PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR

PENGANTIN YANG KABURPENGANTIN YANG KABUR
54. Sandra 2


__ADS_3

Arjuna pusing mencari Gayatri yang tidak juga ketemu. Ditambahi dengan kengototan Sandra untuk meminta pertanggung jawabannya atas bayi dalam kandungan wanita itu.


Pengacaranya dikerahkan untuk mengatasi Sandra. Dari tidak mengakui, hingga menawarkan uang untuk membiayai hidup bayi itu jika memang terbukti dia anak Arjuna.


Tetapi Sandra cukup cerdik dan mengincar lebih dari sekedar uang besar. Dia menginginkan posisi Nyonya Arjuna yang ditinggalkan Gayatri.


"Nyonya, Pak Arjuna menolak menikahi Anda hingga jelas itu bayinya atau tidak. Dan itu hanya bisa dibuktikan lewat tes DNA setelah bayi itu lahir!" pengacara masih bersabar dalam negosiasi.


"Itu artinya dia akan lahir tanpa ayah. Tidak mau! Arjuna harus menikahiku sekarang, sebelum anak ini lahir! Dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya!" ujarnya ngotot.


"Posisi Anda lemah, Nyonya. Dalam kasus ini, kalian berdua telah berpisah cukup lama, hingga Anda kembali lagi dan mengatakan bahwa bayi itu adalah putra Pak Arjuna!" pengacara mengingatkan.


"Aku kan tidak tahu kalau hamil!" kelit Sandra cepat.


"Kalian sudah berpisah selama empat bulan saat anda kembali muncul. Sementara anda sedang hamil tiga bulan saat itu. Bagaimana penjelasannya?" Pengacara itu menatap tajam.


"Satu tambahan lagi, saya tekankan di sini. Pak Arjuna memutuskan hubungan karena Anda ketahuan selingkuh dengan pria lain oleh dirinya sendiri!" Pengacara itu mengacungkan jari telunjuknya pada Sandra.


"Dia hanya teman!" Sandra membela diri.


Pengacara menghela napas. "Jika Anda tidak menerima kebaikan hati Pak Arjuna untuk menanggung biaya hidup hingga melahirkan dan bayi itu terbukti miliknya, maka tak ada jalan lain selain melaporkan ini ke polisi sebagai pemerasan atau pencemaran nama baik!" ancam pengacara.

__ADS_1


"Anda bisa pikirkan hal ini dengan kepala dingin. Kita bisa mulai menanda tangani kesepakatan minggu depan paling lambat, jika Anda setuju. Lewat dari itu, maka kami akan melayangkan surat pengaduan pada polisi!"


"Ba---"


"Tunggu! Penjelasan saya belum selesai." Pengacara memotong ucapan Sandra.


"Jika setelah lahir dan terbukti bayi itu bukan milik Pak Arjuna, maka Anda akan menerima konsekwensi yang sangat besar. Mungkin menghitung semua biaya bulanan itu sebagai hutang, mungkin juga mengadukan Anda sebagai penipu dan pemerasan, dan ...." Pengacara pura-pura berpikir kemungkinan tuntutan lainnya.


Di kursinya, wajah Sandra memucat mendapatkan berbagai ancaman jika ternyata itu bukan bayi Arjuna. Dia sendiri tidak tahu siapa ayah dari bayi yang dikandungnya.


"Bagaimana kalau bayi ini terbukti sebagai putranya?" tantang Sandra tak mau kalah gertak.


"Dia tetap tak akan menikahiku?" Sandra tak percaya.


"Pak Arjuna sudah menikah. Tak mungkin dia menikah lagi!" Pengacara itu mengangkat tangan sambil mengedikkan bahu tanda hal itu tak mungkin diganggu gugat.


"Bukankah istrinya hilang?" Sandra ngotot.


"Hilang itu masih bisa dicari. Keluarganya sedang mencari dan akan terus mencari.


"Dia tak akan ditemukan!" celetuk Sandra begitu saja.

__ADS_1


Pengacara terkejut dan langsung menekan tombol di bawah mejanya. Seorang pria berpakaian security masuk setelah mengetuk pintu.


"Amankan Nyonya ini di ruangan khusus. Kunci! Jangan dibuka, hingga pemeriksaan lebih lanjut!" kata pengacara.


"Apa maksudmu!" protes Sandra.


"Apa maksud Anda dengan perkataan bahwa Nyonya Gayatri tidak akan ditemukan? Apa Anda terlibat dalam penculikan ini?" Pengacara itu menatapnya sangat tajam, seperti hendak mengorek isi kepala Sandra.


"Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apapun. Aku hanya kesal!" teriak Sandra membela diri. Tapi pengacara tak peduli.


"Tunggu pemeriksaan dari polisi. Anda bisa membela diri di depan polisi atau Pak Arjuna nanti!" Pengacara itu memberi isyarat pada sekuriti untuk membawa Sandra keluar.


Pengacara melaporkan pertemuannya dengan Sandra pada Arjuna. Pria itu sedang di luar kota, mengikuti jejak hilangnya Gayatri. Karena polisi tidak banyak membantu, maka selama beberapa bulan terakhir, Arjuna menyewa pencari independen untuk menemukan istrinya.


"Apa?" kata Arjuna tak percaya. "Tahan dia di sana hingga aku kembali. Jangan lupa, jaga bayinya!" pesan Arjuna cepat.


"Baik!" pembicaraan telepon terputus.


Pria itu berusaha mengingat pertemuan pertama Aya dan Sandra di halaman rumah pagi itu. "Mereka hanya bertemu satu kali. Apa iya Sandra yang mendalangi penculikan Aya, agar dia bisa menjadi istriku?" gumam Arjuna tak percaya.


*******

__ADS_1


__ADS_2