
Arjuna terkejut. Sekarang dirinya terekspose. Cahaya terang itu menerangi semua anak buahnya, anggota geng Kalajengking hitam.
Tak butuh waktu lama, dua puluhan pengawal keluar dari gedung itu dan menghadapi orang-orang yang masuk tanpa ijin.
Di depan Arjuna dan sopirnya, sekarang berdiri lima orang pria bertubuh kekar dan terlihat tangkas bela diri.
"Persetan!" geram Arjuna. Dia memasang pisau andalannya di tangan kanan dan kiri Sopirnya juga melakukan hal yang sama. Mengeluarkan pisau pendek bermata tiga dan digenggam di tangan kiri dan kanan.
"Kehormatan bagiku, bisa bertarung bersama Anda, Tuan." Sopir itu mengangguk hormat.
Arjuna bergidik. Pria itu siap untuk mempertaruhkan nyawanya dalam pertarungan ini.
"Kau tidak boleh mati! Itu perintah!" kata Arjuna.
"Apa kalian sudah selesai mengucapkan kata-kata perpisahan?" ejek salah seorang pria yang mengelilingi keduanya.
"Yang lain sudah bertarung, tapi mereka sangat banyak bicara!" timpal yang lain tak kalah pedas.
"Kulihat mereka begitu saling mengasihi. Apa perlu kami beri waktu lima menit lagi?" Yang lain tertawa terbahak-bahak mendengar ejekan itu.
Arjuna hanya tersenyum sinis. "Ayo maju, kalau berani!" tantangnya. Dia sudah mengambil kuda-kuda untuk menghadapi mereka semua.
"Hiat!" Salah seorang lawan menyerang maju, mengarahkan kepalan tangannya pada sopir Arjuna. Mereka sudah mulai bertarung sekarang.
Tinggal tiga orang yang mengelilingi Arjuna yang kini sedang memutar tubuh, untuk mengawasi orang yang mengambil posisi di belakang punggungnya.
Dia melompat menyerang ke depan saat melihat sebuah kesempatan terbuka. Namun sayangnya, itu hanya pancingan. Sebelum pisaunya mengenai pria yang dituju, sebuah pukulan leras menyasar kepalanya.
Arjuna masih mengelak, hingga tidak berakibat fatal. Kakinya menendang ke belakang, membuat pria yang menyerang dari belakang itu terkejut. Dagunya tak terelak, kena tendangan keras dari sepatu boot Arjuna. Suara berderak terdengar. Pria itu menjerit sambil memegang wajahnya.
Salah seorang membantu pria itu, hingga lawan Arjuna tinggal satu. Dia menggunakan kesempatan emas itu untuk segera menyerang dengan ganas. Dua pisau yang digenggamnya digerakkan kanan kiri dengan kecepatan tinggi.
Siapapun akan takjub melihat ketangkasannya. Namun, itu bukan saatnya mengagumi lawan. Penjaga itu mengelakkan pisau rajam dan tendangan Arjuna. Dia sepertinya biasa bertarung tanpa senjata. Kali ini menggunakan sebilah kayu yang ditariknya dari pagar taman.
Dari dalam gedung. Robert Giles melihat pemandangan seru di halaman kediaman megah tersebut. Tak jauh darinya, Dicky tergeletak pingsan setelah disiksa. Dalam keadaam terikat.
"Apa kalian sudah tahu siapa otak penyerangan ini?" tanya Robert pada bawahannya,
__ADS_1
"Mereka semua memiliki tatto kalajengking di punggung tangan. Lihat ini!" pria yang ditanya menunjukkan video rekaman pertarungan di halaman.
"Kalajengking hitam? Apa kau tahu siapa pemimpin geng ini? Menurutku mereka bukan geng jalanan yang akan merampok ke sini." Robert memperhatikan semua rekaman cctv yang ada.
"Ah, aku menemukannya! Tak perlu lagi mencari. Dia sudah datang sendiri ke kandang!" senyumnya terlihat mengerikan
"Siapakah pemimpinnya?" tanya bawahannya ingin tahu.
"LIhat ini! Pria yang merebut semua kasih sayang papaku. Anak angkat sialan yang justru menjadi pewaris seluruh harta kekayaan papaku!" geramnya marah.
"Diakah Arjuna?" Pria itu memperhatikan pria yang sedang bertarung mati-matian melawan dua orang penjaga.
"Dialah orangnya. Tak kusangka dia ternyata seorang anggota geng! Rendah sekali. Cih!"
Bawahannya tak menjawab lagi. Dia tahu kebencian Robert pada Arjuna sudah mendarah daging, hingga sanggup melakukan hal keji menculik wanita musuhnya.
Selang satu jam. Arjuna yang unggul, membantu sopirnya melawan salah satu dari dua pria yang mengeroyok pria itu.
Setelah lawannya itu tak berkutik, Arjuna melompat ke teras bangunan.
"Robert! Keluar kau! Ayo lawan aku secara jantan!" teriak Arjuna dengan suara keras.
Robert yang mendengar Arjuna bicara tentang Sandra, menjadi murka. Wajahnya langsung merah padam. Dengan cepat dia melangkah menuruni tangga dari lantai atas.
"Dia tahu tentang Sandra. Sialan! Dialah yang menyembunyikan Sandra selama ini!" Emosinya sudah mencapai ubun-ubun.
"Di mana kau!" Robert keluar ke teras depan bangunan dengan menggenggem pistol.
"Aku di sini, Robert. Kesalahanmu harus kau pertanggung jawabkan di depan hukum! KAu sudah membunuh Dewa, Polisi, dan dua tahanan! Sungguh tak kenal takut!"
"Apa kau tiba-tiba merasa gentar degan itu?" Robert menyahuti dingin. Matanya menatap Arjuna tajam.
"Aku tidak mengenalmu. Kenapa kau menggangguku? Kau kira hanya sekedar mengganggu nyamuk yang tak akan membalas?" kata Arjuna pedas.
"Di mana Sandra?" Robert tak peduli apapun kata Arjuna.
"Sebelumnya kukira Sandra hanyalah wanita licik dan pengganggu. Ternyata masih ada juga orang bodoh yang tertipu padanya!" Arjuna tertawa terbahak.
__ADS_1
"Diam! Katakan di mana dia. Jika kau lepaskan dia dalam keadaan baik, maka aku tak akan mengganggumu lagi!" Robert mencoba menawarkan perdamaian.
Arjuna malah tertawa keras dan mengejek. "Kau bodoh atau apa. Aku di sini sedang menuntut balas atas apa yang kau lakukan pada anggota keluargaku! Kau tidak dalam level bisa memberi tawaran!"
"Jangan bersikeras. Penjagaku bisa membuat kalian semua menghilang dari bumi tanpa jejak!" ketus Robert Giles.
"Bagaimana?" Arjuna mengangkat ponselnya.
"Beres, Bos. Semua sudah dibersihkan!" jawab suara di seberang.
"Kau masih mengira dirimu hebat? Penjagamu sudah lenyap tak berbekas!" balas Arjuna dengan tatapan tajam.
Robert Giles terkejut. "Hendra! Kemari!" teriaknya keras.
"Tu-tuan!" sebuah suara terdengar dari balik pintu. Sebuah tangan yang diangkat ke atas, muncul di depannya. Sebilah pisau tajam menempel di leher dan sudah menggorres kulit lehernya.
Dengan wajah geram, Robert Giles mengarahkan pistolnya pada Arjuna. "Di mana Sandra!" teriaknya nyaris histeris.
"Heran saja, jika ada pria sepertimu yang mencintai dia, kenapa Sandra mengemis-ngemis ingin kembali padaku? Bahkan dengan gila bilang sedang mengandung anakku! Kurasa hanya satu penjelasannya." Arjuna menatap Robert dengan pandangan merendahkan.
"Apa maksudmu!" mata Robert membulat seakan bisa menggelinding ke lantai kapan saja.
"Dia minta pertanggung jawabanku untuk menikahinya demi bayi di perutnya. Sayang sekali, bayi itu tak cukup kuat untuk mendukung keinginan ibunya menjadi Nyonya Arjuna!"
"Apa kau bilang? Bayi itu kenapa?" Robert tampak mulai tak terkendali.
"Dia keguguran! Lahir prematur dan mati! Dan kau melakukan hal itu juga pada istri dan putraku! Kita impas di sini. Jadi, hutangmu tinggal nyawa Dewa!" Mata Arjuna berkilat-kilat dibawah cahaya lampu teras.
"Mati? Bayiku mati?" KAu membunuhnya!" Robert kalap. Sebuah peluru melesat ke arah Arjuna. Pria itu mengelak dan berlindung di balik pilar teras.
"Kau membunuh bayiku!" teriak Robert Giles marah. Dia menembakkan pistolnya ke sembarangan arah, hingga pistol itu berhenti berbunyi karena kehabisan peluru.
Arjuna keluar dari persembunyian dan melihat Robert terus menarik pelatuk pistol yang sudah kosong itu. Dengan melompat tinggi, Arjuna menendang pistol dan langsung mengenai wajah Robert. Dua kali tendangan kaki mendarat dengan telak di wajah Robert, membuatnya tersungkur kebelakang.
"Tuan!" teriak Hendra yang lehernya masih dikalungi pisau tajam.
*****
__ADS_1
Novel ini akan segera tamat ya.. Author akan fokus dengan Novel The Adventure of Eric. Happy reading.