kok kita ke hotel?"
__ADS_1
"Apa kau tidak tahu bahwa ruang karaoke di sini sangat bagus?" tanya Inneke. Aya menggeleng sebagai jawabnya. Kemudian dia ikut turun dengan yang lain, sementara Robby memarkirkan mobilnya.
Seperti sudah biasa ke sana, rombongan kecil itu terus berjalan masuk dan berbelok ke kiri. Tiba di depan sebuah pintu, Jayadi menunjukkan sesuatu pada petugas yang berjaga. Kemudian mereka diperbolehkan masuk.
Setelah Robby masuk, Seorang pramusaji datang mengantarkan buku menu dan pergi. Semua sibuk membaca menu untuk memesan makan malam. Mereka sudah sangat kelaparan. Perjalanan menembus kemacetan terbayar saat mendengar alunan musik mengisi ruang yang mereka tempati.
Setelah pesanan dicatat dan minuman ringan diletakkan di meja, Mereka berebut memainkan lagu. Sementara Aya menolak untuk menyanyi. "Suaraku sumbang. Nanti kalian bisa pingsan mendengarnya." Teman-teman barunya tertawa.
"Aku mau ke toilet sebentar," pamitnya pada Sondra.
"Oh, ya. Toilet ada di luar, sebelah kanan. Tanya saja kalau bingung," sarannya. Aya mengangguk.
Saat Aya kembali, ada pria lain di sana yang dia yakin itu bukanlah rekan satu tim mereka. Dia tak terlalu memperhatikan. Mungkin saja itu adalah teman Jayadi yang sedang berulang tahun hari ini.
Makanan datang, mereka menyanyikan lagu ulang tahun dan Jayadi meniup lilin di atas kue kecil pesanan. Akhirnya seremoni ulang tahun itu selesai. Mereka pun makan dengan lahap. Lagu-lagu dilupakan untuk sementara.
"Aya, kenalkan ... ini temanku, Dimas. Dia bekerja di perusahaan kita juga. Tapi di Divisi berbeda," ujar Sondra.
"Teman atu teman ...." Yang lain tertawa meliat wajah Sondra bersemu merah.
Aya menyambut jabat tangan Dimas. Dia langsung tidak menyukai pria itu. Pria genit yang memainkan jarinya saat bersalaman, mengira Aya adalah wanita gampangan.
Dengan segera Aya menunjukkan cincin kawin yang belum dilepaskannya. Dimas langsung merubah perilakunya. Tak dikiranya Aya adalah wanita menikah. Teman-temannya yang lain juga saing pandang satu sama lain. Wajah mereka berubah.
Aya terus menikmati makan malamnya. Dia bisa merasakan bahwa situasi jadi sedikit canggung saat mereka mengetahui kalau dirinya sudah menikah.
Selesai makan, Aya ingin segera pulang. Toh dia sudah mengikuti acara pokok ulang tahun Jayadi. Yang lainnya bisa dilewati dengan membuat sedikit alasan.
Diraihnya telepon dan memanggil adiknya Radit. "Jemput aku di sini." ujarnya dengan sedikit berteriak, untuk mengalahkan suara musik. HAtinya lega karena Radit bersedia menjemput malam itu.
"Kau sudah ingin pulang?" tanya Linda.
"Aku tak ingin meninggalkan anak-anak di rumah terlalu lama. Maaf," jawabnya asal.
Teman-temannya kembali saling pandang. Ada jejak khawatir yang sedikit terlihat oleh mata Aya. Tapi dia tak mengerti kenapa.
Aya menunggu jemputan Radit dan berusaha untuk tetap bersikap seperti biasa. Tapi entah kenapa, dia merasa kepalanya terasa sangat berat dan matanya juga ngantuk berat.
__ADS_1
*******