PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR
74. Titik Terang


__ADS_3

"Apa kau masih tidak dapat menemukannya?" seorang pria menatap dengan pandangan tajam menusuk.


"Tidak ada jejak sama sekali,Tuan," jawab pria yang ditanyai.


"Mana mungkin wanita hamil bisa menghilang begitu saja. Apa saja pekerjaan kalian, Hah!" bentaknya kasar.


"Sejaka kapan kalian menyadari bahwa dia hilang?" tanya pria itu emosi.


"Setelah kami selesai mengantarkan nyonya yang anda inginkan," jawab pria itu.


"Selama itu? Dan kalian baru melaporkannya padaku sekarang?"


Pria itu murka. Dilepasnya belt di pinggang dan digulung ditangan. Angannya mengepal kuat, kemudian melayangkan lecutan tali pinggal pada pria di depannya yang segera mengaduh kesakitan.


Ikat pinggang yang mendarat di tubuhnya bukanlah ikat pinggang biasa. Ada besi-besi runcing di permukaan, bagian ujungnya.


"Ahh!"


Pekik keras itu terdengar berkali-kali, setiap kali lecutannya mendarat di tubuh. Pria itu baru berhenti, setelah dia lelah dan korbannya terkapar di lantai, bersimbah darah.


"Singkirkan dia!" perintahnya dingin.


Beberapa orang segera menarik tubuh yang sudah tak berdaya itu keluar dari ruangan.


"Kalian, harus temukan Sandra dalam dua minggu ini. Atau kalian kuhabisi semua!" ancamnya.


"Baik, Tuan," jawab beberapa pria tegap yang ada di sana.


"Dasar tidak berguna. Menjaga wanita saja tidak becus!" umpatnya marah. Pria itu keluar dari ruangan dan pergi.


"Bagaimana ini? Ke mana lagi kita mesti mencarinya? Semua tempat hiburan dan hotel sudah kita susuri. Tak ada jejaknya sama sekali!" keluh salah seorang di antara mereka.


"Sandra itu terlalu suka bermain api. Mungkin dia sudah bosan dengan Tuan Robert dan pergi bersama pria lain!" Yang lain memberikan ide.


"Apa kau mau mengambil resiko untuk mengatakan omong kosong itu pada Tuan Robert?" tantang pria lain.


Pria yang pertama, menggeleng. "Dia pria berdarah dingin. Lihat apa yang lakukannya pada Ajat barusan. Entah Ajat bisa selamat atau tidak!"


"Sudah. Ayo kita telusuri lagi jejak Sandra," ajak temannya. Orang-orang itu keluar dari ruangan pengap dan tertutup rapat itu.


"Di mana dia terlihat terakhir kali?" tiga pria duduk di meja dan memulai diskusi. Sebuah peta dibentangkan di atas meja.

__ADS_1


"Yang punya tugas mengawasi Sandra adalah Ajat. Karena kita semua sedang mengurus wanita itu dan mengirimnya ke pulau," salah seorang bicara.


"Menurut Ajat, dia melihat Sandra mendatangi rumah Arjuna pagi hari. Hari yang sama kita menculik istrinya," jelas salah seorang.


"Apa Arjuna menculik Sandra sebagai sandera karena kita menahan istrinya?" yang lain menduga.


"Bodoh! Dari mana dia tahu kalau kita yang menculik istrinya? Lagi pula, kata Ajat dia masih mengawasi Sandra hingga beberapa minggu berikutnya. Melakukan segala hal yang disukainya. Menghamburkan uang dan merayu pria-pria muda di club!" jelas yang satu.


"Heran, bagaimana Bos Robert bisa menyukai wanita seperti ini?"


Yang lain menggelengkan kepala keheranan. Pria kejam dan licik, tapi bisa dibodohi oleh wanita seperti Sandra.


"Bos mengira yang dikandung Sandra adalah calon bayinya. Itu sebabnya dia takluk."


"Wanita yang menyusahkan!" gerutu mereka sebal.


Di satu tempat, Dicky mendengarkan dengan seksama pembicaraan yang didengarnya dengan alat mendengar jarak jauh dan berkualitas tinggi. Percakapan itu direkamnya.


"Apa kau akan membayarku lebih kali ini?" Senyum Dicky mengembang. Dia cukup puas dengan hasil penyelidikannya hari ini.


Perlahan-lahan sebuah tumpukan sampah penuh rumput kering, bergerak menjauh dari lokasi rumah yang dibangun terasing dari rumah penduduk lain.


"Bos, Aku punya informasi bagus untukmu!" kata Dicky di telepon.


"Tidak perlu. Akan saya kirimkan lewat pesan saja. Anda bisa mentransfer saya kemudian," Dicky terkekeh puas.


"Yang ada di pikirannya hanya uang." Arjuna memeriksa pesan masuk baru di ponselnya. Keningnya mengerut saat melihat pesan suara.


Menyadari ada mertuanya yang sedang sibuk mengurus Aya di rumah, Arjuna pergi ke ruang kerjanya dan mendengarkan pesan suara yang dikirim DIcky.


"Jadi benar Sandra adalah orangnya Robert. BAiklah kalau begitu. Apa yang kau lakukan pada Aya, akan kubalas sepuluuh kali lipatnya!" geram Arjuna.


Tangannya dengan cepat mencari nomer dan melakukan panggilan.


"Ya, Bos!" jawab suara pria dari seberang.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Arjuna ingin tahu.


"Sandra baik-baik saja, Bos," jawab orang itu lagi.


"Baiklah. Aku akan ke sana besok dan melihat perkembangannya," kata Arjuna.

__ADS_1


"Baik, Bos!" suara dari seberang terdengar lega.


"Sekarang permainan kita seimbang, Robert. Karena kau yang memulai, maka kau harus menerima konsekwensinya mengganggu macan tidur!" gumam Arjuna dengan wajah dingin.


"Katakan padaku bahw akau sudah mengetahui sindikat penculiknya!" Arjuna mengirim pesan pada Dicky.


Sebuah pesan baru, masuk sebagai balasan. Isinya adalah nama-nama orang ang berada dalam komplotan penculik Aya. Termasuk alamat rumah yang diawasi oleh Dicky.


Arjuna mengambil ponselnya yang lain dan melakukan panggilan.


"Ya, Bos."


Aku sudah kirimkan informasi. Bereskan mereka sekarang!" kata Arjuna dingin.


"Siap!"


Ponsel itu kembali disimpan di dalam laci meja kerjanya. Wajahnya sama sekali tidak enak dipandang.


Tok ... tok ... tok ....


"Ya!" sahut Arjuna. Kepalanya mengarah ke pintu. Pelayannya muncul.


"Ibunya Nyonya Aya sedang mencari Anda, Tuan," lapornya.


"Baik, aku ke sana." Arjuna segara berdiri dan keluar dari ruang kerjanya. Turun ke lantai dasar, mencari mertuanya.


"Arjuna!" panggil mama Aya.


"Ya, Bu," sahutnya.


"Kapan putra kalian bisa dibawa pulang?" tanyanya cemas.


"Saya sedang memesan alat yang sama. Setelah alat itu datang, dia bisa kita bawa pulang!" jawab Arjuna menenangkan.


"Sungguh? Bukankah itu sangat mahal."


"Selama saya masih bisa, akan saya usahakan!" Arjuna membuat janji.


"Oh, Aya beruntung sekali punya suami sepertimu. Pantas saja Dewa membuat pesan seperti itu sebelum dia meninggal. Dia bisa melihat kebaikan hatimu," puji Bu Ajeng.


Arjuna tersenyum tipis. Memang hanya Dewa yang memahami dirinya. "Bersabarlah Dewa. Aku pasti akan membalas pria yang merenggut nyawamu dan membuat Aya menderita." katanya dalam hati.

__ADS_1


********


__ADS_2