
Setelah urusan kepulangan Aya selesai, Arjuna menelepon pengacara. Dia punya jadwal menemui dua tahanan di kantor polisi.
"Baik, saya akan meluncur ke sana!" kata Arjuna.
"Bu, saya akan ke kantor polisi. Melihat dua tahanan itu bersama pengacara. Semoga saja bisa mendapatkan sedikit petunjuk di mana otak penculik itu berada," pamit Arjuna.
"Baiklah. Kau juga harus berhati-hati," pesan Bu Ajeng.
"Terima kasih." Arjuna langsung pergi menuju kantor polisi. Dia sudah berjanji bertemu pengacara di sana.
"Aku harus bisa membujuk dua pria bodoh itu!" geram Arjuna.
Hari ini dia berangkat dengan diantar supir, karena dia harus mengurus pekerjaan di jalan. DIa belum sempat ke kantor, sementara Luna mengirimkan banyak file yang mesti diperiksanya hari ini.
"Ah, akhirnya kau sampai juga." Seorang pria bertubuh tambun menyambutnya di halaman depan kantor polisi.
"Maaf sedikit terlambat dari jadwal. Hari ini istriku sudah bisa pulang. Jadi, mengurus itu dulu," jelas Arjuna.
"Tak masalah. Ayo!" pengacara itu berjalan berdampingan dengan Arjuna.
"Anda yakin akan melindungi keluarga dua tersangka itu, jika mereka bersedia bekerja sama?" yanya pengacara sekali lagi.
"Ya. Tinggal tanyakan saja pada mereka, siapa keluarganya yang ingin aku lindungi," angguk Arjuna serius.
"Jadi, kau bahkan tidak tahu keluarga mereka?" pengacara itu tak percaya.
"Tidak tahu. Meskipun begitu, aku yakin, jika seseorang sedang terjepit seperti mereka tapi tetap tak mau bicara. Dapat dipastikan ada nyawa yang sedang mereka jaga di belakang!" tandas Arjuna.
"Kau benar. Baik, mari kita coba saja cara ini." Pengacara setuju.
Pengacara dan Arjuna baru melewati papan bunga yang ditujukan pada polisi penyelidik yang tewas sehari sebelumnya. Hati Arjuna tercekat. Ada sedikit sesal di hatinya, memberikan nama Robert yang mebuat petugas itu menjadi sasaran keji pria yang tak dikenalnya itu.
"Hallo, apa ada orang?" pengacara heran melihat ruang depan kantor polisi yang sunyi seperti kuburan. Tak ada seorang pun yang terlihat.
"Apa mereka tidak tahu bahwa bahaya meninggalkan kantor ini terbuka tanpa seorang pun penjaga?" heran Arjuna.
"Pasti ada sesuatu. Bertahun-tahun aku punya urusan di sini, belum pernah terjadi hal seperti ini." Pengacara itu mengerutkan kening, memikirkan beberapa hal yang mungkin sedang terjadi.
__ADS_1
Seorang polisi lain sedang berlari di lorong. Arjuna langsung memanggil. "Hallo! Apakah tidak ada pelayanan hari ini?" tanyanya sedikit berteriak.
"Ya, sebentar!" balas polisi itu masih terus berlari dengan wajah panik.
"Ada apa sih?" pengacara dan Arjuna jadi penasaran melihat ekspresi polisi itu. Keduanya bergegas menuju ke arah polisi tadi muncul.
Setelah melewati beberapa ruangan lain dan benar-benar kelyar dari gedung utama, Arjuna mulai khawatir.
"Bukankah ruang tahanan lewat jalan ini?" tanyanya pada pengacara.
Pengacara itu mengangguk. Kemudian terkesiap melihat pandangan serius Arjuna. "Ya Tuhan!" hanya itu yang terucap. Dua orang itu segera berlari ke ruang tahanan. Makin dekat ke sana, makin banyak orang berkumpul dan bicara tak jelas.
"Permisi!" Pengacara menyibak kerumunan polisi.
"Hanya yang berkepentingan yang boleh masuk!" cegah beberapa polisi.
"Saya ingin tahu, apakah tahanan saya mengalami sesuatu!" tegas pengacara itu.
"nanti juga Anda akan diberi tahu, jika memang seperti itu," kata polisi lain, ngotot melarang.
Terjadi percekcokan kecil di luar. Arjuna tak sabar dengan hal itu. Dia harus tahu apa yang terjadi sebenarnya. Dua tandu dibawa. Namun, di atasnya justru diletakkan dua kantong mayat. Prasangkanya makin kuat.
"Mereka tersangka yang menculik istriku. Bagaimana mereka bisa tewas di dalam perlindungan polisi?" suara Arjuna yang keras, membuat semua polisi terdiam sejeak, sebelum petugas polisi lain menghalaunya keluar dari tempat itu.
"Anda tidak boleh ada di sini, Pak." Seorang polisi sedikit menarik tangan Arjuna agar pergi dari sana.
"Saya punya janji temu dengan mereka hari ini!" bantah Arjuna.
"Menemui tahanan harus didampingi pengacara!" kara polisi.
"Itu pengacara saya di luar. KAlian juga menahan dan melarangnya masuk sejak tadi!" seru Arjuna emosi.
Akhirnya yang bertanggung jawab di sana, mengijinkan pengacara masuk dan menemani Arjuna melihat dua tersangka penculik istrinya.
"Pembunuhan sadis!" desis pengacara. Dia sedikit merasa mual mencium bau anyir darah yang memenuhi udara.
"Kapan kejadiannya?" tanya Arjuna.
__ADS_1
Antara jam sembilan dan sepuluh." Polisi melirik jam di pergelangan tangannya.
"Jam sembilan tadi, makanan baru diantarkan pada para tahanan. Dan mereka memakannya!" Polisi lain menunjukkan piring makan yang memang kosong.
"Tidakkah kalian curiga bahwa otak penculikan itu berusaha membungkam kasus ini?" kata pengacara.
"Kita bahas itu kemudian. Sekarang kalian bisa lihat sendiri bahwa kasus ini akhirnya terhenti, karena tak ada tersangka yang bisa diadili!" ujar petugas penanggung jawab.
"Begitu saja? Sementara istri saya sampai tidak mengingat apapun. Dan kalian ingin menghentikan kasus ini begitu saja? Polisi macam apa kalian!" Arjuna naik pitam
"Jaga bicara Anda!" Seorang polisi menegur dengan dingin.
"Apa kalian takut memeriksanya? Takut berakhir seperti petugas pemeriksa sebelumnya? Pengecut!" Kecam Arjuna.
"Sudah, ayo kita tenangkan diri dulu," pengacara menghela lengan Arjuna agar segera menyingkir. Sebelum pria itu mengatakan hal bodoh lebih banyak lagi.
"Aku belum selesai!" Arjuna menyemprot pengacara yang segera menghela napas panjang.
"Satu kata lagi kau bicara tak karuan di sana, kaulah yang akan meringkuk di dalam sel penjara, dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan!" balas. pengacara tak kalah emosi.
Pengacara itu menarik lengan Arjuna ke kantin kantor polisi. "Mari kita minum dulu, sambil menunggu mereka mengevakuasi mayat keduanya."
"Lalu?" Arjuna masih tak sabar.
"Setelah kau tenang, kita temui petugas yang menggantikan pemeriksaan itu, ataupun atasannya dan minta kejelasan!" pengacara menjelaskan dengan sabar.
Arjuna menghela napas. Dia kesal sekali pada Robert Giles. Bagaimana pria itu berani membunuh orang di depan polisi? Bukankah ini sama saja menghina kepolisian?
"Sepertinya mereka sudah kembali ke pekerjaan masing-masing. Kalau kepalamu sudah mendingin, kita bisa ke sana sekarang. Atau besok, jika kau masih sangat emosi!" Pengacara memberi pilihan.
"Ayo kita ke sana." Arjuna menghela napas dengan muka masam.
"Biar aku yang bicara, oke! Kau membayarku untuk mewakilimu, kan. Jadi biar aku yang mengurus hal ini. Kau hanya boleh mendengarkan saja saat ini!" kata pengacara bijak.
"Oke!" angguk Arjuna. Dia menyerah.
Keduanya menuju ke kantor polisi untuk memperjelas kasus penculikan Aya.
__ADS_1
********