
"Katakan!"
Sebilah kayu panjang mendarat di punggung seorang pria. Dia disiksa, karena terus bungkam, tak mau mengatakan di mana Robert Giles berada.
"Sebentar lagi kau akan berakhir seperti teman-temanmu itu!"
Orang yang menyiksa itu menunjuk ke arah lantai. Tiga temannya tergeletak pingsan di sana. Mereka pingsan setelah disiksa terus menerus sejak dibawa dari tempat persembunyian.
Seorang pria masuk, memanggil pria yang sedang menyiksa. Pria itu mendekat. Mereka berbincang sebentar dan kemudian pria itu mengangguk lalu kembali menghampiri tawanan yang disiksanya.
"Kalau kau masih tidak mau mengatakan di mana Robert berada, maka wanita ini akan mati tanpa ada yang menebusnya!" Pria itu menarik kepala tawanannya dan menunjukkan foto Sandra yang tak berdaya di suatu tempat.
Meski wajahnya bengap, pria itu masih bisa mengenali Sandra yang kondisinya tak kalah mengenaskan. "Sandra," ujarnya lirih.
Lalu dia menggeleng dan terkekeh sisnis. "Kalian telah memancing Malaikat Maut, dengan mengganggu wanitanya."
Kemudian dia tertawa terbahak-bahak, menertawakan ketololan orang yang menahan Sandra.
"Tak perlu kalian cari. Dia yang akan datang mencari dan membunuh kalian semua!" katanya percaya diri.
Dengan jengkel, bilah kayu yang digunakan sebelumnya, kembali melayang dan membungkam ocehan pria itu. Dia berakhir pingsan dengan darah mengucur di kening.
Para penjaga itu melapor pada Arjuna apa yang dikatakan tawanan mereka.
"Kepercayaan diri yang sangat tinggi. Nyatanya sampai sekarang tak ada yang mengetahui kalau Sandra ada dalam pengawasanku. Dasar bodoh!" geram Arjuna.
Hari sudah malam, tubuhnya sangat lelah. Dia ingin tidur di kamar Aya sembari menjaganya.
Saat berbaring, dilihatnya Aya tidur dengan gelisah. Arjuna bangkit dari bangku panjang dan berbaring di sebelah Aya.
"Aku di sini menjagamu, jangan khawatir lagi," bisiknya lembut, sambil memeluk Aya dari belakang.
Perlahan kegelisahan Aya menghilang. Dia menjadi tenang dan keduanya tidur nyenyak hingga pagi.
__ADS_1
"Peralatan bayi sudah tiba, Bos. Mau langsung dikirim ke rumah atau bagaimana?" tanya Luna saat Arjuna sedang sarapan.
"Antarkan ke rumah. Jika sudah terpasang, aku akan membawa bayinya pulang," perintah Arjuna.
"Baik, Bos. Oh ya, apakah Anda ke kantor hari ini? Ada janji temu nanti siang." Luna mengingatkan.
"Baik, atur pertemuan itu sambil makan siang saja." Arjuna memutuskan pembicaraan mereka, saat melihat ibu mertuanya sudah tiba.
"Bagaimana Aya tadi malam?" tanyanya masih dengan muka cemas.
"Sudah tak apa-apa. Mungkin mulai merasa nyaman dan mengenali rumah ini," jawab Arjuna. Dia tak ingin menambah kegelisahan mertuanya dengan mengatakan kegelisahan Aya tadi malam.
"Bagus kalau begitu." Bu Ajeng merasa tenang.
"Oh iya, Bu. Perlengkapan. Bayi akan datang hari ini. Mungkin sore nanti, cucu Ibu bisa dibawa pulang." Arjuna mengabarkan berita menggembirakan itu sambil tersenyum.
"Oh ... syukurlah. Sungguh kebahagiaan tak terkira hari ini. Terima kasih, Arjuna." Bu Ajeng menepuk pundak menantunya dan menuju tangga ke lantai atas.
"Mami mau lihat Aya dulu," katanya tanpa menoleh.
Pagi itu Arjuna mengurus ijin kepulangan bayinya. Selanjutnya ke kantor untuk berkerja.
Hari yang tenang tanpa drama. Sore hari, bayi mungil itu dibawanya pulang. Arjuna mempekerjakan perawat bayi yang disarankan dokter anak.
"Wahh, cucuku sudah datang." Bu Ajeng sangat bersemangat. Siang tadi perlengkapan bayi sudah tiba dan diatur di kamar Aya.
Bayi yang masih ringkih itu segera diletakkan di tempat tidur khusus yang dipesan Arjuna. Perawat itu sangat cekatan dan teliti.
Mendengar suara tangis bayi, Aya memberi respon. Dia menoleh ke tempat tidur khusus yang diletakan dekat dengan dinding.
"Bayi," lirihnya sambil mengelus perut. Wajahnya sedih.
"Iya, itu bayimu. Cucu Mami," kata Bu Ajeng sambil meletakkan tangan di dadanya.
__ADS_1
Hanya saja, Aya tampak belum mengerti. Arjuna tak memaksa istrinya untuk langsung mengerti. Dia percaya. Jika sudah merasa aman dan nyaman di rumah, maka ingatan Aya akan kembali pulih.
Bu Ajeng duduk di sebelah Aya di pinggir tempat tidur. Tangannya diusapkan di perut putrinya.
"Bayi yang di sini, Sekarang sudah ada di sana." Bu Ajeng menunjuk ke tempat tidur bayi.
"Kau mau lihat bayimu, Nduk?" tanya mami serius.
Aya berdiri. "Lihat." Wanita itu segera berjalan ke sana. Perawat bayi akhirnya menunggu dan bersiap jika terjadi hal tak terduga.
"Bayiku?" kata Aya dengan nada tanya.
"Iya, bayi yang di sini," tunjuk mami ke perut Aya. "Sekarang tidur di situ!" jelas mami serius.
Aya memandangi bayi yang teramat mungil itu dalam-dalam. Seperti sedang menyakini bahwa makhluk imut itu adalah miliknya.
"Dia bukan bayi Dewa!" suara Aya terdengar ketus.
Mami yang tidak paham maksud perkataan putrinya, jadi heran dan bertanya. "Apa maksudmu dengan bayi Dewa?"
"Dia bukan bayi Dewa!" Mata Aya menatap mami garang.
"Lau, kenapa? Bayi siapa dia? Apakah milik penculikmu?"
Bibir mami bergetar ngeri membayangkan jawaban yang akan meluncur dari bibir putrinya. Di depan mereka, ada Arjuna yang terpaku melihat sikap Aya.
"Bukan! Dia bayi si Arjuna sialan itu!" jerit Aya marah.
Mami yang sebelumnya menahan napas, takut mendengar jawaban Aya, akhirnya mengurut dada lega "Oh Tuhan, syukurlah. Atau jantungku bisa copot jika itu bukan bayi menantuku."
Akan tetapi, Arjuna melihat pengakuan Aya dari sudut pandang lain. Aya sudah bisa berkomunikasi dengan ibu mertuanya. Artinya, sekarang dia sudah cukup nyambung untuk diajak bicara. Istrinya itu juga bisa mengingat penculiknya. Itu langkah besar bagi Arjuna.
"Apakah Robert Giles menyakitimu di sana?" tanyanya lembut, berusaha untuk tidak mengagetkan Aya.
__ADS_1
*******