
Aya mendatangi perusahaan yang malam sebelumnya dilihatnya di internet sedang buka lowongan pekerjaan.
Hanya ada dua perusahaan yang sedang melakukan penerimaan langsung. Yang lainnya akan dia kirimkan via online siang nanti.
Setelah melakukan beberapa wawancara singkat, Aya merasa tidak terlalu sreg dengan posisi yang disediakan. Dia pulang dengan lesu.
Saat sampai di rumah, Dewa sedang menunggunya di ruang tamu, ditemani mami. Kelihatannya mami sudah akur lagi dengan menantunya itu.
"Aya, duduk di sini, Nduk. Temani suamimu dulu dan bicarakan kesalah pahaman kalian berdua." Mami bangkit dan menarik tangan Aya untuk duduk di ruang tamu dan menemani Dewa.
"Kenapa enggak dibicarakan saja rahasia yang dia simpan dengan mami dan papi? Bukankah akan sama saja?" gerutu Aya tak senang.
"Dewa sudah bicara dengan kami dan masalahnya sudah selesai. Tapi buatmu belum selesai, karena kamu bahkan tidak mau menemuinya!" jawab mami tajam.
Aya terpaksa duduk di situ, di bawah tatapan mematikan mami. Dilihatnya Dewa dengan marah.
"Kau pintar membuat orang lain yang disalahkan, padahal kau yang membuat kesalahan!" tuding Aya.
Dewa menghela napas. "Makanya dengarkan dulu penjelasanku. Sejak kemarin kau bahkan tak mau menerima teleponku!" Dewa berkata pedas, tapi wajahnya sangat datar.
"Apa kau punya kepribadian ganda?" tuding Aya kasar.
"Apa maksudmu itu?" tanya Dewa terheran-heran.
"Yah ... semacam orang yang kadang bersikap baik, tapi dibalik kebaikannya tersembunyi rapi pribadi yang sangat mengerikan!" jawab Aya pedas.
"Kenapa kau bisa menyimpulkan seperti itu?" taya suaminya lagi.
"Karena kau bisa berkata pedas, dengan wajah datar. Dan lebih dari itu, kau mampu berbuat kesalahan dan dipergoki, tapi tetap tak merasa bersalah sama sekali!"
Akhirnya, ucapan Gayatri kembali ke topik semula.
"Yang kau lihat itu bukan aku!" suara Dewa merendah.
"Hantumu? Kembaranmu?" klise sekali kau membuat alasan!" Aya tertawa getir.
"Bagaimana kalau alasan klise itu ternyata benar?" tanya Dewa.
"Sudahilah omong kosong ini. Aku sudah muak. Semua lelaki sama saja. Tolong urus pembatalan pernikahan kita!" kata Aya tetap pada pendiriannya.
"Aku tak akan pernah melakukannya!" tolak Dewa.
__ADS_1
"Kalau begitu, ceraikan saja aku!" sentak Aya marah. Dia langsung berdiri dari duduknya.
"Jangan harap! Itu tak akan pernah kulakukan. Bagiku, pernikahan itu hanya sekali untuk seumur hidup!" balas Dewa tegas, dan tetap pada pediriannya.
"Resepsi kita minggu depan akan berlangsung seperti seharusnya!" Dewa ikut berdiri dari duduk dan langsung keluar dari rumah tanpa memberi Aya kesempatan untuk membalas. kata-katanya lagi.
Mami, yang mendengar suara mobil Dewa meninggalkan rumah, keluar dari kamar dan melihat Aya yang sedang berjalan kembali ke kamarnya.
"Bagaimana pembicaraan kalian?" tanyanya ingin tahu.
"Gak gimana-gimana," sahut Aya cuek.
"Aduh, kamu ini. Paling susah diajak ngomong. Kapan kamu mau kembali ke apartemen kalian?" selidik mami seperti detektif.
"Tidak akan!" jawab Aya.
"Hloo. ... kok jadi seperti itu tho?" wajah sedih mami diabaikan Aya.
"Mami, cuma orang gila yang mau meneruskan pernikahan dengan buaya!" jelas Aya dengan suara keras, saking jengkelnya.
Gadis itu masuk ke dalam kamarnya. "Kenapa sih semua orang sekarang bergabung dalam Dewa Fans Club?" pikirnya jengkel.
"Dewa sialan!" umpatnya kesal sambil menjatuhkan diri di tempat tidur.
Hari berikutnya.
"Aya, siang nanti kita harus mengepas pakaian untuk resepsi," kata mami saat sarapan.
"Aya mau keluar, mami," jawab Aya cemberut, tapi masih berusaha bersabar dengan sikap maminya yang ngotot mendekatkannya lagi dengan Dewa.
"Kamu harus ikut mami!" Nada suara mami, bukan yang bisa dibantah kalau sudah seperti itu.
Aya tak punya pilihan kalau sudah seperti itu. Dia hanya bisa diam saja dan mengikuti kata-kata mami yang kadang bersikap otoriter. Bahkan Radit tak akan berani membantah kalau sudah begitu.
Tanpa semangat, dia menyuapkan sarapan paginya. Tak mungkin hanya dirinya yang menolak ikut ngepas baju, sementara yang lain juga tak punya hak suara untuk menolak.
Dengan tak sabar, mami sudah mengajak pergi seisi rumah ke Butik yang sebelumnya memesan baju keluarga.
Dengan dua mobil beriringan mereka berangkat. Sepanjang jalan Aya cemberut. Tapi sikap mami justru bertolak belakang. Wanita paruh baya itu sangat antusias mempersiapkan resepsi pernikahan Aya.
Penderitaan Aya ternyata masih belum berakhir. Di butik yang sama, dia bertemu dengan Dewa dan ketiga mertuanya. Semuanya orang bersemangat, kecuali Aya.
__ADS_1
Saat dia mencoba gaunnya, Dewa tersenyum senang. Dan dua wanita yang menjadi ibu mertuanya juga terlihat sangat menyukainya.
"Kau sangat cantik dengan gaun itu. Dipoles sedikit dengan make up, maka penampilanmu akan memukau semua orang, puji ibu tiri Dewa. Aya tersenyum sumbang.
"Pengantin baru ini sangat pemalu. Sudah beberapa hari menikah, masih juga saling malu-malu," kata ayahnya Dewa.
Papi dan mami tertawa dengan ganjil. Hanya keluarga mereka yang mengetahui apa yang terjadi di ruangan kantor Dewa. Menantu mereka melarang membicarakan hal itu dengan keluarganya. Setelah penolakan Aya, Dewa terpaksa menjelaskan semuanya pada orang tua Aya, untuk mendapatkan kembali kepercayaan mertuanya. Tapi, Aya masih sulit untuk ditaklukkan.
"Kata Dewa, kau bekerja membantu usahanya di sini." Ayah mertuanya membuka percakapan, mencoba mengakrabkan diri dengan Aya.
"Aku khawatir kurang punya kemampuan, Jadi kuputuskan untuk berhenti saja," jawab Aya.
"Kenapa seperti itu? Dewa, apa kamu mengintimidasi istrimu sendiri? Bagaimanapun, dia pantas untuk diberi kesempatan yang sesuai dengan ilmunya. Masa baru beberapa hari kerja sudah dibilang kurang kemampuan?" ibunya melotot marah pada pria itu
"Bukan seperti itu, bu. Cuma---" Dewa tak melanjutkan kalimatnya saat melihat senyum mengejek di wajah Gayatri. Dia memutuskan untuk mengalah.
"Aku mengaku salah, ibu, " kata Dewa dengan suara rendah. Lalu menoleh pada Aya yang masih mengenakan gaun resepsi mereka.
"Kau bisa kembali ke kantor. Aku tak akan menganggumu lagi," katanya dengan mata memohon Aya untuk ikut bekerja sama menutupi yang terjadi di kantor dari keluarganya.
Aya berbalik dan berkata pada seorang pekerja butik yang melayaninya. "Bantu saya melepasnya," katanya. Gadis muda itu membawa Aya ke ruang ganti.
"Apa sih rahasia besar yang disembunyikannya?" batin Aya sambil mengganti gaun mahal itu.
Gayatri masih harus bersabar menunggu semua orang selesai dengan pakaian masing-masing, sebelum bisa pulang dan menghindari Dewa. Dia pikir seperti itu. Namun harapan berbeda dari kenyataan.
Setelah semua orang selesai mengepas pakaian, tibalah waktunya untuk pulang.
"Aku mau pulang lebih dulu dengan Aya," pamit Dewa nekat.
Aya melotot kesal padanya. "Kau benar-benar memanfaatkan kebaikanku di depan keluargamu, ya!" bisiknya.
"Langit berpihak padaku!" balas Dewa berbisik juga.
Melihat dua pengantin baru itu saling berbisik di depan yang lainnya, mereka tersenyum lebar.
"Kalian tak sebaran sekali. Masih panjang waktu hingga malam hari!"
Godaan ayah mertua Aya kontan membuat wajah gadis itu merah padam. Dia ingin membantah dan meluruskan. Tapi dihalangi oleh Dewa.
"Kami buru-buru!" timpal Dewa sambil menarik tangan Aya untuk pergi dari sana.
__ADS_1
******