PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR
24. Dewa Kritis


__ADS_3

"Mbak Aya pergi ke rumah sakit. Papi pingsan di kantornya dan dibawa ke tempat biasa!"


Membaca pesan istrinya, Radit membalas. "Ya sudah. Aku susul Mbak Aya ke sana sekalian."


"Baik-baik di rumah!" pesan Radit lagi.


"Ya!" balas istrinya.


Ibu muda itu tercenung. Sekarang dia dan Radit yang harus tegar menopang keluarga ini. Dibacanya lagi pesan Radit sebelumnya.


"Dewa kritis di Rumah Sakit Memorial."


Diteruskannya pesan itu pada ponsel Aya dengan jari bergetar. "Ya Tuhan ...," desisnya.


Dia dapat merasakan kekalutan Aya membaca pesan itu. Tapi dia tak mau mewakili Aya memilih mana yang ingin didahulukannya. Biarkan Aya menentukan prioritasnya sendiri. Apakah ingin melihat suaminya dulu, atau melihat papi.


*


*****


Di Rumah Sakit memorial. Seorang pria mondar mandir di depan ruang OK. Baru kali ini pria itu merasa sangat gelisah. Tapi tak ada orang tempatnya berbagi. Satu-satunya orang yang selama beberapa tahun belakangan sehati dan dianggapnya sebagai keluarga, sekarang terbaring tak sadarkan diri di dalam ruang operasi.


"Kembali! Kau harus kembali! Bukankah kau sudah pernah berjanji tidak akan meninggalkanku seperti mereka!" gumamnya sembari mondar mandir.


"Aku akan membencimu jika kau meninggalkanku!" gerutunya kasar.


"Kau Dengar, Dewa? Aku bersumpah akan membalaskan semua rasa sakit yang kuterima karena dia membuangku! Aku akan membalasnya jika kau pergi!" ancamnya marah.


Satu jam berlalu.


"Di mana istri bodohmu yang tadi marah-marah padaku!" umpatnya kesal.


Dilihatnya beberapa keluarga yang memasang tampang murung, menunggui keluarga mereka yang juga sedang berada di dalam ruangan operasi.


"Keluarga Pak Dewa?"


Seorang perawat keluar dari pintu yang menghubungkan ruangan operasi dengan ruang tunggu.


"Ya, Saya!" Arjuna medekat dengan cepat.


"Kami butuh tambahan darah untuk pasien. Namun stok golongan darahnya menipis. Bisakah anda mencari ke PMI?" tanyanya.


"Golongan darah kami sama. Ambil saja darahku!" ujar Arjuna cepat.


"Baik. Mari ikut saya!" perawat berjalan cepat ke ruangan lain yang berada di lantai yang sama. Arjuna mengikutinya dengan langkah panjang-panjang. Dia mengimbangi kegesitan gerak perawat itu.

__ADS_1


*


*****


Di lobby rumah sakit. Seorang wanita muda berlarian menuju bagian informasi, sejak dia turun dari mobil.


"Di mana pasien dari kecelakaan jalan tol dirawat?" tanyanya.


"UGD, Bu. Silakan tanyakan bagian informasi di sana untuk detailnya," jawab petugas informasi itu cepat.


"Terima kasih."


Wanita muda itu segera berlari lagi menuju ke arah Unit Gawat Darurat yang ditunjukkan petugas informasi itu.


Di depan UGD, sudah ada banyak orang berkerumun di depan meja informasi. Gayatri meruak kerumunan untuk mencapai meja di depan petugas itu.


"Dewa! Apakah Dewa ada di sini? Saya istrinya!" ujarnya cepat.


Petugas itu melihat daftar pasien kecelakaan yang dibawa ke rumah sakit mereka. "Pak Dewa sudah masuk ruangan operasi, Bu. Anda bisa menunggu di sana," ujar petugas itu.


"Terima kasih!" Gayatri langsung keluar dari kerumunan orang yang sedang mencari kabar tentang sanak keluarga mereka.


Kakinya kembali berlari menuju lift, setelah petugas security memberi tahu di mana keberadaan ruangan operasi.


"Ting!" Suara lift terdengar saat mencapai lantai yang dituju, membuat hatinya makin berdebar cemas.


Diikutinya petunjuk ke arah kanan menuju ruangan operasi. Di bagian kiri ada berbagai ruangan lain termasuk ruang PMI.


Aya melihat deretan bangku ruang tunggu yang diisi oleh wajah-wajah cemas. Mereka menatap pintu ruangan operasi, seakan takut pintu itu tiba-tiba menghilang.


Aya melihat nama-nama pasien yang sedang dalam tindakan. Dia dapat melihat nama Dewa tertera di sana bersama empat orang lain.


Dicarinya kursi dan menghempaskan tubuhnya di sana. Hatinya harap-harap cemas. Matanya celingak-celinguk mencari seseorang diantara sekian banyak penunggu. Tapi dia tak menemukan Arjuna.


"Hah! Saudara kembar macam apa dia! Sudah kukabari, tapi masih juga tak peduli!" kesalnya dengan wajah cemberut.


Diambilnya ponsel dari tas dan mengabari adiknya. "Aku sedang menunggui Dewa di depan ruang operasi."


Satu jam kembali berlalu. Hati gelisah wanita itu terasa melompat saat mendengar panggilan. "Keluarga Pak Dewa!"


"Ya! Saya istrinya!" Aya segera berdiri dan mendekati perawat yang melihatnya dengan tatapan menyelidik.


"Ibu keluarga dari Pak Dewa?" tanyanya ingin kepastian.


"Ya!" angguk Aya tegas.

__ADS_1


"Lalu pria yang mendonorkan darah tadi di mana? Kami butuh tambahan darah satu kantong lagi!" katanya. Mata perawat itu mencari-cari.


"Pria?" ulang Aya.


"Ya. Yang tadi mengantar suami ibu ke sini dan mendonorkan darahnya." Perawat itu menegaskan.


"Apakah itu Arjuna?" tebak Aya. "Wajah pasien dan pria itu mirip?" Aya menjelaskan.


"Ah, saya pikir begitu." Perawat itu mengangguk.


Aya ikut melihat ke sana sini, mencari Arjuna. "Mungkinkah dia masih di ruang PMI?" duganya.


"Biar saya cari ke sana!" Aya bergerak cepat mencari Arjuna ke ruangan PMI yang tepat berada di depan lift tadi.


Ada beberapa orang lain yang juga menunggu di depan ruangan itu. Matanya mencari-cari saudara kembar suaminya itu. Tapi dia tak melihatnya. Kakinya melangkah ke bagian PMI dan berdiri di loket.


"Tadi ada pria bernama Arjuna mendonorkan darah untuk Dewa. Apakah dia masih di sini?" tanya Aya pada petugas di depan loket.


"Sebentar, Bu. Saya lihat dulu daftar pendonor hari ini," ujar pria itu. Tangannya mengetik pada keyboard komputer untuk mencari.


"Pak Arjuna belum selesai mendonorkan darahnya. Belum ada tanda out di sini. Berarti masih berada di dalam ruangan donor." Petugas itu menjelaskan tanpa melepaskan pandangan dari layar komputernya.


"Dewa masih membutuhkan satu kantong darah lagi. Apakah masih tersedia?" tanya Aya tak peduli keadaan Arjuna.


"Saya rasa Pak Arjuna sedang dalam proses mengisi kantong darah yang kedua," sahut pria itu sambil membaca informasi yang ada. Kepalanya menggeleng halus melihat seseorang sampai mendonorkan dua kantong darah dalam satu waktu.


"Ibu bisa tunggu di sana." petugas itu menunjuk deretan kursi yang juga diisi para penunggu.


Hatinya gelisah. Dewa sedang menunggu tambahan darah di ruang operasi. Sementara proses di sini belum selesai. Kakinya melangkah cepat kembali ke ruang operasi untuk mengabarkan informasi itu.


Sesampainya di sana, perawat tadi sudah tak terlihat. Dia bingung mau menyampaikan informasi itu pada siapa. Jadi dia duduk kembali di kursi penunggu.


Kegelisahannya makin menjadi saat kembali terdengar panggilan untuk keluarga Dewa. Dengan cepat dia berdiri di depan pintu, menunggu perawat keluar dan menyampaikan informasi dari ruangan PMI.


Saat perawat keluar dan mulutnya terbuka, Seorang pria menerobos sambil menyerahkan satu kantong darah.


Aya terkejut melihat darah segar itu diacungkan di depan matanya. Matanya membelalak. Kakinya melangkah mundur dengan takut.


"Darah untuk Dewa!" ujar pria itu pada perawat.


Kemudian kedua orang itu terkejut melihat seorang wanita muda jatuh terkulai di lantai.


"Menyusahkan saja!" gerutu Arjuna.


******

__ADS_1


__ADS_2