
Setelah makan siang, Arjuna pergi ke kantor sebentar untuk memberi beberapa tugas pada Luna. Dan menandatangani dokumen. Gadis itu senang mendengar Aya sudah di temukan di rumah sakit yang sama dengan tempat Arjuna dirawat.
"Menurut saya, Bos sakit kemarin itu sebenarnya firasat. Atau telepati antara suami istri!" komentar Luna.
"Apa kau menjadi penganut hal-hal di luar nalar?" tanya Arjuna sambil menandatangani dokumen yang disodorkan Luna.
"Ishh ... bukan seperti itu maksudnya. Hemm ... apa ya istilahnya." Luna menetakkan kepalan tangannya yang kecil di depan mulut. Matanya melihat ke arah kanan atas, sambil berpikir keras, mencari penjelasan yang bisa diterima Arjuna.
"Kata nenek saya, antara suami dan istri, akan ada satu ikatan tak kasat mata. Seperti ikatan batin. Perasaan istri bisa dirasakan suaminya. Begitu juga sebaliknya." Luna mulai menjelaskan.
Arjuna mendorong tablet yang tadi dipegangnya ke tengah meja. Dia meberi Luna kesempatan untuk menjelaskan apa yang tadi disebutkannya.
"Semisal kemarin, mungkin Bu Aya sangat membutuhkan bantuan pada saat Bos jatuh pingsan kemarin. Bisa saja dalam hatinya, dia menjerit dengan putus asa memanggil Anda." Mata Luna sangat ekspresif saat menjelaskan hal itu, disertai gerak tangan.
Baru kali itu Arjuna melihat Luna berbicara dengan ekspresi begitu. Sedikit lucu, namun dia terfokus pada penjelasan gadis itu.
"Apakah dia selalu mengharapkan kedatanganku selama ini? Itukah yang membuatku selalu gelisah?" batinnya sedih.
"Baiklah. Aku harus ke rumah sakit sekarang. Kasihan orang tuanya jika kami tidak bergantian menjaga."
Arjuna berdiri dan bersiap keluar. Luna mengikuti di belakang. Tiba-tiba pria itu berhenti mendadak dan Kepala Luna membentur punggungnya.
"Aduh ... kalau mau berhenti itu, kasih lampu sein dulu kenapa Bos? Jadi tabrakan, kan." keluhnya sambil mengusap kepala.
Arjuna hanya menggeleng. "Apa kau sedang bahagia? Apa pacarmu melamar?" selidik Arjuna.
"Hah? Kenapa berpikir begitu?" tanya Luna tidak mengerti.
"Karena hari ini kau tampak sangat berbeda. Seperti lebih bahagia gitu."
Luna menggeleng cepat. "Saya memang sedang bahagia. Itu karena Bu Aya sudah ketemu!" Luna mencibir dan jalan ke tempat duduknya dengan cepat. Dia harus mulai kerja lagi.
"Oh, terima kasih kalau begitu."
"Oh ya, apakah kita masih punya lowongan pekerjaan untuk seorang tenaga penjaga, pengawas keamanan atau porter atau yang semacam itu?" tanya Arjuna. Dia tiba-tiba ingat pada Rahman.
"Kita memang butuh staf gudang, Bos. Apakah Anda ada kandidat?" Kepala Luna terangkat kembali dari laptopnya. Menunggu perintah lebih lanjut.
"Ada seorang petugas keamanan senior yang baru kehilangan pekerjaan. Anaknya sedang dioperasi. Jadi dia butuh pekerjaan baru."
"Bos, apakah Anda ingin membuka badan amal?" tanya Luna pedas.
"Saya harus memeriksa kualifikasinya dulu, sebelum memilih apakah dia layak untuk pekerjaan itu!" jelas Luna.
__ADS_1
Arjuna mengangguk. "Aku sudah kirimkan nama dan nomernya padamu. Kau bisa panggil dia untuk wawancara!" Arjuna melangkah pergi.
"Dan satu hal, tak ada salahnya berbuat baik selagi kita bisa!" katanya sebelum menghilang di balik pintu.
Luna tercenung mendengar kata-kata terakhir Arjuna. "Sepertinya Bos berubah setelah kehilangan Bu Aya." Gadis itu menggeleng dan melihat nomer pria yang dikirimkan Arjuna.
"Hallo, apakah ini dengan Bapak Rahman?" tanya Luna di telepon.
"Ya!" jawab suara di seberang.
"Bisakah kita mengatur jadwal interview dalam waktu dekat?" tanya Luna lagi.
Mereka berbincang selama beberapa waktu, sebelum panggilan itu putus. "Semoga Anda senang, Bos!" gumam Luna sambil tersenyum, lalu melanjutkan pekerjaannya.
*
***
"Bagaimana dengan perkembangan Luna, Bu?" tanya Arjuna di ruang perawatan.
"Dia sudah sadar tapi masih tidak mengenali mami ...."
Suara mami tercekat. Sebutir air mata jatuh di pipinya. Arjuna bisa melihat mata ibu mertuanya sembab akibat terlalu banyak menangis.
Mami mengangguk dan melayangkan pandang ke tempat tidur Aya. Wanita itu terlihat sangat lelah.
"Mami bisa istirahat. Biar saya yang menungguinya sekarang."
"Mami tidak apa-apa. Dibandingkan tidak melihatnya berbulan-bulan, apa artinya menjaganya sehari saja?" tolaknya.
"Mami hanya menyesali diri, kenapa tidak bisa melindunginya, hingga mengalami hal seperti ini. Siapa yang begitu jahat dan mampu bertindak kejam hingga membuat wanita sebaik Aya jadi kehilangan ingatannya?"
Arjuna menunduk. Dia juga belum menemukan jawabannya.
"Monster macam apa yang mampu bertindak sekeji itu? Menyiksanya hingga dia tak mampu lagi menahan dan memilih melupakan semua rasa sakitnya!"
Tangis mami pecah diujung kalimat yang sangat melukai hati siapapun yang mendengar.
"Saya bersumpah, akan mencari orang keji itu sampai ke ujung dunia!" geram Arjuna dengan wajah merah padam. Dia juga merasa amat sangat marah melihat keadaan Aya sekarang.
"Orang itu harus membayar setimpal semua yang dia lakukan!" desis mami emosi.
"Saya akan pastikan itu!" timpal Arjuna cepat.
__ADS_1
"Hallo, kenapa hawa di kamar ini panas, seperti sedang berada di sauna ya?" Radit menyembulkan kepala setelah ketukan pintunya diabaikan.
"Ini makanan untuk Mas Arjuna. Dan Mami, mari kita kemon. Hari sudah mulai sore. Nanti terkena macet, malah ngedumel terus di jalan."
Radit melangkah ke samping tempat tidur Aya. "Mbak Aya cepet sembuh, nggeh. Keponakanmu sudah sangat nakal sekarang. Dan Mbak akan segera punya keponakan baru lagi!" kata Radit di sebelah tempat tidur.
"Apa tadi? Bicara itu mbok yang jelas gitu hlo." kata mami penasaran. Dia tak terlalu memperhatikan Radit tadi.
Radit menoleh dan tersenyum dengan wajah bahagia. Kemudian mengangguk-angguk. "Mami akan nambah cucu!"
"Waahhh ... alhamdulillah. Ini kabar gembira. Apa udah beri tahu papi? Tidak! Jangan beri tahu dulu. Kita buat kejutan saja!" Mami sangat antusias mendengar kabar kehamilan menantunya.
Arjuna bersyukur, kabar gembira yang dibawa Radit, bisa menyingkirkan mendung di wajah ayu ibu mertuanya.
*
*
"Aku mengirimkan sebuah email. Bisa kau cek di sana!" sebuah pesan masuk dari Dicky petang itu.
Arjuna membuka emailnya dan menemukan berkas yang dikirimkan oleh Dicky.
Arjuna tersenyum informasi yang diberikan Dicky dicocokkan dengan info yang kemarin diterimanya secara anonim. Arjuna tidak tahu siapa yang mengirimkan pesan anonim itu padanya. Dan dia mengandalkan info tersebut untuk mendesak dua tahanan pagi tadi. Akan tetapi, info itu terlihat dangkal, karena tidak dapat memaksa mereka untuk buka mulut.
"Pemeriksaan Dicky memang lebih detail. Dewa mempunyai mata yang jeli.
Hingga malam, Arjuna berusaha mencari siapa pria yang menjadi bos terakhir kedua tahanan itu. Dan dia harusnya orang yang cukup berkuasa, hingga bisa membuat seorang Rahman yang tidak terkait, ikut dipecat atas insiden yang menimpa Gayatri.
"Robert Giles!"
Berkali-kali Arjuna menyebut nama itu dan mencarinya di mesin pencarian. Tapi dia tak menemukannya sama sekali.
"Apakah dia seorang militer? Orang yang kedudukannya sangat tinggi, hingga data pribadinya jadi confidensial seperti ini?"
"Robert Giles! Siapa kau sebenarnya?"
Arjuna membaringkan tubuh letihnya di sofa panjang di kamar Aya. Istrinya itu tidur dengan sangat tenang, setelah makan malam dan minum obat.
Karena hanya mengenakan kemeja tipis dari kantor, Arjuna meraih lagi jasnya untuk mendapatkan sedikit kehangatan. Tangannya masuk ke dalam saku dalam jas dan menemukan sesuatu.
Pria itu duduk lagi, saat melihat apa yang dipegangnya. Amplop coklat yang diberikan Dicky! Dia belum sempat menyimpannya karena keadaan yang berubah cepat.
"Apa isimu? Apa yang diinginkan Dewa?"
__ADS_1
********