
Pagi itu suasana rumah jauh lebih ramai dari biasa. Meskipun rencananya adalah pernikahan sederhana sebagai keluarga, namun tetap saja segala sesuatu harus dipersiapkan dengan optimal.
Persiapan sudah dimulai sejak kemarin dengan membersihkan ruang-ruang. Hari ini giliran menggeser perabotan agar rumah besar itu jadi lebih lega untuk menampung datangnya keluarga Dewa nanti malam.
Papi menolak memasang tenda dan memesan kursi tambahan, agar tidak terlalu menarik perhatian tetangga yang sudah mulai bergosip. Dia tak mau nama keluarga kembali tercoreng dan jadi bahan tertawaan lagi. Terutama jika pernikahan kali ini kembali digagalkan Gayatri.
Akhirnya semua karpet dikeluarkan dan dijemur kemarin. Hari ini semuanya dibersihkan dengan vacum cleaner agar tak ada debu yang tersisa dan bikin jengkel para tamu.
Di dalam kamar, Aya hanya bermain ponsel. Sejak tadi dia ragu untuk menghubungi Dewa dan menanyakan kemajuan syarat yang diberikannya.
"Apa dia mau melakukannya?"
"Apa dia mampu?"
"Kalaupun mau, tak mungkin juga dalam enam hari semua bisa dilakukan. Aya, kau memang gila! Memberi syarat begitu sulitnya pada pria tak dikenal!"
Aya terus bicara sendiri. Kamarnya terkunci seperti biasa, jadi tak ada yang mengganggunya memikirkan apa pun saat ini.
"Kalau dia gagal dan pernikahan ini batal, eyang akan menikahkanku dengan pria beristri. Astaga!" Gayatri geleng-geleng kepala.
Aya tidak menganggap remeh ancaman eyang. Karena eyang tak suka ditantang. Dia akan melakukan ancamannya kalau ada yang menantang dan membantah. Pak de-nya sudah merasakan akibat dari menantang keputusan eyang.
Entah apakah hal itu juga yang membuat mami tak berani membantah perjodohan yang dibuat eyang dengan papi, pria sederhana dari kampung, putra sahabat eyang.
"Akankah aku bernasib sama seperti Pak De Arya?" batinnya gundah.
"Kalau seperti itu, aku akan benar-benar melarikan diri dan tak kan kembali lagi, tekadnya.
__ADS_1
Gadis itu kembali mengamati plafon. Tempat tinggi itu adalah satu-satunya jalan keluar dari rumah ini. Itupun, dia masih harus melawan easa takutnya sendiri pada tikus dan ruang gelap di plafon.
Sementara Aya sibuk memikirkan cara untuk kabur, maka Dewa sedang menerima laporan dari orangnya tentang calon suami Gayatri yang kedua Reynald.
Ternyata, Pria itu tak punya pekerjaan tetap. Dia menggunakan ketampanannya untuk menggaet para wanita kesepian. Dia tak pilih-pilih sasaran. Bahkan tante-tante juga diincar, asalkan kaya dan bisa mendapatkan uang.
Setelah kasus pernikahan gagal yang menggegerkan itu, masih ada tiga wanita kaya yang tertipu. Dan dia mendapatkan uang tutup mulut yang besar, agar suami para wanita itu tidak mengetahui affair yang terjadi.
"Dia baji**** juga," gumam Dewa.
"Bukan cuma dia. Tapi keluarga dan istrinya juga. Mereka bekerja sama." pemberi laporan menjelaskan.
Dewa meletakkan tangan di dagu dan memikirkan cara untuk menjebak pria ini. Dia tak bisa memainkan tipuan halus, karena waktunya sedikit.
"Apa kau tahu cara untuk membongkar semua kejahatan mereka?" tanya Dewa.
"Bisakah kau cari korbannya yang sangat dendam dan juga ingin membalas?" tanya Dewa.
"Mungkin bisa kita lakukan lewat suami-suami dari para wanita itu. Itupun belum tentu mereka bersedia jika affair itu terungkap ke publik. Karena ini menyangkut nama baiknya sendiri. Kecuali yang sangat marah dan mendendam," jawab informan itu.
"Meskipun mereka menutupnya dari publik, tapi pasti itu tak akan selesai dengan damai, kan?" pikir Dewa lebih lanjut.
Informan itu mengangguk. "Kemungkinan begitu. Mereka akan membalas diam-diam."
"Kalau begitu, lakukan seperti itu saja. Bisakah kau lakukan hal ini dengan bersih? Jangan sampai hal ini mengarah ke kita nantinya!" Dewa menekankan perintahnya.
"Tentu saja. Akan kulakukan lewat jalur aman!" jawab orang itu meyakinkan.
__ADS_1
"Cari semua orang yang pernah jadi korbannya. Kita bantu balaskan dendam mereka semua," perintah Dewa.
"Baik. Saya akan melaporkan perkembangannya pada Anda," ujar si informan. Dewa mengangguk, dan pria itu keluar dari ruangan.
"Orang yang sangat licin," batin Dewa.
Selama ini kejahatan itu tertutup karena para korban merasa malu telah dibodohi. Dan lebih malu lagi karena masih harus membayar setiap kali pria itu memeras mereka.
"Ini harus diakhiri! Entah apakah hal ini dapat memuaskan Gayatri atau tidak, setidaknya aku sudah memberi pelajaran pada baji**** itu!" geram Dewa.
Pria itu kembali mengurusi pekerjaannya yang baru akan dimulai di Indonesia. Urusan Gayatri telah menyita waktu kerjanya lebih banyak dari yang diperkirakannya. Padahal, semula dia merencanakan peluncuran perusahaannya dalam dua bulan. Tapi sepertinya hal itu akan sedikit tertunda karena urusan pertunangan yang mendadak dan tak diduganya.
"Pernikahan selalu rumit. Seperti pernikahan bapak dan ibu," batinnya getir.
Dia menggelengkan kepala memikirkan bapaknya yang selalu tergoda pada wanita. Dan Dewa merasa muak melihat ibunya yang terus saja sabar dan diam setiap kali mengetahui perselingkuhan bapak.
"Dewa ingat apa jawaban ibu saat dia marah dan meminta ibu untuk marah pada bapak.
"Ibu ini cuma bisa mengurus anak, Le. Ibu tak punya kepandaian lain. Kalau ibu marah terus bapakmu menceraikan ibu, kamu dan tiga adikmu bagaimana? Siapa yang urus? Ibu jelas akan diusir dari sini. Mungkin bisa pulang ke kampung. Tapi kalian berempat bagaimana?"
"Maka cepatlah besar dan bantu ibu urus adik-adikmu, biar ibu bisa lepas dari rasa sakit ini," ujar ibu dengan mata berkaca-kaca.
Dewa bisa apa? Dia masihlah anak remaja tujuh belas tahun dan kelas dua SMA. DIa dan adik-adiknya memang masih butuh uang bapak untuk biasa sekolah. Dan ibu butuh uang bapak untuk mengurus mereka semua di rumah.
"Ibu ...." Dewa memejamkan matanya. Ibunya yang selalu mengalah dan menyembunyikan luka dibalik senyum teduhnya.
*******
__ADS_1