PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR
31. Nasehat Mami


__ADS_3

Pagi itu Aya pergi ke apartemen ditemani mami. Dia membersihkan tempat itu dari debu, akibat terbengkalai sekian lama.


Meski memori tinggal di situ hanya dalam waktu singkat, tetap saja Aya merasa sedikit gamang. Rasanya ke arah mana pun dia berpaling, dia bisa melihat Dewa berdiri mengawasinya.


"Aya mau tinggal di sini, Mi." ujar Aya tiba tiba.


"Itu hanya akan menambah kesedihanmu," nasehat mami.


Sewa apartemen ini masih lama. Rasanya sayang sekali jika tak ditempati." Aya memberikan alasan.


"Kalau begitu, sewakan saja!" Mami tetap tak menyetujui ide Aya untuk tinggal jauh dari rumah keluarga.


"Tapi Mi---"


"Tidak ada tapi, Aya!" potong mami dengan mata menatap tajam.


Gayatri menahan rasa di hatinya. Alangkah sulitnya untuk mengemukakan pendapat di dalam keluarganya. Yang lebih tua selalu harus didengarkan.


Mi, Aya ndak mau nikah sama Arjuna!" celetuknya tiba-tiba.


"Katakan itu pada Dewa!" sahut mami cuek.


Mami menghela napas berat. Lalu duduk di sofa. Dinyalakannya tivi dan membiarkan suara dari alat elektronik itu mengisi kesunyian di apartemen yang ditinggalkan pemiliknya itu.


"Jangan mengira mami tak mengerti bagaimana perasaanmu. Mami sangat tahu. Tidak akan mudah bagi seorang istri yang baru kehilangan suami, sudah diharuskan untuk menghadapi pernikahan berikutnya.


"Jejak tubuh suamimu bahkan belum hilang dari tubuhmu. Kau mungkin masih mengingat jelas deru napasnya saat bersatu. Mami sendiri tak menyangka Dewa membuat wasiat sekejam itu!"


"Tapi---"


"Kami belum begitu-begitu, Mi!"


Kata-kata Aya mengejutkan mami. Membuat kalimatnya sendiri terhenti di tengah jalan. Wanita ayu paruh baya itu menatap anak gadisnya dengan ekspresi tak percaya.

__ADS_1


"Kau belum begini?" Mami menyatukan dua jari telunjuk di depan wajah, ke arah Aya.


Dengan tegas gadis itu menggeleg. Dia paham apa yang dimaksudkan oleh maminya.


"Apa!' Mami benar-benar kaget sekarang.


"Adakah orang lain yang megetahui tentang hal itu?" selidik mami, seperti gaya detektif polisi mengajukan pertanyaan.


Aya menggeleng. "Orang lain yang tau, sudah meninggal!" jawab Aya.


"Siapa?" tanya mami ingin kejelasan.


"Ya Dewa dong, Mi." Aya menggeleng-geleng melihat bibir mami terbuka tak percaya.


"Lalu bagaimana kalian bisa bersikap mesra di depan semua orang? Kalian membodohi kami!" sergah mami kesal.


"Tapi ingat satu hal, jangan sampai ada orang lain yang mengetahui hal ini!" pesan mami tegas.


"Karena, rencana pernikahanmu mungkin akan dipercepat jika anggota keluarga lain mengetahui kalau kau belum disentuh!"


"Begitu ya? Baiklah. Aya tak akan mengatakannya pada siapapun." Gayatri mengangguk, menyetuju saran jenius mami tadi.


"Sekarang mami tahu kenapa Dewa membuat wasiat seperti itu." Mami membuat mimik wajah yang lucu.


"Apanya yang lucu, Mi?" Aya cemberut.


Mami menghapus ekspresi sebelumnya. Sekarang dia terlihat serius. "Mungkin bagimu, wasiat Dewa adalah sesuatu yang menyebalkan dan tidak kau sukai."


Mami mengamati putrinya dengan intens, menunggu reaksinya sebelum lanjut membuat kesimpulan.


Pertahanan Aya kalah dihadapan pandangan mami yang seperti bisa membaca pikirannya. Akhirnya Aya mengangguk sambil cemberut dengan bibir mengerucut.


Dewa tidak memikirkan perasaanku!" gerutu Aya tak senang. "Dia juga tak bertanya dulu, apakah Aya bersedia atau tidak!"

__ADS_1


Mami bisa melihat dengan sangat jelas bahwa Aya sedang sewot. Dan apa yang diucapkan putrinya, adalah isi hati yang sejujurnya.


"Apa kau masih ingat julukan yang disematkan orang sebelum kau menikah dengan Dewa?" tanya mami.


"Gadis sial! Orang-orang selalu menyebutku gadis sial yang tak akan pernah menikah!" jawab Aya sambil menunduk.


"Sekarang, sudah bisakah kau mengerti bagaimana cara pikir Dewa?" tanya mami lagi.


Aya diam. Dia berusaha memahami cara berpikir pria yang menjadi suaminya bahkan tak sampai seumur jagung! Kemudian dia menggeleng juga, setelah berpikir cukup lama.


"Aya enggak tahu!"


"Menurut mami, Dewa ingin menyelamatkanmu dari gunjingan orang sekota lagi. Itu sebabnya dia menjodohkanmu dengan Arjuna. Jadi kita tak perlu sibuk lagi mencari suami di luar sana untukmu." Mami menjelaskan asumsinya.


"Oke lah .... Bagian itu bisa Aya terima. Tapi kenapa harus Arjuna?" sela Aya cepat.


"Karena Arjuna lah yang mirip dengannya secara fisik. Dan sebaya denganmu juga!" jelas mami.


"Masa dia lupa bagaimana mesumnya saudara kembarnya itu! Kok dia tega menjodohkanku dengan pria seperti itu!" Aya jelas sewot.


"Bersikaplah biasa saja. Sewajarnya. Jangan terlalu membenci. Nanti malah bucin!" nasehat mami.


"Tak mungkin Aya jadi bucin pada pria arogan dan mesum dan buaya darat begitu!" kesal Aya.


"Sesuatu yang kita pikir tidak baik, belum tentu benar-benar tidak baik. Bisa jadi Dewa melihat Arjuna dengan cara berbeda. Dan sesuatu yang kita tak suka, bisa jadi adalah yang terbaik bagi kita!"


Aya terdiam. Tak biasanya mami meberi nasehat seperti itu. Meskipun heran, Aya tetap mendengarkannya dengan seksama.


"Kalau urusan bersih-bersih udah selesai, mari kita pulang. Mami harus menyiapkan menu makan malam!"


"Sebentar Aya lihat mesih cuci. Kalau sudah selesai, tinggal jemur dan kita bisa pulang!" Aya berlari ke tempat mencuci pakaian.


*****

__ADS_1


__ADS_2