
Hari itu seisi rumah merasa tenang dan lega, karena Aya tidak lagi berbuat ulah. Tak ada lagi gedoran pintu ataupun suara teriakan yang melengking tinggi dan menimbulkan polusi suara.
Semua persiapan bisa diselesaikan di sore hari. Makanan yang dipesan pada catering juga sudah datang. Mami mengawasi para art menata makanan dan minuman di meja makan.
Pukul lima, mami masuk ke kamar Aya. Membawa sepiring makan kecil yang akan disajikan malam nanti.
"ini makanan kesukaanmu. Mami pesan ini untuk sajian nanti malam."
Aya menoleh dengan malas. Dia sedang tak berselera melihat snack cokelat dalam cup kertas. Mami meletakkan piring kecil itu di meja samping tempat tidur.
"Sudah waktunya mandi. Keluarga Dewa datang pukul tujuh malam. Jadi lebih baik kamu sudah berdandan rapi setelah waktu magrib," perintah mami.
Aya diam saja, dia sedang malas menjawab apapun. Pikirannya masih tentang pembalasan dendam yang disepakati dengan Dewa.
"Apa perlu kutanyakan perkembangannya sekarang? Atau nanti malam saja?" pikirnya galau.
*
*****
"Luna, ingatkan aku untuk pulang pukul tiga sore ini," pesan Dewa setelah istirahat siang.
"Tapi Bos, hari ini anda ada pertemuan pukul lima sore di gedung A," Luna mengingatkan.
"Reschedule!" ujar Dewa tanpa mengalihkan pandangannya dari pekerjaan.
"Baik," sahut Luna.
Sekretaris itu balik ke kursinya dengan lesu.Dia sudah dengan susah payah membuat janji temu untuk sore nanti, tapi harus dibatalkan. Dan sekarang harus minta maaf sembari menjadwal ulang janji. Itu pekerjaan yang paling tidak mengenakkan baginya.
*
*
__ADS_1
Petang itu, rombongan keluarga Dewa telah sampai di rumah Gayatri. Hanya ada dua mobil. Yaitu mobil Bu De Menik yang datang dengan suaminya. Dan Mobil Dewa yang datang dengan ibu dan seorang adik lelakinya yang sudah menikah.
Keluarga Aya tidak mengira kalau yang datang hanya sedikit. Namun karena karpet sudah terlanjur dibentangkan, maka semua tetap duduk di atas karpet.
Acara lamaran itu berlangsung lancar, karena kedatangan hari itu hanya untuk meresmikan pembicaraan yang dibuat sebelumnya. Sekaligus mengantar semua seserahan yang telah diajukan keluarga Aya. Semua menjadi lega setelah rangkaian acara itu selesai.
"Maaf, bolehkah kami melihat calon menantu kami?" tanya ibunya Dewa.
Mami dan papi Aya sedikit tak siap dengan permintaan itu. Aya memang tak dilibatkan dalam acara. Namun, Dewa sendiri sudah melihat Gayatri dan tidak keberatan. Mereka pikir, tak akan ada masalah lagi. Tapi, ibunya Dewa memang belum pernah menlihat langsung calon menantunya.
"Bawa Aya ke sini!" perintah eyang. "Dia harus mulai menghormati calon ibu mertuanya!" tambah Eyang lagi.
"Baiklah ... sebentar saya panggilkan."
Mami bangkit berdiri dari duduknya. Menghilang ke dalam, untuk membawa Gayatri keluar dari kamar. Meskipun mami khawatir Aya kabur lagi, tapi perintah Eyang harus dilakukan. Dan tak mungkin juga menolak permintaan calon besannya. Itu adalah permintaan yang wajar, untuk melihat calon yang akan dinikahkan.
"Aya, ayo keluar. Kamu harus bertemu dengan calon mertuamu," ujar mami begitu masuk kamar. Namun dia harus terkejut melihat keadaan putrinya.
"Ya ampun. Kamu bahkan belum ganti baju. Belum berdandan! Kok malah tiduran seperti itu tho?"
Dengan enggan gadis itu menurut bangun. Tapi dia tak bergerak sama sekali. Terpaksa mami memanggil satu art untuk membantunya merapikan penampilan kusut anak gadis satu-satunya itu.
Hampir satu jam barulah gadis itu keluar. Meskipun penampilan Aya tak maksimal, tapi mami harus cukup puas dengan hasil kerja art di wajah Aya. Mau bagaimana lagi. Gayatri sendiri yang menolak untuk melakukan apa pun.
"Maaf jika lama. Dia ketiduran di kamar. Jadi terpaksa didandani lagi sedikit," Mami menunjukkan senyum penyesalan pada calon besannya.
Ibunya Dewa mengangguk mengerti. Dilihatnya gadis yang wajahnya kusut dan menunduk di samping wanita cantik dan ayu itu.
"Apa kau merasa terpaksa menikahi putraku?" tanyanya langsung, tetap dengan senyum di wajahnya.
Gayatri hampir saja melompatkan kata 'iya', Tapi dia segera ingat ancaman Eyang. Dengan lemah, digelengkannya kepala, untuk menjawab pertanyaan itu. "Tidak."
"Aku ibunya Dewa." wanita itu memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
Gayatri mengangkat wajahnya dan mendekat. Kemudian mencium tangan wanita paruh baya itu demi sopan santun dan nama baik keluarganya.
"Kau sangat cantik," puji ibu Dewa.
Gayatri hanya menunduk tanpa memberi respon apapun. Lalu kembali duduk dekat mami.
Keluarga itu masih berbincang beberapa saat. Dewa meminta ijin untuk bicara berdua dengan gadis itu. Eyang mengijinkannya. Mereka pindah ke ruang makan dan bicara berdua di sana.
"Bagaimana dengan syarat yang kuajukan?" tanya Aya tak sabar.
"Aku bahkan belum duduk," protes Dewa. Aya melengos dengan bibir mengerucut jelek.
Dewa menceritakan hasil penyelidikan bawahannya. Gayatri tak percaya Reynald sebejat itu. Dia merasa begitu bodoh karena dulu pernah begitu tergila-gila dan tidak mau mendengarkan nasehat keluarga yang tidak terlalu menyukai pria pilihannya.
"Pokoknya, dia harus dapat balasan setimpal. Lakukan apapun yang kau bisa untuk mempermalukannya!" geram Gayatri.
"Baik. Jadi kau setuju untuk melakukan hal seperti itu dulu?" Dewa memastikannya sekali lagi.
"Apa kau masih akan melakukan hal lain lagi padanya?" tanya Gayatri tertarik.
"Rencanaku seperti itu, Tapi itu penuh resiko. Jadi harus dipikirkan dengan matang. Mungkin itu baru bisa dilakukan setelah kita menikah. Itupun, kalau kau setuju. Kalau kau tidak setuju, maka aku tak perlu melakukan apapun lagi. Semua terserah keputusanmu sekarang. Mau lanjut, atau kita akhiri kerjasama ini." Dewa menatap gadis itu datar.
Gayatri terdiam Awalnya dia yang memberi Dewa syarat. Sekarang justru pria itu yang mengajukan penawaran padanya. JIka dia tidak setuju, maka pernikahan ini gagal karena dirinya lagi. Jika dia setuju, maka rencana pembalasan dendam itu sebenarnya belumlah tuntas.
Aya merasa dirinya dijebak oleh Dewa. Jika dia ingin pembalasan dendam, maka dia harus menikah dulu. Bukankah ini bukan rencananya? Pada dasarnya dia tak ingin menikah dengan Dewa. Sampai pada ultimatum eyang. Aya lebih tak ingin lagi menikah dengan pria beristri.
"Kau menjebakku," desis Aya tak terlalu senang.
"Kau bisa menolak jika tak setuju. Aku tak akan memaksamu. Menikah itu tak boleh dengan pemaksaan. Aku juga tak akan senang menikah dengan wanita yang tak menginginkanku!" tandas Dewa.
Gayatri diam cukup lama, untuk berpikir. "Aku belum bisa menjawabnya sekarang. Aku mau lihat hasil kerjamu dulu!"
Aya berhasil menemukan celah untuk membalikkan keadaan antara dirinya dan Dewa. Posisi sebagai orang yang memiliki daya yawar tinggi, kauh lebih menyenangkan ketimbang disusutkan Dewa untuk menerima atau menolak, seperti tadi.
__ADS_1
Dewa melebarkan matanya tak percaya. "Gadis ini sangat cerdas. Syang sekali jika hanya berdiam di rumah," pikirnya.
*******