
"Apa bos sengaja menyuruhku pergi, agar ruangan kosong? Sebelumnya Bu Aya juga sudah dibuatnya sibuk, hingga mustahil akan keluar dari ruangannya sampai tugas selesai."
Luna menggelengkan kepala, heran dengan polah bos baru yang berbeda jauh dengan Dewa yang sangat berwibawa, lurus dan tegas.
Di ruangannya, Gayatri sibuk bekerja. Dia bertekad laporan itu harus selesai hari ini juga. Agar pekerjaan hariannya tak terlalu lama terbengkalai.
Setengah jam berlalu. Perutnya sangat keroncongan. Dengan heran, diangkatnya kepala dan mencari bayangan tubuh Luna dari balik dinding kaca yang buram.
Tak ada siluet tubuh Luna yang terlihat. Artinya gadis itu tak ada di sana. Aya melihat jam tangannya. "Sudah dari jam berapa dia pergi membeli makanan?" gumamnya. DIraihnya ponsel dan menelepon sekretaris itu.
Panggilan tersambung. "Kau beli makan siang di mana?" Aya langsung nyerocos tak sabar.
"Saya sudah di depan lift lobby, Bu." Begitulah jawaban yang diterimanya.
"Ya sudah, cepatlah. Perutku sudah perih menahan lapar!" ketusnya sebelum mematikan panggilan telepon.
Aya keluar dari ruangannya untuk pergi ke toilet. Dilihatnya tirai ruangan Arjuna tertutup rapat dan cahaya lampunya temaram.
"Apa dia sudah pulang? Puas setelah membuatku bekerja ekstra, sementara dia pulang!" Aya mendengus dan berlalu menuju toilet yang ada di sebelah pantry kecil tempat OB biasa membuatkan kopi atau apapun yang diinginkan.
Tak lama kemudian. "Ibu di mana?" ujar suara dari ponselnya.
"Kau sudah sampai? Letakkan saja makanannya di ruanganku. Aku sedang di toilet!" sahut Aya. Panggilan telepon itu langsung dimatikan.
Di depan mejanya, setelah mengantarkan makanan Gayatri, Luna masih harus mengantarkan makanan pesanan Arjuna. Tapi dia ingat tentang gadis cantik yang datang sebelumnya. Tak mungkin dia menerobos masuk dan menangkap basah keduanya lagi.
__ADS_1
"Bos! Makanan anda sudah siap. Perlu saya antar sekarang, atau---"
"Aku sudah kelaparan, dan kau masih ingin menundanya!" Suara bentakan itu mengagetkan Luna.
Luna pun mengambil piring dan sendok dari pantry untuk Arjuna. Kemudian bungkusan makanan tadi dibawanya serta.
"Eh, mau dibawa ke mana itu? Ruanganku di sana!" Gayatri menahan langkah Luna dan menunjuk ruangannya.
"Ini punya Pak Bos Arjuna, Bu," sahut Luna. Gadis itu melanjutkan langkahnya ke pintu ruang kerja pria itu.
"Hloo, dia masih ada toh. Kukira sudah pulang. Kerja kok lampu ruangannya redup seperti itu. Apa dia pindah tidur ke sini?" gerutu Aya.
Gadis itu baru akan meneruskan langkahnya ke ruangan ketika pintu ruang kerja Arjuna terbuka lebar sebab Luna membawa nampan yang terisi penuh untuk masuk.
Mata Gayatri melotot saat melihat seorang wanita duduk di pangkuan pria itu tanpa malu. Sama sekali tak ada keinginan untuk berdiri, meskipun tahu bahwa Luna akan masuk ke sana.
"Tabiatmu tak berubah!" ujar Aya sinis. Tangannya merekam Arjuna dan wanita itu dengan kamera ponselnya. Setelah itu dia berbalik dan pergi tanpa menoleh lagi.
Wajah Arjuna terkejut sedetik. Benar-benar hanya sedetik, saat dia tak mengira Aya akan menerobos masuk ke ruangannya tanpa permisi. Setelah itu, senyuman sinis dan dingin kembali terlihat.
"Ada permintaan lagi, Bos?" tanya Luna yang sudah selesai menata makanan di meja kerja pria itu.
Arjuna melihat ke meja. Makanan dan minumannya sudah tersedia. Dia mengangguk. "Tidak. Kau bisa keluar sekarang. Terima kasih!" ujarnya datar.
Luna menutup pintu di belakangnya. Dia kembali ke mejanya sendiri dengan wajah lega. Tugasnya sudah selesai. Sekarang dia harus melanjutkan pekerjaannya yang tadi tertunda. Dilihatnya banyak kertas memo ditempelkan oleh resepsionis yang menerima panggilan dan pesan-pesan dari klien.
__ADS_1
Setelah mengembuskan napas panjang, gadis itu mulai berkutat dengan pekerjaannya sendiri. Dia tak memperhatikan dua orang bos yang sedang perang dingin.
Di ruangannya, Aya langsung mengirimkan rekaman video pendek yang baru dibuatnya ke ponsel ibu mertuanya. Dia tak menuliskan kata dan kalimat apapun. Dia yakin, wanita itu paham apa maksudnya.
Setelah itu dia kembali menyelesaikan laporannya dan tidak mempedulikan apapun lagi. Tepat sore hari, laporannya selesai. Diangkatnya tas dan keluar dari ruangan.
"Serahkan laporan ini pada bosmu!" Aya langsung meninggalkan Luna yang terbengong. Aya pulang tepat pada pukul lima sore. Luna juga sangat ingin pulang cepat. Tapi bos dan wanita itu masih ada di dalam sana.
Tak lama setelah Gayatri pergi, tiba-tiba terdengar teriakan marah dari ruangan Arjuna.
"Ayaaaa!" teriaknya menggelegar.
Pena yang sedang dipegang Luna bahkan sampai jatuh saat mendengar teriakan yang mengagetkan di lantai itu. Kepalanya segera menoleh ke arah ruang kerja Arjuna. "Apa lagi kesalahan Bu Aya?" pikirnya dalam hati.
Kemudian pintu itu dibuka dengan kasar. "Panggilkan dia ke ruanganku!" teriak Arjuna saat memunculkan kepalanya dari balik pintu.
"Bu Aya sudah pulang." Luna mengatakan yang sebenarnya.
"Pulang sebelum jam kerja berakhir? Berani sekali dia!" geram Arjuna.
Luna menggeleng. "Tidak, Bos. Sekarang memang sudah waktunya untuk pulang." Luna terkesan membela Gayatri.
"Jangan membelanya ataupun ikut campur urusan kami!" ujar Arjuna marah. Tapi pria itu tak bisa berbuat apa-apa sekarang. Gayatri sudah pulang lebih dulu. Dia hanya bisa menggeram dengan hati dongkol, lalu membalikkan badan e ruangannya lagi dan membanting pintu dengan kasar.
Luna hanya bisa mengurut dada. Diperhatikannya laporan yang baru dibuat Gayatri. Sekarang bagaimana mau mengirimkan laporan pada pria yang sedang emosi itu?
__ADS_1
*******