
"Aaaahhhhh!" teriakan kencang perusuh itu terdengar saat polisi menempelkan senjata setrum ke pahanya. Pria yang sedang berusaha berdiri itu, langsung terkapar dan bergetar di lantai, sebelum pingsan.
Para penonton melihat dengan terkejut. Namun, matanya yang tadinya melotot membulat itu, kembali biasa lagi, bahkan bibir mereka terkesan mencibir.
"Kalau punya senjata sedahsyat itu, kenapa tidak digunakan dari tadi? Malah pakai pingsan dulu!" gerutu seorang ibu tua.
Polisi tak menanggapi, Kepalanya masih terasa pening karena dihantam pukulan keras tangan lawan. Dia harus mengamankan pria berbahaya itu dulu, baru melaporkan melapor pada atasannya.
"Hei, bangun!" polisi itu membangunkan temannya yang masih pingsan. Sekuriti membantu membangunkan polisi yang seorang lagi.
"Hallo, bagaimana keadaan kalian di dalam sana? Situasi di sini sudah bisa diatasi. Kalian bisa buka pintu sekarang!" Polisi memanggil ke dalam ruang persalinan.
Karena tak ada tanggapan, polisi itu memanggil sekali lagi. "Kalian bisa buka pintunya. Penculiknya sudah ditangkap!"
Wajah polisi mulai cerah, saat mendengar langkah kaki mendekati pintu.
"Penipu! Tadi kau juga mau menipu kami dengan menyamar jadi polisi. Aku tak akan membukakan pintu untukmu!" Teriak Dokter Reina ketus.
Polisi jelas terkejut. Dilihatnya sekuriti dengan mata bertanya. Seorang sekuriti mendekat. Menunjukkan wajahnya dari sedikit lubang diantara dinding dan kusen pintu yang sudah bengkok.
"Dok, saya Leman sekuriti lantai satu. Ini benar polisi, Dok. Kami sudah mengatasi penculiknya. Dia sudah diborgol!" jelas pria itu.
"Benarkah? Tapi aku tetap tak akan membuka pintu, sampai penjahat di depan ruang perawatan bayi juga berhasil kalian amankan!" tegas Dokter Satrio.
"Penjahat di ruang bayi?" mereka semua bergumam bersamaan.
"Bayiku!" seru salah satu bapak yang langsung berlari ke ruangan bayi. Yang lain mengikuti, seperti dikomando.
__ADS_1
Ruang tunggu itu menjadi sunyi. Hanya ada sekuriti yang menjaga penjahat pingsan dalam keadaan diborgol di situ.
Di depan ruang perawatan bayi. Para anggota keluarga ibu-ibu yang sedang melahirkan, marah besar melihat seorang pria dirubung dua polisi yang sudah kelelahan.
"Dasar penculik! Apa kalian tidak cukup puas menculik seorang ibu? Kalian juga mau menculik bayi-bayi kami?"
Mereka semua merubung dengan marah. Memukul, mencubit dan menendang dengan emosi meluap. Dua polisi yang sebelumnya menahan pria itu mendekati pintu ruang bayi, pergi menjauh dari kemarahan keluarga pasien.
Setelah pengeroyokan itu berlangsung cukup lama, kembali polisi yang tadi, datang menghentikan. "Sudah cukup! Kalau terus dikeroyok, dia bisa mati. Kita tak bisa mengorek informasi!"
"Hah! Lagi tanggung, Pak Pol. Belum puas hatiku!" kata seorang ibu yang sedang menjambak rambut pria itu.
"Betul! Dia belum boyok!" sambung yang lain.
"Ayo, tambahi lagi!" yang lain memanasi.
"Woaa ... rasain tuh!" kata seorang bapak yang mulai menjauh. Para pengeroyok itu akhirnya melepaskan diri tanpa diminta. Dari pada ikut kesetrum bersama si penculik.
"Polisi tak pakai aba-aba. Saat pria itu sedang ingin duduk, setruman dahsyat menyambar tubuhnya. Sebentar dia kejang, sebelum tergeletak juga seperti temannya.
Penjahat itu langsung diborgol. Dan ruang perawatan bayi diberi tahu bahwa keadaan sudah aman.
Saat keadaan sudah kondusif, Dicky menelepon Arjuna. Panggilan itu segera direspon. "Bagaimana keadaan di sana?" tanya Arjuna.
"Penculiknya sudah ditangani polisi. Kau sudah bisa keluar dari sana!" ujar Dicky.
"Aku sudah berada di ruang perawatan lain!" jawab Arjuna.
__ADS_1
"Tadi Aya pingsan saat kami bawa keluar. Jadi, dimasukkan ke ruangan perawatan dan langsung ditangani dokter," jelas Arjuna.
"Bagaimana keadaan bayi Aya?" tanya Arjuna ingin tahu.
"Belum membaik. Sepertinya istrimu tidak dirawat dengan baik saat mereka menahannya. Dia sangat kecil dan mengkhawatirkan. Kau bisa lihat ke sini!" saran Dicky.
Arjuna tercenung sesaat. "Tolong kau jaga dulu. Setelah keadaan Aya stabil, aku akan ke sana!" Arjuna memohon.
"Baiklah! Tapi ini sudah di luar tugasku untuk menemukannya." Kata-kata Dicky sangat bermakna. Dan Arjuna mengerti itu.
"Baik. Aku akan menambahkan bayaranmu nanti," jawabnya cepat.
"Sip!" timpal Dicky.
Polisi segera membawa dua penculik itu pergi, setelah bertemu Arjuna dan melihat kondisi Gayatri juga putranya yang memprihatinkan.
"Kami tunggu kehadiran Anda di kantor polisi besok pagi!" kata polisi.
"Baik. Terima kasih!" sahut Arjuna.
Malam berakhir damai hingga pagi. Arjuna dapat beristirahat sejenak di ruang rawat Aya.
Pukul enam pagi, dihubunginya orang tua Aya, untuk bergantian menjaga Aya, karena dia harus ke kantor polisi.
Sebelum pergi, Arjuna melihat bayi Gayatri. Dan hatinya tiba-tiba merasa perih, saat melihat kondisi bayi itu.
"Kenapa aku sesedih ini? Apakah dia bayiku?" batinnya.
__ADS_1
*****