PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR
21. Pulang


__ADS_3

Dewa membawa Gayatri pulang ke apartemen mereka. Meskipun gadis itu protes, tapi Dewa tak menggubrisnya.


"Kau istriku. Jadi di sinilah rumahmu. Aku tak berbuat salah, jadi kau tak punya alasan untuk marah, apa lagi kabur dari rumah."


"Baju-bajuku ada di rumah mami!" Aya beralasan.


"Biarkan Radit mengantarkannya besok atau lusa." Dewa tak memberi Aya kesempatan.


"Tapi malam ini aku bahkan tak punya baju ganti!"


"Ada banyak baju di lemari yg bisa kau pakai. Poinnya, kau tak akan ke mana-mana lagi malam ini." Dewa tak mau dibantah.


Aya bersungut-sungut kesal. Tapi tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dibukanya lemari dan melihat baju-baju Dewa yang mungkin bisa dikenakannya untuk tidur.


"Semuanya bajumu!" gerutu Aya tak puas.


"Tentu saja. Karena baju-bajumu sudah kau angkat tanpa meminta penjelasan padaku!" jawab Dewa cuek. Pria itu menarik satu baju dan celana pendek, lalu ngeloyor pergi ke kamar mandi.


Aya tertegun. DIa juga merasa gerah dan ingin mandi. Namun gengsi masih menguasainya. Dia tak akan menyerah begitu mudah pada kehendak pria yang kini bersikap sok kuasa pada dirinya.


Dia masih duduk di tepi tempat tidur dengan muka cemberut, saat Dewa keluar dari kamar mandi dan menguarkan aroma harum yang segar. Hidungnya tergelitik, ingin ikut merasakan kesegaran yang sama. Tapi wajahnya masih memasang tampang cemberut.

__ADS_1


"Tak akan bisa tidur dengan tubuh kotor seperti itu," tegur Dewa.


"Tapi aku tak punya baju ganti!" ujar Aya ngotot.


"Belajar lah hidup apa adanya. Kau terlalu lama dimanja!" balas Dewa.


Setelah menimbang-nimbang cukup lama, rasa gerah mengalahkan ego Aya. Akhirnya diraihnya satu baju kaos besar milik Dewa di lemari dan mencari bawahan yang cocok. Tapi tak ada ukuran celana pendek yang pas dengannya. Akhirnya diraihnya satu-satunya kain sarung yang ada di lemari. Lalu dia lari ke kamar mandi.


Dewa hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku istrinya itu. "Akan sangat sulit merubah watak dan kemanjaannya itu," gumam Dewa. Dia memikirkan cara-cara mengatasi sikap Aya yang sulit menerima penjelasan.


Dewa tak menunggu Aya selesai mandi. Dia menyiapkan makan malam dengan cepat untuk mereka berdua. Hanya ada mie instan yang segera dimasaknya, agar perut tak keroncongan dan bisa segera beristirahat.


Aya melihat kesibukan Dewa di pantry saat keluar dari kamar mandi. Aroma masakan yang harum, menggoda perutnya untuk bernyanyi. Tanpa sungkan dia duduk menunggu di depan meja.


"Mana sendoknya?" tanya Aya menunggu.


"Ini rumahmu, jadi layani dirimu sendiri! Tak ada yang akan membantumu di sini." Dewa menjawab sambil terus makan.


Aya mengerucutkan bibirnya sambil berdiri. Dia berjalan ke pantri untuk mencari sendok dan minuman untuk dirinya sendiri.


"Minumku mana?" tanya Dewa saat melihat Gayatri membawa satu gelas air.

__ADS_1


"Layani dirimu sendiri. Tak ada yang akan melayanimu di rumah ini!" balas Aya ketus.


Dewa mengulas senyuman licik. Ditariknya piring Aya dari hadapan gadis itu. "Ini masakanku!' ujarnya jahil.


"Kau!" Aya mendelik ke arah pria itu. Hantinya sangat dongkol. Dengan sedikit menghentakkan kaki, dia bangkit dan mengambilkan segelas air putih untuk pria yang sedang memamerkan senyum kemenangan di wajahnya.


"Nih!" Aya meletakkan gelas dengan sedikit menghentak di atas meja kayu. Dewa dengan cepat mencekal tangannya.


"Apa kau tidak diajarkan sopan santun? Apa perlu kita pindah tinggal dengan ibuku? Mungkin kau butuh sedikit didikan layaknya gadis Jawa yang halus."


Dewa mengucapkan kalimatnya dengan nada datar. Tapi berhasil mengejutkan gadis itu. Dia berdiri ragu. "Maafkan aku," ujarnya dengan suara rendah.


"Hem ... makanlah!" Dewa meneguk minumanya dan segera bangkit. Diangkatnya piring dan langsung membersihkannya di sink. Pria itu segera menghilang ke dalam kamar.


Aya tercenung. Aroma mie di piring yang tadi menggugah seleranya, kini tak menarik lagi. Dia menunduk memikirkan sikapnya pada Dewa. Kata-kata pria itu ada benarnya dan Gayatri menyadari kesalahannya.


"Jangan sampai nanti dia kira mami tak pernah mengajariku sopan santun selayaknya gadis Jawa," pikirnya. Tangannya menyuap pelan-pelan, sepelan kunyahannya yang sudah kehilangan selera makan.


Selesai makan, Aya merapikan piring kotornya sendiri. Kemudian menuju kamar. Namun dilihatnya Dewa sudah tertidur pulas.


"Huh! Dia duluan yang menguasai tempat tidur! Mana pake ngorok segala!" dengusnya sebal.

__ADS_1


Diambilnya satu bantal dan dibawa ke sofa depan tivi. mematikan semua lampu, namun membiarkan tivi menyala tanpa suara. Aya meluruskan badannya di sofa sebentar, kemudian tertidur dengan cepat sambil ditonton televisi.


*****


__ADS_2