
Hari-hari pertama Aya kerja, tak terlalu mulus. Rekan-rekan satu tim nya tak terlihat bersahabat. Mereka seperti sedang berkompetisi satu sama lain.
Dan Desta, Kepala Divisi Perencanaan yang berusia sekitar tiga puluhan, juga tak terlalu mempedulikan persaingan antar bawahannya. Pria itu justru mendukung dengan mengatakan bahwa, kerja untuk saling bersaing menjadi yang terbaik. Bukan untuk mencari teman.
Aya tak terlalu setuju dengan pendapat itu, namun dia tak dapat begitu saja membantah dan menolak cara pandang yang sudah mengakar dalam tim itu. alam meeting pertamanya, Aya sudah mendapat tugas tantangan dari Desta, yang mengepalai Divisi Perencanaan.
Waktu satu minggu yang diberikan Desta harus dimanfaatkan Gayatri untuk menunjukkan kemampuannya. Dia bekerja keras agar bisa menyelesaikannya dengan baik.
Senin pagi, Di depan teman-teman satu divisi, Gayatri harus memaparkan ide baru yang ditugaskan padanya. Dengan tak mudah, dia berhasil menjawab setiap kritik dan memberi solusi dari persoalan yang timbul. Meeting selama tiga jam itu selesai dengan anggukan kepala Desta. Pria itu terus mengangguk dan kali ini seulas senyum muncul di wajahnya.
"Ide yang brilliant. Aku akan coba ajukan ide ini pada atasan. Jika lolos, maka kau akan mendapatkan kredit," ujarnya dengan mimik puas.
"Jika tak disetujui bagaimana, Pak?" tanya Aya.
"Maka Bu Aya harus bekerja lebih keras lagi untuk mendapatkan pengakuan atasan.
"Baik, Pak." Aya mengangguk mengerti.
Pertemuan mingguan itu selesai setelah anggota tim lain melaporkan tugas yang diberikan pada mereka. Sedikit perdebatan terjadi sebelum laporan disetujui.
Pada dasarnya Aya menyukai sikap profesional Desta. Hanya saja sikapnya yang hanya berfokus pada tugas, membuat tak ada anggota divisi yang menjadi dekat satu sama lain. Mereka saling cuek, bahkan terlihat mencurigai satu sama lain. Itu membuat Aya terheran-heran.
Memasuki minggu ke tiga, Aya diminta Desta mengikutinya meeting dengan para menejer. Atasan mereka menyukai proposal yang dibuat Aya. Kali ini dia harus mempresentasikannya di hadapan para menejer. Dan mereka berjanji akan mengajukan rancangan baru Aya pada rapat bulanan dengan direktur.
"Pak, bolehkah saya bertanya sesuatu?" tanya Aya saat mereka dalam perjalanan kembali dari pertemuan tersebut.
"Tentang apa?" tanya Desta.
"Kenapa saya merasa tingkat persaingan antar anggota tim kita sangat tinggi?" tanya Aya.
"Karena memang saya ingin tiap orang bisa menunjukkan hasil kreatifitasnya secara optimal," jawab Desta.
"Tapi persaingan ini terlihat tidak sehat, karena mereka cenderung saling mencurigai satu sama lain," bantah Aya.
__ADS_1
"Itu belum seberapa. Sebentar lagi, mereka mungkin akan membencimu!" kata Desta. "Berhati-hatilah" tambahnya, memperingatkan.
"Kenapa saya dibenci? Rasanya saya tak melakukan kesalahan apapun," tanya Aya keheranan.
"Ada!" jawab Desta cepat.
"Ada? Apa itu?" Aya benar-benar tak mengerti.
"Kesalahanmu adalah terlalu cepat mendapat perhatian dari atasan. Belum satu bulan, kau sudah mulai bersinar."
Desta menjawab tanpa ragu. Pria itu membuka pintu kaca menuju ruangan Divisi Perencanaan. Aya mengikutinya dari belakang. Benar apa yang dikatakan oleh Desta. Pandangan sinis dan tak suka ditemukannya dalam wajah-wajah yang berpaling ke pintu.
"Lanjutkan tugasmu dan perbaiki yang kurang," pesan Desta sebelum meninggalkan Aya menuju ruangannya sendiri.
Aya peka dengan sikap yang ditunjukkan Desta. "Baik, Pak. Saya akan bekerja lebih baik lagi," sahut Aya menimpali ucapan pria itu.
"Bagus!" Desta mengangkat jempolnya sambil terus melangkah.
Aya merasa lega, karena mata mata yang sebelumnya seperti ingin menerkamnya, kini sudah berganti dengan cibiran sinis. Desta menyelamatkannya dari serangan di kandang yang penuh harimau lapar.
"Aku lupa mengatakan. Berhati-hatilah dengan semua pekerjaanmu. Karena pernah kejadian, seseorang mencuri ide rekannya yang lain, di sini. Itu sebabnya mereka saling curiga satu sama lain."
Aya terbengong mendapatkan pesan seperti itu. Tak menyangka kalau perusahaannya bekerja begitu bar-bar. Begitu duduk, dia memeriksa semua pekerjaannya. Beruntung, Aya terbiasa memasang sandi rumit pada laptopnya. Sekarang dia ikut-ikutan mewaspadai semua teman satu timnya.
Minggu berganti bulan. Setelah pertemuan bulanan para menejer dengan direktur, Aya kembali dipanggil menghadap. Dia mendapat tugas baru. Setelah mempertimbangkan semua kesulitan dan tantangannya, Aya meminta waktu satu bulan untuk mengerjakannya. Tapi Desta dan menejer hanya memberinya waktu tiga minggu. Karena mereka juga butuh waktu yang sangat singkat untuk mengevaluasi, sebelum diajukan lagi pada direktur. Aya akhirnya menyanggupi.
Gayatri mengira kali ini dia akan kembali menerima pandangan benci lagi. Namun Desta memberinya instruksi di saat-saat terakhir.
"Coba kau pasang wajah murung dan muka ditekuk. Itu mungkin akan sedikit menyelamatkanmu," saran pria itu sebelum mendorong pintu kaca ruangan mereka.
Aya menuruti saran Desta, dan memang, mata-mata yang penuh rasa ingin tahu itu kembali terlihat sinis dan mencibir.
"Ikut ke ruanganku!" ujar Desta ketus.
__ADS_1
"Ya." Aya mengikuti dengan patuh dan kepala sedikit menunduk.
Pintu ruangannya sengaja dibiarkan Desta terbuka. Lalu dengan suara keras Desta memberi beberapa perintah.
"Ambil ini! Ini dan ini juga. Minggu depan sudah harus dibereskan!" perintahnya galak.
Aya ingin tersenyum melihat sandiwara yang dimainkan Desta untuk menyelamatkannya. Dia berusaha keras untuk tidak tertawa dan hanya menunduk makin dalam, menyembunyikan wajah.
"Aku tak mendengar jawabanmu!" bentak Desta.
"Ba-ik, Pak. A-kan sa-ya ker-ja-kan." Aya jadi terbata-bata karena terkejut mendengar bentakan Desta.
"Bagus! Kembali ke mejamu!"
Segera setelah Aya keluar ruangan, pintu di belakangnya menutup dengan kerasnya.
Dia dapat mendengar bisik-bisik gunjingan dari rekan-rekannya satu ruangan. Tapi Aya tak mengacuhkan. Dia melangkah lesu dan memasang wajah murung serta sedih. Lalu duduk menghempas di kursi kerjanya.
Di bawah pandangan mata banyak orang, Aya menangkupkan wajahnya dalam kedua telapak tangannya dan menunduk di meja. Gadis itu berusaha keras menahan tawa yang hampir meledak. Punggungnya sedikit bergetar karena sedang menahan diri.
"Huh! Lihat tuh. Anak baru, kepingin banget cepat naik posisi. Sekarang kena batunya, nangis deh!" Sebuah suara sinis terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu.
"Udah, biarin aja. Nanti ikut kena marah Pak Desta, baru tahu hlo," yang lain memperingatkan. Bisik-bisik akhirnya berhenti. Aya kembali dilupakan.
Di kursinya, Aya merasa lega. Dia tak lagi menjadi pusat perhatian. Sekarang dia bisa bekerja dengan tenang tanpa gangguan. Rekan-rekannya itu bisa melihat setumpuk tugas yang diberikan Desta untuk diselesaikannya sebagai hukuman.
Diambilnya ponsel dan mengirim pesan. "Terima kasih, Pak."
"Terima kasih? Kau senang kuberi banyak tugas? Baik. Setelah semua itu selesai, maka aku akan memberimu tugas yang lebih banyak lagi!"
Aya termangu mendapat balasan serupa itu. Dilihatnya setumpuk map yang diserahkan Desta tadi.
"Jadi, itu tadi bukan sandiwara?" pikirnya dengan tampang bodoh.
__ADS_1
"Sialan! Dia menjebakku!" umpatnya dalam hati. "Dan aku mengucapkan terima kasih pula. Dasar bodoh!" gerutu Aya gondok.
*******