
"Dia membuatku marah dan putus asa! Orang aneh dan sakit jiwa!" ketus Aya dengan wajah merah menahan marah.
"Apa yang dikatakannya?" Arjuna menyalakan perekam di ponsel, untuk mereka pernyataan Aya.
"Dia bilang, dia yang membunuh Dewa!" wajah Aya yang amat sangat marah, membuat Arjuna tertegun. "Seberapa besar cintanya pada Dewa?' batinnya.
"Dia bilang apa lagi?" Mami tak sabaran menunggu Aya membeberkan apa yang dialaminya.
"Dia bilang, siapapun yang dekat dengan Arjuna, akan mengalami nasib yang sama seperti Dewa!" Mata Aya terlihat ngeri. Seperti dia sedang membayangkan Robert Giles mengatakan hal itu di depannya.
"Dia mengancammu!" celetuk Arjuna.
Tapi dia tidak membunuhmu, apa kau tahu alasannya?" tanya Arjuna sedikit heran.
"Karena dia pikir bayiku adalah bayi Dewa. Dia bilang, itu penghormatan terakhirnya untuk Dewa, mengampuni anaknya." Gayatri termangu-mangu di tempat tidur.
"Hemm." Arjuna manggut-manggut.
"Lalu kenapa kau melahirkan kemarin? Menurut dokter, belum cukup bulan," tanya mami.
Aya menggeleng. Tidak tahu. "Dia tiba-tiba mengamuk dan memukuli semua orang." Suara Aya bergetar. Ketakutannya pada kejadian itu masih membekas di hatinya.
"Berarti Aya tidak mencoba bunuh diri!" seru mami. Arjuna mengangguk.
"Itu sebabnya dia membunuh dua orang penjaganya yang menyelamatkan Aya." tambah Arjuna.
"Apa? Dia membunuh siapa?" tanya mami ngeri.
"Penjaga yang ditangkap polisi di rumah sakit!" jawab Arjuna.
"Juga polisi penyidiknya," tambah Arjuna lagi.
"Orang yang mengerikan!" kata mami, tubuhnya bergidik ngeri. Dilihatnya kondisi putrinya yang memprihatinkan.
__ADS_1
"Pantas saja Aya jadi begini dibuatnya. Dia merusak mental Aya ...." lirih Bu Ajeng sedih.
"Tidak akan kubiarkan siapapun menyakiti anggota keluargaku. Aku akan membalasnya berlipat-lipat!" geram Arjuna. Dia berdiri dan pergi ke kamarnya sendiri.
Arjuna mengambil ponsel dan memanggil satu nomor. "Rapat pukul dua belas malam, di tempat biasa!"
Hanya itu yang dikatakannya sebelum ponsel dimatikan.
Arjuna kembali ke kamar Aya. "Bu, bisakah ibu menginap di sini dan menjaga anak istriku?" Arjuna meminta dengan sopan.
"Tentu saja. Besok hari Minggu, biar mami panggil papi untuk ikut menemani di sini. Bagaimana?" tanyanya.
"Begitu lebih bagus. Saya ada keperluan penting malam ini," jelas Arjuna.
"Ya, sudah sangat lama kau mengabaikan pekerjaanmu. Pergilah." Bu Ajeng mengangguk mengerti.
Arjuna beristirahat sebentar di kamar dan menemani kedua mertuanya makan malam bersama. Setelah itu dia pergi dengan diantar oleh seorang pria asing yang sebelumnya belum pernah dilihat mertuanya.
"Setelah dia pergi, beberapa penjaga berpatroli ke sana-ke mari," komentar Pak Sangaji heran.
Memangnya apa yang dikatakan Aya?" Pria itu ingin tahu. Sekarang keduanya sudah berada di kamar Aya. Bagus bahwa bayi itu berada di kamar yang sama dengan ibunya. Jadi mempermudah pengawasan mereka.
Bu Ajeng menceritakan apa-apa yang dikatakan Aya. Membuat suaminya juga terkejut. Sekarang dia jadi bisa mengerti kenapa ada banyak penjaga di rumah itu.
*
*
"Selamat datang kembali, Bos!" sapa orang-orang saat Arjuna melangkah masuk ke dalam ruangan bercat kelabu, dengan lukisan kalajengking hitam besar di tembok.
Beberapa pria bertubuh atletis yang sedang berlatih beladiri, melihat Arjuna melintasi ruangan, langsung berhenti berlatih dan menunduk dengan hormat.
"Selamat datang kembali, Bos!" sapa mereka serempak. Ekspresi senang bercampur tanda tanya besar, terlihat di wajah semua orang.
__ADS_1
Arjuna naik ke lantai dua dan di sana sudah menunggu beberapa orang yang menatapnya tajam.
"Selamat datang kembali, Bos." Kata itu kembali dilontarkan. Dan orang-orang itu juga menundukkan tubuh memberi penghormatan.
"Silakan duduk!" Arjuna langsung mengambil kursinya, di kepala meja, tanda bahwa dia adalah pemimpin kelompok itu.
"Kau benar-benar kembali?" seorang wanita cantik dengan bibir merah menyala, bertanya dengan berani. Yang lain diam, menunggu apa yang akan terjadi.
"Bukankah aku masih pemimpin kelompok ini?" Arjuna menegaskan posisinya dengan memandang wanita itu sangat tajam.
"Kau pernah meninggalkan kami, Arjuna!" sinis wanita itu berani.
"Jangan lupa. Aku tidak pernah mengangkat penggantiku!" Suara Arjuna terdengar dingin.
"Ada urusan apa memanggil kita untuk rapat, Bos?" seseorang menghentikan pertengkaran itu dan mengalihkannya pada topik utama.
"Aku mau membalas dendam pada seseorang yang membunuh saudara kembarku, menculik istri dan anakku!" geram Arjuna dengan wajah merah padam.
"Kami akan bantu, Bos!" ujar seseorang dengan cepat. Yang lain tersadar dan ikut mengatakan kesediaannya membantu.
"Nanti, setelah pembalasan dendammu selesai, kau akan pergi lagi meninggalkan kami seperti anak ayam yang kehilangan induk!" ketus wanita berpakaian kulit hitam itu dengan berani. Dia sepertinya sangat ingin berseteru dengan Arjuna.
"Kau boleh tidak ikut serta!" balas Arjuna tak kalah pedas.
"Kau!" Wanita itu menunjukkan api kemarahan di matanya. Dia tak peduli jika anggota lain melihat perselisihan dalam tim itu.
"Cukup, Nora!" seorang pria berdiri dari kursinya dan melangkah ke tempat gadis itu berada. Dengan kuat, digenggemnya tangan Nora dan menariknya keluar dari pertemuan!
"Aku belum selesai dengannya! Pria culas itu!" teriak si wanita marah. Akan tetapi, dirinya kalah kuat dengan pria yang menariknya pergi.
"Dia harus tahu bahwa kelompok kita tetap solid meskipun dia tak ada. Dan sekarang seenaknya datang hanya untuk minta tolong? Dia tidak pantas!" teriak wanita itu dari tangga.
Teriakan yang sangat memadai untuk dapat didengar oleh semua anggota kelompok di lantai dua dan yang belatih di lantai dasar.
__ADS_1
********