
Pertandingan tinju di sasana siang itu sangat meriah. Para penontonnya adalah orang-orang yang memang berlatih di sana.
"Balas! Ayo! Aku bertaruh padamu!" teriak penonton.
"Hei! Kau jangan diam saja. Dia tidak melarangmu melawan balik!" yang lain memberi semangat.
"Hei , pertandingan ini tidak seru. Kau bukan karung pasir, jadi melawan lah!" teriak yang lain protes.
Wasit berkali-kali melepaskan rangkulan Arjuna dari pria yang benar-benar membiarkan dirinya dipukuli.
"Kau bodoh atau apa? Apa kau mau membiarkan putramu menunggu di rumah sakit selamanya?"
"Lawan! Ayo lawan!"
Saat istirahat ronde kedua, mata Arjuna yang semula menyala-nyala, kini sudah lebih tenang. Dilihatnya lawan tandingnya yang terlihat kepayahan dan menahan sakit.
Saat wasit memanggil dua petinju untuk ronde terakhir, Arjuna berkata tegas. "Aku tahu kita para lelaki, harus melindungi keluarga dengan segala cara. Tapi aku juga tidak melarangmu untuk melawan. Jadi, mari selesaikan pertandingan ini dengan benar!"
Pria itu mengangkat wajahnya dan mengangguk. Keduanya bersalaman, dan pertandingan terakhir pun dimulai.
Sorak-sorai meriah terdengar. Kali ini jauh lebih seru, karena dua petinju di atas ring, bertinju dengan mengerahkan seluruh kemampuan mereka.
Hingga pertandingan berakhir, tak ada yang bisa dijatuhkan. Namun, pria itu tetap kalah, karena di dua pertandingan sebelumnya, dia mendapat banyak skor buruk. Namun, meskipun kalah, wajahnya terlihat sangat cerah. Arjuna dan pria tak dikenal itu saling berpelukan saat turun dari gelanggang.
"Luar biasa hari ini. Pertandingan yang sangat bagus." ujar penonton.
"Ya. Aku puas melihat mereka mengeluarkan kemampuan masing-masing. Menyerang dan mengelak dengan teknik yang bagus." Y
ang lain menimpali.
*
*
"Putramu sakit apa?" tanya Arjuna di ruang ganti.
"Dia mengalami kecelakaan, Ditabrak motor. Kakinya kena impak. Aku harus mengumpulkan uang untuk mengoperasi kakinya, agar bisa berjalan lagi," jawab pria yang menjadi lawan tandingnya.
"Apakah jumlah itu cukup untuk biaya operasinya?" tanya Arjuna heran.
"Minggu lalu kutanya dokter orthopedi di rumah sakit tempat dia dirawat, katanya sekitar segitu. Asalkan ada jumlah segini, jika nanti ada kekurangan sedikit, aku akan cari lagi," jawab pria itu optimis.
Arjuna mengangguk. Dia senang melihat pria yang optimis. "Kau kerja di mana?" tanyanya sambil lalu.
__ADS_1
Pria itu menunduk. "Aku baru di-PHK."
"Hloo? Lalu bagaimana kau bisa membiayai putramu?" Arjuna menghentikan gerakannya yang akan memakai sepatu. Diangkatnya kepala dan menoleh ke arah pria itu duduk. Dia tak menjawab. Mungkin dia masih bingung mau cari kerja apa.
"Apa keahlianmu? Aku punya perusahaan yang belum lama dibuka. Jika cocok, mungkin kau bisa melamar ke sana," tawar Arjuna.
"Sebelumnya aku menjadi security di sebuah perusahaan!" Pria itu mendongak dengan mata penuh harap.
"Akan kutanya Luna, apakah perusahaan atau rumahku masih butuh security," jawab Arjuna.
"Berikan aku nomor ponsel yang bisa kuhubungi nanti!" tambahnya cepat, sebelum kilau harapan itu hilang dari mata si pria.
"Tentu saja." Pria itu mendekat. "Namaku Rahman. Ini nomer ponselku. Tidak harus jadi security. Pekerjaan apapun boleh," ujarnya penuh harap.
Arjuna mengangguk. "Di rumah sakit apa putramu dirawat?" tanyanya sambil lalu, sambil menyimpan nomer ponsel Rahman.
"Rumah sakit X!" jawabnya tersenyum.
Arjuna terdiam. "Apakah ini kebetulan?" batinnya. Namun dia tak mengatakan apapun lagi.
"Aku masih banyak urusan. Begitu ada informasi lowongan kerja yang tepat, kau akan dihubungi."
"Baiklah. Terima kasih bantuanmu ini!" pria itu tersenyum, menunjukkan kertas cek di tangannya. Arjuna mengangguk dan menghilang di balik pintu ruang ganti.
*
*
"Aku justru langsung mengenali pria terakhir yang tertangkap kamera di ruang ganti," sahut Dicky dari seberang telepon.
"Pria di ruang ganti? Rahman si petinju itu?" Arjuna menegaskan maksud Dicky.
"Dia kepala keamanan sebuah perusahaan besar!" Dicky memberi tahu.
"Oh, Perusahaan apa itu? Tapi dia bilang dia baru kena PHK!" Arjuna mengatakan apa yang dikatakan Rahman tadi.
"Benarkah? Sebentar kucari informasinya dulu. Dia orang yang sangat kredibel. Tak mungkin perusahaan itu akan melepaskannya jika bukan karena sebuah kasus besar!" Dicky mengoceh sambil tangannya mengetik lincah di laptop.
"Aku menemukannya! Dan kau tak akan percaya!" Suara Dicky seperti orang tercekik.
"Intonasimu sangat mencurigakan. Jangan bilang kalau dia terlibat dengan penculikan Aya!" tebak Arjuna pedas.
"Tidak! Eh, maksudku, bukan seperti itu. Dia terlibat dan juga tidak terlibat!"
__ADS_1
"Apa kau kurang minum? Kata-katamu tak jelas!" sergah Arjuna dengan ekspresi tegang. Namun, kata-kata Dicky memang membingungkan baginya.
"Dia ternyata ditempatkan di hotel bintang lima oleh perusahaan itu. Dan ... beberapa hari lalu ada kasus konsumen yang mencoba bunuh diri di kamar hotel. Lalu, dia dipecat setelahnya!"
"Menurutmu, istriku menginap di hotel itu?" tanya Arjuna.
"Bukan menurutku. Tapi menurut data yang ada di depan mataku, kamar hotel itu memang atas nama Nyonya Gayatri!" Dicky terus memelototi layar komputernya dan sibuk memeriksa beberapa hal.
"Karena kasus konsumen mencoba bunuh diri, seorang kepala keamanan hotel dipecat? Apakah menurutmu itu masuk akal?" tanya Arjuna dengan dahi mengerut.
"Itu mungkin terjadi, jika pemesan kamar adalah orang kuat yang ditakuti oleh menejerial hotel! Hal seperti itu saja kau tidak bisa menebaknya?" sergah Dicky kesal.
Arjuna diam. "Siapa pemesan kamar hotel istrinya? Orang yang sangat berkuasa? Sangat kaya? Tindakan konsumen, tapi menjadi tanggung jawab kepala keamanan?"
Arjuna menggeleng tidak yakin. "Kurasa tidak begitu!" sanggah Arjuna.
"Bagaimana menurut pendapatmu?" tanya Dicky ingin tahu.
"Menurutku, Aya tidak berusaha bunuh diri. Mungkin pria berkuasa itu kalap dan menyiksa Aya, hingga membuatnya tiba-tiba harus melahirkan. Dan kepala keamanan itu melihatnya! Itulah alasan yang tepat untuk memecatnya!"
Arjuna menemukan kesimpulan yang paling masuk akal baginya. Dicky diam. Itu memang terdengar sangat realistis, ketimbang argumen yang diberikannya tadi.
"Aku akan mempekerjakannya!" putus Arjuna tiba-tiba.
"Bagaimana kalau dia dendam pada istrimu, karena menjadi sebab pemecatan yang dialaminya?" Dicky memberi peringatan.
"Kita lihat dulu kinerjanya. Dan kau, berikan informasi tentang dua penculik itu satu jam lagi!"
Arjuna sudah tiba di rumahnya. Dia belum pulang dari sejak berangkat kerja kemarin. Terlalu banyak hal di luar dugaan yang terjadi kemarin malam.
"Tuan!" ujar pembantunya.
"Aku sudah menemukan istriku dan menungguinya di rumah sakit, jika itu yang ingin kau tanyakan!" kata Arjuna sambil sambil lalu.
Mata pembantu itu membesar dan wajahnya yang semula terkejut, berubah jadi gembira. "Benarkah? Sungguh harus kita syukuri. Apakah Nyonya sakit? Kapan kami bisa menyambut kepulangannya?" tanyanya tak sabar, sambil membuntuti Arjuna ke dalam rumah.
"Tuan!" sapa pelayan wanita terkejut, melihat Arjuna tiba-tiba melintas di ruang tengah rumah.
Arjuna tak menjawab. Dia bergegas naik ke lantai dua. Tapi di lantai bawah, para pelayan di rumah sedang bergembira mendengar kabar bahwa nyonya mereka telah ditemukan dan tuannya menemani di rumah sakit tadi malam.
"Mereka menyayanginya. Dia akan baik-baik saja jika dirawat di rumah, nanti!" batin Arjuna sambil tersenyum.
"Tapi aku harus menemukan siapa dalang penculikan yang bisa membuat seorang kepala kemanan hotel dipecat, dan dua orang jagoan tutup mulut meskipun dipenjara!" Wajahnya kembali menggelap.
__ADS_1
******