
Panggilkan bagian maintenance ke sini untuk membukanya!" perintah Arjuna.
"Jangan dibuka di sini, Bos. Bagaimana kalau meledak?" mata Luna berkedip-kedip saat mengatakannya.
Arjuna yang sedang memandangi kotak itu, mengangkat kepala dengan geregetan. "Kau bisa menghina adikku dengan wajah polos seperti itu?"
"Bukan menghina, Bos. Tapi waspada." Luna membela diri.
"Ya sudahlah ... Kubuka di rumah saja." Arjuna menyimpan kembali kotak itu di rak bawah mejanya.
"Ada tugas lain, Bos?" tanya Luna setelahnya.
Arjuna menggeleng sebagai jawaban. Dibiarkannya Luna kembali ke mejanya sendiri.
Dua jam setelah itu, pria yang menjaga Sandra kembali menelepon.
"Ada apa lagi?" Arjuna menjawab sambil terus bekerja.
"Dia ... wanita itu sudah melahirkan, Bos!" lapor pria itu dengan gugup.
Tangan Arjuna menggantung di atas keyboard. "Kenapa kau gugup? Bukankah bagus kalau dia sudah melahirkan?" Arjuna menangkap suatu keganjilan. Dalam nada suara penjaganya.
"Bayinya meninggal, Bos!" ujarnya ketakutan.
"Bagus! Satu masalah tambahan sudah mengundurkan diri tanpa diusir!" ketus Arjuna.
"Bagaimana dengan Sandra?" suara Arjuna masih terdengar sangat dingin.
"Dia sangat lemah, Bos. Paraji*¹) bilang, harusnya dia dibawa ke rumah sakit!" jelas penjaga itu.
"Kamu sudah sok pintar ya! Siapa yang memberimu ijin memanggil orang untuk membantunya melahirkan!" bentak Arjuna murka.
"Bos, saya kira dia sedang sekarat tadi malam. Saya takut terjadi hal buruk, jadi saya minta istri saya panggil paraji. Dukun tua itu sudah ditutup matanya saat dibawa ke sini," jelas pria itu takut.
"Kalau keberadaannya bocor, Kau yang harus menanggung akibatnya!" ancam Arjuna.
Tak ada balasan dari seberang telepon. Arjuna yakin, penjaganya itu sudah takut sekarang.
"Lalu, apa lagi laporanmu?" tanya Arjuna.
'Ti-tidak ad-da, Bos!" pria itu sangat gugup sekarang.
"Kuburkan bayi itu!" Arjuna langsung memutuskan sambungan telepon setelah memberi istruksi.
"Mengganggu kerjaan aja!" kesalnya sambil menempelkan punggung di sandaran kursi. Dia sedikit kehilangan mood untuk melanjutkan pekerjaan siang itu.
"Luna, apa kau ada waktu luang sekarang?" tanya Arjuna.
__ADS_1
"Ada apa, Bos?" tanya gadis itu.
"Temani saya keluar," ajaknya.
"Tapi, Bos ...." Luna merasa ragu.
"Kau bantu aku memilih sesuatu!" sergah Arjuna. "Kau kira urusan apa?" ketusnya.
"Baik, Bos. Sekarang?" tanya Luna gugup.
"Bersiap!" Arjuna tak memberi pilihan bagi gadis itu. Interkom sudah terputus.
Dilihatnya kotak besi di laci meja. "Di mana kira-kira Dewa akan menyimpan kuncinya jika ini begitu penting?" gumamnya sambil berpikir.
Pria itu tak dapat menduga jalan pikiran saudara kembarnya itu. Kotak besi itu dimasukkan dalam tas kertas, kemudian dia keluar dari ruangan.
"Ayo!" katanya sambil jalan.
Gadis itu segera menyambar tas dan mengekori bos ke luar.
"Tuan!"
Seorang pria bertopi dan berjaket kulit hitam yang semula berdiri di depan reseptionis, memanggil dan mencegat langkah Arjuna.
"Maaf, Bos!"
"Siapa kau? Ada keperluan apa mencegatku di depan sini?" Mata Arjuna menatapnya tajam.
Orang itu mendekatkan kepalanya sedikit ke arah Arjuna, untuk menjaga agar kata-katanya tak didengar orang.
"Saya orangnya Pak Dewa. Saya ada informasi untuk Anda," katanya terus terang.
Dahi Arjuna mengerut. "Orangnya Dewa? Untuk apa Dewa menyewa orang semacam ini?" pikirnya heran.
"Kuharap ini benar-benar penting. Kau mengganggu urusanku!" katanya tajam.
Pria asing. Itu mengangguk yakin. "Sangat penting!"
Arjuna langsung berbalik dan masuk lagi ke ruangan Direktur. Di belakangnya pria asing itu mengikuti masuk.
Luna terbengong. "Hlo ... Gak jadi pergi nih?" batinnya sedikit kecewa.
Dia tadi sudah berharap bisa sekalian makan siang di luar. Syukur-syukur kalau ditraktir bos.
Namun, sekarang dia hanya bisa kembali makan siang dari kantin yang ada dekat kantor saja.
Dengan lesu, kakinya melangkah ke pantry, untuk meminta OB menyiapkan minuman buat tamu.
__ADS_1
*
*
"Saya Dicky, investigator swasta yang disewa Pak Dewa sebelumnya. Saya sudah bekerja untuknya sejak Pak Dewa masih di Belanda!"
Pria itu langsung meperkenalkan diri, begitu Arjuna mempersilakannya untuk duduk.
"Sudah selama itu? Apa yang ingin diselidikinya saat di Belanda itu? Apa aku boleh tahu?' tanya Arjuna penasaran.
"Saya diminta menyelidiki tentang Anda dan keluarga Anda!" ujarnya tanpa basa-basi.
"Apa!" Arjuna tak mengira mendapatkan jawaban seperti itu.
"Kurang ajar!" umpatnya tak senang. "Untuk apa dia menyelidikiku?" tanyanya penasaran.
"Untuk mengetahui kehidupan Anda!" jawab Dicky. "Saya mengawasi anda selama dua tahun," tambahnya lagi.
"Si*lan kau Dewa!" teriaknya keras.
Tak disangkanya selama dua tahun dia dikuntit orang suruhan Dewa. Lebih kesal lagi, karena dia tak menyadarinya sama sekali. Membuktikan betapa licinnya pria di depannya ini.
Beberapa saat kemudian. Arjuna malah terkekeh kecil. "Apa dia puas dengan hasilnya?"
"Saya mengatakan apa adanya. Tidak menilai dan memihak. Dan Pak Dewa lebih suka penilaian yang jujur seperti itu.
"Berhenti menjilatku!" tuding Arjuna tak terlelu senang melihat pria itu memuji diri sendiri.
Pria itu menggeleng dan menghela napas. "Saya datang ke sini, karena kemarin, tanpa diduga, sebuah kiriman sampai di kotak surat saya," ujarnya menjelaskan duduk persoalan sebenarnya.
"Apa hubungannya isi kotak suratmu denganku?" Arjuna masih ketus dan tak senang.
"Menurut saya, itu ada hubungannya. Karena benda itu dikirim oleh Pak Dewa sendiri!" ujarnya penuh penekanan.
"Apa?!" Arjuna terlonjak. Itu bukanlah informasi biasa!
"Apa isinya?" tanya Arjuna tak sabar.
"Sebuah catatan dan amplop lain," jawab Dicky.
"Catatan apa? Amplop apa?" Arjuna sudah tak sabar dengan informasi Dicky yang terpotong-potong.
"Catatan itu untuk saya. Pesan agar menyampaikan amplop yag ada bersamanya, kepada Anda!"
"Mana Amplopnya!" Arjuna tak sabar.
******
__ADS_1
Ket: ¹) Paraji dukun beranak tradisional.