
Keesokan hari, pakaian resepsi yang mereka pesan diantarkan ke rumah, oleh butik. Aya menangis tergugu melihat gaunnya dibawa masuk.
"Mi, Aya mau lihat apartemen Dewa," ujarnya.
"Untuk apa? Nanti kamu malah makin sedih di sana. Tunggu hatimu kuat, baru pergi ke sana," saran mami.
"Singkirkan gaun itu, Mi." Aya berbalik dan tak mau lagi melihat gaun-gaun yang dipesan untuknya dan seluruh keluarga.
Mami memberi kode pada menantu perempuannya untuk membereskan semua kiriman itu. Hatinya juga sangat sedih. Terutama teringat pada pemesanan gedung dan catering serta segala souvenir yang sudah disiapkan. Sangat banyak uang yang terbuang sia-sia.
"Dit, bookingan hotel batalkan saja," putus mami.
"Sayang dong, Mi. Kan uangnya tak bisa kembali juga."
"Kalau tidak dibatalkan, mau kamu bikin acara apa?" tanya mami heran.
"Ganti dengan acara santunan anak yatim piatu saja, Mi. Untuk mendoakan Dewa dan Mbak Aya. Sayang juga kan catering yang sudah terlanjur dipesan itu. Jadi, lebih baik untuk dibagikan pada yatim piatu saja," saran Radit.
"Idemu bagus juga. Sebentar mami tanyakan pendapat mbakyumu."
Mami pergi ke kamar Aya untuk menyampaikan ide Radit.
"Terserah Mami aja. Menurut Aya, Radit ada benarnya. Dari pada uag kita terbuang percuma, lebih baik diubah saja acaranya. Minta Radit untuk negosiasi dengan pihak gedung dan catering diubah jadi nasi box saja biar praktis." Aya ternyata juga setuju dengan ide adiknya.
"Baik, kalau begitu. Biar mami bicarakan dengan Eyang dan papi. Lalu mengabari keluarga Dewa. Mungkin saja mereka ingin hadir di sana."
*
*
"Kau yakin tidak ingin ikut ke gedung?" tanya mami sekali lagi.
Anggota keluarganya sudah siap untuk pergi ke acara santunan anak yatim pada hari di mana dia dan Dewa seharusnya mengadakan resepsi pernikahan mereka.
Aya kembali menggeleng dengan kuat. Dia lebih suka menyendiri di rumah. Akhirnya, istri Radit memutuskan untuk tetap tinggal di rumah, menemani Aya.
"Aku kenapa sih? Kenapa terus sedih begini? Apa iya aku mulai jatuh cinta pada Dewa di saat-saat terakhirnya? Atau ... ini hanya bentuk penyesalan dan rasa bersalah karena sejak menikah, aku tak pernah menjadi istri yang berbakti?"
__ADS_1
Aya menelungkup di tempat tidurnya. Foto akad nikah di meja nakas adalah kenangan tercetak satu-satunya yang dapat dilihatnya.
"Kau sebenarnya sangat tampan dan lembut hati. Kenapa dulu aku selalu ketus dan membencimu?" tanyanya pada foto pernikahan itu.
"Aku ingin tahu, apa maksudmu menjodohkanku dengan Arjuna. Apa kau ingin membalas dendam padaku yang tak berbakti?" gumamnya lagi.
***
Setelah hari ke tujuh lewat, Keluarga Dewa datang ke rumah. Dari Arjuna, mereka mengetahui tentang pesan terakhir Dewa. Mereka ingin membicarakannya.
Keluarga berembuk dengan alot. Ada yang setuju, ada pula yang tidak setuju dan menuduh Aya sebagai gadis pembawa sial. Cukup Dewa saja yang menjadi korban atas kesialannya. Jangan lagi Arjuna dikorbankan.
Wajah Eyang merah padam, cucunya mendapat cap begitu. "Sebenarnya kami lebih kecewa atas sikap Dewa. Apa dia pikir istrinya adalah benda yang bisa dipindah tangan? Hati wanita tidak mudah dipindah-pindah kepada pria lain semaunya!" sergah Eyang.
"Kami menghormati wasiat orang yang sudah tiada dan sebisanya memenuhinya. Namun, jika kalian menolak, maka Dewa tidak akan menuntut Aya ataupun keluarga kami sebagai pihak yang tidak mau melaksanakan wasiat yang dibuatnya."
Eyang memandang pada ayahnya Dewa. Pria paruh baya itu menekur. Dia mengerti bahwa Eyang tersinggung mendengar julukan sinis yang diucapkan oleh salah satu kerabatnya tadi.
"Maafkan kami, Eyang. Sebenarnya kedatangan kami ini justru ingin mencari tahu, apakah Aya bersedia atau tidak. Kami sangat memahami jika saat ini hatinya sedang patah. Jadi kami tak ingin memaksanya menikah dengan Arjuna dalam waktu dekat ini."
Tambahnya lagi. "Kami pikir, mungkin lebih baik kalau Aya bertunangan saja dulu dengan Arjuna, agar mereka dapat saling mengenal sebelum menikah."
"Baik. Begitupun bagus. Kami hanya ingin menegaskan bahwa pihak kami tak ada keinginan untuk tidak melaksanakan wasiat itu!"
Eyang kembali menegaskan poin tersebut. Beliau inginmengatakan,kalau sampai pernikahan keduanya tak jadi dilaksanakan oleh sebab penundaan yang diajukan keluarga Dewa, maka Eyang dan seluruh keluarganya berlepas tangan.
"Kami menegerti. Setelah masa iddah Aya habis, kami akan datang untuk melamarnya lagi buat Arjuna. Setelah itu mereka bisa bertunangan selama beberapa waktu sebelum menikah."
Ayah Dewa dan Arjuna mengatakan seluruh rencana yang sudah dibuat oleh keluarga besarnya.
"Percayalah. Dewa bukan pria gegabah. Dia pasti punya penilaian sendiri tentang Arjuna, yang kita tidak mengetahuinya." Ibu kandung pria kembar itu ikut bicara. Suaranya lembut menenangkan.
"Terima kasih untuk pengertiannya, Mbakyu," mami menyahuti kata-kata besannya.
"Saya belum melihat Aya lagi setelah hari pemakaman. Bisakah saya bertemu dengannya?" harap ibunya Dewa.
"Dia masih murung di kamar. Mari saya antar. Mungkin kedatangan Mbakyu bisa menghibur hatinya."
__ADS_1
Mami bangkit dan mengajak besannya ke kamar Aya untuk menlihat gadis itu.
"Tok ... tok ... tok ...."
"Aya, ibu mertuamu ingin bertemu, Nduk. Apa kami bisa masuk?" tanya mami setelah mengetuk pintu.
Di dalam kamar, Aya yang sedang berbaring malas, terkejut mendengar suara ketukan pintu. Kemudian pemberitahuan mami yang seperti kode, agar dia sedikit bersiap menerima ibu mertuanya.
Aya bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke pintu. "Ya, Mi."
Kemudian diciumnya tangan wanita yang telah melahirkan Dewa dan Arjuna itu.
"Masuk, Mi, Bu," ajaknya sambil menepi.
"Maafkan ibu, baru menjengukmu hari ini." Tangannya mengelus rambut Aya yang terurai dan kusut masai. Penampilan Aya yang seadanya ini tentu saja jauh berbeda dengan terakhir kali dilihatnya saat mengepas baju resepsi. Saat itu gadis di depannya ini terlihat sangat menarik dan energik.
"Jangan bersedih terlalu lama. Semua ini takdir dari yang Maha Kuasa. Kau akan menemukan kebahagiaanmu yang lain, nanti," hiburnya lembut.
Aya hanya mengangguk patuh. Dia ingin tamunya segera pergi dan meninggalkannya sendiri di kamar.
"Kau berhak untuk bahagia lagi setelah kepergian Dewa. Dia tetap memikirkanmu, bahkan di saat-saat terakhirnya. Arjuna akan menggantikan Dewa menjagamu."
Tubuh Aya menegang. "Oh, Tidak! Apakah aku benar-benar harus menikah dengan pria mata keranjang dan kasar seperti itu?" pikirnya.
Namun, yang keluar dari mulutnya berbeda. "Apa Arjuna bersedia menikah dengan seorang janda? Janda dari saudara kembarnya malah!"
"Jangan khawatir. Kami tidak akan membuat kalian menikah dengan terburu-buru. Kalian akan bertunangan leih dulu," jelas wanita itu.
"Bertunangan?" ulang Aya tak percaya. Bukankah itu artinya memang akan menikah? Padahal dia sama sekali tak menyukai Arjuna.
"Arjuna punya banyak pacar. Bagaimana aku bisa jadi isrinya? Bisa makan hati!" celetuk Aya sebal.
Wanita paruh baya itu terkejut. Tampaknya dia tak tahu tabiat putranya yang satu itu.
"Ibu akan memastikan dia hanya menatapmu!" janjinya. sambil menepuk-nepuk pundak Aya. Mencoba meredakan kejengkelan wanita muda di depannya itu.
Sambil menunduk, Gayatri menyunggingkan senyum tipis tanda tak percaya sama sekali dengan janji ibu mertuanya itu. Arjuna bukan tipe penurut seperti Dewa.
__ADS_1
******