
Arjuna menunggui Aya petang itu, menggantikan ibu mertuanya. Sebuah panggilan telepon masuk.
"Ya!" sahut Arjuna tak acuh.
"Bos, wanita itu sekarat!" lapor pria yang menjaga Sandra.
Arjuna terdiam. Dia hampir lupa dengan wanita itu. "Kalau dia lelah hidup, itu bukan salahku!" sahut Arjuna ketus.
Tak ada respon dari pria di seberang. Keheningan yang terasa aneh, bahkan bagi Arjuna. "Apa aku sudah sekejam ini?" batinnya
Kemudian gerahamnya digertakkan dan rahangnya tercetak jelas. "Aku tak peduli. Robert saja bisa menyakiti Aya sampai seperti ini. Kenapa aku tidak?" geramnya marah.
Sambungan telepon itu diputuskannya dan memilih untuk menonton berita televisi. Malam hari, berita kecelakaan tunggal polisi jatuh di jalan layang, ditayangkan ulang. Arjuna ikut berduka. Itu adalah foto polisi yang dia beri informasi.
"Berarti kaki tangannya ada di Indonesia." Arjuna menoleh pada Aya yang terbaring lemah.
Diraihnya ponsel dan melakukan panggilan telepon.
"Hallo, dengan Rahman?" tanya Arjuna.
"Ya! Ini dengan siapa?" tanya pria itu balik.
"Arjuna. Apa kau sudah punya pekerjaan?" tanyanya.
"Besok aku ada jadwal interview," sahut Rahman.
"Maukah kau pekerjaan sampingan malam ini?" tanya Arjuna to the point.
"Aku tak mau melanggar hukum," katanya tegas.
"Tentu tidak. Aku hanya ingin kau menjaga bayi istriku!" kata Arjuna.
"Bayi? Aku bukan baby sitter!" Rahman terkekeh.
"Aku hanya butuh pengawal untuk bayi itu. Kau tak perlu merawatnya seperti baby sitter!" jelas Arjuna.
"Oh, baiklah. Berapa lama kau ingin aku menjaganya? Apa kau sedang ingin pergi kencan dengan istrimu?" tanyanya lagi.
"Tidak! Istri dan bayi itu sedang dirawat di rumah sakit! Aku menjaga istriku, tapi bayinya ada di ruang perawatan bayi!"
__ADS_1
"Hemm ... aku hanya bisa melakukannya hingga pagi," tawar Rahman.
"Setuju! Bisakah kau ke rumah sakit ini? Kutunggu!" Arjuna mengirimkan alamat rumah sakit tempat Aya dirawat.
"Aku ke sana, sekarang!" Panggilan telepon itu putus.
Arjuna masih duduk hingga beberapa waktu, menunggu Rahman tiba.
"Aku sudah di depan meja perawat tapi dilarang masuk, karena sudah lewat jam bezuk. Bisakah kau ke sini?" tanyanya.
Arjuna menemui Rahman dan mengajaknya ke ruang perawatan bayi. Di depan jendela kaca besar, keduanya berdiri menghadap deretan box bayi. "Ini bayinya. Bisakah kau menjaganya hingga pagi?"
"Bayi Nyonya Gayatri?" tanya Rahman.
"Ya. Istriku bernama Gayatri," sahut Arjuna. Dia ingin tahu reaksi Rahman mendengar nama itu. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa," sahut Rahman. Dia memilih untuk duduk di bangku panjang yang ada di depan ruang bayi.
"Kenapa kau ingin bayimu dijaga? Apakah nyawanya terancam?" tanya Rahman.
"Dugaanku begitu. Istriku hilang diculik beberapa bulan yang lalu. Dan baru kutemukan kemarin di rumah sakit ini. Melahirkan secara prematur dan bayinya tidak terlalu sehat. Aku khawatir kaki tangan penculik itu datang lagi!" Arjuna menjelaskan hal itu sambil tetap melihat bayi mungil Aya dari jendela.
"Tidak juga. Aku hanya ingat kau sedang tidak punya pekerja---"
"Aku kehilangan pekerjaan karena seorang wanita bernama Gayatri mencoba bunuh diri di tempat ak bekerja!" Rahman yang mencoba menahan emosi, terbaca oleh Arjuna.
"Kau yakin istriku mencoba bunuh diri? Apa kau ingin melindungi seseorang dan menimpakan kesalahan pada wanita yang bahkan tidak ingat apa-apa!"
"Apa maksudmu tidak ingat apa-apa." Rahman menoleh pada Arjuna.
"Aya adalah wanita yang paling keras kepala yang kukenal. Dia bukan tipe orang yang mudah putus asa dan bunuh diri. Dia pasti akan mencari jalan untuk melarikan diri!"
Arjuna menerawang. Dia ingat bagaimana Dewa dulu sangat kesulitan menaklukkan Aya. TAk mungkin istrinya itu bunuh diri.
"Mereka pasti menyiksanya lahir dan batin, hingga dia lupa segala hal, bahkan lupa dengan orang tuanya sendiri!" kata Arjuna emosional.
"Dan lagi, jika istriku benar mencoba bunuh diri, kenapa kau dipecat? Kau sama sekali tidak bertanggung jawab atas tindakan yang dipilih orang lain secara sadar kan?"
Tatapan Arjuna menusuk. "Apa yang mereka cekoki ke otakmu? Orang itu pasti sangat berkuasa, hingga menejemen hotel bersedia mengorbanmu demi menyenangkan hatinya!"
__ADS_1
Rahman terdiam. Dia menahan diri dengan mengepalkan tangan kuat-kuat.
"Dan, sore tadi, polisi yang menyelidikinya, tiba-tiba mati!" tambah Arjuna.
"Apa?" Rahman menggeleng tak percaya.
"Itu sebabnya aku ingin kau menjaga bayi ini malam ini. Besok aku akan memindahkan mereka ke tempat aman!"
Arjuna berdiri. "Jika ada yang mencurigakan, langsung hubungi aku!"
Rahman ditinggalkan sendiri. Terlihat sedikit bingung dan sedang mencerna informasi yang didapatnya. Sebentar dia berdiri dan melihat bayi Gayatri dari jendela. Bayi itu sangat kecil dan tidak bertumbuh dengan baik.
"Hanya orang yang berkedudukan tinggi dan penting yang mampu menyingkirkan polisi penyelidik. Apa lagi hanya memecatku!"
"Semoga malam ini berjalan dengan damai," harapnya.
Arjuna langsung mengajukan permintaan ijin pulang pada perawat jaga.
"Bu Gayatri sudah bisa pulang dan diperiksa secara berkala. Namun, bayinya belum bisa dipindahkan dari ruangan itu. DIa butuh alat bantu untuk bertahan." jelas dokter.
"Saya cuma tidak mau ada bahaya mengancam dan rumah sakit kena imbasnya lagi!" jelas Arjuna.
Dokter itu tak bisa berbuat apa-apa. "Sebaiknya tunggu pertimbangan dokter anak, untuk ijin bayi itu. Berdoalah dia mengalami perkembangan yang bagus malam ini," kata dokter.
"Untuk Nyonya Gayatri, ijin akan siap pagi nanti," tambahnya.
"Terima kasih, Dok." Arjuna mengangguk.
"Aya, besok kita pulang. Kau bisa istirahat di rumah. Tempat yang lebih nyaman untukmu."
Arjuna menunggu reaksi Aya dengan sia-sia. Istrinya hanya memejamkan mata sejak selesai makan malam.
"Aku pastikan pria itu membayar kelancangannya padamu. Aku bersumpah akan membunuhnya, seperti dia membunuh Dewa!" geram Arjuna emosi.
Mata Aya terbuka perlahan.
"Aku akan mengobatimu. Kau akan sehat dan mengingat kami semua," janji Arjuna. "Sekarang tidurlah!"
*******
__ADS_1